Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Memikirkan Kamu


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Dan keadaan tetap saja sama seperti biasanya.


Tapi tentu saja tidak untuk sang Kakek. Dia tidak bisa dikatakan sama seperti biasa, dan juga tidak baik-baik saja.


Itu disebabkan karena, sang Kakek telah melihat lagi keberadaan Bros Bunga, yang selama ini dicari-cari, hingga berpuluh-puluh tahun lamanya. Dan karena itu juga, sang Kakek jadi sering terlihat gelisah dan tidak tenang. Dia lebih banyak diam dan melamun sendiri.


Ini juga dirasakan oleh Mr Ginting sendiri. Meskipun sebenarnya, dia tidak tahu, apa yang menjadi penyebab kegelisahan sang Kakek akhir-akhir ini.


Tapi sang Kakek tidak mengetahui, jika cucunya itu memperhatikan perubahan sikap dan tingkah lakunya.


Sang Kakek, sudah menghubungi Mr Andre, orang yang dulu dia berikan tugas, untuk menyelidiki siapa sebenarnya istri dari cucunya, miss Kiara. Reina Akiara.


"Maaf Tuan Besar. Saya tidak bisa menjelaskan dalam keadaan seperti ini."


Begitulah jawaban yang diberikan oleh Mr Andre, melalui email balasan, yang ditujukan pada sang Kakek.


Sebenarnya, sang Kakek merasa kesal dan tertipu, dengan semua laporan yang dia terima dari Mr Andre. Tapi, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, jika Mr Andre juga memegang kartu merah sang Kakek.


Apalagi, saat ini Mr Andre juga tidak berada di Indonesia, sehingga tidak mungkin sang Kakek dengan cepat bisa bertemu dan meminta pertanggungjawaban atas kesalahannya itu.


Sang Kakek juga tidak mungkin, memangil Mr Andre pulang dari tugas, karena sang Kakek sudah tidak punya wewenang dalam pemerintahan. Dia juga sudah tidak lagi berhubungan dengan para pejabat negara, untuk urusan hal-hal yang bisa membuat dirinya ada dalam masalah, terkait kasusnya, masih belum terbongkar.


Sang Kakek merasa bersyukur, karena pada kenyataannya, miss Kiara, yang kemungkinan besar adalah anak dari wanita_nya dengan pengawalnya dulu, yang dia buang jauh keluar kota, tidak tahu apa-apa tentang rahasia Bros Bunga, yang dia miliki. Kecuali bahwa Bros Bunga itu adalah alat penghubung, yang bisa mempertemukan dirinya dengan orang tuanya, terutama ibu kandungnya. Meskipun kemungkinan itu, belum tentu benar.


"Kakek."


Mr Ginting, memangil kakeknya itu, dengan berbisik pelan, saat ada pertemuan dengan beberapa kolega bisnis mereka, tapi justru sang Kakek terlihat melamun, dan tidak memperhatikan tamu kolega tersebut.


Tapi ternyata, sang Kakek tidak juga mendengar panggilan dari cucunya itu.


Dan akhirnya, Mr Ginting menyentuh tangan sang Kakek, yang berada di atas meja meeting. Dengan begitu, barulah sang Kakek tersadar dari lamunannya. Dia menoleh ke arah cucunya, dan tersenyum dengan canggung, karena merasa ketahuan jika sedang tidak berkonsentrasi pada meeting kali ini.


Beberapa saat kemudian, setelah acara meeting selesai, Mr Ginting langsung mencari keberadaan sang Kakek, yang tadi keluar dari ruangan terlebih dahulu, karena beralasan jika sedang dalam keadaan yang tidak baik.


Mr Ginting dan Surya Jaya tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada kakek mereka.

__ADS_1


"Mas!"


Surya Jaya memangil Mr Ginting, yang sudah berjalan menuju ke arah ruangan sang Kakek.


"Apa?" tanya Mr Ginting, dengan menoleh ke arah belakang, di mana adik sepupunya itu, mengikuti langkahnya.


"Mau cari kakek kan? Aku juga ingin tahu, bagaimana keadaan kakek Mas," jawab Surya Jaya, setelag dekat dengan tempat Mr Ginting berdiri.


"Kamu perhatikan tidak? tadi, kakek sepertinya tidak begitu berkonsentrasi, dan lebih banyak melamun juga akhir-akhir ini. Apa Kamu tahu penyebabnya?" tanya Mr Ginting, pada adik sepupunya itu.


"Aku tidak tahu Mas. Tapi beberapa hari ini, Aku juga merasa jika kakek lebih banyak diam dan tidak melakukan apa-apa di kantor."


Ternyata, yang memperlihatkan serta merasakan perubahan sikap dan perilaku sang Kakek, tidak hanya Mr Ginting saja. Surya Jaya, yang jarang peduli dengan keadaan sekitar, juga mengetahui tentang perubahan sang Kakek. Atau bisa juga karena ini berhubungan dengan kakeknya sendiri, sehingga Surya Jaya bisa ikut merasakan juga.


"Apa Kamu tidak bertanya, atau mungkin pernah diberitahu oleh kakek, jika dia sedang ada masalah atau pikiran yang tidak bisa dia selesaikan sendiri?" tanya Mr Ginting lagi. Dia berpikir bahwa, adik sepupunya itu sedikit banyak tahu tentang sang Kakek.


"Tidak juga Mas. Aku juga tidak berani bertanya pada kakek. Aku takut, jika itu malah membuat Kakek merasa menjadi beban untuk kita yang masih muda. Soalnya, kadang-kadang orang-orang yang sudah tua seperti kakek, sangat perasa dan mudah sekali tersinggung. Aku tidak mau, jika tiba-tiba kakek marah, karena Aku bertanya dan dianggap sok peduli."


Surya Jaya, justru memberikan jawaban yang membuat Mr Ginting menjadi semakin pusing, karena tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan, untuk semua yang terjadi pada kakek mereka.


"Ngaco Kamu!" ucap Mr Ginting kesal.


Surya Jaya tertawa, mendengar umpatan kesal dari kakak sepupunya itu.


"Ya sudahlah. Mungkin kakek perlu banyak istirahat," kata Mr Ginting, yang pada akhirnya menyerah dan mencoba untuk tidak memikirkannya.


"Apa Mas Ginting kasih cicit saja. Pasti kakek suka. Dia bisa berbincang-bincang dengan cicitnya, tertawa-tawa senang saat cicitnya tersenyum atau menangis. Hehehe..."


Perkataan Surya Jaya, justru memberikan solusi yang tidak masuk akal untuk Mr Ginting. Padahal, untuk pandangan orang lain, itu hal yang wajar. Apalagi, Mr Ginting dengan istrinya, adalah pasangan muda yang baru saja menikah.


"Makin ngaco Kamu!" ucap Mr Ginting jengkel.


Ledekan dari Surya Jaya, sebenarnya menjadi pemikiran Mr Ginting. Dia ada kemauan untuk bisa memiliki momongan, tapi saat dia ingat dengan apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahannya dengan istrinya itu, akhirnya Mr Ginting mengbuang nafas kasar. Dia sadar, jika itu tidak mungkin bisa terjadi. "Hah!!! hampir saja Aku lupa!"


"Apa Mas?"

__ADS_1


Surya Jaya bertanya, saat dia mendengar perkataan Mr Ginting, tapi tidak terdengar dengan jelas juga di telinganya.


"Tidak apa-apa. kembalilah ke ruangan mu sendiri," kata Mr Ginting, memberikan perintah pada adik sepupunya, Surya Jaya.


"Iya-iya. Ini juga mau keruangan sendiri kok. Awas saja kalau rindu!"


Mr Ginting, mengeleng beberapa kali, mendengar jawaban dari adik sepupunya, yang memang suka bercanda dan supel dalam pergaulan, meskipun dilingkungan yang baru saja dia ikuti.


*****


Di rumah, Yati sedang bermain dengan handphone. Dia juga ada di dalam kamarnya sendiri, saat ada pesan dari suaminya.


..."Sedang apa Sayang?" ...


Yati tersenyum sendiri, membaca pesan tersebut. Dia tidak menyangka jika Mr Ginting, suami yang terkenal dingin dan datar itu, bisa juga memulai pembicaraan dengan pembukaan yang romantis.


..."Sedang rindu mikirin Kamu, (emoticon senyum malu-malu)"...


Yati mengeleng beberapa kali, saat sadar dengan apa yang sudah dia tulis, dan dikirimkan ke Mr Ginting, sebagai balasan pesannya yang tadi.


..."Ah, yang benar?" ...


Sepertinya, Mr Ginting tidak percaya dengan apa yang sudah ditulis oleh Yati.


..."Mau bukti apa?" ...


Pesan belum terbaca oleh Mr Ginting. Mungkin, dia sedang negeri sesuatu, sehingga tidak sempat membuka pesan dari istrinya itu.


Pesan sudah terbaca, dan terlihat di layar handphone jika, Mr Ginting sedang mengetik.


Yati masih menunggu. Tapi, Mr Ginting sepertinya kesulitan untuk membalas pesan dari Yati, yang menantang untuk meminta pada Mr Ginting, yang ingin bukti dari Yati, jika dia memang benar-benar merindukan suaminya sendiri.


Tapi ternyata, waktu yang cukup lama untuk menunggu Mr Ginting selesai mengetik, yang muncul sebagai balasan hanya sebuah emoticon love.


Yati jadi tertawa sendiri di dalam kamar, membayangkan bagaimana kira-kira wajah Mr Ginting saat ini.

__ADS_1


"Hihihi, dia pasti malu juga. Makanya, tidak bisa ngetik apa-apa, dan hanya milih emoticon love saja, sebagai pilihan yang cukup aman untuknya."


Dan memang benar, di kantornya, Mr Ginting sangat malu, saat membaca ulang, pesan balasan dari istrinya sendiri. Dia memang belum terbiasa dengan ungkapan-ungkapan cinta, meskipun usianya tidak lagi remaja.


__ADS_2