
Pesta pernikahan Mr Ginting dan Yati, yang akan dilaksanakan besok membuat Yati tidak bisa tidur pada malam hari. Dia kepikiran tentang keadaannya, yang tentu saja akan mengecewakan banyak orang, terutama sang kakek, jika semuanya akan berakhir pada waktu yang sudah mereka sepakati.
"Apa Aku akan tega, melihat kakek yang bersedih hati karena ternyata semua yang membuatnya bahagia ini berakhir?" batin Yati, yang gelisah di dalam kamar.
Mr Ginting tidak ikut bersamanya malam ini, karena tidak ingin menganggu istirahat istrinya, yang akan di rias besok pagi.
Dia ingin melihat istrinya itu tampil cantik dan tidak kurang tidur, karena ulahnya yang tidak bisa diam jika tidur bersama dengannya.
Tapi ternyata semua tidak sama seperti yang diinginkan oleh Mr Ginting. Dia melihat istrinya itu dalam keadaan bingung. Dia juga melihat istrinya itu duduk termenung seorang diri, dan tidak segera beranjak untuk tidur.
"Dia kenapa tidak tidur?" tanya Mr Ginting yang tidak tahu, apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Yati, karena tidak berhadapan secara langsung, dan hanya melihat Yati melalui kamera cctv-nya.
Dia terus memperhatikan, apa yang dilakukan oleh istrinya itu, di dalam kamarnya sendiri.
Yati, yang tidak tahu jika semua yang dia lakukan di dalam kamar ini diperhatikan oleh Mr Ginting, tidak segera pergi ke tempat tidurnya. Tapi malah termenung seorang diri di depan cermin besar, yang ada di sebelah kamar mandi.
Cermin besar yang sebenarnya adalah pintu penghubung antara kamarnya sendiri dengan kamar Mr Ginting.
Mr Ginting sudah was-was, saat melihat Yati yang menghadap ke arah cermin. Dia berpikir bahwa Yati sedang memperhatikan cermin besar itu, karena merasa curiga jika itu adalah sebuah pintu. Dia tidak tahu, jika Yati hanya sedang melihat bayangannya sendiri, lewat cermin besar yang ada di depannya.
Mr Ginting hampir saja berdiri untuk pergi ke kamarnya Yati, jika saja Yati tidak pergi dari tempatnya berdiri, di depan cermin besar itu.
Mr Ginting menghela nafas lega, karena ternyata bukan seperti yang dia pikirkan.
Tak lama kemudian, Mr Ginting melihat Yati yang berbaring di tempat tidur, sambil memeluk guling.
"Apa dia sedang membayangkan diriku ada di sana?" pikir Mr Ginting sambil tersenyum, dan terus memperhatikan tingkah laku istrinya itu.
Tapi karena dia sendiri juga yang akhirnya tidak tahan, kemudian beranjak dari tempat duduknya. Mr Ginting pergi ke kamar Yati, menyusul istrinya untuk tidur.
"Sepertinya Aku juga tidak akan bisa tidur, jika tidak memeluknya," gumam Mr Ginting seorang diri.
Klik!
Pintu kamar terbuka.
Yati, yang belum bisa tidur dengan nyaman segera bangun dan melihat ke arah pintu, dimana Mr Ginting baru saja masuk.
"Maaf. Apa kedatanganku membangunkan tidurmu?" Mr Ginting pura-pura bertanya, karena melihat Yati yang dalam posisi berdiri, tidak lagi tertidur, sama seperti tadi, saat dua melihatnya lewat kamera cctv.
"Emhhh... ti_tidak. Ak_aku belum tertidur dengan benar," jawab Yati terbata.
Yati merasa gugup, karena Mr Ginting berjalan mendekat ke arahnya berdiri.
__ADS_1
"Apa Kamu tidak bisa tidur? atau Kamu sedang menungguku?" tanya Mr Ginting lagi, menebak-nebak apa yang terjadi pada istrinya.
"Eh, emhhh... sepertinya iya," jawab Yati asal, karena dia tidak mau Mr Ginting merasa kecewa.
Akhirnya Mr Ginting tersenyum dengan jawaban yang diberikan oleh Yati. Dia berpikir, jika istrinya itu memang benar-benar menginginkan dirinya, untuk bisa menemaninya tidur malam ini.
Dan disaat Mr Ginting sudah ada di hadapan Yati, dia diberikan satu kecupan di bibir, dengan mendongakkan dagu istrinya itu.
Setelahnya, readers tentunya tahu kan apa yang memang seharusnya terjadi? hehehe... ( jangan tanyakan pada author yang masih imut-imut ini ya... peace!!!
*****
Pesta berlangsung dengan meriah. Semua tamu undangan, sudah datang dengan dress code yang ditentukan oleh panitia pelaksana pesta pernikahan tersebut.
Sebenarnya, semua rencana pesta pernikahan ini, adalah rancangan sang kakek, yang meminta bantuan pada para pengikutnya yang setia dan biasa melakukan semua pekerjaan mereka.
Dibantu oleh EO yang berpengalaman dalam bidangnya, semua dipersiapkan dalam waktu singkat, yaitu dua minggu dari waktu yang diminta oleh Mr Ginting pada kakeknya. Dan semua terjawab hati ini. Pesta pernikahan ini berlangsung dengan sangat baik, meskipun sebenarnya tidak demikian untuk kedua mempelainya.
Selama pesta berlangsung, Yati hanya tersenyum dan mengangguk jika ada tamu yang naik ke atas panggung pelaminan, untuk memberikan ucapan selamat.
Mr Ginting yang memperlihatkan keadaan istrinya, akhirnya bertanya, saat tamu mereka sudah mulai menikmati acara live music, dan hidangan yang disediakan oleh pihak catering.
"Apa Kamu sakit?" tanya Mr Ginting dengan berbisik.
"Tidak," jawab Yati pendek, dengan berbisik juga.
"Kenapa terlihat lesu?" Mr Ginting bertanya lagi pada istrinya.
"Eh, masak kelihatan jelas?" jawab Yati dengan bertanya heran. Dia jadi salah tingkah, karena merasa takut, jika apa yang dikatakan oleh suaminya itu benar.
Yati tentu merasa tidak enak hati, jika para tamu, terutama sang kakek, melihatnya seperti yang dikatakan oleh suaminya.
"Apa yang Kamu pikirkan?"
Mr Ginting terus menerus bertanya, sehingga para tamu yang melihatnya, seakan-akan melihat mereka berdua sedang rayu merayu dengan mesranya.
"Wah, gak nyangka ya. Ternyata, Mr Ginting bisa mesra dan romantis gitu."
"Aku jadi iri dan pengen juga jadi pengantin."
"Untung ya yang jadi istrinya Mr Ginting."
"Mr Ginting bukannya penyuka sesama ya?"
__ADS_1
"Ah, masak sih?"
"Gak tahu juga. Cuma pernah dengar saja kalau dia seperti itu."
"Ah, paling cuma gosip. Karena tidak pernah melihat Mr Ginting punya pacar, atau terkesan dingin dengan para gadis-gadis yang ada di sekitarnya."
"Aku mau punya suami kayak Mr Ginting juga ah."
"Aku juga mau!"
"Eh, dia punya kembaran gak sih?"
"Gak punya. Jan dia anak tunggal."
"Sepupu Mr Ginting ada. Itu Mr Surya Jaya."
"Ah, gak se_coll Mr Ginting."
Para tamu undangan, malah bergosip ria sambil menikmati makanan, dengan membicarakan Mr Ginting dan Yati, yang saat ini sedang berada di atas panggung pelaminan.
Mereka semua, tidak tahu kebenaran yang sesungguhnya pada kedua mempelai tersebut.
"Ginting. Ini ada hadiah untuk kalian berdua."
Tiba-tiba, sang kakek naik ke atas panggung, mengagetkan Mr Ginting dan Yati, dengan hadiah yang dia bawa.
Mr Ginting hanya tersenyum miring, mendengar perkataan dari kakeknya itu.
Sedangkan Yati, tersenyum dengan sumringah karena merasa jika sang kakek sangat perhatian dengan cucunya itu.
Dia juga melihat ke arah suaminya, agar bisa melihat kakeknya itu dengan sudut pandang sebagai seorang cucu yang baik.
"Mr, ingat ya. Kamu sudah berbaikan dengan kakek, jadi bersikaplah seperti yang kemarin malam."
Yati, mencoba untuk mengingatkan Mr Ginting, bahwa dia sudah berbaikan dengan sang kakek. Dia juga meminta agar Mr Ginting tidak dingin seperti saat ini dan dulu.
"Ehemmm... Apa yang Kakek bawa untuk Kami!" tanya Mr Ginting, setelah mendengar perkataan istrinya.
Dia mencoba untuk menata hatinya, agar bisa berdamai dengan sang kakek.
Kakek tersenyum senang, mendengar pertanyaan dari cucunya itu. Dia tersenyum juga ke arah Yati, karena merasa jika istri dari cucunya itu mempunyai andil besar dalam perubahan sikap cucunya sekarang.
"Kakek bawa kado khusus untuk Kalian berdua. Semoga kalian berdua suka dengan apa yang kakek tua ini berikan."
__ADS_1