
Tuan Wasito, sudah duduk di ruang tamu. Dia dipersilahkan untuk masuk ke dalam rumah, oleh Mbok Minah.
Begitu juga dengan supir, yang ikut datang bersama dengan tuan Besar-nya itu.
Sebenarnya, Yati tidak mau berurusan dengan ayahnya lagi. Dia benar-benar tidak mau tahu, dengan apa yang ada pada ayahnya. Dia berpikir bahwa, sebaiknya tidak mengenal ayahnya, sama seperti waktu dulu. Dari pada tahu, apa dan bagaimana ayahnya itu hidup sehari-harinya.
Tapi karena Mbok Minah adalah orang kampung yang sederhana, tentu dia menghormati tamu, apapun latarbelakang tamunya itu.
Mbok Minah tidak berpikir macam-macam. Apalagi, tamunya kali ini adalah ayah kandung dari Yati, yang kemarin-kemarin sedang di cari.
Dan yang diketahui oleh mbok Minah dari Yati adalah, ayahnya itu sudah tidak ada. Alias ayah meninggi. Tapi sekarang, justru dia datang sendiri, ke rumahnya ini. Untuk bertemu dengan Yati secara langsung.
Sayangnya, Mbok Minah perhatikan bahwa, cucunya Yati, tidak begitu suka dengan kedatangan ayahnya sendiri. Tidak sama seperti dulu, waktu dia menceritakan tentang ibunya, meskipun dulu ibunya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Dengan rasa hormat pada tamu, mbok Minah menyuguhkan minuman dan makanan kecil, untuk kedua orang tamunya tadi.
Sedangkan Yati, sibuk mengirim pesan pada anaknya pak RT. Dia memberitahukan pada anak buahnya itu, untuk tetap bekerja secara baik, dan mengawasi toko serta teman-temannya yang lain.
Yati mengatakan bahwa, dia tidak jadi datang ke toko, karena ada keperluan di rumah.
"Nduk. Wingi awakmu ngomong, jare ayahmu wes gak Ono. Kok Iki iseh? ndi seng bener Nduk?" ( Nak. kemarin, Kamu bilang jika ayahmu sudah tidak ada alias meninggal. Ini kok masih? mana yang benar Nak? )
**Nduk adalah sebutan untuk anak perempuan yang lebih kecil.
Mbok Minah bertanya kepada Yati, tentang kebenaran yang dia katakan kemarin. Soalnya ayahnya Yati.
Sekarang, wajah Yati pias. Dia seakan-akan berdoa untuk ayahnya itu, supaya meninggal dunia.
Dan tuan Wasito, melihat ke arah Yati dengan cepat, saat mendengar pertanyaan dari Mbok Minah, pada cucunya itu. Anaknya tuan Wasito sendiri.
Sekarang, wajah Yati semakin pias. Karena ayahnya juga melihatnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Saya masih hidup Mbok. Mungkin, Nduk Yati mengatakan bahwa Ayahnya sudah tidak ada lagi karena, kesalahan yang sudah Saya buat selama ini tidak bisa dia maafkan."
Mbok Minah yang sederhana, semakin bingung dengan jawaban yang dia dengar.
Tapi karena tidak mau semakin membuat kebingungan pada dirinya sendiri, mbok Minah tidak lagi bertanya-tanya tentang kesalahan yang diberikan oleh cucunya kemarin.
__ADS_1
"Oh, monggo-monggo. Silahkan di minum. Sampai lupa ini," kata mbok Minah, mempersilahkan kedua tamunya itu untuk meminum air yang dia sediakan.
Untuk menyelamatkan rasa malu cucunya, Mbok Minah mengalihkan perhatian tamunya, pada minuman dan hidangan yang dia bawakan tadi.
Yati jadi tampak lebih lega, karena mbok Minah tahu bagaimana keadaan yang sedang dia hadapi saat ini.
Tuan Wasito dan supirnya, hanya mengangguk sambil tersenyum, mendengar perkataan yang diucapkan oleh mbok Minah.
Mereka berdua juga akhirnya minum, untuk menghormati tuan rumah, yang sudah berbaik hati, mempersilahkan mereka berdua untuk masuk. Meskipun orang yang mereka tuju, tidak menyambut kedatangan mereka dengan baik.
Setelah beberapa menit kemudian, mbok Minah pamit untuk pergi ke kebun. Dia berasalan jika, ada beberapa pisang di kebun, yang sudah mateng alias masak di pohon.
Dan itu harus segera di panen, agar tidak dimakan oleh hewan-hewan, seperti burung atau kelelawar malam.
Akhirnya, tuan Wasito meminta pada supirnya, untuk ikut Mbok Minah ke kebun, dan membantunya untuk menebang pisang-pisang tersebut.
Kini di rumah mbok Minah, hanya tinggal Yati bersama dengan tuan Wasito.
Ayah dan anak, yang masih perlu bicara dengan kepala dingin, untuk kebaikan mereka berdua.
*****
"Nduk. Ayah minta maaf."
"Tidak perlu."
"Katakan, apa yang perlu Ayah lakukan? untuk mendapatkan maaf darimu. Ayah juga ingin meminta tolong padamu, tolong Ayah untuk datang ke Singapura. Berziarah ke makam ibumu."
Mendengar perkataan dan alasan yang dikemukakan oleh ayahnya itu, Yati merasa lebih lega. Karena ternyata, ayahnya itu ada keinginan untuk datang menemui ibunya, meskipun sekarang ini hanya berupa batu nisan belaka.
Yati akhirnya mengangguk mengiyakan permintaan ayahnya. Meskipun sebenarnya dua belum bisa memaafkan ayahnya. Dia akan meminta pada ayahnya itu, supaya tidak lagi berbisnis, sama seperti yang dilakukan oleh ayahnya sekarang ini.
Mungkin itu tidak mudah, dan cepat untuk bisa diwujudkan. Tapi Yati akan memintanya dengan perlahan-lahan. Atau bisa juga, nanti Yati akan meminta syarat seperti itu, jika ayahnya minta maaf kepadanya lagi.
*****
Siang harinya, ayahnya Yati, tuan Wasito, pamit pulang.
__ADS_1
Yati dan Mbok Minah, juga tidak mencegahnya untuk tetap tinggal di rumah ini. Apalagi mbok Minah, yang sebenarnya tahu, jika cucunya itu tidak begitu suka dengan kedatangan kedua tamunya tadi.
Apalagi pada tamunya yang satu, yang mengaku-ngaku sebagai ayah kandungnya Yati.
Tapi mbok Minah juga tidak bertanya apa-apa pada Yati. Dia hanya memisah-misahkan pisang yang tadi di panen di kebunnya, untuk dia bagi-bagi pada tetangga rumah.
"Mbok. Ini oleh-oleh yang di bawa ayah, sekalian di bagi juga."
Mbok Minah tersenyum, mendengar perkataan Yati, yang secara tidak langsung mengakui jika salah satu dari tamunya tadi adalah ayahnya.
Ternyata, bingkisan-bingkisan yang di bawa sebagai buah tangan tamunya itu adalah makanan khas dari daerah mereka berasal. Tapi ada juga buah-buahan, dan juga oleh-oleh lain, yang khusus untuk diberikan kepada Yati.
Tidak mungkin bisa dibagi-bagi lagi. Yaitu satu set perhiasan dengan perkiraan harga yang tidak mungkin murah.
Yati mengerutkan keningnya, melihat kotak perhiasan tersebut.
Mbok Minah juga bingung, tapi akhirnya tersenyum tipis karena dua tahu, jika ayahnya Yati, sedang berusaha untuk menaklukkan hati anaknya sendiri.
Akhirnya mbok Minah dan Yati, sibuk dengan pekerjaannya. Yaitu membungkus oleh-oleh tersebut, bersama dengan pisang-pisang dari kebun, untuk dibagikan kepada tetangga sekitar rumah mereka.
Tidak lupa, Yati juga menyisihkan sebagian untuk diberikan kepada para pegawainya di toko.
"Kamu jadi berangkat ke toko?" tanya mbok Minah, saat Yati mengatakan jika dia meminta beberapa bungkus untuk diberikan pada karyawan toko.
"Jadi Mbok, sebentar lagi. Ini sekalian beresin ini dulu."
Mbok Minah hanya mengangguk. Dia juga pergi untuk membagikan bungkusan-bungkusan tadi, pada para tetangganya.
Dia membiarkan Yati melakukan apa saja, pada bingkisan yang lain, yang menjadi haknya sendiri. Karena itu memang khusus diberikan oleh ayahnya, untuk dirinya sendiri.
"Apa sih maksud ayah dengan semua ini! Apa dia pikir, dengan hadiah-hadiah ini Aku dengan mudah memaafkan dirinya? Ck, tidak." Yati bergumam sendiri, saat Mbok Minah sedang pergi ke rumah tetangganya.
Yaitu masuk ke dalam kamar. Dia menyimpan kotak perhiasan tersebut, agar suatu hari nanti, bisa dia kembalikan lagi. Karena dia tidak mau menerima apapun yang ada dari ayahnya itu, jika ayahnya tidak mau berhenti dari bisnisnya yang sekarang ini dia jalani.
"Aku memang bukan orang baik-baik. Tapi Aku tidak mau, jika ada seseorang, apalagi yang ada hubungan darah denganku, melakukan semua itu pada para gadis. Cukup Aku yang bodoh. Jangan ada yang lain lagi sebagai korban."
Yati tidak mau, ada anak yang lahir dari kekejaman kehidupan, yang sama seperti yang dijalani oleh ayahnya. Karena bisa jadi, akan ada gadis lain, yang bisa hamil tanpa tahu, siapa ayahnya, bahkan ibunya. Jika ibunya tidak bisa menerima kehadiran bayi itu dalam hidupnya.
__ADS_1
Meskipun jalan hidup tidak bisa kita tebak, tapi sebisa mungkin, menjauh dari apa saja yang tidak baik. Karena apa yang lakukan, siapa tahu, akan dilakukan oleh keturunan kita pada generasi berikutnya. Atau karma itu akan busa terjadi pada keturunan kita selanjutnya.
Akibat dari kelakuan orang-orang tua di masa lalu, bisa berimbas pada kehidupan sekarang. Baik pada anak atau cucu kita kelak. Pada kehidupan mereka selanjutnya.