Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Keinginan Kakek Mr Ginting


__ADS_3

"Tentu saja Aku normal Kek. Apa Kakek meragukan keperkasaan Ginting?"


Tiba-tiba, dari arah samping muncul Mr Ginting. Dia langsung menjawab pertanyaan dari kakeknya, tanpa ada yang meminta.


Sedangkan Yati, yang belum terpikirkan untuk menjawab apa, dengan pertanyaan dari sang kakek, hanya bisa menghela nafas lega, karena merasa terbantu dengan kedatangan suaminya itu. Dia merasa sangat yakin, jika Mr Ginting tidak bisa tenang di kantor, saat dia menelponnya, untuk meminta ijin atas undangan kakeknya itu.


Meskipun Yati lega karena kedatangan suaminya itu, tapi kedatangannya yang tanpa pemberitahuan ke rumah kakeknya ini, tentu saja membuat Yati terkejut.


Begitu juga sang kakek, yang sama terkejutnya, karena tidak pernah menyangka, jika cucunya itu, akan menyusul istrinya usia undang ke rumah.


Mereka berdua tidak menyangka bahwa, Mr Ginting akan datang menyusul juga.


Mr Ginting, melangkah ke arah Yati, dengan diikuti oleh pandangan sang kakek dan juga Yati sendiri.


Yati tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu dengan menyusul dirinya. Padahal tadi dia sudah meminta ijin. Dan Mr Ginting, tidak mengatakan jika dia akan menyusulnya.


Mr Ginting dengan percaya diri mengecup kening istrinya, kemudian berganti mencium bibir.


Sepertinya, Mr Ginting sengaja memamerkan kemesraan mereka berdua pada sang kakek, untuk menepis kecurigaan yang tadi dia dengar, saat masuk ke ruang tengah.


"Apa Kakek ingin melihat kami bermain?" tanya Mr Ginting menantang kakeknya. Dia tampak tersenyum miring, kemudian duduk sambil mengengam tangan istrinya, Yati.


"Hahaha... Apa Kamu datang menyusulnya, karena merasa terancam?" tanya sang kakek, yang terdengar ambigu di telinga Yati.


Yati tidak tahu, apa maksud dari jawaban yang diberikan oleh sang kakek.


"Aku pikir, Kakek tidak mungkin kuat, dan bisa memberikan kepuasan kepadanya. Kakek harus sadar diri, jika usia Kakek sudah tidak lama lagi, jadi mending tidak usah mencari masalah. Apalagi dengan Aku."

__ADS_1


Yati semakin bingung dengan perkataan suaminya barusan. Dia tidak memahami arti perdebatan mereka kali ini.


Entah apa yang sebenarnya mereka bicarakan, Yati tidak paham dan juga tidak tahu harus berbuat apa. Jadi, lebih baik Yati memilih untuk tidak ikut berbicara dan hanya bisa diam saja untuk mengamati mereka berdua.


Antara Mr Ginting dan kakeknya, masih membicarakan sesuatu yang tidak dipahami oleh Yati. Dan akhirnya, Yati meremas tangan suaminya itu, yang masih mengengam tangannya sedari tadi.


Mr Ginting segera sadar dan menoleh ke arahnya.


Yati mengeleng, di saat Mr Ginting menatapnya, dan melupakan perdebatannya dengan sang kakek.


"Kita pulang saja yuk! tidak usah dipikirkan pertanyaan dari kakek tadi. Bukankah Kamu sudah membuktikannya sendiri, jika Aku kuat dan bisa memuaskan Kamu?"


Yati menunduk malu. Wajahnya juga memerah. Hal yang disukai oleh Mr Ginting, jika Yati dalam keadaan seperti ini. Dia akan terlihat seperti gadis-gadis biasa, yang polos dan tabu untuk membicarakan tentang hal yang privasi. Apalagi saat ini mereka sedang berada di depan sang kakek.


Mr Ginting jadi merasa sangat senang, karena merasa yakin bahwa, kakeknya itu, akan percaya jika mereka memang mempunyai hubungan yang baik dan tidak seperti yang dia pikirkan.


Tapi sang kakek percaya, dengan apa yang dia lihat sekarang ini. Semua tampak normal, dan biasa untuk pasangan baru seperti mereka berdua. Malu-malu kucing, yang mirip dengan sebuah kisah anak-anak muda yang baru saja jatuh cinta.


Akhirnya, Mr Ginting mengajak Yati untuk pulang, dengan alasan bahwa dia ingin bermain-main.


"Ayok kita pulang. Kita bisa bermain-main tanpa ada yang menggangu kegiatan kita berdua."


Yati hanya tersenyum mendengar perkataan suaminya. Dia melirik ke arah sang kakek, yang terkekeh tanpa bersuara.


"Tidak sopan meninggalkan kakek sendiri. Kita tidak boleh pulang begitu saja, sebelum mengetahui tentang keinginan apa yang kakek mau," jawab Yati, sambil melirik lagi ke arah kakeknya Mr Ginting.


Akhirnya, Mr Ginting menoleh ke arah kakeknya, kemudian bertanya, "apa sebenarnya yang ingin Kakek bicarakan dengan istri Saya ini? cepat katakan Kek, kami ingin segera pulang ke rumah."

__ADS_1


Yati melihat ke arah suaminya, yang sedang berbicara dengan kakeknya, dengan mata memicing. Dia merasa jika Mr Ginting, sedang kesal karena kakeknya itu terlalu mencampuri urusan pribadinya, terutama untuk urusannya dalam berkeluarga. Padahal mereka berdua, baru saja menikah. Jadi tidak mungkin harus dituntut untuk secepatnya memiliki anak.


Begitulah kira-kira yang diinginkan oleh sang kakek, pada cucunya. Dan Mr Ginting, tahu betul bagaimana pemikiran sang kakek untuknya.


"Kakekmu ini tidak meminta banyak hal Ginting. Kakek hanya meminta pada istrimu itu, dengan kabar gembira untuk bulan depan. Jika Kamu belum bisa memberinya benih yang baik, kalian bisa cek ke rumah sakit di mana saja yang kalian inginkan. Itu tidak masalah untuk Kakek, asal Kalian benar-benar serius memberikan cicit untuk Kakek."


Mr Ginting menghela nafas panjang. Tapi dia tetap tidak lagi mengatakan apa-apa.


"Kami berdua baru saja menikah Kek. Tidak perlu terburu-buru untuk bisa memiliki momongan. Yang penting, kami tetap ada keinginan untuk punya anak dan terus berusaha. Toh kami masih muda, masih ada banyak waktu. Kecuali jika kami sudah lama menikah dan belum juga ada anak. Biarkan kami berusaha secara alami, dan tidak dengan medis terlebih dahulu. Kami juga masih ingin menikmati hari-hari kami sebagai pengantin baru. Apa ada libur kantor? Ginting tidak ada libur Kek, jadi jangan terus mendesak kami. Atau terpaksa kami akan kembali ke Australia, karena merasa tertekan dengan semua keinginan Kakek. Kapan Ginting pernah membantah keinginan dari Kakek? apa pernah Ginting menolak semua yang sudah Kakek atur untuk masa depan Ginting? jadi, biarkan kali ini Ginting berpikir dan bertindak sendiri, sebagai seorang laki-laki dewasa."


Sang kakek terdiam, mendengar semua perkataan cucunya itu. Dia menyadari, bahwa semua yang dia lakukan ini salah. Dia terlalu menekan cucunya, dengan semua ambisi dan kemauannya sendiri.


Sang kakek menghela nafas panjang kemudian membuangnya perlahan-lahan. Dia tidak mau lagi berbicara, jika sekarang ini cucunya itu memang sudah dewasa dan bisa berpikir sendiri.


Sang kakek hanya merasa jika, cucunya itu masih sama seperti dulu. Tetap anak kecil yang harus dia awasi dan dia arahkan untuk semua kebaikan sendiri. Karena memang sedari kecil, sang kakeklah yang mengurus dan mengatur semua aktivitasnya.


Jadi, kebiasaan sang kakek yang mendekte Mr Ginting jadi terbawa hingga sekarang ini.


"Baiklah. Maafkan Kakek kalau begitu. Kakek hanya memikirkan hal yang baik untuk kalian berdua. Tapi kakek juga lupa, bahwa kalian bukan lagi anak-anak yang tidak tahu apa-apa." Sang kakek mengatakan semua itu dengan mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.


"Oh ya Kiara. Maafkan Kakek ya, dan terima kasih untuk waktunya, karena mau menemani kakek makan siang di rumah," imbuh sang kakek pada Yati.


Kini, Mr Ginting berniat untuk berpamitan pada kakeknya itu. Dia ingin mengajak istrinya pulang ke rumah.


Dia tidak mau, jika semuanya akan terbongkar dan berakhir sia-sia.


"Ayok!" ajak Mr Ginting pada Yati. Dia berdiri dan mengulurkan tangannya untuk dipegangi oleh Yati.

__ADS_1


Mereka berdua, akhirnya berpamitan pada sang kakek, untuk pulang ke rumah mereka sendiri.


__ADS_2