
Yati sudah siap untuk diajak pergi ke rumah kakek, oleh suaminya. Tapi ternyata, Mr Ginting tidak juga keluar dari dalam ruangannya sendiri. Dia seakan-akan tidak mau pergi-pergi, untuk malam ini.
Yati, berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Dia merasa tidak enak hati, jika sampai sang kakek harus menunggu lama.
"Cucu macam apa dia, tidak ada sayang-sayang nya sama kakek sendiri. Aku, yang juga tidak punya orang tua, hanya punya mbok Minah saja, sampai harus melakukan semua ini, pekerjaan ini, demi membahagiakan hati tuanya mbok Minah. Maafkan aku Mbok, yang harus bekerja seperti ini, tapi tetap saja belum bisa membahagiakan simbok. Aku juga tidak busa merawat dan menemani hari-hari tuamu, sama seperti dulu, saat Kamu merawat Aku waktu masih kecil. Sebenarnya siapa sih Aku, dimana keberadaan kedua orang tuaku?"
Yati berkata sendiri, di saat menunggu panggilan dari suaminya, yang akan mengajaknya memenuhi undangan makan malam di rumah sang kakek.
Ternyata, Mr Ginting mendengar dan melihat semua yang dilakukan oleh Yati di dalam kamarnya.
"Dia tidak punya orang tua juga, dan hanya berdua dengan neneknya. Sama seperti Aku ternyata. Dan Aku, masih beruntung, karena hidup berkecukupan, bahkan menjadikan banyak orang lain menjadi iri dengan posisi yang Aku miliki. Mereka semua tidak tahu, apa yang sebenarnya Aku rasakan. Apa Aku juga akan sama seperti dia, jika ada di dalam keadaan yang sama seperti dia juga? Aku jadi bersimpati padanya. Tapi, jika Aku meminta maaf pada Kakek, nanti dia akan merasa di atas angin, dan seenaknya saja memerintahkan Aku. Ah, Aku harus bagaimana? posisi yang sulit, jika harus berbaikan dengan kakek tua itu!"
Mr Ginting, jadi merasa bersalah karena telah banyak menyia-nyiakan waktunya bersama dengan sang kakek. Dia dan kakeknya, hanya ada ketegangan, jika sedang berdua, tanpa ada kedekatan dan canda tawa, layaknya cucu dan kakek pada umumnya. Yang akan tertawa senang, bercanda ria, dan membicarakan banyak hal tentang kehidupan ini. Bukan hanya sekedar soal bisnis dan bisnis saja.
Tapi, Mr Ginting juga merasa segan, jika harus berbaikan dengan sang kakek. Dia tidak ingin melakukannya terlebih dahulu. Dia juga bingung harus memulai dari mana jika harus memperbaiki hubungannya dengan sang kakek, yang memang sudah seperti ini sedari dulu.
Mr Ginting menghela nafas panjang, hingga handphonenya berbunyi, tanda jika ada panggilan masuk untuknya.
Layar handphone memperlihatkan nama 'Kakek Tua' yang artinya, sang kakek, sudah menelpon dirinya, untuk bertanya tentang undangan malam ini.
Tut
Tut
Tut
Handphone masih saja berbunyi, tapi Mr Ginting tidak mau mengangkatnya. Dia hanya berdiri dari tempat duduknya, dan mengambil jas yang sudah dia persiapkan sedari tadi.
Sambil berjalan, dia memakai jas tersebut, kemudian keluar dari kamar dan mengetuk pintu kamar Yati.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
Klik!
Pintu terbuka, kemudian Mr Ginting masuk ke dalam kamar. Dia tertegun melihat Yati, yang terlihat berbeda dengan biasanya. Padahal, tadi dia juga sudah melihat Yati di kamera cctv-nya. Tapi tentu saja, akan terlihat berbeda, jika bisa melihatnya secara langsung.
Itulah sebabnya, saat ini Mr Ginting jadi terpesona, dan hanya bisa diam saja mengagumi kecantikan Yati, istri kontraknya itu.
"Mr. Mr Ginting," panggil Yati, karena Mr Ginting terhenti di depan pintu dan hanya melihatnya saja.
"Eh, emh... a_apa Kamu sudah siap?" tanya Mr Ginting tergagap.
Untuk menutupi kegugupannya, Mr Ginting hanya bisa bertanya, tentang sesuatu yang tidak perlu untuk ditanyakan lagi. Sebab, sudah tampak jelas bahwa, Yati sudah sangat siap untuk berangkat bersama dengannya ke rumah sang kakek.
Yati tersenyum, kemudian mengangguk dengan pasti. Dia memang sudah siap sedari tadi, tinggal menunggu suaminya itu mengajaknya untuk pergi.
Mr Ginting, memposisikan dirinya untuk bisa digandeng oleh Yati. Tangan kirinya, dia tekuk, supaya Yati mengandengnya sekarang juga.
Sekarang, mereka berdua berjalan dengan bergandengan tangan, keluar dari dalam kamar. Mereka akan pergi ke rumah kakeknya Mr Ginting.
*****
Rumah kakek, tidak ramai seperti saat pertama kali Yati datang. Ini karena tidak ada jamuan makan seperti pada waktu itu.
Malam ini, hanya Mr Ginting dan Yati, yang diundang sang kakek, untuk membicarakan tentang pesta pernikahan mereka, yang akan dilaksanakan lusa. Jadi satu hari lagi, pesta pernikahan itu akan berlangsung.
Tapi ternyata bukan hanya Yati dan Mr Ginting saja yang datang ke rumah kakek. Ada beberapa orang, yang diberikan tugas oleh sang kakek, untuk mengurus semua keperluan pesta tersebut. Mereka adalah, orang-orang kepercayaan kakek, yang biasa mengurusi event besar.
Sang kakek tidak mungkin bisa merencanakan segala sesuatu yang berkaitan dengan pesta tersebut, dalam jangka waktu yang sangat singkat. Dia juga tidak mungkin, mencari EO sendiri, jika dirinya terbiasa meminta pada para pelayan dan pegawainya, yang memiliki kemampuan masing-masing. Dan mereka semua sudah cukup lama ikut bekerja sama dengan sang kakek.
__ADS_1
"Itu cucuku datang. Mereka adalah calon mempelainya!" ucap sang kakek, begitu melihat kedatangan cucunya, Mr Ginting dengan Yati.
Yati terus berjalan, meskipun sebenarnya Mr Ginting ingin berhenti. Jadi, mau tidak mau, Mr Ginting ikut juga kemana Yati melangkah, karena saat ini tangganya Mr Ginting, masih berada dalam posisi bergandengan tangan.
Yati, tersenyum melihat suaminya itu mengikuti langkahnya.
Kini, Yati sudah ada di depan sang kakek, bersama dengan cucu kesayangannya, Mr Ginting.
"Selamat malam Kek," sapa Yati, dengan membungkukkan badannya sendiri, sama seperti seorang Jepang yang memberi salam pada kerabatnya.
Setelah itu, Yati juga menyalami dan mencium tangan kakek, sama seperti layaknya cucu orang Indonesia, yang baru saja bertemu dengan kakeknya.
Mr Ginting hanya melihat semua yang dilakukan oleh istrinya itu dengan tatapan datar. Meskipun dalam hatinya memuji sikap dan perilaku Yati, istrinya itu. "Ternyata, Aku tidak salah memilihnya. Dia begitu sopan, dan bisa menempatkan diri sebagai seorang istri dan juga cucu untuk kakek. Sedang Aku sendiri..."
"Shunjin, berilah salam untuk kakek," kata Yati, mengingatkan suaminya, untuk memberikan salam pada kakeknya sendiri.
Dengan engan, tapi karena merasa tidak enak hati juga, akhirnya Mr Ginting melakukan hal yang sama seperti Yati, meskipun dia tidak melakukan salam ala orang Jepang.
Tapi setidaknya, sang kakek jadi merasa sangat senang, karena cucunya itu, mau menyalami tangannya, dan juga menciumnya. Hal yang memang sudah seharusnya mereka lakukan jika bertemu.
Kakek menepuk pundak Mr Ginting, dan memeluknya erat.
"Cucuku. Maafkan Kakekmu yang sudah tua ini. Dia tidak memiliki banyak permintaan. Tapi, berikanlah sedikit kebahagiaan untuknya, di hari-hari tuannya ini."
Sang kakek mengatakan, apa yang ada di dalam hatinya. Dia hanya ingin berbahagia, dengan memperbaiki hubungannya dengan cucunya itu.
Yati tersenyum, melihat keduanya yang masih saling berpelukan. Meskipun awalnya Mr Ginting terkesan kaku dan dingin, tapi lama-kelamaan, dia juga ikut memeluk kakeknya itu. Dia mengangguk mengiyakan perkataan sang kakek.
Kakek, melihat ke arah Yati dengan tersenyum senang. Dia juga mengacungkan jari jempolnya, pada Yati, untuk yang mengangguk samar, saat melihat apa yang dimaksud oleh sang kakek.
Yang dirasakan sang kakek sungguh diluar dugaannya sendiri. Dia tidak pernah menyangka, jika cucunya itu, saat ini ada di dalam pelukannya. Mereka berdua, seakan-akan sedang melepaskan segala sesuatu, yang selama ini mengganjal di hati mereka masing-masing.
__ADS_1
Mungkinkah ini awal membaiknya hubungan mereka berdua? Hubungan yang selama ini tidak pernah baik-baik saja. Hubungan yang tidak sama seperti seorang kakek dengan cucunya.
Yati tidak tahu, apa yang akan terjadi kedepannya. Dia hanya ingin, antara Mr Ginting dan kakeknya, tidak lagi ada perang dingin, yang tidak selayaknya ada. Karena itu sangat tidak nyaman untuk hubungan mereka berdua, yang seharusnya bisa lebih dekat lagi. Tidak seperti biasanya, sama-sama dingin dan tidak ada yang bisa mengalah, terutama Mr Ginting sendiri.