
Untuk keberhasilan sebuah usaha dan bisnis, keluarga sang Kakek, bisa dijadikan salah satu contoh dari sekian banyak orang-orang yang sukses dan berhasil di negara ini.
Dengan usaha yang maju dengan pesat dan melebar ke beberapa bidang usaha, perusahaan keluarga sang Kakek, memang sangat bisa diacungi jempol.
Begitu juga dengan kedua cucunya, Mr Ginting dan Surya Jaya, yang saat ini ikut mengurusi perusahaan, menjadi contoh dan teladan bagi orang tua dan eksekutif muda pada umumnya.
Para wanita, juga banyak yang menggandrungi keduanya, bahwa, banyak dari mereka yang menawarkan diri untuk bisa menjadi pendamping Mr Ginting ataupun Surya Jaya.
Sayangnya, Mr Ginting sekarang sudah memiliki istri. Jadi hanya tinggal Surya Jaya saja yang menjadi pusat perhatian para gadis-gadis dan wanita, yang mengincarnya.
Tapi ternyata tidak hanya itu saja, Mr Ginting, yang notabene sudah menikah sekalipun, tetap ada saja gadis dan wanita, yang tetap berharap bisa menjadi pendampingnya, meskipun tidak dengan cara yang benar.
Jadi, godaan-godaan tetap saja datang pada Mr Ginting, dari gadis-gadis, yang masih saja mengidam-idamkan dirinya.
Ini terbukti dengan kedatangan Mr Ginting di pesta ulang tahun sang Kakek.
Acara sudah separuh jalan, saat Mr Ginting dan istrinya, miss Kiara, datang. Mereka berdua memang sedikit terlambat datang, karena ada sesuatu yang terjadi tadi, saat masih berada di rumah.
Sesuatu yang terjadi, dan biasa untuk seorang Yati, dalam menghadapi suaminya, Mr Ginting, karena memang sudah menjadi tugasnya sebagai seorang istri.
Mereka berdua, melangkah menuju ke arah sang Kakek, yang memang sendang menuggu kedatangan mereka berdua.
Sang Kakek belum memotong kue ulang tahunnya, karena mereka berdua yang belum juga datang.
"Akhirnya, Kalian berdua datang juga. Seandainya kalian berdua tidak datang, acara ini akan gagal dan para tamu akan Kakek suruh pulang, hehehe..."
Perkataan sang Kakek, disoraki oleh para tamu, yang merupakan anggota keluarga sendiri. Ini karena permintaan dari sang Kakek, yang tidak menginginkan sebuah pesta yang besar.
"Maaf Kek. Ini tadi, ada sesuatu yang terjadi, yang membuat kami jadi terlambat," ujar Yati memberikan alasan.
Dan saat sang Kakek menatap ke arah istri dari cucunya itu, dia terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini.
Tadi, pada waktu kedatangan mereka berdua, sang Kakek tidak begitu memperhatikan bagaimana penampilan istrinya Mr Ginting, yang memang terbiasa sederhana dan tidak suka memakai pakaian dan aksesoris yang berlebihan.
__ADS_1
Tapi kali ini, penampilan miss Kiara yang tampak anggun, dalam balutan gaun berpotongan sederhana berwarna hitam polos, tanpa ornamen dan kerlap-kerlip mutiara ataupun perhiasan kalung, yang biasanya digunakan sebagai pelengkap pada gaun pesta, untuk menyempurnakan suatu penampilan pada wanita-wanita, sungguh-sungguh menyita perhatian dari sang Kakek.
Hanya dengan satu aksesoris wanita itu saja, sang Kakek sudah tidak bisa mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Dia menatap tidak percaya, dengan apa yang dia lihat saat ini.
Bahkan, sang Kakek tidak berkedip saat melihatnya. Ini bukan karena apa-apa, tapi karena bentuk dari aksesoris wanita berbentuk Bros Bunga, yang biasa di tempelkan pada gaun pesta, atau pakaian formal untuk bekerja oleh kebanyakan wanita.
Aksesoris yang selama ini sangat diinginkan oleh sang Kakek. Bros Bunga itu. Tempat dia menyembunyikan semua rahasianya.
Aksesoris wanita, yang selalu dia cari, bahkan banyak pengawal dan orang-orang, yang sudah dia perintahkan untuk mencarinya juga.
Aksesoris wanita, yang membuat seorang wanita harus berada di dalam rumah saja, selama berpuluh-puluh tahun, dalam keadaan depresi, karena sering dia hajar dan perlakuan dengan tidak layak.
Aksesoris wanita, yang bisa menjadi penentu kehidupan sang Kakek kedepannya.
Aksesoris wanita, yang menyimpan banyak misteri dan rahasia dari sang Kakek sendiri. Karena dari aksesoris itu juga, semuanya bisa membuka rahasia dan misteri apa yang selama ini disembunyikan oleh sang Kakek dari mata masyarakat, terutama pada keluarganya sendiri.
Aksesoris wanita, yang bisa dengan cepat, merubah segalanya pada kehidupan dan menentukan masa depan untuk sang kakek sendiri. Termasuk keselamatan dan keamanan dirinya.
Akhirnya, dengan tanpa di minta, Mr Ginting membuka jas yang dia kenakan, kemudian dipakaikan pada istrinya.
"Pakai ini. Sepertinya, akan banyak mata yang tidak bisa dikendalikan, untuk menatap tubuhmu. Meskipun Kamu tidak menginginkannya, tapi karena memang Kamu layak untuk diperhatikan," bisik Mr Ginting, di telinga Yati, yang membuat banyak orang terkagum-kagum, dengan sikapnya yang begitu lembut dan perhatian pada istrinya itu. Terutama para gadis-gadis yang wanita yang melihatnya.
"Lihatlah. Dia begitu lembutnya memperlakukan istrinya. Aku juga ingin seperti Mr Ginting, jika punya suami."
"Seharusnya, Mr Ginting untukku, dan tidak menikah dengan wanita ular itu!"
"Wah, Aku jadi iri diperlakukan seperti miss Kiara."
"Pengen dong jadi istrinya, yang ke-dua juga gak apa-apa deh!"
"Buat istri anakku cocok itu."
Banyak sekali komentar dan gumaman para gadis dan juga wanita-wanita, yang ikut hadir dalam acara ulang tahun sang Kakek malam ini.
__ADS_1
Mereka semua, justru fokus pada pasangan yang pada awal-awal menjadi buah bibir mereka. Bahkan sampai hari ini pun, tetap saja menjadi perhatian mereka semua.
Acara pesta kembali dilanjutkan.
Sang Kakek memotong kue ulang tahunnya, dengan perasaan berkecamuk.
Ada banyak sekali rencana yang dia pikirkan, untuk bisa meminta aksesoris Bros Bunga itu dari istri cucunya.
Tapi, dia tidak yakin jika itu akan mudah. Apalagi, cucunya itu sepertinya sangat protektif terhadap istrinya. Terlihat dari sikapnya, yang langsung membuka jas yang dia pakai dan dia pakaian pada istrinya tadi. Itu karena Mr Ginting sadar bahwa, ada banyak mata yang memperhatikan area dada istrinya, meskipun sebenarnya sang Kakek hanya fokus pada Bros Bunga tersebut.
Ulang tahun sang Kakek, berjalan cukup lancar dan meriah, meskipun tidak sebesar acara pesta ulang tahunnya di tahun-tahun sebelumnya.
Pada saat Mr Ginting dan Yati mau berpamitan untuk kembali pulang, sang Kakek menahan mereka terlebih dahulu.
"Tinggalah sebentar lagi. Kalian datang terakhir, dan makan juga belum. Ayo, makan dulu. Masih ada banyak makanan yang tersedia. Jadi, kalian pulang dari rumah Kakek, tidak dalam keadaan lapar seperti ini," kata sang Kakek, memberikan alasan untuk menahan Mr Ginting dan istrinya.
"Terima kasih Kek. Kami masih kenyang. Tadi Kami makan terlebih dahulu, sebelum berangkat ke sini. Itu juga yang membuat kami terlambat datang tadi," jawab Yati, memberitahu pada sang Kakek.
"Tumben, Ginting memaksa makan sebelum pergi ke pesta. Memangnya di rumah ada makanan apa?" tanya sang Kakek ingin tahu.
Tapi Mr Ginting tidak memberikan kesempatan dan waktu pada istrinya, untuk kembali menjawab pertanyaan dari kakeknya.
"Sudah ayok kita pulang. Tidak perlu capek-capek menjawab pertanyaan dari Kakek terus. Nanti kita tidak jadi pulang-pulang."
"Ginting. Kakek belum banyak berbicara dengan kalian malam ini. Ayolah..." ujar sang Kakek menahan mereka berdua.
Padahal sebenarnya, itu hanya alasan sang Kakek, untuk bertanya-tanya tentang Bros Bunga, yang sedang dipakai oleh istri dari cucunya itu.
Tapi Mr Ginting tetap tidak mau. Dia mengandeng tangan istrinya, untuk diajak pergi dari hadapan sang Kakek.
Padahal, Yati sudah merasa tidak enak hati, karena menolak tawaran dari kakeknya itu.
Yati berpikir jika itu tidak sopan, dan membuat sang Kakek akan tersinggung juga, karena penolakan mereka berdua.
__ADS_1