Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Yati bukan Yeti


__ADS_3

"Tahu nggak, dulu Yati itu pernah jadi PSK. Bayangin, masa lalunya itu bikin malu desa kita."


Ibu-ibu tetangga Yati, sedang bergunjing bersama saat belanja sayur di pagi hari.


"Iya, dulu memang begitu. Tapi sekarang dia buka warung makan, tetep wae nggak iso ilangin jejak buruknya, yo?" sambung yang lain menimpali.


Yati adalah seorang mantan PSK, yang dulu lebih dikenal dengan nama tenar "Mis Yeti".


Kehidupannya di desa tidak nyaman karena masa lalunya terus menghantui dan mengingatkannya pada kesalahan yang pernah ia lakukan.


Meskipun sudah meninggalkan masa lalunya, pandangan masyarakat di desa terhadapnya masih terpengaruh oleh stigma dan prasangka.


Ketika mereka berkumpul dan bergunjing tentang masa lalu Yati, para tetangga dan orang lain tidak pernah mempertimbangkan bagaimana perasaan wanita tersebut.


"Kalau aku sih, ndak mau makan di warungnya. Siapa tahu dia bawa masalah, karena modal warung dari hasil merek!"


Yang lain mengangguk setuju. Mereka seperti musuh yang siap melakukan perlawanan.


"Yati tuh, dulu hidupnya bikin resah keluarga orang. Wajar to, jika kita jaga jarak sama dia?"


Setelah Simbahnya meninggal dunia, kehidupannya semakin kesepian dan terasa terasing di desa.


Meskipun dia telah berusaha untuk hidup lebih baik, kesulitan mencari dukungan dan pengertian dari lingkungan sekitar membuatnya merasa tidak bisa benar-benar mengubah pandangan orang terhadap dirinya.


Yati ingin hidup dengan damai dan mengikuti jejak kehidupan yang berbeda, namun warga desa seperti tidak memberikan dukungan.


Mereka terus menghadapkannya dengan kenangan dan kesalahan masa lalunya.


"Tapi kan kita juga harus lihat dia berusaha memperbaiki diri sekarang. Gimana kalau kita dukung dia buat hidup lebih baik?"


"Wegah! Masa lalunya terlalu berat buat dilupakan. Susah percaya kalau dia bisa berubah baik selamanya!"


Keinginan Yati pindah dari desa itu semakin kuat, dengan banyaknya gunjingan seperti ini.


Yati ingin mencari tempat baru di mana dia bisa memulai hidup tanpa membawa beban masa lalu dan mendapatkan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.


"Memangnya kita bisa tahu sejauh apa dia berubah? Yang jelas, aku masih ndak mau dekat sama dia."


Nyatanya, Yati memang sudah berusaha memperbaiki hidupnya dengan membuka warung makan. Tapi beberapa tetangga dan orang lain di desa tetap sulit menerima perubahan tersebut.

__ADS_1


Masa lalunya masih menjadi topik pembicaraan dan alasan mereka untuk menjaga jarak. Meskipun ada juga yang berusaha memberikan dukungan dan memberi kesempatan pada Yati untuk berubah.


Tapi itu tidak berarti apa-apa.


Sayangnya, mereka seperti bermuka dua. Apalagi saat bersama dengan Yati, mereka berbeda sikap menjadi bermulut manis.


Seseorang berbisik-bisik dengan temannya, saat berpapasan dengan Yati di jalan.


"Kamu tahu ndak, kemarin aku lihat Yati berbicara sama lelaki asing. Pasti dia balik lagi ke "dunianya" yang dulu!"


Temannya itu merespon dengan terkejut. "Ya ampun, serius? Jadi kelakuannya masih sama saja, yo? Ndak ada perubahan, ngono?"


Karena jawaban yang diberikan dengan suara yang keras, Yati tentu saja bisa mendengar.


Sepertinya orang tersebut memang sengaja melakukannya supaya Yati tidak bisa mendengarnya.


Beda lagi saat ada Yati. Mereka bertanya dengan baik baik dengan suara yang lembut.


"Yati, aku dengar kamu punya menu baru di warungmu, ya? Aku ingin mencobanya, boleh ndak misalnya dikasih diskon?"


Ternyata kebaikan mereka karena ada maunya!


"Iya, dulu aku pernah mencoba makan di warungmu. Enak banget rasanya! Kapan-kapan aku mau mampir lagi, pas ada gratisan yo!"


Yati hanya menanggapi dengan senyuman, sebab sudah paham dengan perilaku mereka.


Ketika ia tidak ada di dekat mereka, mereka cenderung membicarakan keburukannya dan memperkuat prasangka negatif terhadap masa lalunya.


Namun, saat Yati ada di sekitar mereka, mereka berusaha menunjukkan sikap ramah dan mendukungnya dengan pujian atas usaha perubahan hidupnya.


Mereka menjaga jarak dan merasa sulit untuk sepenuhnya menerima perubahan Yati, tetapi berusaha untuk tetap sopan ketika berhadapan langsung dengan Yati.


***


"Pergi dari desa ini rasanya begitu berat. Meskipun masa laluku selalu menghantui, ada banyak kenangan manis bersama Mbok Inah yang membuatku terjebak di sini. Tapi aku tahu, untuk mencari kedamaian dan juga merawat ayah, aku harus pergi."


Setelah berpikir panjang, Yati akhirnya memutuskan untuk pindah dari desanya. Dia memutuskan untuk hidup bersama dengan ayahnya, yang sedang sakit stroke.


Dia ingin memulai kehidupan baru dengan merawat sang ayah, meskipun sebenarnya ayahnya itu hanya sebatas ayah biologis.

__ADS_1


Tapi karena Yati tidak bisa menjadi bahan gunjingan terus menerus, terpaksa dia pergi dan meninggalkan desa tempatnya dibesarkan.


Pindah dari desa tempatnya dibesarkan adalah keputusan berani, meskipun sangat berat.


Tapi Yati harus meninggalkan lingkungan yang telah mengenal masa lalunya dan stigma yang melekat padanya.


Perginya dari desa tersebut, bertujuan memberikan kesempatan memulai kehidupan baru, bebas dari tekanan opini orang lain, dan memiliki ruang untuk tumbuh dan berkembang.


"Sulit melepaskan segala kenangan yang aku bangun di desa ini. Mbok Inah sudah pergi, dan rasanya seperti meninggalkan sebagian diriku di sini. Tapi aku harus memikirkan kehidupan baru dan memberikan perhatian pada ayah, karena sakit."


Menjaga ayah yang sakit stroke tentu menjadi tugas yang membutuhkan perhatian penuh dan dedikasi. Yati akan menghadapi tantangan dalam merawat ayahnya, apalagi selama ini mereka berdua tidak terlalu dekat.


Namun, Yati ingin menemukan momen-momen berarti bersama sang ayah, dan dapat mengembangkan ikatan yang lebih dalam meskipun mereka tidak memiliki hubungan yang erat sebelumnya.


"Ini seperti menguburkan bagian dari diriku. Setelah sekian lama di desa ini bersama Mbok Inah. Tapi aku telah berusaha memperbaiki diri, meskipun orang-orang masih melihatku sebagai Yati yang dulu. Aku harus meninggalkan semuanya dan memulai lagi dari nol!"


Yati berdiri di tengah halaman rumahnya, yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya pulang. Tetapi kali ini, pandangan matanya penuh dengan kebimbangan.


Dia merasakan beban berat di dadanya, terasa seperti batu yang sulit diangkat. Desa ini penuh dengan kenangan, baik yang manis maupun pahit.


Di sini, dia dipertemukan dengan Mbok Inah sewaktu masih bayi, satu-satunya orang yang selalu memberikan cinta dan dukungan tanpa syarat.


Bahkan ketika dunia mengutuknya karena masa lalunya!


"Mbok, maafkan Yati."


Yati tak kuasa menahan air matanya yang menetes, mengingat bagaimana cara Mbok Inah menyayangi dirinya.


Namun, masa lalunya juga adalah bayangan yang tak pernah lepas dari pandangan tetangga dan orang-orang di desa. Meskipun Yati berusaha keras untuk berubah dan membuka warung makan untuk mencari penghidupan yang lebih baik, stigma masa lalu terus mengikuti jejaknya.


Setiap kali dia mendengar bisikan-bisikan orang yang membicarakannya, perasaan tidak nyaman dan kesepian menghantui pikirannya.


Meskipun pada awalnya ia mencoba untuk abai. Nyatanya itu tidak bisa dilakukannya untuk selamanya!


"Yati Ndak kuat, Mbok. Yati harus pergi, apalagi warung Yati juga tidak lagi ramai seperti dulu."


Ternyata ada alasan lain dibalik keputusan yang diambil oleh Yati.


Entah apa yang terjadi pada warungnya yang dulu laris dan selalu ramai pengunjung.

__ADS_1


Tapi sejak meninggalnya Mbok Inah, warung Yati bahkan membutuhkan modal tambahan setiap hari untuk menutupi kerugian.


__ADS_2