Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Kesal


__ADS_3

"Ya Allah Nduk... Kamu pulang to. Simbok pikir Kamu gak bisa pulang untuk waktu yang lama," ucap Mbok Minah, sambil merangkul cucunya, Yati, yang baru saja datang dan menyalami tangannya, kemudian menciumnya juga.


Kini, mereka berdua saling berpelukan. Menyalurkan rasa bahagia dan rindu mereka berdua.


Pak supir yang ikut menyaksikan, ikut merasa haru. Dia jadi teringat dengan keluarganya sendiri, yang saat ini dia tinggal bertugas, untuk mengawal istri dari Bos besarnya.


"Bagaimana kang Yoga Mbok?" tanya Yati, setelah mereka melepas pelukannya, yang agak lama dari biasa.


Mbok Minah akhirnya mengajak Yati untuk duduk terlebih dahulu. "Kene, lenggah disek, Mbok buat minum dulu," kata mbok Minah, kemudian pergi ke dapur, untuk membuatkan minuman untuk Yati dan pak supir.


"Bapak tunggu di sini ya, Saya mau mandi dulu," pamit Yati, pada pak supir.


Pak supir, hanya mengangguk mengiyakan.


Tak lama kemudian, Mbok Minah datang dengan membawa nampan berisi minuman untuk tamu dan juga cucunya.


"Lho mana dia?" Mbok Minah kaget, saat tidak menemukan cucunya di ruang tamu.


"Pamit mandi tadi Bulek," jawab pak supir, meskipun tidak ditanya secara langsung oleh mbok Minah.


"Oh..."


Mbok Minah akhirnya mengajak pak supir berbincang-bincang. Mereka membicarakan tentang hal-hal umum, yang biasa dibicarakan pada tamu. Namun tidak menyingung soal Yati, karena tadi Yati sudah mewanti-wanti pada mbok Minah, agar tidak membicarakan tentang dirinya.


Tak lama, Yati keluar dengan keadaan yang lebih segar, di banding dengan saat dia baru saja datang. Meskipun, dia tidak memakai makeup sedikit pun, karena Yati memang tidak suka memakai makeup berlebihan, dia tetap terlihat cantik secara alami.


"Makan dulu ya, simbok siapkan. Setelah itu, kita baru ke rumah sakit."


Yati mengiyakan ajakan Mbok Minah.


Mereka berdua, mbok Minah dan Yati, berdiri menuju ke arah dapur, untuk menyiapkan makanan untuk mereka bertiga.


Setelah semua selesai, Mbok Minah mengajak Yati untuk menjenguk kang Yoga di rumah sakit. Tapi saat mereka bertiga keluar dari dalam rumah, sudah ada banyak tetangga mereka, yang sudah menunggu untuk busa bertemu dan bertanya tentang kabar dari Yati sendiri.


"Lho kapan balik Kamu Yat?"


"Karo sopo iku awakmu muleh?"


"Wah, mbok digawake mantu karo putune."


"Wah, selamat ya Yat. Udah punya suami. Kayaknya orang kaya ya, mobilnya saja bagus, pakainya juga."


"Ora mobil nyewa kan Yat?"


Berbagai macam pertanyaan dan komentar mereka berikan pada Yati, sama seperti biasanya, jika Yati pulang ke kampung.


"Maaf ya Bulek, Budhe. Yati buru-buru, mau ke rumah sakit jenguk kang Yoga. Ngapunten!"


Yati tidak perlu menangapi semua orang yang sedang bertanya kepadanya. Dia hanya menanggapi dengan senyuman, yang menghiasi wajahnya yang cantik.

__ADS_1


"Kok tambah ayu to Yat Kamu."


Tiba-tiba, ada seorang pemuda yang datang dengan memuji Yati. Tapi pemuda itu langsung menutup mulutnya, saat melihat keberadaan pak supir yang menatapnya dengan pandangan tajam.


Pemuda itu pasti berpikir bahwa, pak supir adalah suaminya Yati. "Oh, maaf Yat. Kamu wes nikah to neng kota. Kok gak ngabari orang-orang kampung?" tanya pemuda itu untuk memastikan pemikirannya sendiri.


Yati juga tidak menjawab pertanyaan dari pemuda tersebut. Dia hanya bisa tersenyum, mendengar semua perkataan dan pertanyaan dari pemuda tadi. Yati tahu, siapa dia, karena pemuda itu adalah teman semasa kecilnya, dan mereka sering bermain bersama dengan teman-teman yang lain, yang sebaya dengan mereka juga.


Dengan rasa sungkan, Yati membagi-bagikan uang untuk para tetangganya itu, sebagai ganti oleh-oleh seperti biasanya, jika dia baru pulang.


"Wahhh, terima kasih Yat. Semoga lancar ya rejekinya."


"Tambah sukses yo Yat."


"Matur suwun lho."


"Weleh, Aku entok oleh-oleh juga. Bisa buat belanja enak ini."


Pemuda itu pergi dengan tersenyum canggung. Dia pasti tidak merasa enak hati, dengan semua pertanyaan dan perkataannya yang tadi.


Meskipun para tetangga mencegahnya untuk pergi terlebih dahulu, dia tetap melenggang pergi meninggalkan kerumunan tetangganya itu. Dia merasa tidak nyaman, karena dilihat oleh pak supir, yang dia sangka sebagai suaminya Yati. Teman masa kecilnya dulu.


*****


..."Sudah dimana?" ...


..."Ini baru sampai di rumah sakit Tuan."...


..."Setelah itu?"...


..."Miss Kiara belum mengatakan mau kemana setelah ini."...


..."Jika tidak ada lagi yang dikerjakan, pulang. Balik ke kota!"...


..."Baik Tuan. Nanti akan Saya sampaikan pada miss Kiara."...


Klik!


Mr Ginting memutuskan panggilannya, dengan pak supir. Dia menghela nafas panjang, dengan melihat ke arah atas.


Saat ini, dia sedang ada di kantor. Tapi karena semalam dia tidak bisa tidur dengan nyaman, sekarang jadi menguap terus. Dia mengantuk, dan ingin tidur, meskipun hanya sebentar saja.


Dengan memposisikan kursi kerjanya, Mr Ginting menyandarkan kepalanya. Dia tidak mau beristirahat di kamar, yang ada di ruangan kantornya ini.


Tapi ternyata, sebelum Mr Ginting memejamkan mata, ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya, dan langsung masuk tanpa dia beri ijin terlebih dahulu.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


"Mas!"


Ternyata yang datang ke ruangan Mr Ginting adalah adik sepupunya, Surya jaya, yang membawa satu berkas di tangan.


"Ada apa?" tanya Mr Ginting, begitu Surya Jaya sudah mendekat.


"Ini berkas kerja yang akan kita bawa ke Singapura. Aku sudah menyelesaikannya semalam."


Mr Ginting menerima berkas tersebut, kemudian memeriksanya.


"Mas periksa semua dulu, jika ada yang kurang atau salah biar Aku betulkan sekarang. Jadi besok waktu berangkat kita sudah bisa tenang." Surya Jaya berkata lagi, sambil duduk, menunggu kakak sepupunya itu memeriksa berkas yang sudah dia kerjakan.


Beberapa lama kemudian, Mr Ginting sudah selesai memeriksa semua berkas tersebut, dan menyerahkan kembali pada Surya Jaya. Dia juga memberikan beberapa arahan, untuk koreksi segala sesuatu yang dua rasa kurang dari berkas tersebut.


"Kerjakan hari ini, biar Aku bisa periksa lagi. Dan itu, kamu bilang sama kapten, untuk siap dengan skedul penerbangan kita ke Singapura," kata Mr Ginting, memberikan instruksi kepada adik sepupunya itu, Surya Jaya.


Surya Jaya tidak menjawab. Dia hanya mengedipkan sebelah matanya, sambil mengacungkan jari jempolnya tanda siap.


Setelah itu, Surya Jaya berpamitan untuk kembali ke dalam ruangannya sendiri.


Mr Ginting membuang nafas panjang, kemudian membuangnya kasar. Dia sebenarnya merasa kesal, karena rencananya untuk beristirahat gagal, dengan kedatangan Surya Jaya tadi.


Tapi dia juga merasa senang, karena adik sepupunya itu sudah bisa diandalkan untuk membantu pekerjaannya juga.


Sekarang, dia mengambil handphone yang ada di atas meja, kemudian menghubungi istrinya, Yati, yang masih ada di kampung halamannya.


Tut


Tut


Tut


Tapi panggilan telpon tidak tersambung.


Mr Ginting mencoba untuk menelpon kembali, tapi hasilnya tetap sama. Yati tidak bisa dia hubungi.


"Kemana dia? Kenapa tidak menjawab telpon ku?" Mr Ginting bertanya-tanya sendiri dalam hati.


Dia merasa kesal, karena istrinya tidak menjawab panggilan telpon darinya.


Sekarang, Mr Ginting berganti untuk menelpon pak supir. Dia ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi, sehingga istrinya tidak bisa menerima telpon darinya yang sudah dia ulang-ulang.


Tapi ternyata, panggilan telpon untuk pak supir juga tidak bisa tersambung. Ini membuat Mr Ginting menjadi semakin kesal. Dia meremas telpon yang dia genggam, dengan gigi gemelutuk karena geregetan.


"Kemana mereka? kenapa mengabaikan panggilanku?"


Mr Ginting bertanya-tanya, mengapa pak supir dan juga istrinya, tidak bisa dia hubungi untuk waktu yang sama.

__ADS_1


__ADS_2