
Yati, yang telah mengalami perubahan dalam pandangan hidup, penyesalan atas pilihan masa lalu, sudah banyak mengalami kesulitan menghadapi stigma sosial.
Situasi kehidupannya yang rumit, bertambah dengan "mantan Bos-nya" yang pernah menolong dan kini meminta untuk menikah dengannya.
Wanita itu bingung dengan dilema moral yang membuatnya tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat.
"Menghadapi tetangga saja, aku sudah kewalahan. Padahal aku situs tidak berkecimpung dalam "dunia" itu," gumam Yati, memikirkan keputusan yang harus diambilnya.
"Tapi, aku tahu. Mr Akihiko tidak mungkin diam saja dengan keputusanku kemarin."
Bos-nya itu, adalah "Bos Geisha" yang tentunya bisa menambah tekanan dan konflik dalam kehidupannya sekarang.
Dulu, sebelah kemudahan yang dimiliki Yati sebagai "Mis Yeti" tentu saja tidak luput dari pengaruh Mr Akihiko yang memiliki banyak relasi.
"Mbak Yati, dipanggil Tuan Wasito."
Wanita itu menoleh cepat, saat ibu Nina datang memanggilnya.
"Matur suwun, Bu Nina. Saya ke sana, sekarang."
Cepat Wanita itu beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju ke kamar ayahnya.
Begitu tiba di dalam kamar, Yati dengan lembut menyentuh tangan ayahnya yang berbaring di ranjang.
"Ayah, bagaimana perasaanmu hari ini? Apa ada yang bisa aku, bantu? Ayah, pengen apa?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
Pria tua itu bergumam dengan susah payah.
"Ya ... su-hah ... a-apa?" tanya pria yang sedang sakit stroke.
"Maafkan Yati, yah. Yati tidak bisa sepenuhnya mengerti apa yang ayah rasakan, tapi aku di sini untuk mendengarkan keluh kesah ayah. Apakah ada sesuatu yang membuat ayah gundah?"
Dengan hati-hati, Yati menyampaikan apa yang harus dikatakan. Dia tahu, ini sulit. Tapi, ia tetap mencoba untuk sabar.
Tuan Wasito, kembali berbicara setelah beberapa saat berusaha agar lebih jelas.
"S ... sakit ... s-akit ha-hatttti ..."
Wanita itu terlihat fokus dan serius saat berpikir.
Tapi Pria tua itu terlihat memandang ke arah kosong karena fokus dalam memproses pikiran dan mencari solusi agar bisa bicara dengan baik.
Ingat dengan kondisi ayahnya, Yati ingat dengan tujuan awalnya datang ke Jakarta.
Jadi, menghadapi masalah dengan mantan Bos-nya tidak lagi dipikirkan terlalu dalam. Prioritas utamanya harus tetap pada kesehatan dan kebutuhan ayahnya. Jika memungkinkan, ia akan mengusahakan untuk memberikan pengobatan atau dukungan yang dibutuhkan ayah dengan bijaksana.
"N-nduk, Y-ati ... tang-ggung ja-awab ... ke-keluarrr-gaa ..."
"Ya, ayah. Aku berjanji untuk mengurus tanggung jawab ayah. Ayah tidak sendirian, kita akan hadapi ini bersama-sama."
Wanita itu langsung menyahut, saat ayahnya kesulitan bicara. Dan untungnya pria tua itu mengangguk perlahan-lahan sambil tersenyum tipis yang tidak terlihat dengan jelas.
__ADS_1
"Ayah, jika kamu merasa kesulitan, tolong beri tahu aku. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantumu. Ayah, tidak boleh menyerah, ya?"
Tuan Wasito kembali tersenyum sambil menyentuh pipi Yati, penuh dengan kasih sayang.
"Y-ati ... an-nakku ..."
Yati ikut tersenyum lembut. "Aku di sini untukmu, ayah. Aku menyayangi dengan sepenuh hati."
Wanita itu memeluk ayahnya, berharap dapat dengan kesabaran dan pengertian bisa membuat ayahnya bahagian. Meskipun ayahnya kesulitan berbicara dengan jelas dan lancar, Yati tetap berusaha untuk memahami perasaan dan kebutuhannya dengan penuh kasih sayang.
Kedekatan dan dukungan yang diberikan oleh Yati, diharapkan dapat membantu ayahnya merasa tenang meskipun dalam kondisi yang sulit.
Sebab ini juga, Yati harus mempertimbangkan kembali hubungannya dengan mantan Bos-nya.
"Tapi, aku masih kepikiran soal Mr Akihiko. Bagaimana bisa dia mamas aku untuk menerima warisannya?"
Apakah mantan Bos itu bisa memberikan dukungan atau membantu dengan masalah ayahnya tanpa menimbulkan masalah baru?
"Apa sebenarnya yang direncanakan Mr Akihiko kedepannya?"
Dia perlu melakukan evaluasi, apakah hubungannya akan sepadan dan baik untuk dilanjutkan.
Atau, Yati harus pergi secepatnya dari kota Jakarta?
"Ah, aku harus secepatnya mengambil keputusan," gumam wanita itu lagi, dengan merenung.
__ADS_1
Setelah berpikir lagi, dengan melihat keadaan ayahnya, Yati sudah mendapatkan keputusan yang harus diambilnya. Dia tidak mau terus menerus tertekan dengan pikirannya sendiri.
"Ya, aku harus menyelesaikan ini secepatnya!"