Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

Situasi yang semakin rumit dan perbedaan persepsi antara Alisa dan Mr. Ginting membawa hubungan mereka ke tingkat ketegangan yang lebih tinggi.


Meskipun Alisa telah berusaha keras untuk mengatasi masalah dan memperbaiki citranya, tetap saja dia mendapati bahwa upayanya tidak berhasil di mata Mr Ginting.


Perbedaan pandangan ini menggambarkan bahwa terkadang, bahkan langkah-langkah yang diambil dengan niat baik tidak selalu bisa meredakan konflik atau meraih persetujuan dari semua pihak. Konflik ini menciptakan ketidakpastian dan perubahan dinamika antara Alisa dan Mr. Ginting.


"Ingat dengan perjanjian pranikah yang sudah kamu sepakati!"


Alisa diingatkan lagi dengan kesepakatan mereka dalam perjanjian pranikah. Hal ini membuat Alisa sadar, tapi juga tidak ingin menyerah.


Kesepakatan dalam perjanjian pranikah menjadi pengingat yang menggema di pikiran Alisa. Meskipun dia menyadari pentingnya kesepakatan tersebut, Alisa juga merasa bahwa dia tidak ingin menyerah begitu saja. Dalam pertempuran antara keinginan untuk mempertahankan kebebasannya dan perasaan untuk menjaga karir dan reputasinya, Alisa harus membuat pilihan yang sulit.


"Kesepakatan itu mengikat, tapi apakah itu harus menghancurkan potensi dan kebahagiaan masa depanku?" tanya Alisa pada sahabatnya melalui telepon.


"Tapi, setidaknya kamu ingat dengan keselamatan dirimu sendiri, Lisa!"


"Ya, aku punya hak untuk mencari kebahagiaanku sendiri, dan apa salah jika ini adalah kebahagiaanku?"


Nyatanya Alisa masih ngotot. Semua yang ia lakukan sudah menjadi sebuah ambisi, bukan lagi sekedar ingin mempertahankan hubungan rumah tangganya!


Dalam menghadapi konflik antara perjanjian dan keinginannya untuk menjalani hidup sesuai pilihannya, Alisa berusaha untuk menemukan solusi yang seimbang. Dia merasa bahwa dia harus mencari cara untuk mempertahankan semua yang sudah ia raih.


***


Konflik semakin meruncing ketika Alisa menunjukkan ambisi yang kuat dan bersikeras melanjutkan rencananya. Membuat Mr Ginting merasa perlu untuk bertindak tegas dan berhadapan langsung dengan Alisa agar dia mengerti konsekuensi dari tindakannya.


Jadi, begitu tiba di Jakarta, Mr Ginting memutuskan untuk mengadakan pertemuan pribadi dengan Alisa. Membicarakan situasi ini dengan jelas dan tegas.


Pria itu merencanakan pertemuan yang serius dengan tujuan membuat Alisa mengerti betapa seriusnya konsekuensi dari tindakannya terhadap perjanjian pranikah yang sudah mereka sepakati.


"Alisa, kita harus membicarakan situasi ini dengan terbuka."


Tidak ada basa-basi. Mr Ginting langsung pada intinya.


"Saya mengerti, Mr Ginting. Tapi saya juga memiliki ambisi dan impian saya sendiri," jawab Alisa dengan tetap berusaha mempertahankan sikapnya.


"Ambisi adalah hal yang baik, tetapi bukan dengan mengabaikan perjanjian yang telah kita buat. Kita punya tanggung jawab terhadap surat perjanjian itu!"


Mr. Ginting berkata tegas, memperingatkan "istrinya" yang mulai dengan adanya masalah ini.

__ADS_1


"Tapi saya merasa perlu menjalani hidup saya dengan pilihan saya sendiri," ungkap Alisa frustasi.


"Oh, tentu. Kamu punya hak untuk mengejar impianmu. Tapi ini bukan hanya tentang impianmu, Alisa. Ini tentang komitmen yang telah dibuat. Aku ingin kamu patuh pada perjanjian tersebut!"


"Ta-pi a-ku merasa terjebak, Mr Ginting. Aku ingin bebas!"


Alisa mulai bersuara dengan nada tinggi. Sepertinya wanita itu tertekan dengan caranya sendiri.


"Kebebasan datang dengan tanggung jawab. Kamu tidak bisa mengabaikan konsekuensi dari tindakanmu. Kamu harus mempertimbangkan dampaknya, terutama pada karir dan usahamu selama ini!"


Dalam pertemuan ini, Mr Ginting mencoba untuk membuat Alisa memahami bahwa kebebasan datang dengan tanggung jawab. Dia ingin mengingatkan Alisa tentang pentingnya peran dirinya selama mereka menikah.


Dan itu adalah keuntungan Alisa selama ini, bisa melejit dan terkenal karena campur tangan Mr Ginting!


"Camkan! Jika kamu masih ingin bebas, bebaskanlah. Tapi, semua akan hancur!" ancam Mr Ginting dengan auranya yang dingin.


Konflik batin Alisa semakin memanas, karena dia merasa terjebak di antara ambisinya yang kuat dan perjanjian yang telah dia buat dengan Mr Ginting. Keputusan yang harus diambil Alisa akan berdampak pada masa depannya yang tak bisa ia hindari.


'Aku tidak ingin kehilangan ambisiku, tetapi juga tidak ingin kehilangan semuanya. Apa yang seharusnya kulakukan?' batinnya bingung.


Alisa merasa dilema antara keinginan untuk mengejar ambisinya dan kesadaran akan konsekuensi melanggar perjanjian pranikah. Dia menyadari bahwa memilih untuk tetap pada ambisinya mungkin akan membawanya ke arah yang berbahaya, tetapi dia juga tidak ingin merasa terbatas oleh perjanjian tersebut.


***


"Maaf, Tuan. Sepertinya saya tidak bisa melepas mobil ini jika kurang dari 3 M," kata Yati dengan menyesal.


"Hm, saya pikir 2,5 M sudah tinggi."


Calon pembeli memberikan penilaian dengan pandangannya.


Dan tentunya, semua pembeli menginginkan harga yang murah. Berbeda dengan penjual yang menginginkan harga tinggi untuk barang yang dijualnya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa lepas," ucap Yati dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada.


"Oh ya, tidak apa-apa. Mungkin belum rejeki," sahut calon pembeli.


Ini adalah calon pembeli yang kesekian kalinya. Tapi, semuanya gagal dalam kesepakatan yang bisa membuat yati melepaskan mobilnya.


Dari beberapa situs mobil mewah, mobilnya ini masih laku dikisaran harga 3 M sampai 3,5 M. Itulah sebabnya, ia mematok harga 3 M.

__ADS_1


"Gagal lagi, Mbak Yati?" tanya Bu Nina dengan prihatin.


"Ya, Bu. Entah kenapa sulit sekali mobil ini lepas," jawab Yati dengan bahu turun.


Wanita itu sudah bersedih hati karena harus melepas mobilnya untuk dijual, tapi nyatanya tidak ada yang mau membeli dengan harga yang sesuai.


"Apa aku lepas saja dengan harga segitu?" tanya Yati seperti sedang mengeluh.


"Sabar, Mbak Yati. Mobil mewah memang tidak mudah di jual secara bebas," ujar Bu Nina menenangkan.


Mereka tidak tahu, jika semua calon pembeli sedari kemarin adalah orang-orang Mr Ginting dan Biyan!


Ini adalah taktik mereka supaya Yati tidak bisa menjual mobil tersebut. Bukan maksud menjegal, tapi Mr Ginting memang tidak ingin mobil itu dijual Mis Yeti nya.


"Sabbarr, Nduuuk."


Dari arah samping, Tuan Wasito alias Tama datang dengan duduk di kursi rodanya.


Pria yang sudah senja itu tersenyum, meskipun gagal terlihat di wajahnya yang sudah tak lagi muda dan tampan.


"Ad-ddaa u-aannggg a-yyah, at-tauu ju-al saj-aaa beb-bberapa ha-hartaaa ay-yyah di kam-pppung."


Dengan susah payah, Tuan Wasito menenangkan anaknya. Dia berpikir bahwa, Yati tidak perlu menjual mobilnya. Toh kekayaannya di kampung masih banyak.


Yati tersenyum, mendekat ke arah ayahnya. Dia berjongkok di depan ayahnya, agar bisa dengan mudah bicara dan melihat wajah ayahnya yang semakin segar dan tidak tampak pucat lagi.


"Yah. Mobil ini terlalu bagus untuk Yati. Sudah lima tahun lalu, Yati ingin menjualnya. Tapi mbok Minah tidak mengijinkan. Dan sekarang, Ayah juga keberatan?"


Pria tua itu mengeleng, tetapi sorot matanya mengatakan bahwa ia keberatan.


Yati menghela nafas panjang, memejamkan matanya sebentar kemudian tersenyum saat matanya kembali terbuka.


"Baiklah. Yati tidak akan menjual mobilnya. Itu ..."


Sekelebat bayangan wajah Surya tampak di pelupuk matanya, dan itu membuat Yati tersenyum lagi.


'Maaf, surya.'


Wanita itu ingat, jika mobil ini adalah hadiah dari sepupu Mr Ginting, yaitu Surya. Dan Surya juga yang membuat Yati tahu, jika Mr Ginting merasa cemburu jika ia berbicara atau tertawa dengan sepupunya itu.

__ADS_1


'Semoga kalian selalu berbahagia,' doanya dalam hati saat ingat dengan dua pria tersebut.


__ADS_2