
Sebenarnya, Yati ingin mengabaikan panggilan telpon atau pesan-pesan tersebut.
Tapi karena ini menyangkut ibunya, Yati akhirnya menerima panggilan telpon yang kembali dia terima, setelah pesan yang tadi dia baca.
..."Ya, ada apa lagi Tuan Wasito?"...
..."Anakku. Saat ini, Aku masih ada di teras depan rumahmu. Di kampung."...
..."Lalu?"...
..."Ahhh, jangan abaikan Ayahmu ini Nak."...
..."Abaikan? Sejak kapan Anda perhatian?"...
Tidak ada jawaban atau perkataan yang lain, yang terdengar, setelah Yati bertanya.
Tuan Wasito, seakan-akan sedang menyelami kehidupan yang selama ini dia jalani. Itulah sebabnya, dia terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Sedangkan Yati sendiri, merasa bahwa, ayahnya itu sedang mencari perhatian darinya saja.
Terdengar helaan nafas keduanya, yang sama-sama saling diam.
..."Ayah pernah bilang sama Kamu, untuk mengajakmu ke Singapura. Kita ziarah ke makam ibumu."...
..."Kenapa Anda tidak pergi sendiri ke sana?"...
..."Ayah tidak tahu tempat ibumu dimakamkan. Bagaimana Ayah bisa sampai di sana?"...
..."Saya kasi alamatnya. Atau, Anda bisa bertanya pada pihak rumah sakit di sana. Itu akan lebih mudah untuk pencarian Anda."...
..."Ayolah Nak! Kita bisa bicara lebih baik lagi, jika kita bisa ke sana bersama."...
..."Saya sedang sibuk."...
Klik!
Yati memutuskan hubungan telpon, yang masih tersambung dengan ayahnya. Tuan Wasito.
Dia sedang tidak ingin di ganggu. Karena ada beberapa hal, yang sedang dia pikirkan.
Tak lama kemudian, akhirnya Yati menemukan cara, untuk bisa mendapatkan apa yang sedang dia cari. Dia harus bisa memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.
Karena itu juga, akhirnya Yati mencoba untuk menghubungi kembali tuan Wasito, yang tadi dia putuskan sambungan telponnya.
Tut tut tut!
Tidak menunggu lama, akhirnya panggilan telpon dari Yati, di terima ayahnya.
..."Ya Nak, bagaimana? Kamu setuju ikut Ayah kan?"...
..."Tidak."...
Terdengar suara helaan nafas, saat Yati menjawab pertanyaan dari tuan Wasito.
..."Tapi, Saya punya satu syarat untuk Anda. Dan itu harus Anda lakukan."...
__ADS_1
..."Apa itu?"...
...Nanti Aku kirim lewat pesan saja. Anda bisa memikirkan kembali, dan jika tidak setuju, Saya juga tidak apa-apa. Ini tidak penting."...
..."Baiklah Ayah tunggu Nak."...
..."Oh ya, salam buat simbok. Anda masih di sana kan? di rumah simbok?"...
..."Ya. Ayah baru saja mau pamit."...
..."Cepatlah pergi dan tidak perlu datang-datang lagi ke rumah simbok."...
Klik!
Yati kembali memutus hubungan telponnya, dan menghela nafas panjang. Dia harus bisa memanfaatkan ayahnya itu, tuan Wasito, agar bisa memecahkan misteri tentang kematian ibunya, di rumah sakit jiwa yang ada di negara Singapura sana.
Setelah selesai mengirim beberapa pesan pada tuan Wasito, Yati pergi ke kamar mandi. Dia ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu, sebelum pergi ke kantor Mr Akihiko.
Dia juga harus tahu, apa-apa yang akan menjadi tangung jawabnya, sebagai pengganti posisi yang dulu di pegang oleh miss Marisa.
*****
Mr Akihiko, memeluk Yati, dengan erat. Dia merasa terlalu lama, tidak berjumpa dengan miss Yeti-nya itu.
"Miss Yeti. Aku sungguh-sungguh merindukan dirimu. Kenapa Kamu lama sekali di kampung halamanmu itu? Apa ada seseorang yang sekarang Kamu sukai di sana?"
Yati tertawa kecil, mendengar perkataan dan pertanyaan yang diajukan oleh Mr Akihiko padanya.
Tapi Yati tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia hanya tersenyum saja, menanggapi pertanyaan tersebut.
Biasanya, posisi miss Marisa uni dipegang oleh anak buah Mr Akihiko, yang sudah berumur, dan tidak melakukan kegiatan sebagai seorang geisha lagi. Sama seperti miss Marisa dulu.
Tapi karena Mr Akihiko tidak menemukan seseorang yang cocok, dengan posisi tersebut, akhirnya dia memutuskan agar miss Yeti-nya ini mau mengantikan miss Marisa.
"Bagaimana miss Yeti, bisa kan? Bukankah ini sangat mudah?" tanya Mr Akihiko, memastikan bahwa, Yati paham dan mau menerima tawarannya itu.
Mr Akihiko berpikir bahwa, pekerjaan yang dia tawarkan untuk Yati, tidak sulit. Sama halnya dengan pekerjaan lainnya, atau saat menjadi istri kontrak dari laki-laki yang meminta mereka.
"Baiklah, saya bersedia. Tapi, Saya juga minta sedikit kebebasan, untuk pergaulan Saya sendiri."
Yati merasa bahwa, dia harus memiliki waktu luang untuk melakukan apa saja yang dia inginkan, di luar jam kerja yang ada di tempat usahanya Mr Akihiko.
Dan dengan berat hati, Mr Akihiko menyetujui permintaan dari Yati tadi.
Dan begitulah akhirnya. Yati mulai menjalankan perannya, sebagai pengganti miss Marisa, di salon yang ada di lantai tiga.
Tugas Yati hanya menerima tamu-tamu yang datang, dan mengarahkan para pegawai di salon tersebut.
Dia tidak ikut terjun langsung ke kamar pijat. Dan apa pun yang terjadi di dalam kamar tersebut, Yati juga harus tahu, karena itu merupakan tanggung jawabnya.
Jika sampai ada sesuatu yang membuat mereka akhirnya tidak bisa menahan diri, sebisa mungkin, harus menahan diri dan mencari cara, agar bisa melakukan di luar.
Di tempat usahanya Mr Akihiko, tidak ada tempat untuk melepaskan hasrat manusia mereka.
Jadi, di restoran Jepang dan salon milik Mr Akihiko, memang bersih dan bebas dari aroma-aroma yang tidak pada tempatnya.
__ADS_1
Tempat ini, murni sebagai tempat usaha restoran dan salon ataupun panti pijat semata.
*****
Dua bulan sudah berlalu. Yati melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan dengan cepat dia juga belajar banyak hal.
Hingga pada suatu siang, Yati mendapat telpon dari ayahnya, tuan Wasito, yang diketahui oleh Yati sedang berada di Singapura dari dua minggu yang lalu.
Klunting!
Klunting!
klunting!
Yati melihat ke layar handphonenya. Dan ada nomer tuan Wasito, yang sedang menghubungi dirinya.
..."Ya, ada apa Tuan?"...
Yati belum bisa memanggil tuan Wasito, dengan sebutan ayah. Dia enggan untuk bicara sebagai seorang anak dengan ayahnya.
Meskipun Yati tidak lagi berkata ketus, dan juga sinis.
..."Ibumu akan tenang di surga. Ayah sudah membalaskan dendam, atas semua yang sudah dialami oleh ibumu selama ini."...
..."Apa maksud Tuan?"...
Yati bingung dengan perkataan yang diucapkan oleh ayahnya itu. Dia merasa jika, tidak pernah membicarakan balas dendam atau apapun, selain penyelidikan tentang kematian dari ibunya.
..."Ayah sudah tahu, rentang kebenaran yang sesungguhnya pada ibumu Nak."...
..."Apa? Dari mana Anda tahu?"...
..."Apa Kamu lupa Nak, siapa Ayahmu ini? Jika tuan Besar-nya bisa, anak buahnya yang terpercaya juga pasti bisa."...
Yati tidak mengerti, apa dan kemana arah pembicaraan ayahnya itu. Dia menebak jika, tuan Wasito telah melakukan sesuatu, pada sang Kakek.
Atau bisa jadi, saat ini ayahnya itu, tuan Wasito, sudah berada di Indonesia lagi. Tanpa memberikan kabar saat pulang kemarin-kemarin.
..."Apakah Kamu ada waktu? Kita bisa bertemu dan berbicara dengan tenang dan nyaman. Bagaimana?"...
Dan benar saja dugaan Yati tadi. Ayahnya sudah ada di Indonesia lagi.
Yati berpikir sejenak. Sebenarnya, dia ingin menerima ajakan ayahnya itu. Tapi dia juga tidak ingin melihat ayahnya jadi besar kepala, karena dia sudah menurut.
..."Nak. Apa Kamu mendengar perkataan dari Ayah?"...
..."Sa_saya sedang sibuk. Ta_tapi akan Saya usahakan untuk bisa. Nanti akan Saya hubungi, jika memang Saya ada waktu."...
..."Baiklah, Ayah tunggu ya kabar Kamu."...
Klik!
Yati memutuskan hubungan telpon dari tuan Wasito.
Setelahnya, Yati menghela nafas panjang. Entah apa yang sudah dilakukan oleh ayahnya itu.
__ADS_1
Yati tidak mau menerka-nerka, apa yang terjadi pada tuan Wasito, dan maksud dari perkataannya yang tadi.