Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Harus Beda


__ADS_3

Setelah melihat dan mengikuti proses penyidikan kasus Mr Akihiko, Mr Andre dan Biyan berbincang-bincang di luar sambil makan siang. Mereka membicarakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


Dua Pria beda generasi itu terlibat dalam pembicaraan yang serius, tapi tetap terkesan santai.


"Kita perlu memastikan bahwa bukti yang dikumpulkan cukup kuat untuk memastikan, bahwa Mr Akihiko mendapat hukuman yang pantas." Mr Andre berbicara dengan wajahnya yang tampak berpikir keras.


"Benar, Mr Andre. Kita juga harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan bahwa, mungkin saja Mr Akihiko akan mencoba melawan hukum." Biyan mengangguk serius.


Mereka berdiskusi dengan seksama, merencanakan langkah-langkah selanjutnya untuk memastikan kebenaran terungkap dan keadilan tercapai. Mereka sadar bahwa proses ini mungkin tidak akan mudah, namun mereka siap untuk menghadapinya.


Mereka mulai merumuskan strategi hukum yang kuat dengan bantuan tim advokat handal. Mereka juga memutuskan untuk tetap waspada terhadap kemungkinan tindakan balasan dari pihak Mr Akihiko, yang sebenarnya adalah orang yang licik.


"Kita harus memastikan bahwa kebenaran dari kasus ini akan terungkap, Mr Andre. Tidak peduli seberapa sulitnya proses ini," tegas Biyan, merasa di permainkan.


"Kita akan melawannya, sampai akhir. Tidak ada yang bisa membantu Mr Akihiko, jika itu hanya usaha atau pejabat negara yang biasa." Mr. Andre mengangguk setuju.


Dengan berkata demikian, Mr Andre yakin jika Mr Akihiko tidak mungkin mendapatkan bantuan dari para pejabat negara jika melihat keberadaannya. Atau jika itu adalah Dati pihak pengusaha, juga akan melihat latar belakang keluarga bian Biyan, sekarang ini diperkuat oleh Aji Putra, kakak pertama Biyan.


Dengan tekad yang kuat, mereka siap menghadapi setiap rintangan yang mungkin muncul dalam upaya mereka untuk mencari keadilan bagi Yati dan mendiang ayahnya.


Puk!


"Kita bergabung dalam kasus ini, Biyan. Dan saya tahu, Anda adalah Orang yang bertanggung jawab."


Mr Andre, menepuk lengan Biyan, yakin bahwa pria yang seusia anaknya itu mampu melaksanakan rencana dan tugas ini.


Terima kasih, Mr Andre. Tanpa bantuan Anda, saya juga tidak bisa mudah menemukan dalangnya." Biyan, mengucapkan terima kasih pada sahabat mendiang ayah mertuanya.


Setelah makan siang, Biyan dan Mr Andre kembali ke rumah. Mereka mulai mengoordinasikan strategi dengan tim hukum mereka, meminta mereka untuk memeriksa bukti-bukti yang ada, dan mempersiapkan kasus untuk ke pengadilan.


***


Esok hari, Yati juga ikut berpartisipasi dengan memberikan informasi tambahan yang bisa menjadi kunci dalam mengungkap kebenaran. Mereka bekerja dengan keras, memastikan setiap detil yang dibutuhkan dan tidak ada celah bagi pihak lawan.


Apa yang mereka lakukan bersama-sama ini, menjadi pendorong utama dalam menghadapi tantangan ini. Mereka yakin bahwa keadilan akan terwujud, dan Yati akan mendapatkan keadilan yang mereka perjuangkan.


"Kita akan bertemu dengan Mr Andre dan tim pengacara di kantor polisi, sayang." Biyan, memberitahu Yati.


"Iya. Aku siap memberikan informasi apapun yang dibutuhkan, supaya penyidikan lancar."

__ADS_1


"Ok, kamu harus tenang ya. Aku juga baru dapat kabar dari Mr Andre, jika ada dua orang yang bersedia membantu Mr Akihiko."


Yati mengerutkan keningnya mendengar kabar tersebut. Dia tahu, jika Mr Akihiko termasuk orang-orang yang akrab dengan para pengusaha dan pejabat negara.


"Apakah itu ... artinya Mr Akihiko akan mencoba melawan?" tanya Yati, dengan wajah cemas.


"Kita lihat saja nanti, Sayang. Mr Andre, tidak akan membiarkan hal itu terjadi."


Yati masuk ke dalam pelukan Biyan, saat Biyan menarik tubuhnya untuk memberikan ketenangan. Yati tidak ingin bertemu dengan Mr Akihiko, tapi kasus ini melibatkan mereka untuk bertemu kembali.


Dari kisah ini, Yati jadi teringat dengan temannya, yaitu Rina. Saat itu, Rina pernah bercerita tentang Mr Akihiko, yang diduga terlibat dalam kecelakaan suami pertamanya Rina.


"Apakah benar, apa yang diceritakan Rina?" tanya Yati tanpa sadar.


"Apa, sayang?"


Biyan bertanya dengan cepat, saat Yati mengurai pelukannya dengan pertanyaan yang tidak dimengerti olehnya.


Dengan ragu-ragu, Yati akhirnya menceritakan tentang kisah teman "seprofesinya" dulu, yang secara tidak sengaja bertemu dengannya di area parkir rumah sakit saat pulang menemani ayahnya di rumah sakit daerah Pondok Indah.


Yati menceritakan bagaimana Rina kehilangan suami pertamanya yang kecelakaan, dan Rina sempat pencurigai jika itu adalah ulah dari Mr Akihiko.


"Iya. Aku kasian sama Rina, dan kamu berjanji untuk tidak saling berhubungan agar tidak dicurigai."


Biyan kembali memeluk tubuh istrinya, memberikan rasa nyaman dan ketenangan supaya tidak banyak kepikiran. Pria itu tidak mau jika Yati kembali memikirkan Mr Akihiko, sehingga akan "anak angkat" Mr Akihiko sebagai "Gheisha" waktu itu.


"Jangan pernah melihat hubungan kalian, kamu dengan Mr Akihiko, yang dulu baik. Karena nyatanya sekarang ini Mr Akihiko sudah berubah."


"Heem," sahut Yati, yang masih merasa nyaman di dalam pelukan hangat suaminya.


"Oh ya, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?" tanya Biyan--tiba-tiba.


Kening Yati berkerut saat mendengar pertanyaan tersebut. Wanita itu tidak tahu apa maksud dari kesepakatan yang diinginkan oleh suaminya.


Melihat istrinya yang bingung, Biyan justru terkekeh kecil sambil mengusuk-ngusuk rambut hitam Yati.


"Jangan menampilkan wajah seperti itu, aku jadi makin gemas dan ingin memakanmu."


"Eh?"

__ADS_1


"Hehehe ..."


Yati bengong sesaat, tapi setelahnya ia ikut terkekeh geli saat mengetahui maksud dari pernyataan suaminya. Tapi Yati semakin berani, dengan mendusel manja.


"Kau, mau menggodaku?" tanya Biyan meyakinkan.


"Tapi, kita mau pergi ke kantor polisi."


Yati, memperingatkan rencana mereka tadi, yang mau berangkat ke kantor polisi untuk melihat proses penyidikan Mr Akihiko selanjutnya.


Dalam rencana mereka, Yati juga akan memberikan beberapa keterangan yang bisa membantu proses penyidikan terkait dirinya yang menjadi korban.


"Masih ada waktu satu jam, emhhh ... bagaimana?" tanya Biyan dengan menaikkan alisnya sambil tersenyum menggoda.


Akhirnya Yati tidak mungkin bisa menolak pesona suaminya, yang tentunya sangat disukai. Apalagi sekarang ini, Biyan bukan lagi remaja labil seperti dulu.


"Ughh ..."


Terdengar lenguhan panjang Yati, saat Biyan memulai aktivitasnya untuk dinikmati keduanya. Dan waktu ke kantor polisi, tertunda sementara waktu.


Setelah beberapa saat kemudian.


Biyan memandang Yati dengan mata lembut, mengisyaratkan bahwa ia terima kasih atas pengertian istrinya itu.


"Sayang, aku ingin meminta maaf. Karena kasus ini, bulan madu kita harus ditunda. Aku tahu ini tidak sesuai rencana, tapi aku janji, setelah semuanya selesai, kita akan pergi ke India seperti yang kita rencanakan."


Yati tersenyum penuh pengertian, dan ia tidak marah atau menyesal sebab kasus ini juga melibatkan dirinya sebagai korban.


Jadi, seharusnya dialah yang harus meminta maaf pada Biyan sebab tidak bisa melakukan sesuatu yang seharusnya menjadi kegiatan mereka saat bulan madu.


"Biyan, kamu tidak perlu meminta maaf. Kita akan menghadapinya bersama-sama. Yang penting, kita selalu bersama dan ..."


Cup!


Yati terbelalak melihat kelakuan suaminya, yang mengecup bibirnya sehingga tak bisa menyelesaikan kalimat yang diucapkannya tadi.


"Aku, kamu, seharusnya kita hilangkan. Kita buat panggilan sayang paling berkesan agar terlihat lebih romantis. Bagaimana?" Biyan, meminta persetujuan.


"Eh, mau panggilan apa?" tanya Yati, mengembalikan pertanyaan tersebut pada suaminya.

__ADS_1


__ADS_2