
Yati datang ke rumah kang Yoga, pagi hari, bersama dengan mbok Minah. Dia datang, untuk menyampaikan bela sungkawa, atas meninggalnya kang Yoga.
Ke-dua orang tuanya kang Yoga, menangis saat Yati datang. Terutama ibu kang Yoga. Beliau memeluk Yati, dengan tangisannya yang tidak bisa mengeluarkan suara.
Ibu kang Yoga terisak-isak, meskipun tidak ada suaranya.
Yati membiarkan ibunya kang Yoga, memeluknya dengan berderai air mata, karena kesedihannya.
"Nduk Yati. Maaf yo Nduk, nek kang Yoga ada salah-salah karo awakmu. Matur suwun juga, awakmu wes akeh nek bantu dia selama sakit wingi-wingi."
Yati hanya mengangguk sambil menahan air mata, yang hampir keluar. Dia ikut merasa sedih, di dalam pelukan ibu dari kang Yoga.
Setelah suasana sedikit lebih baik, ibu dan bapaknya kang Yoga, memberitahu pada Yati dan mbok Minah, dengan surat wasiat yang diberikan oleh kang Yoga untuk Yati.
Karena semua biaya operasi dan rumah sakit kang Yoga selama di rawat, di tanggung oleh Yati, dan kang Yoga serta keluarganya juga belum mampu mengendalikan biaya tersebut, maka, rumah tanah milik kang Yoga, diserahkan kepada Yati, sebagai ganti dari biaya yang dikeluarkan oleh Yati selama ini.
Begitu juga dengan buku tabungan mbok Minah, yang dia titipkan pada kang Yoga. Sekarang diserahkan kepada mbok Minah juga.
"Kami harap, Yati dan Mbok Minah, memaafkan anak kami, Yoga, jika ada kesalahan yang dia lakukan selama hidupnya."
Bapaknya kang Yoga, memintakan maaf untuk semua kesalahan anaknya, pada Yati dan mbok Minah. "Namanya hidup, pasti ada kesalahan-kesalahan, yang sering terjadi, baik sengaja atau tidak. Ikhlaskan ya Mbok, Nduk?"
"Iya Kang Mas. Kami memaafkan semua kesalahan Yoga. Kami juga minta maaf, pada kalian berdua, sebagai orang tua Yoga." Mbok Minah, meminta maaf juga pada kedua orang tuanya kang Yoga.
Semua wasiat yang diberikan oleh Yoga, sudah dilaksanakan oleh ibu dan bapaknya. Dan mbok Minah dengan Yati, juga menerima wasiat tersebut, dengan sama-sama saling ikhlas.
Yati juga menyerahkan sejumlah uang, untuk biaya kematian kang Yoga. Dia juga meminta maaf pada mereka berdua, karena tidak bisa ada di kampung dalam waktu yang lama. Dia ada keperluan yang mendesak, di kota.
Yati menyerahkan semua keputusan tentang wasiat kang Yoga pada Mbok Minah. Karena Yati hanya bisa berada di kampung selama dua hari. Setelah itu, dia kembali lagi ke kota, karena sudah ada kesepakatan bersama dengan sang Kakek, untuk menjemput ibunya dari Singapura, untuk pulang ke Indonesia.
Sehari kemudian, Yati benar-benar kembali lagi ke kota. Dia berpamitan dan juga meminta doa restu pada mbok Minah, supaya diberikan kemudahan dalam urusannya kali ini.
"Hati-hati ya Nduk."
Mbok Minah tidak bisa memberikan banyak nasehat pada Yati. Dia hanya meminta pada Yati, untuk tetap berhati-hati dalam melakukan apa-apa, termasuk urusannya yang sekarang ini. Menjemput ibu kandung Yati, yang tidak dia kenal selama hidupnya.
*****
..."Kiara sudah kembali Kek. Kapan kita berangkat ke Singapura? atau Kiara sendiri yang menjemput ibu?"...
Yati menghubungi sang Kakek, begitu dua sampai di kota. Dia ingin mendapatkan kepastian, tentang keputusan yang diambil oleh sang Kakek.
..."Nanti Sore Kiara. Datanglah ke bandara. Kita ketemu di bandara saja."...
__ADS_1
..."Baik Kek."...
Klik!
Panggilan telpon terputus. Yati menghela nafas panjang, sambil memejamkan mata. Setelah itu, baru dia keluar dari dalam mobil.
Yati memang baru saja sampai di halaman kost miliknya, dan kemudian menghubungi sang Kakek, sebelum melakukan apa-apa terlebih dahulu.
Sekarang, Yati akan beristirahat terlebih dahulu, sebelum nanti sore, pergi lagi untuk bertemu dengan sang Kakek di bandara. Dia dan sang Kakek, akan terbang ke Singapura, untuk menjemput ibunya Yati.
"Tunggu Yati Bu. Dan semua akan baik-baik saja."
Yati menyakinkan dirinya sendiri, bahwa dia pasti mampu, mengatasi semuanya dengan baik.
"Oh ya, Mr Akihiko! Bagaimana dengan urusannya dengan Mr Ginting?" Yati kembali bertanya-tanya dalam hati, bagaimana urusan kerjasama dengan Mr Ginting, terkait batalnya pernikahan mereka, sebelum waktu yang sudah ditetapkan.
"Ah, Aku nunggu saja, apa yang akan terjadi. Aku tidak bisa berpikir, dengan resiko pembatalan pernikahan kontrak ini. Semoga saja, Mr Ginting tidak menuntut apa-apa padaku. Aku juga tidak tahu, jika semua misteri tentang kehidupanku selama ini, ada pada keluarganya. Padahal, kami berdua, baru saja saling kenal. Dan kakeknya, ternyata adalah seorang laki-laki yang ada di masa lalu ibuku, juga dengan keadaanku hingga bisa seperti sekarang ini."
Yati menghela nafas panjang, mengingat perjalanan hidupnya yang berliku-liku. Dua sadar, jika semuanya ini sudah menjadi salah satu jalan yang harus dia lalui, untuk bisa bertemu kembali dengan ibu kandungnya.
Bahkan, Yati juga bertekad untuk bisa menemukan keberadaan ayahnya. Mungkin dengan bertemu dengan ayahnya, kemudian dipertemukan dengan ibunya, itu bisa menjadi penyebab ibunya menjadi sadar dan lebih baik keadaannya, dibandingkan dengan keadaannya sekarang ini.
"Aku bertanya pada Mr Andre saja. Mungkin dua punya petunjuk, yang bisa membawaku ke tempat ayah."
Apalagi jika ayahnya, sudah memiliki kehidupan keluarga sendiri yang lebih baik. Yati tidak ada keinginan, dan maksud untuk membuat kehancuran dan kesulitan pada ayahnya di kemudian hari.
Dia hanya ingin tahu, bagaimana dan seperti apa ayah kandungnya sendiri.
*To Mr Andre
Jika berkenan, bolehkah Saya meminta tolong pada Anda Mr Andre?
Saya ingin tahu, dan juga bertemu dengan ayah kandungku. Aku tidak ada maksud apa-apa. Hanya ingin tahu saja.
Dan jika memungkinkan, ayah bisa jadi salah satu penyebab membaiknya kondisi ibu, dari depresinya.
Saya mohon, Mr Andre berkenan untuk menjawab pesan dari Saya, dan memberikan petunjuk.
Terima kasih.
From miss Yeti*
Send
__ADS_1
Yati tersenyum sendiri melihat pesan singkat yang dia kirimkan untuk Mr Andre.
Dia berharap, agar Mr Andre mau membantunya lagi untuk bisa menemukan ayahnya.
Drettt
Drettt
Drettt
Handphone milik Yati bergetar. Ada panggilan masuk untuknya.
"Kakek?"
Yati bertanya-tanya, karena ternyata saat ini, yang sedang menghubungi dirinya adalah sang Kakek.
Dengan cepat, Yati menerima panggilan telpon tersebut.
..."Ya halo Kek!"...
..."Kiara. Berangkat ke bandara sekarang juga. Pesawat sudah siap. Kita berangkat ke Singapura sekarang."...
..."Tadi kata Kakek..."...
..."Cepat, atau Kakek tinggal? Kakek sudah dalam perjalanan ke bandara sekarang ini."...
..."Iya-iya. Kiara berangkat sekarang juga!"...
Klik!
Yati tidak bisa bertanya apa-apa lagi, karena sang Kakek mendesaknya untuk segera berangkat ke bandara sekarang juga.
Entah apa yang terjadi, Yati juga tidak tahu. Karena pada saat Yati mau bertanya, sang Kakek sudah memotong kalimatnya terlebih dahulu.
Sekarang, Yati tidak jadi beristirahat. Dia menyambar tasnya, yang baru saja dia letakkan di atas meja. Keluar, kemudian mengunci pintu kamar kostnya lagi.
Dia kembali berjalan dengan cepat, menuju ke tempat mobilnya terparkir.
Tak butuh waktu lama, mobil Yati, kembali melaju di jalan, dan sekarang menuju ke arah bandara, di mana sang Kakek juga dalam perjalanan ke bandara.
Mereka berdua, akan segera berangkat ke Singapura, untuk melihat keadaan ibu Yati, yang kata pihak rumah sakit, ibu tersebut sedang berada dalam kondisi kritis.
Tapi, Yati tidak diberitahu tentang kondisi ibunya. Sang Kakek, hanya memintanya untuk segera berangkat ke bandara sekarang, karena pesawat sudah siap untuk terbang ke Singapura. Negara tujuan mereka berdua.
__ADS_1