
Di seberang sana, diantara deretan kursi yang penuh dengan pengunjung, yang menjadi pemisah antara Yati dengan Mr Andre, ada istri dari Mr Andre sendiri, yang mungkin saja baru keluar dari dalam kamar mandi, karena tadi tidak tampak bersama dengan Mr Andre. Itu juga yang menyebabkan Mr Andre berani menegur Yati tadi, meskipun cuma sebentar saja.
Yati pun tahu diri dengan keadaan yang ada. Dia segera menyingkir dari jangkauan pandang mata mereka berdua, Mr Andre dan istrinya, supaya kehadirannya tidak diketahui. Terutama istri dari Mr Andre.
Yati melangkah mendekat ke arah pak supir, yang masih berbincang dengan pemilik rumah makan. Dia menunggu di dekatnya dan tidak kemana-mana.
"Miss. Kita bisa menunggu untuk beberapa menit lagi. Ini katanya ada rombongan yang mau ke luar daerah, dan satu rombongan itu mampir di sini semua. Jadi ya penuh begini," kata pak supir menjelaskan pada Yati.
Yati hanya bisa mengangguk saja, dan tidak memikirkan permalasahan yang seharusnya. Mau makan dimana saja, Yati tidak masalah.
Yang menjadi masalahnya sekarang ini adalah, pertemuannya dengan Mr Andre, yang tidak pernah dia sangka-sangka.
Bahkan kemarin, disaat pesta pernikahannya digelar, dan tamu undangan yang hadir terakhir kalinya adalah Mr Andre dengan istrinya itu, Yati harus berpura-pura sakit kepala dan pergi dari atas panggung pelaminan, untuk menghindari pertemuannya dengan Mr Andre.
Yati tidak ingin, rahasianya bersama Mr Ginting terbongkar. Dan dia juga tidak mau, jika Mr Andre sampai tahu, jika saat ini dia sedang bersama dengan Mr Ginting, yang menjadi suami kontraknya.
Tak lama kemudian, tempat makan tersebut berangsur-angsur pulih kembali dan tidak lagi penuh seperti tadi.
Pak supir mencarikan tempat duduk untuk Yati dan memposisikan dirinya sendiri sebagai bodyguard.
Psk supir berdiri di belakang tempat duduknya Yati.
Tentu saja Yati menjadi risih, dan meminta pada pak supir untuk duduk saja di antara kursi yang ada.
Tapi pak supir yang merasa sungkan, hanya mengangguk dan mengambil tempat duduk di depan Yati tapi di meja makan yang lain.
"Pak, sini saja! kalau jauh-jauh dan ada kesempatan justru Saya akan ada yang mencelakai," ujar Yati memberi alasan, supaya pak supir mau duduk di kursi dengan satu meja bersama dengannya.
Yati tidak mau terlihat mencolok dengan sikap bodyguard nya itu. Apalagi ini tempat makan sederhana dan bukan sebuah restoran mewah, yang terbiasa dengan tamu-tamu yang penting dan harus dalam penjagaan ketat.
Akhirnya, pak supir setuju dengan perkataan Yati. Dia pindah duduk di kursi yang ada di depannya Yati. Meskipun sebenarnya dia merasa tidak nyaman karena duduk bersama dengan istri dari Bos_nya, yang sedang dia kawal untuk bisa pulang ke kampung halamannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, pelayan datang untuk bertanya tentang pesanan yang akan mereka makan.
Yati pun memesan beberapa menu makanan, untuk dinikmati bersama dengan pak supir.
"Bapak jangan terlalu formal. Kita berada dalam situasi yang berbeda dari biasanya. Jadi, jangan sampai tadi terulang lagi. Karena itu justru bisa menimbulkan niatan buruk, pada orang jahat. Mereka akan mengira bahwa Saya adalah seorang yang penting, seperti putri, sehingga perlu dilakukan pengawalan saat berpergian. Mereka akan menculik atau mencari kesempatan untuk bisa mendapatkan keuntungan. Jadi, sebisa mungkin untuk menghindari hal tadi, Bapak jangan bersikap seperti tadi. Kita bisa berbincang-bincang dengan santai seperti layaknya saudara, atau teman agar tidak menimbulkan kecurigaan pada orang lain."
Pak supir mengangguk mengerti, dengan apa yang dikatakan oleh Yati. Tadi dia hanya tidak ingin dianggap sebagai seorang bodyguard yang tidak tahu sopan santun, sehingga tidak memiliki jarak antara pengawal dengan yang di kawal.
Sekarang, pak supir jadi bersimpati pada Yati, yang tidak sombong dan merasa mendapat angin karena posisinya yang sebagai istri seorang Mr Ginting.
Ternyata Yati juga bisa menghargai orang-orang yang ada bersama dengannya, meskipun posisi mereka sekarang termasuk bawahnya karena dia adalah istri dari bos.
Akhirnya pesanan makanan mereka datang. Satu persatu pesanan tersebut diletakkan di atas meja.
"Terima kasih," ucap Yati pada pelayan rumah makan.
"Sama-sama. Silahkan, dan selamat menikmati."
"Ayo Pak dimakan. Setelah ini, Bapak bisa beristirahat sejenak, baru kita melanjutkan perjalanan kita. Biar Bapak tidak kecapekan, dan ngantuk juga saat menyetir."
"Ya Miss, terima kasih."
Pak supir merasa senang, karena Yati ternyata memikirkan sejauh itu. Tidak hanya sekedar ingin bisa cepat sampai di kampungnya saja.
Dia juga tidak ingin terjadi sesuatu dalam perjalanan mereka ini. Dia harus bertanggung jawab atas keselamatan Yati, dan itu adalah tugasnya sebagai seorang supir dan bodyguard.
Dia mendapat banyak bonus dari Mr Ginting, dalam tugasnya kali ini. Jadi, dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada istri bos besarnya itu.
*****
Mr Ginting merasa gelisah pada malam hari. Dia kepikiran dengan istrinya, yang saat ini sudah berada di kampung halaman.
__ADS_1
Tadi, dua sudah mendapatkan kabar dari supirnya, dan dari istrinya juga.
Tapi rasa gelisah yang dirasakan oleh Mr Ginting ini karena dia tidak adanya Yati disampingnya.
Dia tidak busa tidur dengan cepat, tanpa melihat wajah istrinya itu.
"Hah! Apa yang sebenarnya Aku rasakan ini? Kenapa Aku tidak bisa tidur-tidur sedari tadi."
Mr Ginting bertanya-tanya sendiri dalam hati. Dia tidak tahu, perubahan perasaan hatinya pada istrinya, yaitu Yati.
"Sedang apa ya dia sekarang? Apa dia juga tidak bisa tidur, sama seperti Aku sekarang?"
Sebenarnya, Mr Ginting ingin menelpon Yati, untuk bisa mengobrol, meskipun hanya sebentar saja. Tapi rasa gengsi yang dia miliki, membuatnya harus menahan diri dan tidak jadi menelpon istrinya.
Padahal, handphone sudah ada di tangannya sedari tadi. Layar handphone juga sudah menampilkan nomer handphone milik istrinya. Hanya tinggal menekan tombol hijau saja, dan dia bisa langsung menghubungi. Tapi itu tidak juga dilakukan oleh Mr Ginting.
Pada akhirnya, Mr Ginting mengalihkan perhatiannya sendiri untuk melihat beberapa koleksi video, yang dia rekam dari kamera cctv-nya. Dia melihat istrinya itu, dari video tersebut.
Mr Ginting tampak tersenyum sendiri, melihat bagaimana tingkah istrinya, yang ada di dalam video. Apalagi saat untuk pertama kalinya Yati ada di dalam kamar, di rumahnya ini.
Yati tampak bengong dan tidak tahu apa-apa di dalam kamar tersebut. Pintu penghubung antara kamarnya sendiri dengan kamar Mr Ginting pun, yang berupa cermin besar, dia tidak tahu, dan malah bercermin di situ dalam waktu yang lama.
Sekarang, Mr Ginting kematian video tersebut. Dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke pintu penghubung kamar. Dia pergi ke kamar Yati, melalui pintu rahasia itu.
Sama seperti saat pertama kali dia datang dan dianggap sebagai makhluk halus oleh Yati.
Mr Ginting tersenyum-senyum sendiri, mengingat kejadian waktu itu. Dia yang malu-malu, dan tidak tahu apa-apa tentang wanita, jadi terlihat seperti orang bodoh di depan istrinya itu.
Tapi sekarang tentu sudah berbeda. Dia tidak lagi sama seperti yang pertama kali, dan bisa terus belajar dan belajar, dari hari ke hari, bersama dengan istrinya, yang ternyata sangat lembut dan mau sabar dalam mengajari dirinya.
Mr Ginting yang tidak tahu apa-apa, jadi tahu banyak dari Yati, untuk bisa berubah menjadi seorang laki-laki dewasa pada umumnya. Dan ini lumrah, normal pada setiap orang. Bukan hanya untuk Mr Ginting yang memang belum pernah melakukan hubungan intim dengan siapa pun. Dan baru dengan Yati, dia merasakan semua yang sudah seharusnya mereka berdua lakukan, sebagai sepasang suami istri.
__ADS_1