Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Diantara Mereka


__ADS_3

Di kamar pada malam hari, suasana sunyi seolah hanya memperkuat pikiran dan perasaan Yati. Dia berbaring di tempat tidurnya, tetapi mata dan pikirannya tidak bisa berhenti merenung.


Kata-kata ayahnya bergema di telinganya, mengingatkan Yati akan harapan yang ditumpahkan ayahnya. Perasaan bertanggung jawab dan ingin membuat ayahnya bahagia membebani hatinya.


"Siapa yang bisa menerima Yati apa adanya? Yati cukup tahu diri." Yati bergumam sendiri.


"Meskipun Biyan mau menerimaku, belum tentu keluarganya. Apalagi mamanya, yang jelas-jelas tahu siapa aku sedari dulu."


Yati memahami bahwa ayahnya ingin yang terbaik untuknya, menginginkannya untuk memiliki kebahagiaan seperti orang lain. Menikah, membangun keluarga, dan menjalani kehidupan yang normal.


Namun, dalam hati Yati, ada perasaan yang rumit dan bercampur aduk. Perasaannya terhadap Biyan masih ada di dalamnya, meskipun ada rahasia yang tersembunyi di balik itu. Dia merasa terjebak di antara harapan ayahnya dan perasaannya sendiri.


Sebagian cahaya kamar semakin redup, Yati merenung tentang masa depan yang mungkin menantinya. Apakah dia harus mengorbankan perasaannya untuk menjalani hidup seperti yang diharapkan oleh ayahnya? Ataukah dia harus mengambil risiko dan berjuang untuk kebahagiaan yang sesuai dengan hatinya?


"Ayah, aku tidak tahu apakah bisa memberikan kebahagiaan seperti yang kamu harapkan atau memang takdirku sendiri seperti sekarang."


Helaan nafas panjang terdengar sebelum Yati akhirnya bergumam lagi, "mungkin ini memang salah satu karma atas kehidupan masa lalu. Baik itu dari aku sendiri, ibu atau ayah yang sama-sama tidak bisa bersatu."


Malam itu, Yati merasakan beban yang semakin berat, terjebak di antara impian dan realitas, harapan dan rahasia.


Dalam keheningan, dia merasa perlu untuk mencari jawaban yang tepat agar dia bisa menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan, bahkan jika itu berarti menghadapi kesulitan dan tantangan yang sulit.


***


Di kamar hotel, Biyan juga berjuang untuk tidur dengan tenang. Pikirannya terus teringat kepada Yati dan percakapannya dengan ayah Yati. Kata-kata ayah Yati tentang Biyan yang baik semakin memperdalam perasaan khususnya pada Yati yang terus menghantui.


"Hahh ... semoga Mis Yeti mau menerimaku."


Tapi sedetik kemudian, pemuda itu tersadar dari lamunannya. Biyan merasa seperti berada dalam kebuntuan, sebab ia memiliki tugas untuk menjaga Yati, perasaannya yang tumbuh semakin kuat kepada Yati membuatnya merasa terjebak dalam dilema.


"Ini benar-benar sulit dan rumit."


Dia menyadari bahwa perasaannya tidak bisa diabaikan begitu saja, namun dia juga tahu bahwa ini bisa mengganggu hubungan profesional yang sedang ia jalani.


Setiap kali dia mencoba untuk meredakan pikirannya dan berusaha tidur, wajah Yati muncul dalam ingatannya. Dia berpikir tentang segala hal yang mereka lakukan bersama hari itu, termasuk perbincangan mereka yang santai dan akrab. Dia merasa semakin terpikat pada Yati, tetapi juga merasa takut akan konsekuensi jika dia bergerak terlalu jauh.


"Ah, wajahnya justru selaku datang di mana saja. T-api ... bagaimana jika Mr Ginting tahu tentang ini?"


Biyan merenung tentang apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Kehadiran Yati dalam hidupnya telah mengubah segalanya, dan dia tahu bahwa tidak ada jalan kembali. Namun, dia juga paham bahwa langkah yang dia ambil harus hati-hati dan dipertimbangkan matang-matang.


Dalam kegelapan kamar hotel, Biyan merasa seperti berada dalam pertarungan internal yang rumit. Dia tahu bahwa dia harus menghadapi kenyataan dan membuat keputusan, meskipun tidak mudah.

__ADS_1


Malam itu, dalam kesusahan pikiran dan perasaannya, Biyan terus merenung, mencari solusi yang paling tepat untuk situasi yang rumit ini.


Keesokan paginya, suasana di hotel menjadi semakin kompleks dengan kehadiran Mr. Ginting. Dia tiba setelah melewati perjalanan yang sulit dan penuh perjuangan karena hujan dan hambatan di jalan.


Dengan sangat terpaksa, kemarin Mr Ginting harus berhenti terlebih dahulu dan menginap di sebuah hotel kecil sebelum sampai di tempat tujuan. Ini karena hujan kembali turun dengan deras setelah kemacetan yang dilaluinya, sehingga jarak pandang terbatas.


"Biyan! Ahhh, akhirnya."


"Mr Ginting?"


Ketika mereka bertemu, Mr. Ginting tidak bisa menyembunyikan kelelahannya, tetapi dia juga terlihat antusias karena akhirnya sampai di tujuan.


Biyan merasa campur aduk saat melihat Mr. Ginting. Di satu sisi, dia merasa tidak enak hati karena menyadari bahwa selama perjalanan kemarin, Mr. Ginting telah mencoba menghubungi dan mencari tahu di mana dia berada. Di sisi lain, Biyan merasa perlu menjaga profesionalisme dan tidak ingin memberikan tanda-tanda bahwa ada yang aneh di antara mereka.


"Selamat pagi, Mr. Ginting. Ternyata perjalanan semalam penuh tantangan ya?" tanya Biyan dengan tersenyum tipis.


"Iya, Biyan. Hujan deras dan beberapa rintangan di jalan membuat perjalanan jadi cukup sulit," jawab Mr Ginting dengan senyum lelahnya.


"Ya, terkadang cuaca bisa mempengaruhi perjalanan kita." Biyan berusaha untuk mencoba terlihat tetap santa.


Mr. Ginting mengangguk setuju. situ juga yang ia alami kemarin. Meskipun jarak antara Jakarta Bogor tidak terlalu jauh, tapi kondisi cuaca dan perjalanan tidak bisa ditebak.


Permasalahan itu justru yang membuat semua terlihat kacau dan menjadi penghambat.


"Oh, iya, tidur cukup nyenyak. Terima kasih sudah bertanya."


Biyan menjawab seadanya, menahan sedikit rasa canggung yang tiba-tiba muncul dalam interaksi mereka berdua.


"Baguslah kalau begitu," sahut Mr Ginting dengan tersenyum sinis.


Akhirnya mereka berbicara dengan santai, tetapi Biyan merasa tekanan di balik kata-kata kalimat yang diucapkan Mr Ginting.


Kehadiran Mr. Ginting dan perasaannya terhadap Yati menjadi fokus yang tidak bisa diabaikan, membuatnya merasa semakin tidak karuan.


Sambil mencoba tetap berpura-pura santai, Biyan merenung tentang bagaimana ia bisa mengatasi situasi ini dengan kebijaksanaan. Dalam hatinya, dia tahu bahwa keputusan yang harus diambilnya akan memiliki dampak besar, tidak hanya pada dirinya sendiri, tetapi juga pada hubungan antara mereka dan tugas yang mereka jalani bersama.


"Biyan, aku rasa ini saatnya aku bertanya. Bagaimana kabarnya, Mis Yeti"


Deg!


Biyan merasa seolah ditabrak kejutan. Pertanyaan itu datang dengan tiba-tiba, dan dia harus menemukan cara untuk merespons tanpa mengungkapkan lebih dari yang seharusnya.

__ADS_1


"Oh, ya ya, Mis Yeti baik-baik saja. Kami berbicara beberapa kali dan dia tampaknya menikmati waktu di sini," jawab Biyan berusaha tetap tenang.


"Bagus. Aku senang mendengarnya. Kamu tahu, Mis Yeti adalah orang yang istimewa bagiku. Kami memiliki banyak kenangan bersama," ungkap Mr Ginting dengan senyum menerawang.


Biyan merasakan beban di pundaknya. Dia bisa merasakan betapa pentingnya Yati bagi Mr. Ginting. Kehadiran Yati dalam hidup Mr. Ginting tampaknya begitu mendalam dan berarti.


"Ya, saya bisa merasakan bahwa hubunganmu dengannya begitu spesial. Anda, pasti punya banyak cerita tentang masa lalu kalian."


Biyan berbicara dengan tetap mencoba menjaga ketenangan dirinya. Ia tidak mau asal bicara, yang pastinya membuat Mr Ginting curiga.


"Benar sekali. Ada banyak kenangan yang sulit untuk dilupakan. Tapi kami berdua tahu, tak selamanya hal berjalan seperti yang kita inginkan."


Terdengar suara helaan nafas panjang dari Mr Ginting. Biyan merasa terdorong untuk memahami sisi Mr. Ginting yang lebih dalam. Kehadirannya di sini, menjaga Yati dengan tugas profesional, sekarang menjadi lebih rumit dengan fakta bahwa Mr. Ginting dan Yati pernah memiliki hubungan yang lebih dalam dan berarti dibandingkan dengan dirinya sendiri.


"Ya, kadang kehidupan memang punya rencana sendiri untuk kita." Biyan tetap berkata dengan memilih kata-kata dengan hati-hati.


Mr. Ginting menganggukkan kepalanya beberapa kali, mengiyakan perkataan pemuda yang bekerja untuknya.


"Betul sekali. Baiklah, terima kasih atas jawabanmu, Biyan."


Percakapan ini justru meninggalkan Biyan dengan rasa campur aduk. Dia merasa semakin terjepit di antara perasaannya sendiri, tanggung jawab profesinya, dan hubungan yang pernah ada antara Mr. Ginting dan Yati. Perjalanan batinnya semakin rumit, karena ia menyadari bahwa setiap langkah yang diambilnya sekarang akan memiliki konsekuensi yang mendalam bagi semua yang terlibat.


'Bagaimana caranya aku berterus-terang?'


Meskipun ingin berbicara tentang hubungannya dengan Yati, Biyan merasa seperti ada beban besar yang menghentikannya. Dia merasa seolah-olah lidahnya terikat dan tidak bisa berbicara.


Pikirannya terus berputar, mencari cara untuk mengungkapkan rahasia ini tanpa merusak hubungan dengan Mr. Ginting.


"Emhhh ... Mr Ginting, itu ... saya ..."


"Ada apa, Biyan?" tanya Mr Ginting ingin tahu.


"Emhhh ... oh ya, tidak apa-apa. Tidak jadi, Mr."


Setiap kali dia mencoba membuka mulut, dia merasa kebingungan dan takut. Dia tahu bahwa jika dia mengungkapkan hubungannya dengan Yati, bisa saja Mr. Ginting merasa dikhianati atau bahkan marah. Biyan merasa bertanggung jawab atas posisinya sebagai pengawas dan merasa harus menjaga batas profesional.


Maka, dengan hati berat, Biyan akhirnya memilih untuk bungkam. Meskipun hatinya ingin berbicara, dia tahu bahwa keputusan untuk tidak mengungkapkan hubungannya dengan Yati adalah yang terbaik untuk saat ini.


'Sebaiknya aku diam saja,' batin Biyan memutuskan.


Mata Biyan memandang ke arah lain, merasa bahwa dia telah mengambil langkah yang bijaksana. Meskipun perasaannya rumit, dia merasa bahwa menahan diri adalah tindakan yang benar untuk menghormati hubungan yang ada dan menjaga keseimbangan yang rapuh.

__ADS_1


Dengan keputusan itu, Biyan menyimpan rahasia masa lalu bersama Yati di dalam hatinya. Meskipun penuh dengan perasaan yang tak bisa dinyatakan, dia tahu bahwa dia harus fokus pada tugas profesionalnya dan menghindari memperburuk situasi yang rumit ini.


__ADS_2