
Mobil yang membawa sang Kakek, berhenti di sebuah rumah dengan model bangunan biasa. Sama seperti kebanyakan rumah yang ada di sekitarnya.
Bedanya, rumah ini hanya ada pada pagar dan tembok tinggi yang mengelilingi, rumah tersebut. Selain untuk pembatas antara bangunan satu dengan yang lain, tembok dan pagar rumah juga berfungsi sebagai pengaman untuk penghuni rumah.
Tin-tin!
Supir membunyikan klakson mobil. Tak lama, pagar rumah bergerak menggeser ke samping. Ada penjaga rumah yang sudah membuka pintu pagar tersebut.
Kreeekkk!
Mobil bergerak masuk, setelah pagar terbuka, dan muat untuk ukuran mobil. Tak lama kemudian, mobil berhenti tepat di depan pintu rumah.
Bodyguard sang Kakek segera turun dan membuka pintu untuk Tuan Besar-nya itu.
Sang Kakek turun dan melangkah, tanpa mengucapkan terima kasih. Dia juga tidak melihat ke arah yang lain, dan terus berjalan masuk ke dalam rumah.
Para pelayan yang berpapasan, segera menundukkan kepalanya sopan, tanpa mengucapkan apa-apa. Tapi sang Kakek tidak menghiraukan semua itu. Dia terus saja melangkah, dan masuk ke dalam salah satu ruangan, yang merupakan sebuah kamar.
Tapi, setelah sang Kakek masuk ke dalam kamar tersebut, para pelayan dan bodyguard tidak ada yang ikut masuk ke dalam kamar tersebut.
"Apa kabar Sayang?" sapa sang Kakek, pada seseorang yang berada di dalam kamar, yang tadi dia masuki.
Orang yang dipanggil dengan sebutan 'Sayang' oleh sang Kakek, hanya diam saja, meskipun orang itu menoleh ke arah sang Kakek.
Namun tidak lama kemudian, dia mengalihkan perhatiannya lagi, pada boneka yang sedari tadi ada di atas pangkuannya.
Orang itu tampak biasa saja, sama seperti orang-orang pada umumnya. Kulitnya bersih, karena tetap mandi dan makan dengan teratur, meskipun dengan bantuan para pelayan yang mengurusnya.
Semua kebutuhan orang itu, disediakan dan dilayani oleh pelayan, serta penjaga rumah, yang memang dipekerjakan sebagai perawat untuknya. Dan mereka adalah orang-orang kepercayaan sang Kakek.
"Aku datang menjenguk dan ingin melihat keadaanmu." Sang Kakek kembali berkata sendiri, karena orang itu tetap diam dan hanya memperhatikannya saja.
Sekarang, sang Kakek berjalan untuk lebih dekat dengan orang itu. Setelah dekat, sang Kakek ikut duduk di samping orang itu, yang juga sedang duduk, di pinggir tempat tidur.
Orang itu mencoba untuk menggeser posisi duduknya, agar sang Kakek tidak terlalu dekat dengannya. Dia sepertinya merasa risih dan tidak nyaman dengan kedatangan sang Kakek.
__ADS_1
"Kamu tidak kangen denganku? Sudah hampir satu tahun ini, Aku tidak datang. Tapi sikapmu masih saja sama. Apa Kamu tidak mau bercinta denganku lagi, sama seperti puluhan tahun yang lalu?" Sang Kakek mencoba untuk mengingatkan orang tersebut, dengan kejadian waktu yang dulu, saat mereka berdua masih bersama dan orang itu dalam keadaan normal.
Orang yang sedang diajak bicara sang Kakek, mengalihkan atensinya, dari boneka yang sedang dia dekap, ke arah sang Kakek. Dia terlihat berpikir, karena tampak jelas, dengan semua kerutan pada kulit wajah, terutama pada keningnya.
"Apa Kamu ingat, dimana Kamu menyimpannya?" sang Kakek mulai bertanya lagi, karena merasa jika orang itu sedang mengingat dirinya.
Tapi pertanyaan yang diberikan oleh sang Kakek, tidak lagi sama seperti yang tadi, dan jauh berbeda.
"Pergi! Pergi dari sini! Jangan bawa anakku!"
Orang itu berteriak-teriak tidak jelas, sambil mendekap erat boneka yang ada ditangannya. Dia juga berdiri dan menjauh dari tempat duduknya ditepi ranjang, dimana sang Kakek juga ikut duduk.
"Aku tidak mau membawa anakmu. Aku hanya ingin bertanya, Kamu simpan dimana barang itu?" Sang Kakek tetap bertanya, meskipun orang itu tampak ketakutan, dengan mendekap bonekanya tadi.
Tapi ternyata, orang itu tidak juga mengatakan apa-apa, tentang semua pertanyaan yang diajukan oleh sang Kakek. Dia justru mengedarkan pandangannya, mencari sesuatu yang bisa dia pegang, kemudian dilempar ke arah sang Kakek.
Prang!
"Pergi!"
Usir orang itu pada sang Kakek. Dia melempar patung kecil, yang ada di pojokan, karena tidak menemukan barang yang tepat, untuk dia lemparkan pada sang Kakek.
"Hai! Aku hanya bertanya, dan Aku sudah bosan menunggu waktu, sampai Kamu ingat dimana dan kemana barang itu Kamu simpan. Aku muak dengan semua ini. Apa Kamu tidak ingin tahu, dimana anakmu?"
Sepertinya, sang Kakek mulai memancing ingatan dan emosi orang itu. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada sang Kakek, sehingga dia tampak sangat marah.
Dan semua kejadian yang terjadi di dalam kamar, tidak ada yang berani ikut campur. Meskipun hal ini sudah sering terjadi, tapi mereka semua tahu bahwa, sang Kakek tidak mungkin membiarkan orang tersebut terluka, ataupun terjadi sesuatu padanya.
Sang Kakek sangat menjaga orang tersebut, meskipun dalam keadaan mental yang terganggu.
Itu juga yang menyebabkan sang Kakek mengawasinya, dengan orang-orang kepercayaannya, yang menjadi pelayan dan penjaga rumah. Dan mereka, bukan orang sembarang. Mereka terlatih, sehingga keamanan orang yang dia lindungi itu tetap terjamin, dengan biaya yang dikeluarkan oleh sang Kakek sendiri.
Tapi demi sesuatu yang sangat penting, sang Kakek harus bersabar untuk menunggu hingga orang itu sembuh dari depresiasinya, dan bisa kembali mengingat semua hal yang dua ketahui.
Sebuah rahasia, yang bisa mengancam keselamatan beberapa orang, termasuk sang Kakek sendiri.
__ADS_1
*****
"Hai, apa yang Kamu lakukan?" teriak Mr Ginting, pada sepupunya, Surya Jaya, yang sedang memperhatikan Yati.
"Aku? tidak apa-apa. Cu_cuma lihat bunga-bunga itu saja," jawab Surya Jaya mengalihkan perhatiannya, dari kolam renang ke taman yang ada di sampingnya.
Saat ini, mereka berdua sedang ada di teras samping, dimana ada kolam renangnya. Sedangkan Yati, sedang berenang sendirian.
Tentu saja, jawaban yang diberikan oleh Surya Jaya, tidak dipercaya oleh Mr Ginting. Dia tahu bahwa, adik sepupunya itu sedang memperhatikan istrinya tadi, dan bukan pada taman.
"Awas saja ya!"
Mr Ginting mengancam sepupunya itu, supaya tidak macam-macam dengan istrinya, Yati.
"Apa sih! gak jelas Mas Ginting ini," ucap Surya Jaya, sambil melengos.
Sekarang, Surya Jaya merasa tidak enak hati, karena ketahuan jika sedang memperhatikan kakak iparnya, yang saat ini masih berenang, dan tidak menyadari keberadaannya.
Yati memang tidak tahu, jika ada Surya Jaya, yang duduk di kursi dekat dengan taman. Dari tempatnya berenang, tempat duduknya Surya Jaya, tertutup dengan beberapa daun yang ada di taman tersebut. Jadi tidak begitu jelas.
Saat ini, Surya Jaya dan Mr Ginting sedang berbicara, Yati juga tidak tahu. Dia masih asyik bermain air dan melakukan gerakan renang seperti biasanya.
Baru setelah Mr Ginting melangkah ke arahnya, Yati melihat kedatangan suaminya itu.
"Ayok berenang Mr. Mumpung cerah. Biar gak panas juga," ajak Yati, dengan memberikan alasan.
Dia melihat Mr Ginting, yang wajahnya sedang tidak baik-baik saja. Itulah sebabnya, Yati mencoba untuk mengajaknya berenang, supaya Mr Ginting melupakan masalah yang sedang dia pikirkan.
"Kamu ini berenang sendirian, kenapa tidak ajak-ajak tadi?" Mr Ginting justru menyalahkan Yati. Dia merasa kesulitan untuk menegur istrinya itu, supaya tidak membuat adik sepupunya mengintip dirinya yang sedang berenang sendirian.
Tapi karena Yati tidak tahu, dia jadi merasa bingung dengan perkataan suaminya.
"Tadi Mr sedang memeriksa beberapa pekerjaan, jadi Aku pikir untuk berenang saja sendiri. Aku takut, ajakan ku justru membuat Mr jadi marah, dan jengkel, karena terganggu."
Yati memberikan alasan, kenapa dia tidak mengajak suaminya, untuk ikut berenang bersama dengannya.
__ADS_1
Sekarang, mereka berdua Mr Ginting dan Yati, berenang dan bermain air bersama.
Di tempat duduknya, Surya Jaya, hanya bisa menghela nafas panjang, melihat ke arah kakak sepupunya dan iparnya, yang terlihat bahagia. Sedangkan dirinya, hanya bisa membayangkan, bagaimana seandainya Mr Ginting itu adalah dirinya. Lamunan yang membuat Surya Jaya, tersenyum seorang diri.