Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Keinginan Yati Membawa Ibunya


__ADS_3

Seharian ini, Yati merasakan capek yang luar biasa, karena perjalanan yang dia lakukan bersama dengan sang Kakek ke Singapura, dan mencari tahu tentang kebenaran hubungan antara dirinya dengan wanita-nya sang Kakek.


Namun sayangnya, apa yang dicari oleh sang Kakek, tidak ada. Bros Bunga itu kosong dan tidak ada lagi mirko chip, yang selalu dicari-cari oleh sang Kakek selama ini.


Sekarang, hanya ada dua kemungkinan mengenai keberadaan mikro chip tersebut.


Yang pertama, sang Kakek harus bertanya pada Andre, yang diperkirakan oleh Yati adalah Mr Andre yang dia kenal, dan menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Mr Andre sendiri, begitu sang Kakek bertemu dengannya.


Dan yang kedua, mencari keberadaan laki-laki, yang telah kabur dan pastinya sudah dibenci oleh sang Kakek, karena telah berani bermain-main dengan wanita-nya. Tapi sayangnya, laki-laki itu tidak diketahui keberadaannya hingga saat ini.


Sang Kakek sedang berpikir untuk menyusun rencana selanjutnya, untuk menemukan mikro chip tersebut. Karena untuk urusan tes DNA Yati dengan wanita-nya itu, sang Kakek sudah menyerahkan pada rumah sakit yang pastinya bisa dipercaya.


Yati sendiri tidak ikut campur dalam urusan, apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh sang Kakek. Dia merasa itu bukan urusannya. Dia hanya ingin memastikan, dan menemukan ibu kandungnya sendiri, dan jika bisa, dia juga tahu, siapa sebenarnya ayah biologisnya.


Dari penuturan wanita-nya sang Kakek, dalam keadaan yang masih depresi, dia hanya menyebut-nyebut nama Andre, tanpa keterangan lain. Dan ini membuat Yati khawatir, jika apa yang dikatakan oleh wanita tersebut adalah ayahnya, itu artinya, selama ini, Yati mencintai dan melakukan hubungan badan dengan ayah kandungnya sendiri. Yang tidak pernah dia ketahui sepanjang hidupnya.


"Jika benar Mr Andre adalah ayahku, apa dia mendekatiku juga karena adanya kemiripan antara Aku dengan wanita itu? Apa sebenarnya dia ingin bercinta dengan wanita tersebut, dan itu artinya, Mr Andre membuat diriku menjadi bayang-bayang dari ibuku sendiri, wanita itu?" Yati bertanya-tanya dalam hati. Dia merasa terpuruk, jika semua yang dia pikirkan saat ini adalah kebenaran yang sesungguhnya.


Ada begitu banyak pertanyaan, yang ingin dia sampaikan pada Mr Andre, bila dia punya kesempatan untuk berjumpa dengannya. Entah kapan itu, Yati juga tidak tahu pasti.


"Kita pulang ke Indonesia besok. Sekarang, Kamu bisa menginap di hotel, yang sudah Kakek pesankan untukmu. Kakek akan tidur di apartemen Kakek sendiri."


Yati hanya mengangguk saja, mendengar perkataan sang Kakek, untuk urusan tidurnya malam ini.


"Terserah Kakek saja. Kiara hanya ingin beristirahat. Kiara capek sekali," ujar Yati, dengan menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Maafkan Kakek, yang sudah membuat Kamu ikut terlibat dalam urusan ini. Tapi, mungkin ini sudah jalan nasib, yang membawamu ke hadapan Kakek. Jadi, sekarang Kakek bisa mengalihkan pencarian, dan tidak lagi mencari-cari keberadaan Bros Bunga itu lagi. Dan Kamu juga akhirnya bisa bertemu dengan ibumu, meskipun kepastian itu belum terjawab. Tapi setidaknya, Kamu sudah tahu, siapa ibumu, dan bagaimana keadaannya saat ini."


Yati hanya mengangguk saja. Karena semua yang dikatakan oleh sang Kakek memang benar.


Yati tidak akan bisa tahu apa-apa, jika dus tidak ada di antara sang Kakek, karena telah menikah dengan cucunya, Mr Ginting. Dan Bros Bunga itu, dia juga bersyukur, karena mencoba memakainya, pada saat ada acara ulang tahun sang Kakek sendiri.


"Ayo, Kakek antar sampai hotel. Semoga Kamu bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman, sebelum kita pulang ke Indonesia. Semoga, tidak akan ada yang melihat kita dan mengadu kepada Ginting besok-besoknya."


Yati pun mengangguk setuju, dengan perkataan sang Kakek. Dia juga tidak mau jika, Mr Ginting sampai tahu semua ini, dan akan menjadi marah besar nantinya.


Akhirnya, sang Kakek mengantar Yati ke hotel, yang berada tidak jauh dari apartemennya sendiri.


Sebelum pergi, sang Kakek berpesan pelayan dan penjaga rumah, supaya tetap berhati-hati dan menjaga wanita-nya itu. Semua akan baik-baik saja, jika wanita-nya itu tidak dalam keadaan mengamuk.


"Apa ibu Kiara bisa kembali normal, sama seperti dulu lagi?" tanya Yati, yang berharap banyak pada ibunya, agar bisa menjadi manusia yang tidak sama seperti ini.


Yati mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia harus bisa menjaga bicaranya, sikapnya juga, agar tidak terkesan memaksa sang Kakek, untuk menyerahkan ibunya itu, kepadanya.


"Dulu, semua kejadian ada dimana Kek? Maksud Kiara, waktu itu, ibu ada di Indonesia atau sudah ada di Singapura?" tanya Yati dengan hati-hati.


"Di Indonesia. Kenapa?"


"Emhhh... menurut Kiara, bagaimana kalau cara penyembuhan pada ibu diganti saja. Kita ajak pulang ke Indonesia, dan mengajaknya pergi, ke tempat-tempat dia punya kenangan. Mungkin sama Kakek pada waktu itu, atau pada seseorang," ujar Yati, mengutarakan maksudnya.


Padahal sebenarnya, Yati hanya ingin mengajak Ibunya itu pulang ke Indonesia saja. Ini akan memudahkan dirinya sendiri, untuk memantau kondisi ibunya.

__ADS_1


Yati akan menempatkan ibunya di rumah sakit rehabilitasi, khusus untuk orang-orang yang tertekan kejiwaannya. Bukan ke rumah sakit biasa, yang justru sering memperparah keadaan pasien yang sedang sakit.


"Kita lihat saja ke depannya. Jika memungkinkan, Kakek akan membawanya pulang ke Indonesia. Tapi tentu tidak sekarang ini. Kamu juga harus menunggu hasil tes DNA itu kan? Dan itu butuh waktu sekitar sepuluh hari."


Yati mengangguk paham dengan penjelasan yang diberikan oleh sang Kakek. Dia juga tidak akan memaksa, untuk membawa ibunya itu, ke Indonesia, jika memang keadaannya tidak memungkinkan.


"Kek... " panggil Yati ragu.


"Ya," jawab dari sang Kakek, yang juga pendek dan tampak ragu juga.


Yati ragu, untuk mengatakan semua rahasia pernikahannya dengan Mr Ginting.


Sedangkan sang Kakek merasa ragu, jika Kiara tidak ada maksud tertentu, yang membawanya pada pernikahan bersama dengan cucunya, sehingga bisa dengan mudah mendekatinya, untuk membalas dendam kepadanya.


"Kamu mau bicara apa Kiara?"


Pada akhirnya, sang Kakek yang bertanya, karena Yati tidak melanjutkan kata-katanya. Dia justru menunduk dan tidak mengatakan apa-apa lagi.


"Apa Kakek bisa menerima kenyataan bahwa, Kiara adalah anak ibu tadi, dan sekarang menjadi menantunya Kakek sendiri. Karena bayi yang dulu Kakek buang, kini sudah menjadi istrinya Mr Ginting. Cucu dari Kakek sendiri."


Sang Kakek tersenyum. Dia memang menyesal karena sekarang baru tahu, siapa Kiara yang sebenarnya. Dia hanya bisa diam, dan tidak bisa berpikir jernih. Baginya, semua ini adalah terapi kejut, yang membuat dirinya merasa sangat terkejut. Karena ternyata, rahasia kehidupan membawanya kembali pada bayi yang tidak bersalah, namun dia tetap membuangnya.


Bahkan, orang suruhannya, pengawal yang disuruh membuang bayi itu, sudah mendapatkan karmanya terlebih dahulu, dengan kecelakaan yang dia alami. Dan itu sudah merenggut nyawa dan kehidupannya, sepulangnya dari kampung di mana bayi itu dibuangnya.


"Apa maksud Kamu Kiara. Apa Kamu membenci Kakek, karena sudah membuangmu sewaktu masih bayi?" sang Kakek bertanya dengan menebak isi pikiran Yati.

__ADS_1


Tapi Yati mengelengkan kepalanya. Sebenarnya, dia tidak merasa benci ataupun dendam pada sang Kakek. Tapi ini adalah sebuah rasa yang tidak bisa dia katakan, karena menyangkut dengan Mr Ginting, yang merupakan cucu dari sang Kakek sendiri.


Cucu kesayangannya sang Kakek, Mr Ginting, yang sekarang ini sedang berada di Eropa. Dan itu juga karena rencana sang Kakek.


__ADS_2