Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Bukan Hanya Sekedar Kerja


__ADS_3

Denganmu takkan pernah habis waktu


Semua gelombang rasa hanya denganmu


Denganmu romansa tetap menggebu


Percikan awal pesona, engkau terindah


Tetaplah mewangi


(Memori) Semuanya kembali ke masa depan


Engkau dan aku akan selalu menyatu


Takkan pernah tergantikan


Kisah kita 'kan tetap abadi


🎶🎶🎶🎶


Lirik lagu dari penyanyi Glen Fredly, menemani makan malam bersama, di mension Mr Ginting.


Tapi makan malam bersama itu, jadi terkesan aneh untuk Surya Jaya, yang sendiri tanpa ada pasangan. Dia jadi merasa seperti obat nyamuk, untuk mereka berdua, Mr Ginting dan istrinya.


Dia merasa jika, dirinya tidak ada di tempat mereka makan saat ini karena, sepupunya, Mr Ginting, justru hanya fokus memperhatikan istrinya saja, seakan-akan tidak mau jika, istrinya itu menghilang dari pandangannya.


Makanan yang ada didepannya, hanya bisa dua aduk-aduk tidak jelas. Tapi, Surya Jaya, enggan untuk menegur kakak sepupunya itu.


"Ehem!"


Surya Jaya berdehem, untuk menyadarkan dirinya sendiri, dan juga kakak sepupunya itu. Mungkin dengan dia berdehem, kedua manusia yang sedang bucin-bucinnya itu, akan sadar, bahwa ada dirinya, diantara mereka.


"Surya, Kamu makanlah. Jangan diam saja," kata Yati, menegur adik sepupu dari suaminya itu. Padahal sebenarnya, Yati juga merasa kaget, mendengar suara deheman Surya Jaya tadi.


"Eh, iya.... emhhh iya Kak," sahut Surya Jaya cepat., kemudian menyendok makanan yang sudah ada di dalam piring, dan berada di depannya.


"Kapan istriku jadi Kakakmu?" tanya Mr Ginting cepat, karena dia tidak suka jika istrinya diklaim oleh orang lain.


"Hah!"


Surya Jaya tidak bisa menjawab pertanyaan dari sepupunya itu. "Pertanyaan yang tidak masuk akal," gumam Surya Jaya mencibir sikap Mr Ginting.


"Apa?" tanya Mr Ginting lagi, dengan cepat.


Yati hanya menggeleng memperhatikan suaminya, yang ada duduk di depannya saat ini, sedangkan Surya Jaya, ada di samping suaminya. Dia jadi merasa tidak nyaman karena, diperhatikan dua laki-laki, dalam keadaan makan seperti sekarang ini.


"Shunjin, makanlah yang benar. Nanti keburu dingin, dan tidak enak," kata Yati, ganti menegur suaminya.


Makanan yang ada di piring suaminya, juga masih terlihat banyak dan hanya sekedar di aduk-aduk saja.


"Lagunya, membuatku tak ingin jauh-jauh darimu."


Jawaban yang diberikan oleh suaminya, Mr Ginting, justru tidak nyambung dengan perkataan Yati.


Sedangkan Surya Jaya, jadi melengos dan mendengus dingin. Seperti ada suatu yang membuatnya merasa kesal. Entah apa yang dia rasakan saat ini.

__ADS_1


Yati hanya tersenyum tipis, mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya itu. Tak lama kemudian, dia menyendok makanan yang ada di piringnya sendiri, dan siap untuk dia makan. Tapi karena pandangan mata suaminya yang terkesan misterius, tapi seakan-akan meminta untuk disuapi, Yati jadi ingin menggodanya.


Sendok makan yang sudah berisi makanan dari piringnya, dia sodorkan ke depan mulut suaminya itu. "Aaa..." Yati menirukan suara orang, yang sedang menyuapi anaknya makan.


Dan Mr Ginting juga menurut. Dia membuka mulutnya, dan memakan makanan yang diberikan oleh istrinya itu. Sama seperti seorang anak, yang menurut saja, saat disuapi oleh ibunya.


"Haduh!"


Surya Jaya mengeluhkan tentang sikap dua orang yang tidak menghiraukan perasaan dirinya.


"Aku sudah kenyang."


Akhirnya, Surya Jaya pamit untuk pergi terlebih dahulu dari acara makan malam mereka.


Dia tidak mau melihat adegan-adegan romantis, yang diciptakan oleh Mr Ginting dan juga istrinya itu.


"Tidak tahu apa, bagaimana perasaan seorang jomblo kayak Aku ini!" ujar Surya Jaya dengan kesal.


Dia melangkah keluar dari dalam rumah, kemudian mencari-cari seseorang. Tapi ternyata tidak ada orang yang bisa menolongnya.


Dengan langkah lesu, Surya Jaya melangkah juga sampai di pos penjaga. "Halo Pak. Bisa minta tolong?" tanya Surya Jaya, saat sudah bertemu dengan penjaga rumah, yang sedang duduk sambil. menonton pertandingan gulat, dalam sebuah acara di stasiun televisi lokal.


Ternyata, Surya Jaya minta tolong pada penjaga rumah, untuk dibelikan makanan.


Penjaga rumah mengiyakan permintaan Surya Jaya. Setelah menerima beberapa lembar uang dari Surya Jaya, dia segera berangkat.


Sedangkan Surya Jaya, duduk di pos penjagaan seorang diri, mengantikan posisi penjaga, sambil melihat-lihat layar handphone miliknya.


Setelah beberapa saat kemudian, penjaga akhirnya datang juga, dengan beberapa bungkus makanan pesanan Surya Jaya. Mereka berdua, Surya Jaya dan penjaga, akhirnya makan malam bersama dengan lahap, di pos penjagaan mension Mr Ginting.


*****


Ada beberapa obat-obatan yang berserakan di atas meja. Sang Kakek merasa kesal, dengan semua yang sudah terjadi padanya hari ini.


"Aku tidak mungkin menemui kedua cucuku, dalam keadaan seperti ini. Bisa-bisa mereka akan bertanya yang tidak-tidak, dan Aku kesulitan menjawabnya. Para bodyguardku, tentu akan disalahkan juga oleh mereka, karena dianggap tidak berguna dan tidak bisa menjagaku. Lebih baik Aku di sini terlebih dahulu. Tapi bagaimana jika mereka mencari-cari keberadaan Aku, jika menelpon di Indonesia tidak ada juga?"


Sang Kakek bingung dengan keadaan dirinya, yang terluka di bagian wajah, akibat cakaran wanita yang mengalami depresiasi, akibat dari hukuman yang diberikan oleh sang Kakek.


"Aku lebih baik memberi kabar pada mereka, jika Aku akan pergi berlibur ke Amerika, dengan beberapa teman. Ini akan membuat mereka lebih tenang dan tidak banyak pertanyaan."


Akhirnya, sang Kakek menghubungi cucunya, Mr Ginting terlebih dahulu, untuk memberikan kabar tentang rencananya pergi berlibur.


Tut


Tut


Tut


Tidak ada jawaban. Sang Kakek mengerutkan keningnya, memikirkan apa yang terjadi pada cucunya itu.


"Tumben, dia tidak mengangkat panggilan telpon dariku?" tanya sang Kakek pada dirinya sendiri.


Akhirnya, sang Kakek mencoba untuk menghubungi cucunya yang satunya, Surya Jaya.


Tut

__ADS_1


Tut


Tut


..."Halo Kakek!" ...


Akhirnya, panggilan telpon darinya diterima oleh Surya Jaya.


..."Halo Surya. Bagaimana keadaan Kalian di sana?" ...


..."Wah, baik-baik saja Kek. Kakek sendiri bagaimana? seharusnya Kakek ikut juga ke sini. Aku jadi merasa kesepian ini."...


..."Hahaha... ada apa Surya? Kenapa Kamu merajuk seperti itu? Apa yang terjadi?"...


..."Mas Ginting memintaku untuk ikut ke Singapura, tapi nyatanya, Aku di sini sendiri. Bahkan, ini Kek, Aku baru saja selesai makan malam bersama penjaga di pos penjagaan juga Kek!"...


..."Hah! Kenapa?"...


..."Aku diusir oleh mas Ginting!" ...


..."Apa? Mana mungkin?" ...


..."Yahhh Kek, bagaimana tidak mengusir jika mas Ginting hanya memperhatikan istrinya saja dan tidak menghiraukan perasaan dan keberadaan diriku di antara mereka berdua!"...


..."Hahaha...."...


Sang Kakek justru tertawa terbahak-bahak, mendengar perkataan Surya Jaya yang sedang mengadu kepadanya, tentang kelakuan Mr Ginting, selama di Singapura.


Apalagi, setelah Surya Jaya menceritakan semua kejadian yang dia alami, kemarin di taman dekat kolam renang juga.


..."Itu salah Kamu sendiri Surya. Hahaha... harusnya, Kamu juga membawa pasangan, pacar atau istri. Sudah saatnya Kamu juga menikah kan?" ...


..."Hemmm..."...


Sang Kakek justru mendesak Surya Jaya untuk segera menikah. Dia akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang dirasakan oleh pasangan baru, Mr Ginting dan istrinya, miss Kiara.


..."Oh ya, Kakek ada apa telpon Surya?" ...


Akhirnya, Surya Jaya kembali mengingatkan sang Kakek, dengan tujuan menelponnya tadi.


..."Oh ya, sampai lupa kan dengan tujuan Kakek sendiri. Itu tadi Kakek menelpon Ginting. Tapi sepertinya dia sedang tidak mendengar karena sedang seperti yang Kamu ceritakan tadi. Akhirnya Kakek menghubungi Kamu, dan malah mendapat aduan yang seperti seorang pemuda yang cemburu. Hahaha..."...


..."Kakek!" ...


Sang Kakek justru meledek Surya Jaya, sehingga Surya Jaya menjadi kesal.


..."Hahaha... maafkan Kakek Surya. Kakek hanya ingin Kamu mengikuti jejaknya Ginting. Dan tujuan Kakek menghubungi Kamu, karena Kakek akan berangkat berlibur ke Amerika besok. Mungkin seminggu atau dua minggu di sana. Jadi tolong sampaikan pada Ginting, jika Kakek tidak ada di rumah."...


..."Hanya itu saja?" ...


..."Ya. Kalian hati-hati dan selesaikan semua pekerjaan dengan baik."...


..."Siap Kek!" ...


Klik!

__ADS_1


Sambungan telpon tertutup. Sang Kakek menghela nafas panjang kemudian membuangnya perlahan-lahan.


Sekarang, dia mulai mengobati luka-lukanya lagi, dengan wajah meringis, karena menahan rasa sakit akibat luka yang terkena obat-obatan.


__ADS_2