
Karena desakan dari kedua gadis kemarin, sang kakek jadi kepikiran dan merasa jika memang kecurigaan mereka ada benarnya. Apalagi, selama Kiara ada di Jakarta, dia belum pernah melihat dan diperkenalkan pada kedua orang tuanya ataupun keluarga Kiara yang lainnya.
"Eh, tapi dulu kan Kiara bilang, jika kedua orang tuanya juga sudah tidak ada lagi. Sama seperti Ginting yang juga sudah jadi yatim-piatu sejak kecil." Sang Kakek merasa bersalah karena kembali mencurigai istri dari cucunya itu.
Tapi sang Kakek merasa cemas, jika apa yang mereka, kedua gadis itu, katakan memang benar adanya.
Demi ketenangan hatinya, sang kakek meminta pada salah satu kenalannya, yang merupakan ahli dalam penyelidikan. Semacam detektif swasta, yang kadang kala memang dia mintai bantuan.
Sang kakek segera menghubungi temannya itu, dan mengutarakan maksudnya. Dia menceritakan kembali sedikit informasi, tentang Yati, yang dia kenal sebagai Reina Akiara. Istri dari cucunya, Mr Ginting.
Dari foto-foto yang dimiliki oleh sang kakek, akhirnya sang Kakek juga mengirimkan foto tersebut pada temannya. Foto Yati, tidak banyak ada di galeri handphonenya. Tapi karena untuk kepentingan penyelidikan selanjutnya, temannya itu pasti membutuhkan foto Yati, untuk memudahkan penyelidikannya.
Foto-foto itu dimiliki oleh sang kakek saat acara jamuan makan, dan untuk pertama kalinya dia bertemu dengan istri dari cucunya, Mr Ginting, dan ada beberapa juga, saat diadakan pesta pernikahan kemarin.
Temannya itu, yang terbiasa dengan pekerjaannya, berjanji akan segera melakukan penyelidikan, dan meminta pada sang kakek untuk sabar menunggu. Tapi dia juga berjanji pada sang Kakek, bahwa tidak akan lama, untuknya menunggu dan mendapatkan kabar dari hasil penyelidikan tersebut. Dia sangat profesional.
Sang Kakek merasa lebih lega, saat semua sudah dia utarakan. Meskipun sebenarnya dia sangat percaya dengan cucunya, Mr Ginting, tapi karena kedua gadis itu, yang memprovokasi, akhirnya dia terpengaruh juga. Dan untuk menepis anggapan bahwa Kiara bukanlah sama seperti yang diperkenalkan, sang kakek mengambil langkah terlebih dahulu sebelum kedua gadis itu membuat kekacauan dan menghancurkan hubungan antara cucunya dengan istrinya, yang baru saja dibangun.
Dia tidak ingin mendengar gosip-gosip yang tidak benar, terarah pada istri cucunya, yang dia sayangi. Karena sang Kakek juga sudah mulai menyayangi Kiara. Apalagi Kiara juga bisa membuat hubungannya dengan Mr Ginting menjadi lebih baik daripada dulu.
"Aku berharap jika semua tuduhan mereka berdua salah, dan Kiara tidak seperti yang mereka katakan," gumam sang Kakek seorang diri, setelah selesai menghubungi temannya tadi.
Sekarang, dia menghubungi cucunya yang lain, Surya Jaya, supaya datang ke rumahnya.
Tut
Tut
Tut
..."Halo Kakek tersayang."...
..."Kamu ada di mana?"...
..."Aku masih ada di hatinya Kek. Hehehe..."...
..."Heh! Kakek sedang tidak bercanda!"...
..."Hahaha... maaf Kek. Aku sedang bersuka cita, karena akan ikut kakak sepupuku itu pergi ke Singapura. Dan yang paling penting adalah, istrinya yang cantik itu diajak juga. Tapi kok tumben ya Aku diajak juga?"...
__ADS_1
..."Benarkah? berarti dia benar-benar normal, sehingga tidak mau berpisah dengan istrinya itu, meskipun hanya untuk satu minggu saja."...
..."Maksud Kakek, Mas Ginting tidak normal? ada-ada saja Kakek ini! Tentu saja dia sangat normal Kek."...
..."Tadinya Kakek berpikir seperti itu. Tapi sekarang tidak lagi. Apalagi kemarin, Kakek juga melihat dia begitu mesra, saat bertemu dengan istrinya di rumah Kakek....
..."Hah, kapan?"...
Surya Jaya merasa kaget, dengan penjelasan yang diberikan oleh kakeknya. Ada sesuatu yang dia belum ceritakan dengan sang Kakek, terkait sepupunya itu kemarin, saat berada di kantor.
..."Datang saja ke rumah. Nanti Kakek cerita ke Kamu."...
..."Baiklah. Surya akan datang dalam sekejap mata. Ada yang ingin Surya ceritakan juga dengan Kakek. Soal si dia juga, hahaha..."...
..."Dia siapa?"...
..."Ada deh..."...
..."Hah! dasar Kamu tidak jelas."...
klik!
Sang Kakek mengeleng, mengingat perkataan cucunya yang satu tadi, Surya Jaya.
Surya Jaya memang berbeda dengan cucunya yang lain, Mr Ginting.
Dari segi berbicara, kehangatan hubungan dengannya dan juga gaya bicaranya yang senang bercanda. Tidak sama seperti cucunya, Ginting, yang terkesan misterius dan dingin. Tidak bisa berbasa-basi dan juga bergurau.
Mungkin sikap Mr Ginting dipengaruhi oleh pendidikannya juga. Dan sang Kakek tidak bisa menyalahkan cucunya itu, dengan semua sifat dan kebiasaannya selama ini. Karena itu juga kesalahan dirinya sendiri.
*****
Yati sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kampung halamannya, bersama dengan supir Mr Ginting, yang akan berperan tidak hanya sebagai seorang supir saja, tapi juga bodyguard yang akan menjaganya.
Sebenarnya, Yati ingin mengunakan mobil sendiri, sama seperti kemarin, saat dia pulang ke kampung.
Tapi tentu saja, suaminya itu tidak mengijinkan.
"Supir akan mengantarmu."
__ADS_1
Begitulah keputusan yang diambil oleh Mr Ginting semalam, dan Yati akan berada di kampung hanya untuk dua hari saja.
Yati akhirnya hanya bisa mengikuti apa yang sudah diputuskan oleh suaminya itu. Dia tidak ingin, membuat Mr Ginting marah dan tidak jadi mengijinkan dirinya untuk pulang ke kampung.
Ini adalah kesempatan yang langka, untuk seorang gheisa, yang bisa pulang dalam tugasnya.
"Aku beruntung karena bisa mendapatkan ijin dari Mr Ginting. Mungkin jika orang lain, itu justru membuat mereka komplain pada Mr Akihiko. Aku bisa dicoret dari daftar gheisa yang terbaik. Meskipun tidak ada imbalan dari semua itu, tapi setidaknya, Mr Akihiko akan mempertimbangkan diriku, jika ada tawaran dengan orang-orang yang bukan sembarang orang."
Yati bersama bersyukur untuk semua yang sudah dia dapat kali ini.
Padahal dulu, dia sempat ragu dan hampir saja menolak tawaran Mr Akihiko, untuk menerima kerjasama dengan Mr Ginting dalam kontrak ini.
Tapi ternyata, yang dia dapat jauh lebih besar dari apa yang dia bayangkan sebelumnya.
Jadi, dia harus menurut dan tetap berhati-hati dalam melakukan segala sesuatunya.
"Kamu sudah siap?"
Tiba-tiba, Mr Ginting ada di samping Yati, tanpa Yati sadari. Yati melamun, sehingga tidak mendengar suara pintu kamar yang terbuka.
"Eh, emhhh... su_sudah. Sudah siap," jawab Yati tergagap, karena rasa terkejutnya yang tidak pernah menyangka jika suaminya itu masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu kenapa seperti orang yang sedang sakit?" tanya Mr Ginting, yang merasa heran dengan sikap istrinya itu.
"Ti_tidak. Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit terkejut saja," jawab Yati dengan cepat. Dia tidak mau jika Mr Ginting tahu apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
"Ya sudah. Jangan lama-lama ya di sana. Cukup dua hari saja, karena setelah itu kita akan melakukan perjalanan ke Singapura, bersama dengan Surya Jaya juga."
Yati mengangguk mengiyakan perkataan suaminya. Dia juga tidak akan berlama-lama di kampung, apa lagi kepulangannya kali ini bersama dengan supir. Dia juga tidak tahu, apa yang akan dipikirkan oleh orang-orang kampungnya nanti.
Mr Ginting memeluk Yati secara tiba-tiba. Perbuatan suaminya itu membuat Yati kembali terkejut.
Apalagi saat Mr Ginting menciumnya dengan cukup lama. Dia merasa jika Mr Ginting sebenarnya tidak ingin dia pergi.
"Apa Mr mau bermain-main terlebih dahulu?" tanya Yati menawari.
Tentu saja, tawaran dari Yati diiyakan oleh suaminya, yang memang sudah tidak bisa berlama-lama tidak menyentuhnya belakangan ini.
Dan begitulah akhirnya. Yati jadi menunda keberangkatannya, untuk beberapa jam kemudian, karena ingin memuaskan suaminya terlebih dahulu.
__ADS_1
Karena sesungguhnya, dia juga menginginkan hal yang sama seperti yang diinginkan oleh Mr Ginting sekarang.