
Jamuan makan malam terus berlanjut dengan acara berbincang-bincang dengan santai. Yati dan Mr Ginting, yang tadi pergi ke ruang kerja sang kakek, sudah keluar dan ikut berbincang-bincang dengan yang lain. Meskipun sebenarnya, Mr Ginting lebih banyak diam dari pada ikut berbicara.
Yati juga melakukan hal yang sama. Dia hanya diam dan tersenyum tipis, tanpa banyak ikut berkomentar atupun bertanya-tanya, pada lawan bicaranya.
Selain mengikuti kemauan Mr Ginting, dia juga harus sadar diri jika, di sini sebenarnya bukan dunia dia yang sebenarnya. Dia juga tidak tahu apa-apa, jadi Yati hanya bisa diam sambil mengamati.
Tak lama kemudian, Mr Ginting mengajak Yati untuk pulang. Bukan ke rumah yang kemarin dia tempati untuk pelatihan diri, tapi ke rumah Mr Ginting sendiri. Tak jauh dari rumah kakeknya ini.
"Kamu pulang ke mana Ginting?" tanya kakek, saat Mr Ginting berpamitan.
"Ke sana," jawab Mr Ginting pendek, dengan menunjuk arah samping, memakai dagunya.
"Oh ya, jangan lupa ya, beri Kakek ini segera kabar, bahwa ada cicit di dalam perutmu. Hehehe... nikmati malam-malam Kalian berdua, sebelum pesta pernikahan kalian Aku kabarkan."
Yati hanya tersenyum mendengar perkataan sang kakek. Sedangkan Mr Ginting, tersenyum dengan mencibir kakeknya tadi.
Akhirnya, Yati dan Mr Ginting keluar dari dalam rumah kakek dan pergi meninggalkan rumah tersebut dengan mobil yang tadi pengantar Yati ke rumah ini.
Rumah Mr Ginting, hanya berbeda dua rumah dari rumah kakeknya. Tapi karena rumah-rumah di sana besar dan dengan halaman yang sangat luas, jadilah jaraknya terkesan sangat jauh.
Yati mengikuti Mr Ginting yang keluar dari dalam mobil, saat penjaga rumah membukakan pintu.
Dia juga mengikuti langkah Suaminya itu, untuk masuk ke dalam rumah.
Setelah berjalan beberapa saat kemudian, Yati pikir lebih dari lima menit jalan dari pintu ke sebuah ruangan tamu atau ruang tengah, Yati disuruh duduk.
"Duduklah," kata Mr Ginting memerintah.
Yati menurut. Dia duduk di sofa dengan ukuran besar, yang mungkin bisa di pakai untuk tidur, tanpa harus takut jika akan terjatuh ke lantai.
Mr Ginting meninggalkan Yati di tempatnya duduk seorang diri. Entah pergi ke mana lagi Mr Ginting, Yati juga tidak bertanya.
Tak lama kemudian, seorang pelayan laki-laki, datang dan meminta pada Yati untuk ikut dengannya.
__ADS_1
"Miss Kiara. Mari ikut dengan Saya," kata pelayan tadi, dengan membungkuk hormat.
Yati berdiri, mengikuti pelayan tadi tanpa banyak bertanya.
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, Yati dipersilahkan untuk masuk ke dalam sebuah kamar.
"Silahkan masuk dan beristirahat. Semua keperluan miss Kiara, sudah di sediakan di dalam kamar ini. Jika ada sesuatu yang diperlukan, tekan saja tombol yang ada di bawah saklar lampu tidur. Kami akan segera datang," kata pelayan tadi.
Yati mengangguk saja, meskipun dia belum memahami semua perkataan pelayan itu. Dia berpikir jika nanti juga akan terbiasa dan tahu dengan sendirinya.
Sebuah kamar yang sangat luas, dengan cat tembok warna putih tanpa warna yang lain. Tidak terdapat banyak hiasan di dinding. Hanya dua lukisan yang tidak di mengerti, gambar apa itu, oleh Yati.
Yati mengabaikan semua itu. Dia berjalan ke arah ranjang ukuran besar, yang tentunya bisa dipakai untuk berguling-guling tanpa takut jatuh dari ranjang tersebut. Ukuran king size yang tidak semua orang miliki.
Semua barang yang ada di kamar ini, semuanya istimewa. Termasuk cermin besar yang ada di didekat pintu kamar mandi.
Yati menghela nafas panjang, kemudian merebahkan diri di ranjang. Dia memejamkan mata, untuk merasakan kenyamanan tidur di ranjang tersebut.
Tak lama, Yati benar-benar tertidur. Dia tidak sadar, jika semua yang dia lakukan dipantau oleh Mr Ginting, dari ruangan sebelah, mengunakan cctv yang sudah dia pasang sebelumnya.
Ruangan yang ditenagai Mr Ginting, adalah sebuah ruang yang sudah dibuat khusus sebagai tempat dia bekerja, dan melakukan aktifitas yang lebih privasi. Ada tempat tidur dan juga almari pakaian. Ada kamar mandi khusus juga di ruangan tersebut.
Selain itu, ada pintu penghubung, antara kamar yang saat ini sedang ditempati oleh Yati, dengan ruangan kerjanya Mr Ginting. Jadi, sebenarnya kamar Yati dan ruangan Mr Ginting adalah satu.
Tapi, pintu penghubung antar kamar itu tidak tampak di kamar Yati, karena memang di desain sedemikian rupa, sehingga tidak tampak seperti sebuah pintu. Tapi lebih mirip cermin kaca, karena memang dilapisi dengan cermin besar, yang ada di dekat pintu kamar mandi.
Hanya Mr Ginting dan arsitektur yang tahu rahasia ini. Apalagi Yati, yang baru saja datang ke rumah ini. Dia hanya tahu, jika dirinya dan Mr Ginting, berbeda kamar.
*****
"Hoammm..."
Yati bangun tidur dengan mengeliat. Dia juga menguap lebar. Dia lupa jika sedang tidak berada di rumahnya sendiri atau di kost-kostan.
__ADS_1
Setelah sadar, karena Yati melihat cermin besar yang tepat berada di hadapannya saat ini, karena dia dalam keadaan posisi miring, segera menutup mulutnya sendiri.
"Ah, untung saja tidak ada orang," kata Yati, dengan bernafas lega.
Setelah bangkit dan duduk, Yati merapikan rambutnya, kemudian turun dari tempat tidur dan melangkah menuju ke arah kamar mandi.
Dia merasa ingin mandi dan melepaskan lelahnya, yang tadi baru dituntaskan dengan tidur saja.
"Kamar mandi apa ruang salon ini?"
Yati tertegun sendiri, melihat keadaan kamar mandi yang ada di kamarnya ini.
Sebuah bath tub ukuran besar ada di dalam ruangan tembus pandang. Lemari pakaian yang ada di sisi lain, juga sudah ada banyak baju-baju dengan model yang modis dan semuanya masih baru.
Dari bandrol-bandrol pakaian tersebut, Yati terbelalak melihatnya.
"Ini sebenarnya baju siapa?" tanya Yati ingin tahu.
Yati, akhirnya mencoba satu buah baju, dari sekian baju yang ada.
"Hemmm, pas. Apa ini yang tadi disebutkan pelayan, jika semua keperluanku sudah ada di dalam kamar ini?" Yati bertanya-tanya dalam hati.
"Semoga saja iya. Jadi aku tidak lancang dengan makainya nanti."
Akhirnya, Yati pergi mengisi bath tub dengan air hangat. Dia menaburkan bubuk sabun aroma terapi, yang juga sudah tersedia.
"Aroma sakura? kalau begitu, Aku yakin, jika yang dikatakan pelayan tadi, memang benar, termasuk semua baju-baju tadi. Tapi, kenapa Mr Ginting sampai seperti ini, memperlakukan Aku? Padahal ini hanya sebuah rekayasa saja."
Yati terus berpikir dan bertanya-tanya apa, dan kenapa. Dan pada akhirnya, dia mengangkat kedua bahunya, tanda masa bodoh. "Terserah Mr Ginting. Toh orang kaya, mau apa juga bisa. Aku hanya perlu menikmati semua ini, sebelum waktunya Aku dikembalikan."
Setelah itu, Yati membuka bajunya dan masuk ke dalam bath tub, untuk berendam dan merasakan sensasi aroma sakura kesukaannya.
"Nikmati saja Yati. Ini kesempatan yang langka dan mungkin, tidak akan ada untuk kedua kalinya,"gumam Yati seorang diri.
__ADS_1
Yati pun tersenyum dan memejamkan mata, sambil berendam. Menikmati kemewahan yang diberikan oleh 'suaminya' Mr Ginting.