Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Kebahagiaan Yati


__ADS_3

Sebulan kemudian, Yati sudah berada di rumah. Di kampung, bersama dengan mbok Minah.


Sekarang, dia kembali ikut mengurusi toko baju, yang kemarin-kemarin di pada anaknya pak RT, dengan karyawan-karyawan yang dia rekrut dari gadis-gadis, anak tetangga di rumah.


"Mbak. Mbak Yati, ada tamu."


Salah satu pegawai toko, mencari dan memangil Yati, yang ada di dalam ruangan tersendiri.


"Tamu?" tanya Yati, yang tidak bisa di dengar dengan jelas oleh karyawannya tadi.


"Di mana orangnya Mbak?" tanya Yati, soal tamu yang tadi diberitahukan oleh karyawannya.


"Ada di dekat kamar pas Mbak," jawab orang yang tadi memberitahu pada Yati.


Akhirnya Yati berdiri dari duduknya, kemudian berjalan ke luar ruangan. Dia menuju ke tempat, di mana tadi tamunya itu menunggu.


Dari kejauhan, tampak punggung seorang laki-laki, yang menurut Yati tampak familiar di matanya.


Dan baru saat dalam jarak yang lebih dekat, Yati baru bisa mengenali, siapa laki-laki tersebut.


Deg!


"Tuan Wasito."


Yati menyebut satu nama, yang sedari kemarin ingin sekali dihubungi oleh Yati sendiri. Sayangnya, rasa malu dan gengsi, masih menguasai hati dan pikirannya.


"Nduk. Yati."


Tuan Wasito menoleh, saat mendengar namanya di sebut oleh seseorang, yang ingin sekali dia temui sedari dulu.


Anak kandung, yang tidak pernah dia ketahui keberadaan dan keadaannya. Dan pada saat ketemu, dia tidak mampu untuk sekedar merangkulnya, sepenuh hati, karena penolakan yang dilakukan oleh anaknya itu.


"Apa kabar Tuan?" sapa Yati, dengan berbasa-basi sebentar, dengan menanyakan kabar ayahnya sendiri.


Ternyata, Yati masih tetap tidak bisa mengalahkan egonya sendiri, untuk mengakui tuan Wasito sebagai ayahnya. Di depan orangnya secara langsung.


Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, Yati sangat merindukan ayahnya itu.


Dia ingin sekali memangilnya dengan sebutan ayah.


Tapi entah kenapa, setiap ada di depan orangnya, lidahnya itu tidak bisa menyebutkan kata ayah.


Yati sendiri merasa bingung, dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Dia tidak bisa mengutarakan, apa yang dus rasakan, saat bertemu dengan ayah kandungnya sendiri. Tuan Wasito.


"Ayah... Ayah baik. Kamu sendiri bagaimana Nduk?"


Beberapa detik kemudian, di saat tuan Wasito selesai bertanya, Yati menubruk ayahnya itu, sambil berlinang air mata.

__ADS_1


Yati menangis sesenggukan, dengan rasa haru, yang tidak bisa dia ungkapkan pada ayahnya itu.


Tuan Wasito juga menyambut pelukan anaknya itu dengan cepat. Dia merasa sangat bahagia, karena pada akhirnya, anaknya, Yati, mau menerima kenyataan bahwa, dia adalah ayah kandungnya sendiri.


"Nduk..."


Kalimat tuan Wasito, tidak dilanjutkan lagi, karena rasa sesak yang sedari tadi dia rasakan, membuatnya susah untuk mengatakan sesuatu. Ada semacam batu besar, yang membuat dadanya terasa penuh sesak.


"Ayah..."


Ternyata, Yati juga merasakan hal yang sama, seperti yang dirasakan oleh ayahnya, tuan Wasito.


Dadanya sendiri terasa sesak, sehingga dia tidak bisa mengatakan, apa yang ingin dia katakan. Hanya ada suara isakan tangisnya, yang terdengar di dada tuan Wasito.


Setelah beberapa lama kemudian, tangisan Yati mulai mereda. Berangsur-angsur berhenti, kemudian melepaskan pelukannya pada tuan Wasito.


"Ma_maaf. Baju Tu_tuan..."


"Ayah Nduk."


Tuan Wasito memotong kalimat Yati, yang susah untuk menyebut dirinya sebagai sebutan ayah.


"Iya Yah... Ayah."


Bruk!


Tuan Wasito, ganti memeluk Yati, sambil menahan diri, agar tidak menangis.


Sesuatu yang dia ingin dengar selama beberapa bulan ini adalah, anaknya, Yati, mau memangil dirinya sebagai seorang ayah.


Mengakui jika dirinya, adalah benar adanya, sebagai seorang ayah dari anaknya itu.


Sekarang, kebahagiaan keduanya, benar-benar terasa lengkap. Apalagi, saat tuan Wasito mengatakan bahwa, dia sudah membeli rumah, dan juga sebuah toko, di daerahnya Yati.


Meskipun rumah dan tokonya tuan Wasito tidak ada di kampung Yati, tapi mereka ada di satu daerah kecamatan.


Toko baju milik Yati, dengan toko tuan Wasito, juga tidak berada di daerah yang sama.


Berbeda tempat. Karena toko baju milik Yati, Ada tidak jauh dari pasar kecamatan. Sedangkan toko kain dan kebutuhan sehari-hari milik tuan Wasito, ada di pasar besar kabupaten.


Dari cerita yang dituturkan oleh tuan Wasito sendiri, hotel dan juga toko-toko miliknya, sudah dia robohkan.


Setelah rata dengan tanah, barulah tanahnya itu dijual, pada pengusaha, yang sedang melakukan pembangunan pabrik di daerahnya.


Toko-toko miliknya yang ada di tempat lain, dijual juga. Dia ingin pindah dari kota itu, dan memulai hidup baru, di dekat anaknya. Meskipun tidak bisa tinggal di satu rumah.


Tuan Wasito tidak memaksa anaknya itu, untuk bisa tinggal bersama dengannya. Cukup dengan tinggal bersama dalam satu kota, sudah melegakan hati tuan Wasito.

__ADS_1


"Ayah sudah tua Nduk. Ayah ingin menuruti permintaan Kamu. Ayah tahu, ini tidak mudah. Tapi karena ini adalah kebaikan untuk ayah sendiri, ayah akan tetap berusaha, untuk terbiasa dengan kehidupan yang baru ini."


"Terima kasih Yah," ucap Yati, kemudian memeluk kembali ayahnya itu.


*****


"Mbok. Mbok!"


Yati baru saja datang dan keluar dari dalam mobil, tapi dengan tidak sabar, memanggil-manggil mbok Minah.


Dia sungguh merasa bahagia, dengan apa yang terjadi hari ini. Itulah sebabnya, dia ingin berbagi kebahagiaan dengan mbok Minah.


Orang tua, yang selama ini selalu baik pada dirinya, meskipun Yati sendiri, bukanlah apa-apanya mbok Minah.


"Ada apa Nduk?"


Dengan tergopoh-gopoh, mbok Minah keluar dari dalam rumah, begitu namanya di panggil oleh Yati tadi.


Mbok Minah berpikir bahwa, terjadi sesuatu pada cucunya itu.


"Mbok!"


Yati kembali memanggilnya, kemudian memeluknya dengan erat.


"Mbok. Yati merasa bahagia sekali hari ini."


Mbok Minah menyangka jika, cucunya itu senang karena tokonya laris manis, dan mendapat untung besar.


Tapi ternyata tidak. Semua ini tidak ada hubungannya dengan toko baju dan penjualan yang mendapat untung.


"Bajunya laris Nduk?"


"Bukan. ini tidak ada kaitannya dengan toko dan penjualan baju-baju yang ada di toko Mbok."


"Lah, terus opo Nduk?" tanya Mbok Minah, yang merasa bingung, dengan apa yang dikatakan oleh Yati.


"Ayah Mbok. Ayah."


Yati tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena dadanya kembali terasa sesak.


Kebahagiaan yang baru dia rasakan, terasa membuncah dirasakan oleh Yati saat ini. Dsn ini adalah untuk pertama kalinya Yati merasakan sesuatu kebahagiaan yang tak sama seperti biasanya.


"Ayah? Maksudte tuan Wasito Nduk?"


Mbok Minah, bertanya tentang pertanyaan yang berhubungan dengan kata ayah, yang tadi di katakan oleh Yati, dan tidak meneruskan kalimatnya.


Yati tidak bisa menjawab pertanyaan dari mbok Minah. Dia hanya bisa mengangguk saja, sambil menahan tangis kebahagiaan yang dus rasakan.

__ADS_1


Ini benar-benar terasa berbeda dengan kebahagian yang lain.


Dan Yati tahu betul, jika ini karena dirinya yang berusaha untuk bisa memaafkan ayahnya. Menerima kenyataan bahwa, ayahnya memang tidak sama seperti yang dia bayangkan.


__ADS_2