
Ternyata, apa yang dikatakan oleh Yati benar. Jika orang yang datang kemarin ada perlu penting, pastinya dia akan datang kembali untuk mencari dirinya.
Begitulah kira-kira. Dan pada malam harinya, orang tersebut kembali datang ke rumah mbok Minah untuk menemui Yati.
"Mr Ginting?"
Dengan tidak percaya pada apa yang dia lihat, Yati menyapa Mr Ginting, yang berdiri di depan pintu rumah.
Ada bodyguardnya, yang bertugas sebagai supir. Dan supir itu adalah orang yang sama dengan yang pernah mengantar Yati di saat pulang kampung dulu, ketika dia masih menjadi istrinya Mr Ginting sendiri.
"Miss Yeti."
Mr Ginting juga menyapa Yati, saat Yati keluar dari dalam rumah dan membuka pintu untuknya.
Mr Ginting langsung memeluk Yati. Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin dia sampaikan pada mantan istrinya itu.
Tapi sesak dalam dadanya, membuatnya hanya bisa mengeluarkan kata maaf.
"Maaf."
Yati bingung dengan apa yang dikatakan oleh Mr Ginting padanya. Dia memang tidak tahu apa-apa lagi, setelah meninggalkan tempat di mana dulu dunia-nya berada.
"Nduk. Ajak masuk. Gak enak jika di lihat orang."
Dari arah belakang Yati, mbok Minah memperingatkan cucunya itu.
Akhirnya, Yati mengajak Mr Ginting untuk masuk ke dalam rumah, bersama dengan supirnya, yang tentu saja Yati tahu jika supir tersebut juga merangkap sebagai bodyguardnya Mr Ginting, saat ke rumah Yati saat ini.
Setelah kedua tamunya itu duduk di ruang tamu, mbok Minah pergi ke dapur untuk menyiapkan air minum.
Dari ruang tamu, terdengar suara Mr Ginting, yang meminta maaf kepada Yati, khusus dari dirinya sendiri dan juga sang Kakek.
Menurut cerita yang disampaikan oleh Mr Ginting, sang Kakek kini telah tiada. Dia meninggal sebulan yang lalu setelah bolak balik di rawat di rumah sakit.
Mr Ginting akhirnya tahu semua kebenaran yang ada, dari sang Kakek sendiri dan juga Mr Andre.
Dari Mr Andre, Mr Ginting akhirnya tahu juga, apa yang dilakukan Yati dan sang Kakek selama berada di Singapura waktu itu.
"Maaf miss Yeti. Saya terlambat untuk tahu semuanya. Ini karena kebodohan yang Aku miliki."
Yati tersenyum tipis mendengar perkataan yang diucapkan oleh Mr Ginting padanya.
"A-ku... Aku juga sudah tidak tinggal di Indonesia. Aku ada di Eropa, dan akan menikah dua minggu lagi."
Akhirnya Mr Ginting bisa juga mengatakan semua yang ingin dia katakan. Baik untuk sang Kakek atau untuk dirinya sendiri.
"Selamat Mr. Semoga, kebahagiaan akan selalu ada di dalam kehidupan Mr ke depan," kata Yati, yang memberikan ucapan selamat untuk semua rencana Mr Ginting.
__ADS_1
"Terima kasih miss Yeti."
Sebenarnya, Mr Ginting hanya menjalankan wasiat dari sang Kakek, yang memintanya untuk segera menikah dan itu bukan dengan miss Yeti ataupun miss Kiara.
Sang Kakek tidak ingin mengulang sejarah dengan adanya karma, karena miss Yeti adalah anak dari wanita-nya yang dulu. Meskipun bukan dengan sang Kakek, tapi dengan laki-laki yang lain.
Tapi itu tidak menjadi masalah dan beban untuk Yati. Dia sudah memutuskan untuk tinggal dan hidup di kampung, menemani mbok Minah.
Meskipun dengan segala resiko yang harus dia terima. Baik tidak adanya kemewahan, serta kadang kala masih ada yang akan menggunjing dan membicarakan dirinya di masa lalu.
Yati sadar, jika kehidupan yang dulu, jauh dari kata baik.
Dan sudah lumrah untuk masyarakat, jika kadang kala, kehidupan seseorang akan tetap diungkit, dan disangkutpautkan dengan masa lalunya. Karena memang itu kadang benar adanya.
"Ini adalah barang-barang dan hadiah yang dulu pernah miss Yeti tinggalkan di rumah."
Mr Ginting, menyerahkan sebuah kotak, yang tadi di bawa oleh supirnya. Dan sekarang, diserahkan kepada Yati.
Yati ragu untuk menerima kotak tersebut. Tapi Mr Ginting mengangguk dengan pasti, agar Yati tidak ragu untuk menerima.
Pada saat Yati melihat isi kotak tersebut, ada banyak sekali barang-barang yang dulu merupakan hadiah pernikahan atau yang lain, yang diberikan oleh sang Kakek, Surya Jaya ataupun dari Mr Ginting sendiri.
"Tapi Mr. Ini..."
"Ini adalah milikmu. Semoga akan menjadi lebih bermanfaat untuk dirimu. Dan selamat dengan kehidupan barumu. Semoga ini adalah pilihan yang tepat, dan kebahagiaan serta keberhasilan akan ada bersamamu."
Yati ataupun mbok Minah, tidak mungkin bisa menahan Mr Ginting agar tidak pulang terlebih dahulu.
"Terima kasih Mr Ginting. Hati-hati."
Yati membungkukkan badannya, sama seperti yang biasa dia lakukan saat masih berada di restoran Jepang milik Mr Akihiko.
Itu adalah sebuah tanda hormat dan juga rasa terima kasih, yang tidak perlu banyak kata-kata.
Tak lama kemudian, mobil Mr Ginting tampak meninggalkan halaman rumah mbok Minah, dengan perasaan yang lega, dari kedua belah pihak tentunya. Yaitu Mr Ginting dan juga Yati sendiri. Semua sudah jelas dan selesai dengan baik-baik.
Setelah kepergian Mr Ginting, Yati membuka kotak yang tadi diberikan oleh Mr Ginting kepadanya.
Ada jam tangan mewah yang dulu diberikan oleh sang Kakek padanya. Ada juga beberapa perhiasan yang diberikan oleh Mr Ginting sebagai hadiah untuknya.
Dan yang lebih mengejutkan Yati adalah, kunci mobil mewah yang dulu pernah diberikan oleh Surya Jaya, sebagai hadiah untuk pernikahan mereka, Yati dan Mr Ginting.
"Mbok. Ini..."
Yati tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena dadanya kembali penuh sesak.
Mbok Minah memeluk cucunya itu. "Jika memang ini milikmu, rejeki dari Tuhan, kapanpun itu, pasti akan kembali menjadi milikmu Nduk. Di syukuri saja," kata mbok Minah menenangkan hati dan pikirannya Yati.
__ADS_1
Dan keterkejutan Yati bertambah lagi dengan adanya sebuah kartu ATM, dengan nama miss Kiara.
Itu adalah kartu ATM yang dulu pernah diberikan Mr Ginting, saat dia menjadi istrinya. Dan uang yang ada di dalamnya belum pernah digunakan oleh Yati sendiri untuk berbelanja, ataupun digunakan untuk keperluan pribadinya selama menjadi istri dari Mr Ginting.
Yati tidak hanya terasa sesak, tapi sekarang jadi menangis.
Dia menangis dalam keharuan dan kebahagiaan tidak bisa dia ucapkan.
Yati juga merasa bersyukur, atas semua yang sudah dia terima malam ini.
"Alhamdulillah Nduk. Mungkin ini adalah jalan yang diberikan oleh Tuhan, atas keputusan yang Kamu ambil."
*****
Siang hari, sebuah mobil sport mewah dikirimkan ke rumah Yati. Semua tetangga Yati yang kebetulan ikut melihatnya, terkagum-kagum dengan mobil tersebut.
"Wihhh, apik ya?" ( wah bagus ya )
"Iya apik tenan."
"Yati entok lanangan ndi meneh?" ( Yati dapat laki-laki mana lagi? )
"Untung terus ya si Yati." ( Untung terus itu si Yati )
Maksudnya adalah, kehidupan Yati selalu di anggap beruntung untuk sebagian orang di kampungnya.
Orang lain tidak akan tahu bagaimana perjuangan hidup yang dijalani oleh Yati selama ini.
Mereka hanya tahu, bahwa Yati selalu berbahagia dengan semua yang dia miliki dan lakukan.
Sawang sinawang. Orang lain melihat keadaan orang lain, tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya.
And ya gaess, untuk seosen 1
lanjut lagi seosen 2 besok-besok, untuk kisah Yati setelah hidup di kampung 😊🙏✍️✌️
****
Hai semuanya.
Terima kasih atas masih mendukung novel ini. Novel TK ini, hanyalah bentuk kritik kecil, dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat. Dan ini hanya bentuk tulisan khayalan, bukan nyata.
Semoga bermanfaat, dan bisa dipetik manfaatnya dan pelajaran untuk kehidupan kita sehari-hari.
Selamat beraktifitas, dan semoga selalu dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Tuhan.
Baca juga novel-novel TK yang lainnya 😍😍🙏🙏
__ADS_1