
Yati melakukan hal yang tadi diberitahu oleh pelayan. Dia mencari tombol, untuk memanggil kepala pelayan, yang bisa membantunya untuk mencari supir Mr Ginting.
Beberapa lama kemudian, sang kepala pelayan benar-benar datang. Dia mengetuk pintu kamar Yati, dan bertanya tentang keperluannya memangil dirinya.
Klik!
Pintu terbuka. Yati keluar mendapatkan kepala pelayanan yang siap dengan pertanyaan ataupun permintaan darinya.
"Ada yang bisa Saya bantu miss Kiara?" tanya kepala pelayan.
Yati, menyampaikan keinginannya untuk mencari keberadaan supir, yang bisa membawanya ke butik. Tapi dia juga bilang, jika dia tidak tahu, butik mana yang dimaksud oleh Mr Ginting.
"Oh, ini permintaan Mr Ginting?" tanya kepala pelayan.
"Iya," jawab Yati pendek.
"Tapi Saya juga tidak tahu, kapan waktu yang dia inginkan untuk saya pergi," kata Yati, melanjutkan kalimatnya lagi.
"Jika begitu, sesuai dengan perintah dari Mr Ginting pada Saya tadi, supir akan stay di depan jam tiga. Anda bisa langsung berangkat ke butik, dan supir sudah tahu, dimana letak butik tersebut. Anda hanya perlu diam di dalam mobil dan mengikuti kemana supir membawa Anda. Supir di sini bukan sekedar supir biasa Miss. Anda tidak perlu khawatir dengan keselamatan Anda saat berada di luar rumah ini."
Yati mengangguk paham, mendengar keterangan yang diberikan oleh kepala pelayan kepadanya.
Kini, setelah semua dirasa selesai dan kepala pelayan meminta ijin untuk undur diri, Yati segera bersiap untuk mandi lagi, sebelum dia pergi ke butik, untuk menemui Mr Ginting, yang akan menunggu dirinya di sana.
"Ribet banget ya hidup orang-orang kaya. Banyak aturan yang berlaku. Padahal, hanya sekedar ke butik saja, harus banyak prosedur yang harus dilakukan. Aneh-aneh saja orang-orang kaya itu. Aku bisa-bisa gila ada di antara mereka terus menerus. Apa-apa harus melalui pelayan dan butuh waktu lama juga."
Yati, berendam di bathtub sambil bergumam seorang diri. Dia merasa sangat kesal, karena harus berada di rumah yang sangat besar ini, dan tidak tahu, jalan mana yang harus dia lalui, jika hanya untuk sekedar pergi bertemu dengan pelayan satu atau yang lainnya juga.
"Masa apa-apa harus lewat kepala pelayan. Apa Aku tidak ada kebebasan di rumah ini?" tanya Yati, yang ingin merasakan kebebasan, sama seperti biasa.
Dia merasa, hidup bersama dengan Mr Johan saja sudah termasuk tidak bebas, apalagi sekarang ini, hidup bersama dengan Mr Ginting.
Yati merasa hidup di dalam sebuah tahanan, yang sangat mewah dan megah. Segalanya ada dan tersedia, tapi dia tidak bisa bergerak bebas dan semaunya untuk bisa menikmati semua kemewahan di rumah ini.
"Aku jadi tahu, bagaimana rasanya menjadi istri orang kaya, yang tidak hanya sekedar kaya saja. Hahaha... Apa Aku akan punya pengalaman lain, selain menjadi mentor di tempat tidur untuk Mr Ginting?"
__ADS_1
Yati jadi tersenyum, saat ingat dengan kejadian semalam, saat usai makan malam yang membuat dirinya malu. Itu karena dia sudah menyemburkan air minumnya pada wajah Mr Ginting, dan dari insiden itu, dia justru tahu, apa rahasia terbesar Mr Ginting selama ini.
"Tak kusangka, orang semacam Mr Ginting masih perjaka. Hahaha..."
Yati tertawa sendiri, saat sadar, jika dirinya sendiri yang akhirnya membuat Mr Ginting tidak lagi virgin, alias tidak lagi perjaka. Hal uang diluar dugaan seorang Yati tentunya.
"Sungguh tidak bisa dipercaya. Aku pikir, jika dia tidak belok, dia sudah banyak bergaul dengan para gadis ataupun wanita-wanita yang memujanya. Ternyata, benar-benar diluar dugaanku, bahkan mungkin dugaan semua orang juga."
Yati jadi merasa sangat bersalah juga pada Mr Ginting, karena sudah mengambil sesuatu yang berharga pada suaminya itu.
Tapi karena Yati juga, akhirnya Mr Ginting terbukti sebagai laki-laki yang normal dan sehat. Tidak sama seperti yang diisukan selama ini. Berbelok atau penyuka sesama jenis.
Dan itu sudah dibuktikan oleh Yati sendiri, tadi malam.
*****
Jam tiga tepat, Yati sudah berada di dalam mobil. Dia akan diantar oleh supir, untuk pergi ke butik, yang sudah ditentukan oleh suaminya, Mr Ginting.
Supir, sudah tahu dimana letak butik tersebut. Dia juga sudah diberitahu oleh Mr Ginting sendiri, saat memberinya perintah kerja.
"Ya, Saya sudah siap," jawab Yati dengan yakin.
Supir segera menghidupkan mesin mobil, kemudian melaju meninggalkan rumah besar Mr Ginting, menuju ke jalan raya. Dia akan melakukan tugasnya dengan baik.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya, mobil yang ditumpangi oleh Yati, berhenti di depan sebuah bangunan klasik, yang tampak sepi dan jauh dari keramaian.
Benar-benar tidak bisa dipercaya, jika bangunan tersebut, adalah sebuah butik mahal.
Supir turun terlebih dahulu, kemudian membukakan pintu untuk Yati.
"Terima kasih," ucap Yati, begitu dua turun dari mobil.
Supir mengangguk sopan, kemudian meminta pada Yati untuk berjalan terlebih dahulu, dan dua akan mengawalnya dari belakang. Supir tadi, akan menjadi bodyguardnya kali ini.
Yati, yang belum pernah masuk ke dalam butik tersebut, tentu merasa canggung, dan tidak tahu, jalan mana yang harus dia lalui.
__ADS_1
Tapi karena ada supir sekaligus bodyguardnya saat ini, Yati jadi diberikan arahan, untuk melewati jalan yang benar untuk sampai ke dalam butik yang utama.
"Lewat sini Miss," kata supir, memberikan arahan.
Yati, mengangguk mengiyakan. Dia kembali berjalan menuju ke arah ruang utama butik tersebut.
Ternyata, Mr Ginting sudah ada di dalam ruangan tersebut. Dia sedang melihat-lihat koleksi baju longdres seksi yang terbaru.
"Mr Ginting. Saya mengantar Miss Kiara," kata supir, melapor kepada Mr Ginting, yang sedang membelakangi mereka berdua, Yati dan supir.
Mr Ginting menoleh, begitu mendengar suara supirnya. Dia segera melihat istrinya, yang saat ini berdiri di depannya dengan mengunakan baju yang terlihat sederhana, tapi elegan di tubuh Yati.
"Ternyata dia menyukai model baju yang sederhana. Tapi, apapun baju yang dia pakai, terlihat pas dan sesuai dengan tubuhnya," gumam Mr Ginting, sambil mengamati bagaimana istrinya itu berpakaian.
"Apa ada yang aneh ya dengan penampilanku? kok dia aneh gitu liatin Aku," kata Yati dalam hati.
Yati segera menutupi mulutnya, saat sadar jika suaminya itu, bisa membaca pikirannya.
Yati, mengeleng beberapa kali, untuk menghilangkan rasa tidak nyaman karena dilihat sedari tadi oleh Mr Ginting.
"Ehemmm!"
Yati berdehem, untuk menyadarkan Mr Ginting, supaya tidak lagi melihatnya dengan cara yang tidak dia mengerti.
"Saya permisi Mr. Miss."
Sang supir meminta untuk undur diri, dan kembali ke rumah besar lagi, karena Yati, akan pulang bersama dengan Mr Ginting dan supirnya yang lain.
"Hemmm, Mbak!"
Akhirnya, Mr Ginting sadar dan memanggil salah satu pelayan yang ada di butik tersebut. Dia meminta untuk dilayani, sesuai dengan rencana dan kebutuhannya datang ke butik ini.
Yati, hanya tersenyum dan mengangguk, saat Mr Ginting memintanya untuk ikut pelayan butik tersebut. Karena Yati, akan di dandani memakai baju pengantin yang akan dia kenakan nanti, saat acara pesta pernikahan mereka berdua.
Mr Ginting juga melakukan hal yang sama. Dia mencoba setelan jas, yang senada dengan baju pengantin Yati.
__ADS_1