Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Tidak Bisa Menjawab


__ADS_3

Untung tidak dapat diraih.


Malang tidak dapat di tolak.


Begitulah mungkin, pepatah yang tepat untuk menggambarkan bagaimana kehidupan Yati, sedari dulu.


Waktu kecil, dia tidak mengenal siapa kedua orang tuanya. Jadi bahan ledekan teman-teman sepermainan dan sekolah juga.


Para tetangga, juga membicarakan tentang dirinya, yang tentunya berbeda dibandingkan dengan anak-anak dan saudara mereka, yang seumuran dengan Yati.


Kulit putihnya yang mencolok, dengan postur tubuh yang tentunya lebih jangkung, dibandingkan dengan anak-anak seusianya, membuat Yati seakan-akan bukan dari kalangan mereka di kampungnya.


Bahkan sekarang, di saat sudah bertemu dengan ibu kandungnya, dia juga tidak bisa melakukan apa-apa, saat ibunya menolaknya. Tidak mengenal siapa dirinya.


Dan Yati, tidak tahu apa yang bisa membuat ibunya itu mengingat dirinya, sebagai seorang anak.


Tapi kemarin itu, kebahagiaan Yati begitu besar, dengan perubahan sikap ibunya yang sangat di harapkan. Mereka berdua, Yati dengan ibunya, menghabiskan waktu bersama, seharian penuh.


Ibunya tampak bahagia, saat Yati mengajaknya bicara, jalan-jalan, dan menunggunya hingga tertidur.


Yati baru pulang ke penginapan yang dia sewa, setelah hari berganti dengan malam. Dan ibunya, sudah tertidur pulas, setelah makan dan juga meminum obatnya.


Sekarang, Yati berjalan dengan tenang, karena perasaannya saat ini sungguh berbeda dari kemarin-kemarin. Ada secercah harapan, untuk bisa mendapatkan ibunya, jika sikap ibunya itu terus menunjukan kemajuan.


Senyum di bibir Yati, tampak jelas, sedari dia keluar dari kamar ibunya. Dia juga tersenyum dan menegur beberapa perawat atau penjaga rumah sakit, saat berpapasan.


Tidak ada yang bisa membuat Yati tersenyum seperti sekarang ini, jika itu bukan karena ibunya.


"Semoga besok-besok, untuk seterusnya, ibu bisa bersikap seperti ini. Itu akan memudahkan dirinya sendiri, untuk bisa keluar dari rumah sakit, dan Aku bawa pulang ke Indonesia."


Yati bergumam seorang diri, sambil berjalan menuju ke arah kamar penginapan yang dia sewa.


Begitu sampai di kamar penginapan, Yati merebahkan tubuhnya, yang terasa lelah.


Matanya terpejam, menikmati kebahagiaan yang masih dia rasakan hingga saat ini. Kemajuan yang sangat diinginkan oleh Yati, untuk ibunya.


Ting!


Notifikasi pesan email-nya berdenting. Dan saat Yati membukanya, ternyata itu pesan dari Mr Andre, yang baru saja terkirim untuknya.


To miss Yeti


Bagaimana kabarmu dan juga ibumu miss Yeti? Saya harap, Kamu dan ibumu tetap dalam keadaan sehat dan ada kemajuan untuk ibumu juga saat ini.


Saya ingin memberi kabar padamu miss Yeti, bahwa Saya ada kunjungan ke Singapura duea hari ke depan.


Jika diperbolehkan, Saya ingin mampir ke rumah sakit, untuk menengok ibumu. Sudah sangat lama, Saya tidak melihatnya.


Semoga, kebahagiaan dan kesejahteraan tetap ada untukmu dan juga ibumu.

__ADS_1


Jika ada yang Kamu butuhkan, segera hubungi Saya. Apapun itu Miss Yeti. Termasuk jika Kamu sedang membutuhkan dana.


Saya, yang selalu merindukan dirimu.


From Mr Andre


Yati membaca pesan tersebut. Dengan tersenyum tipis, Yati mendekap handphone miliknya erat-erat.


"Aku juga merindukan dirimu Mr Andre."


Setelah itu, Yati bergegas membalas pesan dari Mr Andre. Dia merasa sangat senang hari ini, apalagi dengan datangnya pesan yang dia terima saat ini.


Itu semua membuat Yati merasa bahwa, kebahagiaan yang dia rasakan saat ini sangat sempurna.


To Mr Andre


Terima kasih atas perhatian yang Anda berikan pada Saya selama ini.


Ya, saat ini keadaan ibu ada kemajuan yang sangat baik. Seharian ini, dia mau berbincang-bincang dengan Saya, dan tidak mengamuk lagi.


Saya baru saja pulang dari sana. Dan sekarang ini, Saya baru tiba di kamar *penginapan.


Besok, jika sudah berada di Singapura, tolong kasih kabar, biar bisa bertemu.


Terima kasih.


Send


Setelah selesai mengirim pesan balasan untuk Mr Andre, Yati terlihat begitu bersemangat. Dengan tersenyum tipis, dia melangkah menuju ke arah kamar mandi, untuk membersihkan dirinya. Karena sedari tiba di dalam kamar, dia belum juga pergi ke kamar mandi.


*****


Blummm!


Suara pintu mobil dibanting, membuat beberapa orang yang ada di halaman rumah sang Kakek menoleh dengan cepat.


Mereka semua, melihat dengan heran, dengan sikap dari cucu sang Kakek, yang tidak pernah terlibat ramah, beberapa hari terakhir ini.


"Tuan Muda kenapa ya?"


"Tidak tahu. Moodnya sepertinya sedang buruk."


"Oh ya, istrinya Tuan Muda tidak pernah terlibat ya sekarang. Ke mana dia?"


"Eh, katanya mereka pisah kan ya?"


"Hah pisah? yang bener? Sayang banget!"


"Mungkin tidak tahan dengan kelakuan Tuan Muda yang temperamental ya?"

__ADS_1


"Tidak tahu juga. Yang pasti, mereka berdua sudah pisah rumah, sejak terakhir datang ke rumah ini."


"Wah, padahal pesta pernikahan mereka berdua saja, masih jadi perbincangan di mana-mana."


"Ya begitulah jodoh. Gak tahu rahasia jodoh juga. Karena yang terlihat baik, justru tidak bisa dipertahankan. Sedangkan yang terlihat buruk, justru malah langgeng. Aneh kan?"


"Eh, maksud Kamu nyindir Aku begitu?"


"Eh, Aku hak bilang begitu!"


"Itu bilang-bilang buruk apa, kalau tidak menyindir?"


"Kamu aja itu yang sensi kawan!"


Berbagai macam pertanyaan dan komentar dari para pelayan di rumah sang Kakek, terdengar simpang siur.


Dan kadang, pertikaian antara mereka semua, justru semakin membuat mereka dekat dan merasa senasib dengan apa yang terjadi di rumah besar ini.


Meskipun semua yang mereka perbincangkan itu tidak terdengar secara langsung di telinganya Mr Ginting, tapi dari tatapan mata mereka, itu sudah membuat Mr Ginting bertambah buruk moodnya.


Dan sekarang, Mr Ginting datang ke rumah sang Kakek, Tuan Besar bagi mereka semua, untuk bertanya dan mencari kebenaran tentang Yati, atau miss Kiara, mantan istrinya.


"Aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang Kamu ajukan Ginting. Entah jika suatu saat nanti."


Sang Kakek, menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh cucunya, Mr Ginting, yang tiba-tiba muncul di rumahnya, tanpa memberikan kabar terlebih dahulu.


"Kenapa?" tanya Mr Ginting cepat.


"Ada beberapa hal yang tidak bisa Kakek ceritakan padamu saat ini."


"Jangan membuat alasan terus Kek!"


Mr Ginting menyahut perkataan sang Kakek, dengan cepat dan nada yang tinggi.


Sang Kakek menghela nafas panjang kemudian membuangnya perlahan-lahan. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Mr Ginting, yang merupakan cucunya sendiri.


Dia tidak mau, jika cucunya itu akan pergi menjauh, karena marah kepada dirinya. Apalagi, sejak dulu, cucunya itu memang tidak pernah bisa bersikap hangat dan hormat padanya.


"Kakek jawab pertanyaan ini, atau Ginting akan mencari tahu sendiri, tentang semua kebenaran yang selama ini Kakek sembunyikan dari Ginting?"


Mr Ginting, tidak segan-segan untuk mengancam kakeknya itu. Dia tidak bisa menahan amarahnya.


Tapi sepertinya, sang Kakek benar-bener tidak bisa menjawab pertanyaan dari cucunya itu. Dia belum berani, mengatakan semua kebenaran, yang dia sembunyikan selama ini.


Akhirnya, Mr Ginting berdiri dan mendekat ke arah tempat duduknya sang Kakek. Dengan pelan, dia berkata pada kakeknya itu, "Jika sampai ketahuan bila semua dalang ini adalah Kakek, Aku tidak akan pernah bisa memaafkan Kakek, seumur hidup!"


Sang Kakek memejamkan mata, mendengar perkataan dari cucunya itu.


Mr Ginting berlalu begitu saja, dari hadapan sang Kakek. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, karena merasa sangat kecewa dengan sikap dan keputusan yang telah dilakukan oleh kakeknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2