Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Kesulitan Di Rumah Mr Ginting


__ADS_3

Setelah semua dijelaskan oleh Mr Ginting, kakek dan Surya Jaya, hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa berkomentar dan juga bertanya kepada Mr Ginting, soal pembatalan rencana dan janji mereka.


Begitu juga dengan Mr Ginting sendiri. Dia tetap diam, dan tidak ada penjelasan tentang alasannya.


Dan masing-masing, Mr Ginting dan Surya Jaya, kembali ke ruangan mereka sendiri-sendiri.


Setelah cucu-cucunya pergi dari ruangannya, sang kakek menelpon orang kepercayaannya, yang dia utus untuk melakukan hal yang diperlukan untuk acara pernikahan cucunya, Mr Ginting. Dia meminta pada orang tersebut, untuk mengatur apa-apa yang dibutuhkan.


Dari mulai makanan dan panggung pelaminan, serta baju pengantin yang akan dikenakan oleh kedua pengantin nanti.


Bahkan, seragam untuk tiap keluarga, juga sudah diatur oleh orang tersebut, dengan bantuan EO yang tidak hanya satu saja, tapi beberapa EO, yang harus bisa bekerjasama, untuk mewujudkan suatu pesta pernikahan yang mewah dan dengan perencanaan yang singkat, karena memang waktu mereka tidak banyak.


Dan sekarang, tinggal tiga hari lagi untuk pesta pernikahan yang dijanjikan oleh sang kakek, untuk Mr Ginting.


..."Apa semua sudah beres?"...


Sang kakek, menghubungi orang kepercayaannya itu, untuk bertanya tentang persiapan pesta yang dus kerjakan.


..."Tinggal fitting baju pengantin Tuan Besar. Ini hanya untuk memastikan, jika bajunya benar-benar pas."...


..."Kapan? Biar Aku kabari mereka berdua."...


..."Nanti sore atau malam juga sudah siap Tuan."...


..."Baiklah. Lanjutkan pekerjaanmu!"...


..."Baik Tuan."...


Klik!


Panggilan telpon terputus. Kakek menghela nafas panjang sambil tersenyum sendiri, membayangkan bagaimana wajah cucunya, saat tahu jika pesta pernikahan yang dia inginkan, sudah selesai dipersiapkan.


"Semoga dia tidak berulah kali ini. Dia itu arogan, meskipun Aku tahu bahwa sebenarnya dia sangat perasa," gumam kakek seorang diri.

__ADS_1


Tak lama, sang kakek memangil cucunya lagi, Mr Ginting, supaya datang ke ruangannya sebentar.


..."Ginting. Keruangan Kakek ya, sekarang."...


Mr Ginting tidak menjawab telpon dari kakeknya. Dia hanya diam kemudian meletakkan kembali telpon yang ada di meja kerjanya. Setelah itu, beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar menuju ke ruangan sang kakek lagi.


Dia masuk tanpa mengetuk pintu ruangan sang kakek. Dia juga langsung duduk di depan meja kerja, tanpa menunggu di persilahkan oleh sang kakek.


Sang kakek hanya tersenyum tipis, melihat tingkah cucunya yang arogan tersebut.


"Pestamu siap untuk tiga hari ke depan. Nanti sore, atau siang, silahkan ajak istrimu untuk fitting baju ke butik keluarga. Pemesanan gaun memang bukan dari butik kita itu, tapi memesan dari perancang yang ada di Singapura. Tapi karena pestanya di sini, gaun dan pakaianmu, sudah dikirim dan jika ada sesuatu yang kurang, akan segera di perbaiki di oleh butik kita. Apa Kamu tidak keberatan untuk bisa datang bersama dengan istrimu, Kiara?"


Sang kakek, menjelaskan pada Mr Ginting dengan penjelasan yang panjang lebar. Tapi Mr Ginting hanya mengangguk samar kemudian berdiri lagi. Dan dia hampir berjalan keluar, saat sang kakek menegurnya.


"Hai. Dasar Kamu cucuku yang tidak punya sopan santun. Apa tidak ada ucapan terima kasih untuk Kakek tua ini?" tanya sang kakek, dengan mencegah Mr Ginting melanjutkan langkahnya.


"Apa itu perlu diucapkan?" tanya Mr Ginting dengan memicingkan mata, melihat ke arah kakeknya.


"Hahaha... Kamu tahu sendiri, jika kakek tua ini, perlu juga basa-basi agar hatinya merasa lega dan senang," ucap sang kakek, mengatakan isi hatinya.


Setelah mengucapkan terima kasih yang kaku dan sambil lalu, Mr Ginting keluar dari dalam ruangan kakeknya. Dia kembali ke ruangannya sendiri.


Sang kakek mengeleng beberapa kali, mendengar dan melihat tingkah laku cucunya itu. Meskipun sebenarnya dia juga tahu, jika Mr Ginting itu tidak sama seperti yang terlihat. Dia hanya tidak bisa mengekspresikan perasaan dan wajahnya, dalam keadaan sehari-hari. Dia juga tidak bisa berbasa-basi meskipun itu pada kakeknya sendiri.


"Apa Aku salah dalam mendidiknya ya?" tanya sang kakek dalam hati.


Tapi semua sudah terlambat. Mr Ginting sudah terbentuk dengan wataknya yang keras, dan juga pendidikan yang keras juga sedari kecil.


Itulah sebabnya, dua jadi sulit tertebak, untuk orang-orang yang tidak biasa bersama dengannya.


"Semoga, ada perubahan yang lebih baik, setelah dia menikah. Aku harap, sebuah keluarga akan menghangatkan kehidupannya yang sepi sedari kecil."


Begitulah doa dan harapan sang kakek, untuk Mr Ginting, cucunya.

__ADS_1


*****


..."Bersiap untuk pergi ke butik. Supir akan mengantarmu, dan kita akan bertemu di sana."...


Belum juga Yati menjawab telpon dari suaminya itu, dia sudah mendengar perkataan suaminya yang persis sebuah perintah. Dan tidak menunggu jawaban dari Yati, Mr Ginting sudah menutup panggilan teleponnya.


"Huhfff... apa Aku tidak bisa bicara, barang sebentar saja?" tanya Yati sendiri.


Akhirnya, dia membuang nafas kesal, kemudian berjalan keluar dari dalam kamar. Dia ingin mencari supir, untuk memberitahu keinginan Mr Ginting nanti.


"Oh iya, nanti itu kapan? kenapa dia tidak menjelaskan waktunya secara rinci."


Yati bertanya-tanya dalam hati, kapan waktu yang di minta oleh suaminya itu, untuk dia pergi ke butik. Yati juga bingung, dengan butik mana yang dimaksud olehnya.


"Oh, mungkin supir sudah tahu, di mana letak butik yang di maksud oleh Mr Ginting. Begitu juga dengan waktunya. Tapi aku kan perlu bersiap-siap. Jadi kalau tidak tahu apa-apa, bisa-bisa Aku tidur adalah waktunya berangkat."


Yati kembali mengerutu dengan kesal. Dia merasa tidak tenang, karena perintah Mr Ginting yang tidak jelas, dan tidak dia mengerti. Dia harus belajar sendiri, mengenal bagaimana watak dan kebiasaan dari suaminya itu. Hal yang tidak pernah Yati duga, karena suaminya yang sebelum ini, sangat sabar dan selalu mau menjelaskan tentang sesuatu yang tidak dia mengerti.


"Aku jadi hidup seperti ada di sebuah kolom teka teki. Harus bisa menebak dan mencari tahu jawabannya sendiri."


Yati terus bergumam, sambil mencari-cari keberadaan supir.


"Miss Kiara mau kemana?"


Tiba-tiba, ada pelayan yang bertanya kepada Yati.


"mencari supir," jawab Yati, mengatakan kebutuhannya saat ini.


Yati tidak mungkin bisa mencari keberadaan supir itu sendiri, karena rumah yang sangat besar ini, menyulitkan dirinya, untuk menemukan ruangan atau tempat para pelayan yang ada. Jadi, saat ada yang bertanya, dia memanfaatkannya, supaya ada yang bisa membantu dirinya menemukan supir tersebut.


"Oh, seharusnya miss Kiara memencet tombol yang ada di dalam kamar. Akan ada pelayan yang datang, dan membantu miss Kiara, menemukan supir. Dia akan datang sendiri ke tempat anda Miss," jawab pelayan tadi, menjelaskan kemudahan yang bisa Yati dapatkan.


Yati menganggukkan kepalanya paham. Dia merasa sangat bodoh, karena tidak memanfaatkan kemudahan tersebut. Padahal, kepala pelayan sudah memberitahunya, sama seperti yang baru saja dikatakan oleh pelayan tadi.

__ADS_1


Akhirnya, Yati pamit untuk kembali ke dalam kamarnya sendiri, dan melakukan apa yang tadi disarankan olehnya, pelayan.


Pelayan hanya mengangguk dan membungkuk sopan pada Yati, kemudian membiarkan Yati berjalan kembali ke dalam kamarnya sendiri.


__ADS_2