Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Kembali Berduka


__ADS_3

Seharian ini, Yati menuggu miss Marisa, dengan ditemani oleh Mr Akihiko.


Tapi karena dia baru saja datang dari luar kota, tentu saja, dua juga merasa sangat capek dan mengantuk. Itulah sebabnya, dia pamit pulang terlebih dahulu, untuk beristirahat.


"Jika Kamu ingin pulang dan beristirahat, Kamu pulang saja miss Yeti. Biarkan pihak rumah sakit yang mengurus miss Marisa. Dengan keadaannya saat ini, kita juga tidak bisa melakukan apa-apa."


Yati mengerti apa yang dimaksud oleh Mr Akihiko. Dia hanya mengangguk saja, kemudian membiarkan Mr Akihiko pulang terlebih dahulu.


Sedangkan Yati, harus kembali sendiri, menunggu miss Marisa, yang masih terbaring tidak sadarkan diri di ruang ICU.


Tak lama kemudian, dari arah lorong sisi lain, Yati melihat dua orang dokter berjalan dengan cepat menuju ke arahnya, di mana ada pintu ruang ICU berada.


Ternyata, dua dokter tadi masuk ke dalam ruang ICU tersebut. Ada panggilan mendadak dari perawat jaga, karena dokter yang menangani di ruangan ICU, kewalahan.


Tak lama kemudian, seorang perawat tampak keluar mencari pihak keluarga pasien.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh dari tempat duduknya Yati, tiga orang dari pihak pasien berdiri.


Ternyata, perawat tersebut memberitahu pada pihak keluarga pasien bahwa, anggota keluarga mereka yang sedang di rawat di ruangan ICU tersebut, tidak bisa bertahan lagi. Dia meninggal dunia.


Suara tangisan dari pihak keluarga pasien yang ditinggalkan, terdengar menyayat hati Yati.


Beginilah suasana rumah sakit. Jika tidak ada kabar baik dengan kesembuhan pasien, pasti kabar duka yang harus didengarkan. Apalagi, ini adalah ruang ICU, di mana biasanya para pasien yang ada di ruang tersebut dalam keadaan kritis.


Mereka adalah pasien-pasien yang dalam kondisi kritis, yaitu pasien yang mengalami perubahan fisiologis yang cepat memburuk, dan terjadi perubahan fungsi sistem tubuh yang mempengaruhi organ lainya dan bisa menyebabkan kematian.


Itulah sebabnya, pasien-pasien dengan kondisi tersebut membutuhkan perawatan di Ruang ICU.


Jadi, sudah menjadi pemandangan yang biasa, jika sewaktu-waktu, ada berita duka dari dalam ruangan.


Sudah tiga kali Yati mendengar dan ikut dalam keadaan seperti ini. Tadi, sebelumnya juga sudah ada berita duka dari pasien yang lainnya.


Yati jadi merasa takut, jika miss Marisa juga tidak bisa bertahan, sama seperti pasien yang sebelum-sebelumnya.


Beberapa saat kemudian, pemandangan yang sama juga terjadi. Ada brangkar pasien yang keluar-masuk dari dalam ruangan ICU, dengan diiringi tangisan dari para anggota keluarga yang ikut menunggu.


Satu jam berlalu. Hari juga sudah berganti dengan malam.


Clek!


"Ada keluarga miss Marisa?"


Yati berdiri, saat ada seorang perawat yang mencari keberadaan keluarga miss Marisa.


"Ya Sus. saya," jawab Yati, dengan berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Maaf, pasien sudah tidak bisa bertahan dan Kami sudah melakukan upaya untuk menolong. Tapi Tuhan berkehendak lain. Maaf."


Yati menghela nafas panjang dengan susah payah. Dia merasa dadanya tiba-tiba sesak. Dia merasa sangat terpukul, dengan kepergian miss Marisa kali ini.


"Kenapa Aku tidak berkesempatan mempunyai orang-orang yang dekat dan menyayangi diriku? Apa Aku tidak pantas, bersama dengan orang-orang itu?"


Berbagai macam pertanyaan muncul di dalam hatinya. Yati tidak bisa langsung menjerit ataupun berteriak untuk melampiaskan kesedihan.


Dia hanya bisa menangis dalam diam. Namum, air matanya tetap saja mengalir, tanpa ada suaranya.


"Maaf Sus. Bolehkah sebelum dibersihkan, Saya melihat miss Marisa untuk yang terakhir kalinya?" Yati bertanya kepada perawat, yang masih ada di depannya.


Perawat mengangguk. "Nanti Kami akan pindahkan kamar jenazah. Anda bisa datang ikut datang ke sana."


Akhirnya, Yati mengikuti brangkar yang membawa miss Marisa, yang akan dipindahkan ke kamar jenazah, oleh petugas.


Yati juga tidak lupa untuk menghubungi Mr Akihiko, untuk memberikannya kabar duka ini. Apalagi, Mr Akihiko adalah orang yang bertanggung jawab atas segala sesuatu pada miss Marisa, saat di rawat di rumah sakit ini.


Dan Yati juga tidak tahu, dari mana asal miss Marisa. Apakah masih ada pihak keluarga yang dia miliki atau tidak. Karena selama ini, privasi masing-masing anak asuh Mr Akihiko, sangat di jaga, meskipun itu sesama anak buahnya sendiri.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


Yati berusaha untuk menghubungi Mr Akihiko lagi


Tut tut tut!


Tut tut tut!


Dan usaha Yati kali ini membuahkan hasil. Mr Akihiko menerima panggilan telponnya. Dan memang benar, suara Mr Akihiko, tampak seperti seseorang yang baru saja bangun tidur.


..."Halo."...


..."Mr Akihiko. Miss Marisa. Miss Marisa sudah tidak ada."...


..."Hah! Maksudnya apa?" ...


..."Miss Marisa meninggal dunia Mr."...


..."Apa?" ...


..."Cepat Mr datang lagi ke rumah sakit. Sekarang, jenazah miss Marisa, baru saja dipindahkan ke kamar jenazah."...


..."Baik-baik. Aku akan segera datang ke rumah sakit. Tolong di urus segala sesuatu ya miss Yeti!"...

__ADS_1


..."Ya."...


Clik!


*****


Yati tidak bisa berduka terlalu lama. Dia harus bangkit dari keterpurukannya, karena kehilangan orang-orang yang dia sayangi.


Ibunya, yang baru saja dia temukan. Dan kemarin, miss Marisa yang sudah dia anggap sebagai seorang Kakak, juga meninggalkan dirinya, karena serangan jantung yang dia bisa dia tahan.


Dengan sangat terpaksa, Yati pamit pulang ke kampung halaman terlebih dahulu, untuk menenangkan hati dan pikirannya.


Untungnya, Mr Akihiko mengerti apa yang dirasakan oleh Yati. Dia mengijinkan Yati untuk pulang, karena sebenarnya, Yati juga ada dalam tugasnya sebagai istri dari Mr Ginting. Meskipun sudah diputuskan kerjasama itu, tapi ternyata, Mr Ginting membayar secara penuh, sesuai dengan apa yang mereka sepakati sebelumnya.


Yati juga tahu tentang hal itu dari Mr Akihiko. Tapi dia tidak mencoba untuk menghubungi Mr Ginting, meskipun itu hanya untuk sekedar berterima kasih atau basa-basi saja.


Dia tidak mau jika, ada sesuatu yang membuat dirinya dan Mr Ginting, harus mengingat-ingat kembali kenangan tentang masa-masa awal mereka bersama.


Itu tidak baik, karena semua hanya sebatas kerjasama saja. Dan begitulah kira-kira seorang geisha, yang tidak akan mengingat apa-apa, yang telah berlalu.


Yang harus dilakukan untuk seorang gheisa adalah hari ini, dan besok. Yang kemarin, adalah masa yang tidak perlu di kenang.


"Iya. Pergilah pulang, untuk menenangkan hati. Jika sudah di rasa cukup, kembali ke kota. Kita lakukan seperti biasanya."


Begitulah Mr Akihiko berkata, saat Yati pamit pulang ke kampung halamannya. Dia ingin menjenguk mbok Minah. Satu-satunya orang yang menjadi anggota keluarganya, sedari dulu dan sekarang ini.


"Mbok. Yati pulang mbok," kata Yati, yang bermonolog sendiri tanpa ada yang bisa menjadi temannya berbicara.


Karena saat ini, Yati sedang berada di dalam kamar kost miliknya, dan berberes sebelum berangkat ke kampungnya besok pagi.


Yati akan melakukan perjalanan pagi hari, agar bisa menikmati pemandangan, sepanjang perjalanannya nanti.


Apalagi, Yati juga membutuhkan waktu untuk beristirahat yang cukup, saat ada di perjalanan seperti sekarang ini. Dalam keadaan hatinya yang masih dalam kedukaan.


Drettt


Drettt


Drettt


Ada panggilan masuk untuknya. Dan itu adalah nomer handphone dari salah satu pengawal pribadi sang Kakek, yang kemarin-kemarin, meminta nomernya Yati.


Entah apa maksudnya pengawal pribadi tersebut meminta nomernya. Tapi saat di tanya oleh Yati, dia beralasan bahwa, jika ada sesuatu yang bisa dia lakukan untuk membuat Yati bisa menemukan ayahnya, ataupun telah terjadi sesuatu pada sang Kakek.


Pengawal pribadi tersebut, tidak perlu repot-repot meminta pada sang Kakek ataupun cucunya, Mr Ginting, untuk tahu nomer handphone miliknya, untuk bisa menghubungi dirinya saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2