
Kamar bayi yang sudah dipersiapkan mereka, dihiasi dengan warna-warna cerah dan motif yang lembut. Di sudut ruangan terdapat tempat tidur bayi dengan selimut yang hangat dan beruang mainan yang menggemaskan.
Mereka berdua berdiri di dekat tempat tidur bayi dengan senyuman lebar di wajah mereka. Mereka saling bertatapan penuh cinta dan antusiasme.
"Hai, putra kecilku. Kamu membawa kebahagiaan besar bagi kami," ungkap Biyan dengan lembut memegang bayi kecil itu.
"Iya, kamu adalah hadiah terindah dalam hidup kami, sayang " Yati merapikan selimut bayi.
"Kita, akan merawatmu dengan penuh kasih sayang dan memberikanmu yang terbaik." Biyan, mengusap rambut hitam anaknya yang tertidur pulas.
Oeeek ... oeeek ...
"Hai, kau mengusiknya!"
Yati, mengambil alih anaknya, karena Biyan justru menggelitik pipi gembul bayi tersebut setelah mengusap-usap rambutnya.
"Hahaha ... aku gemes, sayang!"
Gelak tawa Biyan, memenuhi kamar bayi tersebut, bersahutan dengan tangisan anaknya yang nyaring.
Oeeek ... oeeek ...
"Cup cup cup, sayang. Ihhh, papa nakal ya?"
Tapi bukannya diam, Biyan justru terus usil supaya anaknya itu terbangun dan tidak tidur lagi supaya ia bisa bermain-main.
Setelah menghisap ASI, dengan tangan Yati yang menepuk-nepuk pantat bayinya dengan lembut, anaknya itu tertidur pulas. Membuat Yati lega, sedangkan Biyan tersenyum bahagia melihat keluarganya yang mendapatkan anugrah lengkap dengan adanya bayi tersebut.
"Kami akan selalu ada untukmu, sayang. Kita akan belajar bersama dan tumbuh bersama," ucap Yati, dengan mencium pipi anaknya.
Pagi harinya, mereka dengan cermat membersihkan bayi kecil itu dan mengenakan baju baru yang lembut. Mereka dengan penuh kehati-hatian merawat dan memberikan ASI sebagai asupan gizi utama pada bayi itu, sambil menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Papa akan selalu di sampingmu, sayang kecilku." Biyan menyanyikan lagu lembut, di samping Yati yang sedang menyusui anaknya.
"Kami akan menjagamu dengan sepenuh hati, Sayang." Yati menyeka air mata bahagia.
Mereka memang belajar bagaimana memandikan bayi, mengganti popok, dan memberinya makan dengan sabar dan penuh kasih sayang, secara mandiri. Belum mengunakan perawat atau baby sitter.
Dengan demikian, mereka bisa lebih intens ketika mendapati adanya momen-momen lucu dan canda tawa di antara tantangan-tantangan mengurus bayi.
Terkadang, mereka harus berusaha ekstra untuk menenangkan bayi yang rewel, namun semua itu dihadapi dengan senyum dan kehangatan.
__ADS_1
"Semuanya begitu indah, membuatku bahagia dengan kehadiranmu, sayang." Biyan, mengajak bicara anak.
"Ya, ini memang anugrah untuk kita, Ai."
"Benar, Koi. Dan, aku semakin bertambah mencintai kalian."
Cup!
Biyan, mengecup kening istrinya, sebagai tanda kasih sayang, ucapan terima kasih dan rasa syukur atas semua anugerah Tuhan dan kebahagiaan yang diterimanya.
Mereka berdua merasa begitu bersyukur atas kehadiran buah hati mereka. Setiap hari adalah petualangan dan pengalaman baru, dan mereka mengisi setiap momen dengan rasa cinta dan kebahagiaan.
Kehadiran bayi kecil, Arya Prabawa Aji, membawa keceriaan dan kehangatan dalam rumah tangga mereka. Biyan dan Yati menjadi orang tua yang penuh kasih sayang dan peduli, siap menjalani perjalanan panjang dalam mengasuh dan membimbing anak mereka.
***
Satu tahun kemudian.
Suatu malam, Yati duduk di sofa dengan mata berbinar-binar. Dia tiba-tiba memandang Biyan dengan senyum lebar.
"Ai, aku ingin ... Es krim stroberi dengan saus cokelat, marshmellow, dan potongan buah pisang."
Tiba-tiba, Yati menginginkan sesuatu yang tidak biasa pada malam hari. Padahal, Yati tidak begitu suka dengan es krim, apalagi ini malam hari.
Cup
"Baiklah, sayang Koi. Aku akan segera pergi membelinya. Tapi, coba besok kamu tes urine ya, siapa tahu ada adik buat Arya di perutmu."
Yati memandang Biyan dengan bingung. Tapi setelah sadar, ia terbelalak dan menutup mulutnya sendiri.
"Ai, a-ku ..."
Yati baru sadar, jika ia belum datang bulan untuk satu bulan yang lalu. Itu artinya ...
"Apakah, a-ku hamil lagi?" tanya Yati, tidak percaya dengan apa yang dialaminya sendiri.
"Ya, aku berharap ada hasil untuk usaha kita setiap malam. Hahaha ..."
Biyan justru tertawa penuh harap, bahagia karena keinginannya akan segera terwujud. Dia akan memiliki anak lagi untuk kedua kalinya, sebagai bukti kerja kerasnya setiap malam bersama sang istri.
Ingat dengan permintaan Yati tadi, Biyan segera pamit setelah meminta istrinya sabar menunggu dengan menunggu Arya. Anaknya yang baru saja bisa berjalan itu sudah tertidur, karena kecapean setelah berjalan sesuka hati karena bahagia.
__ADS_1
Sambil menunggu, Yati mulai membayangkan rasa manis dan segar dari es krim stroberi. Ia mengelus pipi gembul anaknya, berharap bisa segera memberikan adik untuk Arya.
"Kamu akan segera menjadi kakak, Arya ku. Tumbuhlah sehat dan baik-baik saja, dengan adikmu nanti."
Tak lama kemudian, Biyan kembali dengan semangkuk besar berisi es krim stroberi yang disajikan dengan saus cokelat, marshmellow, dan potongan buah pisang. Yati melihatnya dengan mata berbinar dan tak sabar.
"Terima kasih, Ai! Kamu luar biasa!" seru Yati, mengucapkan terima kasih melihat es krim yang diinginkannya.
Mereka duduk berdua di sofa, di kamar anaknya. Yati dengan senyum bahagia sambil menikmati setiap sendokan es krimnya, sekali menyuapi Biyan yang duduk di sampingnya.
Biyan tersenyum bahagia. Ia senang bisa memenuhi keinginan Yati, berharap apa yang diberikan pikirkannya memang benar.
"Senang melihatmu bahagia, sayang. Apapun yang kau inginkan, aku akan selalu berusaha memenuhinya."
Yati tersenyum penuh rasa syukur. Mereka berdua melanjutkan malam mereka dengan kebahagiaan, menikmati saat-saat kebersamaan seperti ini yang membuat hubungan mereka semakin kuat dan romantis.
Setelah kehadiran Arya, rumah Yati dan Biyan dipenuhi dengan tawa ceria dan haru bahagia. Mereka berdua dengan penuh kasih sayang merawat dan mendidik anak kecil mereka. Setiap pagi, mereka bangun dengan senyuman hangat, siap untuk memulai hari bersama.
Si kecil, dengan matanya yang mengandung dunia keajaiban, menjadi pusat perhatian di rumah itu. Yati dan Biyan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya, memberikan cinta, pendidikan, dan peluang untuk tumbuh dan berkembang.
"Aku berharap kebahagiaan itu selalu datang dan bertambah, seiring berjalannya waktu."
Biyan, mengecup bibir Yati, selesai mereka melakukan olahraga malam dengan tangannya yang mengusap-usap perutnya Yati yang hanya tertutup selimut.
"Iya, Ai. Aku juga berharap demikian."
Yati, membalas setiap ciuman suaminya dengan rasa cinta dan penuh syukur.
Momen-momen bersama keluarga menjadi lebih berarti. Bukan hanya kegiatan malam mereka, tapi mereka juga sering melakukan kegiatan bersama seperti bermain di taman, membacakan cerita sebelum tidur untuk Arya, atau berjalan-jalan pada saat liburan.
Yati dan Biyan juga belajar banyak dari peran mereka sebagai orang tua. Mereka saling mendukung dan membimbing satu sama lain dalam membesarkan si kecil. Meskipun kadang-kadang melelahkan, kehadiran si kecil membawa kebahagiaan dan arti yang mendalam dalam hidup mereka.
"Kami, tidak kapok, kan Koi?" tanya Biyan, mengusap pipi istrinya.
"Kapok? Maksudnya kapok apa?" tanya Yati, dengan pertanyaan suaminya barusan.
"Melahirkan."
Yati menggeleng cepat. Dia menjelaskan bahwa dia juga ingin memberikan adik untuk Arya karena mengingat umurnya yang tidak muda lagi.
Hal ini membuat Biyan menciumi kening dan bibir Yati, berkali-kali sebagai ungkapan terima kasih dan cintanya.
__ADS_1
Dengan cinta dan komitmen yang kuat, keluarga kecil ini tumbuh menjadi satu kesatuan yang kokoh. Mereka menikmati setiap detik dari perjalanan kehidupan baru mereka, dengan si kecil sebagai bintang bersinar di tengah-tengahnya, dan harapan akan anggota baru yang akan segera datang.
Benarkah Yati hamil, lagi???