
Waktu sudah hampir malam, saat sang Kakek sampai di Changi airport, Singapura.
Dia tidak memberikan kabar pada kedua cucunya, jika dia akan menyusul mereka ke negara ini, karena dia tidak ingin mereka tahu lebih dulu, dan bertanya kenapa tidak langsung datang bersama dengan mereka saja.
Sang Kakek ingin memberikan kejutan, jika mereka sudah selesai dengan urusan mereka untuk urusan pekerjaan. Jadi, untuk sementara waktu, sang Kakek akan tinggal di apartemennya sendiri. Tidak ikut tinggal di mension cucunya, Mr Ginting ataupun rumah kecil di pinggir kota, yang tidak pernah diketahui oleh semua anggota keluarganya. Hal yang menjadi rahasia pribadinya selama ini.
Orang suruhannya, pengawal pribadinya, sudah meminta pada orang yang ada di negara ini, untuk menyediakan mereka mobil khusus, yang biasa di pakai oleh sang Kakek, jika sedang berada di Singapura.
Orang itu juga merupakan orang kepercayaannya, yang ikut menjaga rumah kecilnya itu, bersama dengan yang lain.
Ternyata, mobil dan supir sudah siap di pintu keluar bandara, untuk melakukan tugasnya. Menunggu kedatangan Tuan Besar-nya.
Sang Kakek langsung masuk ke dalam mobil, begitu pintu penumpang dibukakan oleh bodyguard-nya.
Hal yang sangat terlihat biasa, untuk seorang Tuan Besar.
Setelah semua naik, sang Kakek memberikan perintahnya, untuk pergi ke rumah kecil yang biasa. Dia mengatakan bahwa, dia ingin berkunjung terlebih dahulu, ke rumah yang ada di pinggir kota. Rumah yang hanya dirinya dan beberapa orang kepercayaannya saja yang tahu. Begitu juga dengan semua rahasia yang dia miliki selama ini.
Tidak ada yang pernah tahu, ada apa di rumah kecil itu. Bahkan, bertahun-tahun lamanya, rumah yang dibeli oleh sang Kakek itu, dia kunjungi dan dia biayai, dengan beberapa orang yang tinggal di rumah itu juga.
Orang-orang pilihan dan sangat patuh dengan perintahnya.
Supir hanya mengangguk mengiyakan perintah sang Kakek, yang jelas-jelas sangat berbeda, dengan penampilannya, raut wajah, jika sedang berada di antara keluarga dan rekan bisnisnya.
Raut wajah Sang Kakek terlihat sangat dingin, dan tidak ada keramahan. Dia terkesan sangat ditakuti, oleh orang-orang, yang saat ini bersama dengannya.
"Tuan tidak apa-apa ke sana? Ada Mr Ginting dan Mr Surya di sini. Bagaimana kalau mereka sampai tahu Tuan?"
__ADS_1
Salah satu dari bodyguardnya bertanya. Dia merasa khawatir, jika kedua cucu dari Tuan Besar-nya itu mengetahui, tentang rumah kecil dan isinya juga. Semua akan terbongkar, jika mereka, cucu-cucu tuan Besar-nya itu, tahu dengan keberadaan rumah tersebut.
"Itu tugas kalian. Dan jangan sampai mereka tahu. Aku tidak akan memaafkan kalian, jika sampai terbongkar!"
Bodyguard tersebut mengangguk dengan patuh. Hawa dingin dan sangar, sangat terasa untuk saat ini. Tidak ada lagi yang bicara setelah sang Kakek mengatakan semua itu.
Benar-benar berbeda dari sang Kakek yang biasanya. Murah senyum dan ramah pada setiap orang. Termasuk dengan para pelayan dan pegawainya juga, baik yang ada di rumah ataupun di kantor.
Mobil masih berjalan dengan kecepatan normal, menuju ke arah jalan utama dan membelok pada salah satu ruas jalan yang menuju ke daerah pinggiran kota. Mobil jadi terlihat mencolok, diantara mobil-mobil yang melaju di jalan yang sama.
Daerah di mana ada banyak bangunan rumah yang berderet dengan berbagai jenis model bangunan. Sama seperti perumahan, yang biasa ditinggali para pegawai, masyarakat pada umumnya, dan pembisnis kelas menengah ke bawah.
Tidak sama seperti mension Mr Ginting, cucunya, atau milik keluarga besarnya, yang ada di daerah elit, dengan bangunan yang megah dan besar. Dia sana juga tidak sembarang orang bisa memiliki. Ini karena harganya yang sangat mahal, dan tidak mungkin terjangkau oleh orang-orang biasa. Hanya para jutawan dan orang-orang kelas atas, yang mampu membelinya.
Itulah sebabnya, daerah tempat tinggal Mr Ginting terkesan sepi, tapi juga sangat ramai, karena kesibukan mereka yang tinggal di daerah itu, dengan berbagai kegiatan mereka.
Dan ternyata, butik yang di buka Mr Ginting di daerah tempat tinggalnya, dan memang memanfaatkan sebagai tanah halaman yang ada di rumah besarnya, tetap ramai dan laku, karena di kelola oleh para pegawainya, yang memiliki loyalitas dan profesional juga.
Sang Kakek tiba-tiba bertanya pada supir, yang sedang menyetir, dengan tujuan yang diminta oleh sang Kakek tadi.
"Baik Tuan. Tapi dia tetap diam dan tidak mau berbicara apa-apa. Sama seperti biasanya. Tidak ada perubahan. Tapi, beberapa hari kemarin dia sempat demam."
Sang Kakek mengangguk sambil melihat ke arah pinggir jalan, lewat jendela mobil.
"Apa sekarang sudah baik lagi, sudah sembuh?" tanya sang Kakek cepat. Terdengar nada khawatir dari suaranya.
"Sudah Tuan. Pelayan yang merawatnya, memang berkerja dengan baik," jawab supir cepat. Takut jika Tuan Besar marah.
__ADS_1
"Aku pikir dia memang tidak ingat apa-apa." Sang Kakek mengatakan pemikirannya sendiri, setelah diam beberapa saat.
Entah siapa yang saat ini mereka bicarakan. Hanya mereka saja yang tahu, apa dan siapa yang mereka maksudkan tadi.
"Apa ada kabar tentang laki-laki itu?" tanya sang Kakek lagi, sebelum supir dan yang lain memberi tanggapan.
"Tidak ada yang tahu Tuan. Tapi, kemarin itu, saat ada berita di sosial media yang Saya ikuti, ada berita yang mengambil gambar di daerah pulau, yang ada di Indonesia. Tapi Saya tidak yakin jika itu dia. Cuma perawakan dan sekilas mirip. Saya belum bisa memastikan jika itu memang dia."
Jawaban yang diberikan oleh supirnya itu, membuat sang Kakek mengerutkan keningnya. Dia sedang berpikir, bisa jadi orang yang tadi dia maksud sudah lama meninggal, dan yang dilihat oleh supirnya itu hanya mirip saja.
Sang Kakek mengharapkan apa yang dia pikirkan saat ini benar adanya. Dan dia bisa bebas menjalani hari-hari tuanya, dengan semua rahasia yang tetap aman dan tidak ada yang tahu tentang semua itu. Rahasia yang tidak pernah dia inginkan, untuk bisa diketahui oleh orang lain, selain mereka yang memang sudah tahu, dan jadi orang-orang kepercayaannya saja.
"Coba Kamu cari berita itu, dan pastikan jika itu memang benar-benar bukan dia. Aku tidak mau jika dia sampai keluar dari persembunyiannya dan membuat berita yang bisa mengegerkan dunia. Aku tidak mau jika itu sampai terjadi."
Supir hanya mengangguk saja. Dia tidak ingin membantah ataupun berkomentar apa-apa, dengan apa yang dikatakan oleh Tuan Besar-nya itu.
Rahasia yang tersimpan dengan baik, dan tidak pernah ada yang curiga, dengan masa lalu sang Kakek.
Masa lalu, yang kelam dan tidak jelas.
Masa lalu, yang tidak pernah dia inginkan juga.
Masa lalu, yang tidak bisa dia lupakan begitu saja.
Masa lalu, yang tidak ingin diketahui oleh siapapun, baik untuk orang lain ataupun untuk keluarganya sendiri.
Entah apa yang sebenarnya sang Kakek sembunyikan. Hanya dia dan beberapa orang saja yang tahu. Bahkan, dia sendiri tidak ingin mengingatnya juga.
__ADS_1
Masa lalu, yang tidak pernah terpikirkan oleh sang Kakek sendiri, bahwa dia pernah ada di dalamnya sebagai pemeran utamanya.
Sungguh, tidak akan ada yang pernah menyangka, jika semua itu pernah dilakukan oleh sang Kakek. Hal yang tidak pernah bisa dibayangkan, dipikirkan dan dirasakan oleh siapapun, untuk orang sehebat dan sepenting sang Kakek. Orang yang dikenal sebagai pengusaha sukses dan bisa memberikan banyak kebaikan untuk orang-orang yang bekerjasama dengan dirinya.