
Di sawah, sedang musim bunga tebu. Itu berarti, tebu-tebu tersebut sudah masanya untuk di panen. Air tebunya yang manis, bisa digunakan untuk membuat gula jawa, bagi para pengrajin gula jawa di kampung Yati.
Ada juga para pengusaha gula jawa tersebut, yang menyetorkan hasil panen tebu ke pihak pabrik yang lebih besar, untuk diolah menjadi gula putih, atau gula pasir.
Saat ini Yati sedang berjalan-jalan sendiri, di area persawahan. Dia melihat anak-anak, yang ramai mencari bunga tebu. Kembang atau bunga tebu dalam bahasa Jawa disebut gleges.
Biasanya, tangkai bunga tebu itulah yang digunakan untuk bermain. Ada yang dibuat senapan atau bisa juga untuk alat permainan yang lain, yang disamakan dengan ruas bambu. Meskipun sebenarnya, kekuatan batang bambu dengan tangkai bunga tebu sangat berbeda.
Tangkai bunga tebu, sangat mudah untuk patah. Tapi, tentu saja, itu memudahkan anak-anak, untuk membentuknya menjadi berbagai macam jenis permainan.
"Aku entok okeh." ( Aku dapat banyak )
"Jikokke kae lo seng apik kembange!" ( Ambilkan itu saja yang bagus bunganya )
Keramaian anak-anak, terdengar sangat senang. Dan Yati ikut tersenyum melihat pemandangan yang sederhana, namun sudah membuat bahagia anak-anak.
Bunga tebu mirip dengan bunga alang-alang, jadi kadang kala, anak-anak perempuan memakainya untuk hiasan. Meskipun bunganya tidak bisa bertahan lebih lama, sama seperti bunga alang-alang pada umumnya.
Yati mendekat ke arah salah satu anak laki-laki, dan meminta tolong kepada anak tersebut, untuk diambilkan satu bunga tebu yang masih muda, supaya bunganya lebih awet karena belum mekar secara sempurna.
"Le. Mbak nyuwun tulung jupuke siji ya, seng iseh num. Gak seng wes mekar, Ben awet." ( Le adalah sebutan untuk anak laki-laki, di daerah Jawa )
"Seng iku Mbak?" ( Yang itu Mbak )
Yati mengangguk mengiyakan pertanyaan anak laki-laki tersebut. Dia menunggu, saat anak itu mulai berusaha untuk bisa mendapatkan bunga yang diinginkan oleh Yati.
Tak lama kemudian, "ini Mbak," kata anak laki-laki tersebut, dengan menyerahkan satu buah bunga tebu, yang masih muda.
"Matur suwun ya Le. Ini ada uang, buat jajan rame-rame sama teman-teman yang lain."
Yati menerima bunga tebu tersebut, dengan senang hati. Dia juga memberikan uang jajan untuk anak laki-laki tersebut, agar bisa digunakan untuk membeli makanan atau minuman, bersama dengan teman-teman bermainnya.
"Wihhh, okeh Iki Mbak! Matur suwun ya Mbak!"
Yati mengangguk, sambil tersenyum senang, mendengar ucapan anak itu. Dia kemudian berbalik arah, dan berjalan menuju jalan kampung. Dia ingin kembali pulang, dengan membawa bunga tebu tersebut.
__ADS_1
Bunga tebu yang masih muda, tentu saja kelopaknya sangat halus, sehingga Yati senang mengelus-elus_nya. Di tangan terasa lembut, sana seperti saat membelai rambut.
"Lho, Yati. Iseh neng omah to? kirain wes balik neng kota," sapa seseorang, yang merupakan tetangga Mbok Minah. Orang tersebut baru saja berangkat ke sawah.
Orang itu merasa kaget, karena melihat Yati masih ada di kampung. Dia berpikir bahwa, Yati sudah kembali ke kota lagi.
"Dereng Mak Dhe. Mungkin seminggu lagi baru balik." Yati pun menjawab dan menjelaskan pada tetangganya itu.
Akhirnya, setelah berbasa-basi sebentar, tetangganya itu pamit untuk melanjutkan perjalanannya menuju ke sawah.
"Sampun panen Mak Dhe?" tanya Yati, yang bertanya tentang tanaman tetangganya itu.
"Durung, ijeh semingguan mungkin."
"Mugo-mugo kasil panennya," doa Yati, untuk hasil tanaman yang akan di panen seminggu lagi.
"Aamiin," ucap orang tersebut, mengamini harapan dan doa yang diucapkan oleh Yati. Dia pun akhirnya meneruskan perjalanan lagi.
Dan Yati, berjalan lagi menuju arah pulang ke rumah.
Kerupuk gendar terkadang disebut dengan gendar saja. Yaitu sejenis kerupuk yang terbuat dari adonan nasi yang diberi bumbu rempah dan penambah rasa. Untuk menambah kekenyalan kadang kala ditambahkan bleng, tetapi jika tidak menggunakan bleng bisa ditambahkan tepung tapioka agar adonan mentahnya menjadi kenyal dan padat.
Tapi karena sekarang, pengunaan bleng sudah dilarang, karena kandungan asam borat atau boraks yang berbahaya bagi kesehatan sehingga produk makanan yang dihasilkan menjadi tidak aman.
Itulah sebabnya, mbok Minah hanya mencampuri bahan pembuat kerupuk beras tersebut dengan tepung tapioka saja. Yang penting, bumbu-bumbu yang digunakan pas, sehingga rasanya tetap gurih dan enak.
"Kok cepet balik, kan baru saja pergi tadi?" tanya mbok Minah, yang melihat kedatangan cucunya, Yati.
Dengan tersenyum, Yati ikut duduk di bale-bale bambu, yang ada di teras depan rumah, yang di duduki mbok Minah juga. Dia ikut menata potongan-potongan kecil kerupuk tersebut.
"Rame anak-anak pada main Mbok di sawah. Ini Yati minta tolong tadi, sama salah satu dari mereka, untuk mengambilkan kembang tebu." Yati memperlihatkan bunga tebu yang tadi dia bawa, pada mbok Minah.
Mbok Minah hanya mengangguk saja, saat melihat dengan sekilas bunga yang ditunjukkan oleh Yati.
"Simbok hari ini ada acara apa?" tanya Yati, ingin tahu apa yang akan dilakukan simboknya hari ini.
__ADS_1
"Ono opo? Simbok gak ke mana-mana. Koyok biasane, ya di rumah wae."
Yati mengangguk senang, karena dia ingin mengajak simboknya itu pergi jalan-jalan ke pasar atau ke mall yang ada di daerahnya.
Masih dengan membantu mbok Minah meletakkan potongan-potongan kerupuk beras tersebut, Yati mengutarakan keinginannya untuk mengajaknya jalan-jalan.
Tapi karena mbok Minah yang memang jarang-jarang untuk pergi jauh-jauh dari rumah, tentu saja engan. Dia takut, jika capek saat pulang dari jalan-jalan.
"Ya wes yang deket sini saja. Pasar bagaimana? gak usah ke Mall. Simbok tidak usah masak juga hari ini. Kita makan di warung-warung, yang ada di pasar atau di jalan yang kita temui. Mbok mau makan apa, bilang saja nanti."
"Ah, biasane masakan warung iku kurang pas. Gak enak menurut Simbok. Tapi ya wes, sekali-kali tidak apa. Biar Kamu juga tidak bosen di rumah terus."
Akhirnya, mbok Minah setuju dengan ajakan Yati, untuk pergi jalan-jalan ke pasar hari ini.
Setelah sepakat untuk pergi ke pasar, Mbok Minah dan Yati, sama-sama membereskan semua peralatan dan bahan kerupuk beras-nya.
Yati membantu mbok Minah menjemur kerupuk- kerupuknya yang baru saja di potong-potong, dan masih basah. Sehingga perlu di jemur agar siap untuk di goreng dan di makan, sebagai pendamping saat makan, atau bisa juga di makan langsung saat senggang.
Setelah itu, Yati juga bersiap-siap, sama seperti yang dilakukan oleh Mbok Minah.
Tak lama kemudian, mereka berdua tampak keluar dari dalam rumah, dan masuk ke dalam mobil, setelah mbok Minah mengunci pintu rumahnya.
Dengan di bantu oleh Yati, mbok Minah masuk ke dalam mobil, baru kemudian Yati memutar, untuk masuk ke bagian setir.
Dia akan menyetir mobil sendiri, untuk mengajak mbok Minah jalan-jalan. Meskipun hanya ke tempat yang sederhana, seperti pasar. Sama seperti yang diinginkan oleh Mbok Minah.
Yati sangat senang, karena mbok Minah masih tetap sehat, di usianya yang sudah lanjut.
Yati jadi punya keinginan untuk menetap di kampung, dan tidak ingin kembali ke kota lagi. Dia ingin menemani hari-hari mbok Minah. Karena dia tidak tahu, sampai kapan mbok Minah bisa sesehat sekarang ini.
Apalagi, Mbok Minah tidak punya siapa-siapa lagi, dan hanya dia saja anggota keluarga yang di miliki oleh Mbok Minah.
Sama seperti Yati, yang juga tidak mempunyai siapa-siapa juga.
Mungkin, mereka berdua memang di pertemukan takdir, untuk saling menjaga satu sama lain.
__ADS_1