Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Tersiksa


__ADS_3

Mr Ginting, menikah karena permintaan sang kakek. Meskipun isterinya cantik dan menarik karena berprofesi sebagai modal dan perancang busana, tetap saja hatinya tidak bisa berpaling. Sudah lima tahun menjalani pernikahan ini Tapi tetap saja tidak bisa berbuat apa-apa sebagaimana mestinya sepasang suami istri.


Dia tahu istrinya tersiksa, tapi ia tidak bisa menceraikannya begitu saja. Semuanya seperti sebuah taktik politik yang rumit.


***


Lima tahun lalu.


Ruangan yang elegan dengan nuansa vintage. Lukisan-lukisan tua dan furnitur klasik menghiasi ruangan.


Mr. Ginting, seorang pria matang dengan ekspresi serius, duduk di atas sofa, menggelengkan kepala sambil menatap keluar jendela.


Seorang wanita cantik berambut panjang dan berpakaian modis, duduk di seberangnya. Wanita itu tampak gelisah, dengan wajahnya yang kecewa sambil menatap ke luar jendela dengan tatapannya yang hampa.


"Aku tahu kau tidak bahagia, Nona. Tapi kamu juga tahu, ini semua seperti taktik politik yang rumit."


Mr. Ginting, dengan suara pelan mengatakan apa yang dia ketahui. Pria itu tahu apa yang dirasakan oleh wanita itu, karena itu sama seperti yang dirasakannya juga.


"Tapi ini bukan politik, ini tentang hidup kita. Aku merasa seperti di dalam penjara, tidak bisa melakukan apapun dengan bebas seandainya menikah denganmu."

__ADS_1


Wanita itu berbicara perlahan, mengungkapkan isi hatinya yang gundah.


"Hm, kamu tahu bahwa ini semua dimulai karena permintaan kakekku. Dia menginginkan ikatan ini demi bisnis keluarga kita."


Mr. Ginting menghela nafas, memberikan pembelaan karena semua ini memang bukan keinginannya sendiri.


Wanita itu menggelengkan kepala, tidak menyalahkan pria yang saat ini bersama dengannya.


"Aku tahu itu, tapi bisakah kita tidak menemukan jalan keluar? Aku tidak ingin terus-terusan seperti ini, Mr Ginting."


Pria itu mengeleng, berbicara dengan penuh penyesalan.


Wanita itu menghela nafas dengan nada putus asa, menyesali keputusannya yang tergiur dengan mudah atas tawaran kakek tua dari pria itu.


"Aku hanya ingin merasakan kebahagiaan, jika kita menikah dengan benar. Aku tahu kamu juga tidak bahagia dengan keadaan ini."


Ya, wanita itu juga tahu apa yang sedang dialami pria di depannya ini. Mereka berdua sama-sama terjebak dalam perjanjian dan kesepakatan yang tidak mudah dilanggar.


"Aku tidak pernah ingin menyakiti hatimu, Nona. Tapi aku merasa terjebak di antara kewajiban dan perasaanku sendiri."

__ADS_1


Mr. Ginting mengangguk perlahan, memahami apa yang terjadi diantara merdeka berdua.


Pernikahan dua hari lagi, dan semua sudah diatur sang kakek pria itu. Bahkan, sang kakek telah meninggal dunia tapi wasiatnya yang masih memberikan kekuasaan pada mereka untuk tidak bisa menolak.


"Mungkin kita bisa mencari jalan tengah. Bisakah kita bekerja sama untuk menemukan solusi? Apakah ada cara agar kita bisa menjalani hidup ini dengan lebih baik?"


Pertanyaan demi pertanyaan, langsung meluncur dari bibir Mr Ginting. Dia harus bisa mengajak wanita itu bekerjasama, meskipun mereka terjebak dalam ikatan pernikahan bisnis dan politik.


"Mungkin ... ah, tapi sulit sekali. Aku perlu memikirkan semuanya dengan hati-hati."


"Aku bersedia melakukan apa saja, asalkan kita bisa menemukan kebahagiaan masing-masing meski hidup bersama."


Ini memang ide gila, tapi menurut Mr Ginting dan Alisa tidak ada jalan keluar untuk masalah mereka ini.


Kehidupan mereka akhirnya menjadi semakin tidak jelas dan konflik batin semakin dalam.


Meskipun terlihat baik-baik saja di mata orang lain, Mr. Ginting dan istrinya terus merasakan rasa sakit dan kebingungan yang dalam, terperangkap dalam peran yang telah ditentukan oleh keluarga dan perjanjian pranikah yang rumit.


Terjebak dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah tahu akan seperti apa kedepannya nanti.

__ADS_1


__ADS_2