Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Kabar Duka 1


__ADS_3

Di hari kelabu yang menggelayut


Gundah merajut dalam benak yang hampa


Namun jangan biarkan hati terperangkap


Ada cahaya tersembul, meski tak terlihat


Langit biru menyelimuti awan yang lembut


Seperti harapan yang tetap bergelayut


Gundah pun akan berlalu seperti angin


Bersama waktu, akan tiba saat bahagia singgah lagi


Jika hari gelap datang menghampiri


Ingatlah bahwa setiap malam berujung fajar


Hingga mentari terbit dengan sinar bercahaya


Gundah hanya titipan, segera pergi menjauh


Lihatlah bunga yang merekah di taman


Mengajarkan bahwa keindahan tumbuh dari dalam


Seperti itu pula, dalam gundah kita tumbuh kuat


Menuju hari yang cerah, di hati yang tenang dan bahagia


(Yati)


***


Di relung hati yang pilu, seorang pria terhanyut


Memikirkan wanita di kejauhan, di saat hati terguncang


Namun takdir berkata lain, hadir cobaan yang berat


Mamanya sakit, membutuhkan kasih, cinta yang tulus tak tergantikan


Dalam bimbang ia berada, antara cinta dan tanggung jawab


Namun sejuta doa ia panjatkan, agar kesehatan ibunda terjaga


Wanita yang dicintainya pasti akan memahami


Bahwa dalam keterbatasan, ia tetap berusaha hadir di sisi sang ibu


Terkadang cinta mengajarkan kesabaran dan pengorbanan


Ia belajar merangkul dua perasaan, dalam penuh pengertian

__ADS_1


Wanita yang layak akan mengerti, bahwa keluarga adalah prioritas


Dan bersama-sama menghadapi ujian, cinta mereka akan semakin kuat


Jadi biarkan waktu mengukir cerita, dalam perjalanan ini yang berliku


Cinta sejati akan tetap bersinar, seiring kasih yang tulus dan ikhlas


Mungkin hari ini berat, namun besok matahari akan bersinar


Kesehatan akan kembali, dan cinta serta keluarga akan bersatu lagi


(Biyan)


***


Seminggu kemudian.


Di dalam ruangan tunggu rumah sakit, suasana penuh kecemasan dan kegelisahan menggelayut. Dinding-dinding putih yang steril, kursi-kursi yang tersusun rapi, serta suara langkah kaki yang terdengar samar-samar menciptakan atmosfer yang tegang. Cahaya neon redup dari langit-langit memberikan sentuhan tak nyaman pada suasana yang sudah terasa mencekam.


Di salah satu sudut ruangan, Biyan duduk bersama dengan tiga saudaranya. Ekspresi wajah mereka mencerminkan beragam perasaan, mulai dari cemas hingga harapan. Mereka saling pandang, tak banyak kata yang diucapkan, karena kekhawatiran yang mendalam hampir membuat mereka kehabisan kata-kata.


"Bagaimana kondisi mama dan ayah sekarang?" tanya kakaknya Biyan, yang pertama.


"Dokter mengatakan mereka semakin lemah. Ini membuat semuanya semakin berat," jawab kakak kedua, yang seorang wanita.


"Aku tidak pernah membayangkan situasi akan menjadi seburuk ini," kembaran Biyan, mengusap wajahnya kasar.


"Kita harus tetap kuat. Mama dan ayah perlu kita semua bersama mereka," sahut Biyan, menenangkan ketika saudaranya supaya tidak kehilangan harapan.


Saat mereka duduk di kursi-kursi yang terlihat nyaman, perasaan tak berdaya dan kecemasan muncul. Tangan-tangan mereka seringkali saling bertaut, mencoba memberikan dukungan emosional dalam situasi yang tak pasti ini.


"Mengapa semuanya terasa begitu berat?" Kakak Pertama tiba-tiba berkata dengan menatap jendela.


"Ini adalah ujian yang tak terduga bagi kita semua," sahut Biyan dengan memandang ke lantai, yang tentunya tidak bisa diajaknya bicara.


"Kita harus tetap berdoa, jangan kehilangan harapan dan tetap berharap yang terbaik."


Saudara Kedua berbicara dengan suara bergetar, merasakan tekanan kesedihan. Apalagi ia baru saja melahirkan anak keduanya.


Tiba-tiba, pintu ruang tunggu terbuka dan seorang perawat muncul dengan ekspresi yang serius.


"Keluarga dari pasien ...?" tanya perawat tersebut.


"Kami di sini, Sus."


Mereka berempat, berbarengan berdiri. Menunggu kabar dan berita yang akan disampaikan oleh perawat tersebut.


"Maaf, Dokter ingin berbicara dengan anda semua." Perawat mengangguk, setelah menyampaikan pesan dari dokter.


Mereka berempat menganggukkan kepala dan berjalan perlahan menuju ruangan dokter. Langkah mereka terasa berat dan ragu-ragu. Dalam situasi yang penuh tekanan dan ketidakpastian ini, mereka harus menghadapi berita yang mungkin akan mengubah segalanya.


Dalam hati mereka, doa dan harapan masih tetap ada, meskipun situasi tampak semakin sulit. Tapi mereka hanya bisa pasrah.


Mereka berjalan masuk ke ruangan dokter dengan perasaan yang berat dan tegang. Ruangan tersebut terasa lebih terang dari ruang tunggu, tetapi suasana yang ada tetaplah terasa tegang bagi mereka semua.

__ADS_1


Dokter duduk di belakang meja, mengamati mereka dengan ekspresi yang penuh perhatian.


"Mohon duduk. Saya mengerti situasinya sangat sulit saat ini," sambut Dokter dengan mengangguk, mempersilahkan mereka untuk duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya. Yang dua orang tidak kebagian akhirnya berdiri.


Kakak pertama dan kedua yang wanita, duduk di kursi yang tersedia, menatap dokter dengan perasaan cemas yang tak terungkapkan. Sama seperti Biyan dan juga kembarannya.


"Kondisi Nyonya Cilla dan Tuan Sangkoer Shing sedang kritis. Meskipun kami telah melakukan yang terbaik untuk merawat mereka, tubuh mereka semakin lemah dan sulit untuk bertahan."


Sangkoer Shing, ayah tiri mereka memang kondisinya semakin menurun setelah mama mereka dirawat selama 4 hari. Jadi, mereka sengaja membawa ayah tirinya untuk dirawat di rumah sakit yang sama, supaya mereka lebih mudah menjaga dan mengawasi.


Wajah-wajah mereka merasakan pukulan berat, dan suasana di ruangan itu semakin mendalam dalam kesedihan.


"Apakah ... apakah masih ada harapan untuk mereka?" tahta kakak Pertama dengan suara bergetar.


"Kami terus melakukan perawatan intensif, tetapi kondisi mereka semakin memburuk. Yang paling penting sekarang adalah menjaga mereka dengan nyaman, dan selalu berdoa." Dokter, menjawab seperti biasa secara diplomatis.


Mata mereka berkaca-kaca, apalagi kakao perempuan Biyan. Wanita itu justru sudah menangis, seakan-akan sudah merasa kehilangan yang mendalam.


Mereka merasa seperti ada lubang besar yang muncul di dalam hati mereka. Gelap dan tidak bisa mereka raba.


"Apakah ... berapa lama?" tanya Biyan, seperti tahu apa maksud dari perkataan dokter barusan.


"Saya tidak bisa memberi perkiraan pasti. Semua kembali kepada tubuh dan kondisi masing-masing pasien. Yang bisa kita lakukan adalah tetap memberikan perawatan terbaik."


Biyan menutup matanya sejenak, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. Ini adalah momen yang tidak pernah diinginkan oleh siapa pun di dalam ruangan itu, karena mereka memang sangat dekat dengan sang mama.


"Kami ... kami akan terus mendukung mereka sebaik mungkin, hiks ..."


Saudara Kedua, yang perempuan satu-satunya, berkata dengan menahan tangis. Tapi bahunya sudah terguncang, menandakan bahwa tangisnya sudah pecah


"Kalian adalah keluarga, dan keluarga adalah hal terpenting dalam momen seperti ini. Mereka akan merasa nyaman jika merasa dikelilingi oleh orang-orang yang mereka cintai," ungkap Dokter dengan rasa penuh empati.


Setelah berbicara lebih lanjut dengan dokter, mereka keluar dari ruangan dengan hati yang berat. Mereka berjalan kembali ke ruang tunggu, tetapi suasana yang ada sekarang adalah kehampaan dan duka yang mendalam.


Meskipun belum ada kepastian, namun bayang-bayang kehilangan yang mendekati semakin kuat dalam hati mereka.


Saat mereka kembali ke ruang tunggu, suasana menjadi semakin hening dan murung. Kursi-kursi yang dulu terlihat nyaman sekarang terasa tak bersahabat, mengingatkan mereka pada kenyataan yang sedang mereka hadapi.


Dalam keheningan yang berat, mereka saling pandang dengan mata yang penuh perasaan campur aduk.


"Hiks ... kenapa semuanya terasa begitu sulit?" Kakak perempuan Biyan, menangis.


"Kita harus tetap bersama dalam keadaan seperti ini, dan mama akan lebih bersedih melihatmu seperti ini." Saudara pertama, menggenggam tangan adiknya dengan memberikan nasehat.


Waktu terasa seperti berhenti. Mereka duduk di ruang tunggu, terperangkap dalam pikiran dan perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sudah banyak air mata yang ditahan, tetapi saat ini mereka mulai mengalir dengan sendirinya.


Saat air mata mulai mengalir, perasaan kesedihan yang mendalam terasa semakin kuat. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain saling berpegangan tangan dan mencari dukungan satu sama lain.


Di tengah rasa sedih yang memenuhi ruangan, mereka merasakan adanya kebersamaan yang menguatkan.


"Mama dan ayah selalu ingin kita bersama, bahkan dalam situasi sulit seperti ini. Mungkin, mereka ingin bertemu dan berkumpul dengan bapak Aji."


Saudara Pertama Biyan, menatap jauh entah kemana. Membayangkan sesuatu yang dulu sempat mereka rasakan, pada saat Papa kandung mereka masih hidup.


Wajah-wajah mereka basah oleh air mata, tetapi saat ini mereka juga mencoba menemukan kebersamaan dalam kegelapan yang tengah mereka hadapi.

__ADS_1


Meskipun hati mereka terasa berat, mereka juga tahu bahwa cinta dan dukungan yang mereka bagikan adalah apa yang akan membantu mereka melewati masa-masa sulit seperti ini.


__ADS_2