
Suasana canggung dirasakan oleh Yati dengan Mr Andre. Kedekatan yang mereka rasakan tidak dapat dihindari, mengingat masa lalu mereka yang telah lama saling mengenal lebih dari sekedar dekat saja.
Situasi yang sulit dan perasaan saling mendukung dalam momen kebingungan ini membuat mereka semakin dekat, meskipun awalnya mereka telah terpisah lama. Hanya waktu yang akan menjawab pertanyaan apakah perasaan itu akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih, atau kandas seiring waktu yang berlalu.
Tuan Wasito, yang bijaksana dan memahami situasi yang berkembang antara Yati dan Mr. Andre, memilih untuk diam dan hanya mengamati. Ia tidak ingin mempengaruhi keputusan Yati atau membuatnya merasa tertekan dalam menghadapi perasaannya.
'Aku tidak akan meminta atau melarang Yati, untuk kehidupan masa depannya sendiri. Andre juga bukan suami orang, jadi ... semua tergantung keputusan Yati sendiri.'
Begitulah Tuan Wasito memutuskan, sebab ia tidak mau mengulang masa lalu yang telah merusak hubungan "wanitanya" dengan "Tuan besarnya" dulu, meskipun mereka saling mencintai.
Sebagai ayah, ia memahami bahwa anaknya harus membuat pilihan sendiri dalam hal hubungan dan perasaan. Tuan Wasito hanya berharap yang terbaik untuk Yati dan keluarganya, dan dia siap memberikan dukungan apa pun yang dibutuhkan dalam proses ini.
'Jika Tuan Besar tidak memberikan restunya untuk sang cucu, agar bisa bersama dengan Yati, aku tidak akan memaksa meski itu hanya untuk balas dendam.'
Tuan Wasito tidak mau egois, dan menyerahkan segala keputusan kepada anaknya Ia, telah mengetahui segala cerita tentang hubungan antara Mr Ginting dengan Yati, dan karena itulah Yati mengetahui jati dirinya, asal-usulnya, sehingga bisa mencari keberadaan dirinya.
'Tanpa adanya Mr Ginting, Yati tidak akan pernah bertemu dengan Tuan Besar, dan tidak akan pernah mencariku untuk selamanya.'
Dengan hubungan yang rumit dan saling berhubung ini, Tuan Wasito hanya berharap yang terbaik untuk Yati.
Tuan Wasito melanjutkan untuk memberikan dukungan kepada Yati dengan penuh kesabaran. Ia ingin anaknya merasa nyaman dalam menghadapi perkembangan perasaannya tanpa tekanan dari pihaknya. Meskipun ada banyak ketidakpastian dalam hidup mereka saat ini, Tuan Wasito ingin memastikan bahwa keluarganya tetap kuat dan bersatu.
Sementara itu, ia juga memahami bahwa hubungan dengan Mr. Andre adalah kompleks, mengingat sejarah pertemanan yang panjang. Tuan Wasito siap mendengarkan Yati jika ia ingin berbicara tentang perasaannya atau pertanyaan yang mungkin timbul dalam pikirannya.
Dalam situasi yang penuh tekanan ini, Tuan Wasito berharap bahwa keluarganya akan menemukan jalan mereka untuk melewati semua cobaan ini bersama-sama, sambil tetap menghormati keputusan dan perasaan satu sama lain.
***
Pada pagi hari, saat Yati dan Tuan Wasito mau berangkat ke kantor polisi, Mr Andre telah datang ke rumah mereka. Ia ingin menemani mereka ke kantor polisi, dan menggunakan nama besarnya agar pihak kepolisian segera melakukan tugasnya dengan baik.
Selama ada di Semarang, Mr Andre memang memutuskan untuk tinggal di hotel. Ia tidak mau menginap di rumah Tuan Wasito, meskipun sudah ditawari. Apalagi rumah teman masito sangat besar dan memiliki banyak kamar. Tapi mantan duta besar RI itu tidak mau, bahkan ia menyuruh supirnya untuk pulang ke Jakarta terlebih dahulu dengan naik pesawat, sedangkan dia menyetir sendiri selama tinggal di Semarang.
"Mau berangkat, sekarang?" tanya Mr Andre, begitu turun dari mobil dan melihat Yati beserta ayahnya sudah siap.
__ADS_1
"Ya, Mr Andre. Pihak kepolisian meminta kami datang jam 09.00," jawab Yati, dengan melihat pergelangan tangannya.
Jarum jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan angka delapan, sehingga Yati harus segera berangkat karena tidak mau terlambat sampai di kantor polisi.
"Saya, akan mengantar kalian. Saya, akan bicara dengan kepala kepolisian untuk menangani kasus ini secepatnya."
Yati, hampir saja menolak. Tapi segera dicegah oleh Tuan Wasito, dengan memegang tangan anaknya, meminta untuk tidak menolaknya.
Tuan Wasito tahu, jika Mr Andre bisa melakukan apa saja untuk membantu mereka. Dengan kekuasaannya, meskipun sudah pensiun, nama besar Mr Andre akan tetap berpengaruh di jajaran pejabat negara maupun penegak hukum.
"Ya sudah, mari!"
"Terima kasih, Tama."
Mr Andre, mengucapkan terima kasih kepada Tuan Wasito, meskipun ayahnya Yati itu tidak berbicara apapun. Tapi ia tahu, jika keputusan Yati ini adalah karena ayahnya.
Tuan Wasito hanya tersenyum tipis, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak mau memperkeruh suasana, sebab ia tahu bahwa Yati canggung berada di dekat Mr Andre.
Sepanjang perjalanan mereka diam saja, larut dalam pikiran masing-masing. Yati dengan segala pertimbangan, Mr Andre dengan rasanya yang berbunga-bunga, sedangkan Tuan Wasito berharap agar kasus ini cepat selesai.
"Terima kasih, Mr Andre."
Mr Andre, membukakan pintu mobil dan juga membantu Tuan Wasito turun, sehingga Yati mengucapkan terima kasih. Sedang ayahnya, Tuan Wasito, hanya mengangguk samar.
"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" sapa polisi jaga.
"Pagi. Saya, mau bertemu dengan kepala polisi di sini. Bilang, ada Andre. Mantan ambasador Amerika."
Mr Andre, langsung pada inti kedatangannya ke kantor polisi ini. Ia juga menggunakan nama besarnya, agar dilayani dengan cepat.
Tuan Wasito, melihat dan menyaksikan sisa-sisa kekuasaan Mr Andre yang masih sangat besar pengaruhnya. Berbeda dengan dirinya, meskipun banyak orang yang mengenalnya, tapi tetap saja berbeda jika dibandingkan dengan Mr Andre.
"Oh, Mr Andre. Silahkan masuk, mari ... mari silahkan ke ruangan saya!"
__ADS_1
Dati lorong, seorang laki-laki dengan tubuh gempal, tinggi besar, menyambut dan meminta Mr Andre untuk ikut bersama dengannya ke ruangan kerja.
"Ayo, Tama, Mis Yeti!"
Mr Andre, mengajak Tuan Wasito bersama dengan Yati untuk ikut bersama dengannya juga. Ia akan melakukan apa saja demi bisa membantu Yati, meskipun dengan cara seperti sekarang ini.
"Suatu kehormatan, Mr Andre datang ke kantor saya ini."
Ungkapan basa-basi, terdengar dari pria yang berkuasa di kantor polisi ini. Ia tentu saja sangat menghormati Mr Andre, yang ia tahu adalah sebagai salah satu pejabat negara dengan karir yang "cemerlang" beberapa tahun kemarin.
"Terima kasih, kembali. Saya, datang ke sini untuk meminta bantuanmu."
Mr Andre, mengucapkan terima kasih kembali, kemudian langsung mengatakan maksud kedatangannya ke kantor polisi Semarang ini.
"Hemmm ... Mr Andre, saya mengerti. Tapi, yang menjadi masalahnya adalah tidak adanya bukti yang kuat karena kamera CCTV yang bisa menguatkan."
Yati dan Tuan Wasito, hanya menyimak obrolan mereka berdua. Sedangkan Mr Andre, lebih banyak memberikan tekanan pada kepala Polisi tersebut untuk bekerja semaksimal mungkin.
"Tidak ada yang tidak mungkin. Apa, saya harus terjun ke lapangan langsung untuk menyelidiki?" tantang Mr Andre.
"Bukan, bukan begitu Mr Andre. Maaf, saya akan memastikan kinerja anak buah saya semaksimal mungkin."
Kepala polisi tersebut akhirnya merasa tertantang, juga ditekan. Ia tidak mungkin bisa membiarkan besar antri untuk terjun ke lapangan secara langsung karena itu akan mengorbankan jabatannya.
Pria gempal itu tahu, bagaimana sepak terjang Mr Andre sewaktu muda, sebelum menjadi seorang ambassador.
"Lakukan secepatnya, sebab kamu tidak pernah tahu jika Tuan Wasito ini, adalah rekan kerja saya sewaktu masih muda dulu. Jadi, kamu pasti tahu kemampuan Tuan Wasito ini juga tidak kalah dengan saya."
Akhirnya, Mr Andre mengakui Tuan wasito sebagai rekan kerjanya, yang itu artinya sama hebat dengan dirinya.
"Ya, baik Mr Andre. Sesuai dengan keinginan Anda."
Senyum tipis terbit di wajah Mr Andre, begitu juga dengan Tuan Wasito. Sedangkan Yati, hanya diam saja dari tadi menyimak.
__ADS_1
'Nama besar seseorang memang bisa diandalkan, dalam situasi seperti ini.' Yati, membatin sendiri.