
"Apa? Bagaimana bisa itu terjadi?"
Yati menerima panggilan telpon dari pihak rumah sakit, di mana ibunya dalam perawatan jiwanya.
Sekarang, pihak rumah sakit, sudah mengubah panggilan dan seseorang yang harus dihubungi, jika ada sesuatu yang terjadi pada pasiennya itu.
Ini atas permintaan Yati sendiri, karena dia yang ada di Singapura, sehingga lebih dekat dengan posisi rumah sakit.
Meskipun pada awalnya pihak humas rumah sakit tidak setuju. Tapi karena di saat mereka meminta persetujuan dari Tuan Besar, sang Kakek, dan sang Kakek menyetujui, akhirnya Yati yang akan mereka hubungi, jika ada apa-apa.
Baru saja Yati datang ke rumah sakit, dan masih ada di halaman, saat panggilan itu tersambung.
Dengan segera, Yati berjalan dengan cepat menuju ke arah kamar ibunya.
Ibunya sedang mengamuk, dan saat ini, sedang ditenangkan oleh para perawat jaga.
"Bu. Ibu, ini anakmu Bu. Tenang ya Bu," kata Yati, begitu dia masuk ke dalam kamar ibunya.
Ibunya terlihat lebih tenang, saat melihat keberadaanya. Ibunya itu, memandang Yati, dengan tatapan matanya yang seperti orang sedang menyakinkan dirinya sendiri, bahwa gadis yang saat ini ada dihadapannya itu memang benar anaknya.
"Iya Bu, Aku anaknya Ibu," kata Yati, dengan menganggukkan kepalanya. Dia mencoba untuk meyakinkan ibunya itu.
Dengan sedikit perlawanan pada orang-orang yang sedang memegangi tangannya, ibu itu berhasil melepaskan diri dan menubruk Yati. Dia memeluk anaknya itu, yang pada hari-hari kemarin, selalu datang dan menemani dirinya di kamar, atau mengajaknya pergi keluar sebentar.
Kadang kala, Yati memang mengajaknya keluar dari dalam kamar, untuk berjalan-jalan di sekitar taman rumah sakit. Ini karena Yati tidak mau, ibunya merasa bosan, dengan keadaan kamar yang hanya itu-itu saja.
Setelah lama memeluk Yati, kini ibunya melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah Yati, dan merabanya perlahan-lahan.
Pada saat tangan ibu tersebut membelai wajah Yati, ada air mata haru, yang menetes dengan tiba-tiba.
Ibu itu terlihat menggelengkan kepalanya, meminta pada Yati, untuk tidak menangis. Dia juga mengusap air mata Yati yang menetes di pipi.
"Bu. Ibu... Ibu tahu? Aku anakmu, yang selama ini Ibu cari," kata Yati, dengan suara bergetar.
__ADS_1
Yati tidak bisa menahan rasa haru, bahagia dan juga kesedihan yang datang bersamaan. Dua tidak bisa mengungkapkan, apa yang saat ini dia rasakan. Apalagi, saat tadi ibunya memeluk dirinya, dan bukan dirinya yang mulai memeluk terlebih dahulu.
"Bu... I_ibu ingat kan? Aku, Aku anakmu."
Rasa bahagia yang membuncah di dadanya, membuat tenggorokan Yati terasa penuh sesak, sehingga sulit untuk mengucapkan sepatah dua patah kata.
Dia terus saja mencoba untuk mengingatkan ibunya itu, dengan dirinya. Siapa dirinya, bagi ibu tersebut.
Sekarang, ibu itu tampak tersenyum.
Tak lama kemudian, dia kembali memeluk Yati, dan berkata, "Anakku."
Meskipun hanya satu kata saja, yang diucapkan oleh ibunya itu, untuk dirinya, Yati sudah merasa cukup lega, karena itu pertanda bahwa, ibunya sekarang ini, sudah bisa diajak berbicara dan juga berkomunikasi dengan baik. Meskipun tidak lancar, dan sama seperti orang-orang normal pada umumnya.
Para perawat jaga, yang ikut menyaksikan keduanya, ikut tersenyum dengan lega. Mereka semua, tidak pernah menyangka, jika pasiennya itu, bisa dengan cepat dibujuk oleh anaknya.
"Terima kasih. Terima kasih atas kepedulian kalian semua, pada ibu Saya."
Yati tidak lupa untuk berterima kasih, pada para perawat tersebut. Dia sangat senang, karena sekarang ini, ibunya sudah jauh lebih baik, daripada kemarin-kemarin.
Jika ibunya lelah, bisa juga berbaring, dengan masih ditemani olehnya.
Semua perawat yang tadi ikut menangani ibunya, sekarang pamit untuk keluar dari kamar pasien. Mereka semua, ada tugas lain, yang harus mereka kerjakan.
Yati kembali mengucapkan terima kasih atas semua bantuan mereka. Dia juga mengangguk dengan sopan, sama seperti kebiasaan orang-orang dari negara China dan sekitarnya, jika sedang mengucapkan terima kasih ataupun bertemu dengan seseorang.
Setelah perawat pergi, Yati kembali fokus dengan ibunya, yang saat ini duduk di pinggiran tempat tidur.
Saat Yati kembali berjalan mendekat, ibunya itu juga tampak tersenyum, melihat keberadaan dirinya, yang tidak ikut pergi meninggalkan dirinya sendiri di dalam kamar ini.
*****
Hari berikutnya, Mr Ginting sudah kembali ke Indonesia. Dia meminta pada seseorang yang kemarin dia hubungi, untuk menyelidiki kegiatan apa yang sebenarnya dilakukan oleh mantan istrinya, dengan kakeknya sendiri, begitu dia tiba di Indonesia.
__ADS_1
Dari laporan yang disampaikan oleh orang tersebut, sekarang Mr Ginting sadar, bahwa dialah yang bersalah atas berakhirnya kerja sama dengan miss Yeti, yang mereka sepakati bersama sebagai pasangan suami istri. Meskipun hanya sekedar pernikahan kontrak saja.
"Ternyata Aku yang cepat menyimpulkan sendiri, tanpa bertanya-tanya dan menyelidikinya terlebih dahulu." Mr Ginting bergumam sendiri, setelah s mendengar semua penjelasan yang diberikan orang suruhannya.
Dia menyesal telah memutuskan untuk berpisah dengan istrinya itu.
Tapi semua sudah terjadi, dan tidak mungkin bisa dia meminta pada Mr Akihiko atau pada Yati sekalipun, untuk membatalkan keputusan yang telah dia lakukan kemarin.
Mr Ginting benar-benar tidak tahu, jika semuanya ini ada kaitannya dengan sang Kakek sendiri, dan semua itu adalah sebuah rahasia pada masa lalunya sang Kakek.
"Pantes saja, miss Yeti hanya diam dan tidak menyangkal kalau semua hanya rekayasa. Dia hanya diam, karena telah menemukan apa yang dia cari selama ini."
Dalam hati, Mr Ginting menyalahkan sang Kakek. Apalagi, kecurigaannya terhadap sang Kakek, atas pembajakan pesawat terbang yang dilakukan oleh para penjahat, saat kedua orang tuanya saat itu, terarah juga pada kakeknya sendiri.
"Apa Aku juga harus mencari kebenaran tentang kecelakaan pesawat berpuluh-puluh tahun lamanya? Bagaimana caranya, Aku bisa menemukan bukti-bukti itu?"
Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala Mr Ginting. Dia merasa jika ada begitu banyak rahasia, yang ada pada diri sang Kakek. Dan dia tidak pernah mengetahui semua itu, karena dia tidak pernah dekat dan terkesan menjauhkan diri dari kehidupan sang Kakek.
Dia juga hidup di asrama, sejak dia masih kecil dulu. Jadi, bertemu dengan kakek hanya pada saat liburan saja.
Praktis, kehangatan hubungan antara cucu dengan kakek, tidak bisa dilakukan dengan cara yang wajar, sebagai layaknya orang-orang pada umumnya, yang selalu bisa terlihat sangat baik dan penuh kehangatan.
Tapi karena merasa sangat kesulitan untuk menemukan bukti-bukti yang akan dia cari, atas kecelakaan pesawat waktu itu, akhirnya Mr Ginting bertekad untuk berani bertanya, pada kakeknya sendiri.
"Aku akan bertanya padanya besok. Sekarang, Aku butuh istirahat sebentar, agar busa berpikir, apa yang sebaiknya Aku lakukan selanjutnya."
Dengan sedikit pusing, dan juga lemas tanpa ada semangat, Mr Ginting masuk ke dalam kamar.
Kamar yang biasanya ditempati oleh Yati waktu itu.
Kamar, yang juga digunakan untuk malam-malam panas mereka berdua, dan dilewati bersama-sama, dengan pengalaman-pengalaman yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Mr Ginting menghirup udara sebanyak-banyaknya, untuk memenuhi rongga dadanya. Mencoba untuk membuat perasaannya lebih nyaman, meskipun itu terasa sangat berat.
__ADS_1
Ada banyak sekali rasa yang ada di dalam dadanya saat ini. Meskipun dia juga tidak tahu, apa yang dia rasakan saat ini.
Yang pasti, kekecewaan terhadap sang Kakek, kembali memenuhi hati dan pikirannya. Melebihi waktu dulu, saat dia baru menyadari bahwa, kecelakaan pesawat terbang kedua orang tuanya, ada kaitannya dengan sang Kakek sendiri. Yang terlihat begitu peduli, terhadap dirinya, sebagai cucu, yang menjadi pewaris dari kekayaan kedua orang tuanya sendiri. Bukan dari sang Kakek.