Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Menolak Perasaan Yang Ada


__ADS_3

Yati baru saja masuk ke dalam ruangan, tempat di mana kang Yoga di rawat. Ada bapak nya kang Yoga, yang sedang menunggui, karena ibunya sudah tidak bisa ikut menunggui. Ibunya kang Yoga, juga sudah lama sakit-sakitan.


Itu juga yang membuat Mbok Minah kasihan, sehingga ikut menjaga kang Yoga, secara bergantian dengan bapaknya.


Pak supir juga ikut masuk. Dia juga menonaktifkan handphone miliknya, sama seperti yang dilakukan oleh Yati tadi, sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut.


Handphone itu mereka nonaktifkan, agar tidak menggangu jika ada panggilan masuk.


Pasien di ruangan itu, sedang beristirahat dan membutuhkan ketenangan.


Dan begitulah peraturan rumah sakit, yang saat ini merawat kang Yoga. Rumah sakit rujukan dari rumah sakit sebelumnya, karena di rumah sakit yang dulu, fasilitas kesehatan tidak selengkap dan secanggih yang ada di rumah sakit ini.


Kang Yoga hanya bisa mengangguk samar, saat melihat kedatangan Yati. Dia juga tampak tersenyum, meskipun gagal membentuk sebuah senyuman yang sempurna.


Keadaannya begitu lemah. Membuat Yati merasa tidak tega, melihat kang Yoga saat ini.


Akhirnya, dia hanya bicara apa yang perlu dia sampaikan, berharap agar kang Yoga bisa cepat sembuh dari penyakitnya itu.


"Kang Yoga tidak usah banyak pikiran. Tidak usah memikirkan uang Yati. Yang penting, kang Yoga sembuh, itu saja. Yati juga tidak bisa bantu apa-apa buat kang Yoga."


Bapaknya kang Yoga, ikut mendengarkan perkataan Yati dengan mata berkaca-kaca. Dia terharu, dengan perkataan Yati, yang sudah banyak membantu anaknya itu. Tapi, dia juga tidak bisa berkata apa-apa, karena tenggorokannya seakan-akan tersekat, sehingga tidak bisa mengeluarkan suara.


Kang Yoga juga hanya bisa mengangguk. Dia menitikkan air mata, tanpa bersuara.


Yati tersenyum, melihat kang Yoga yang masih bisa merespon maksud perkataannya yang tadi. Dan sekarang dia ingin bertemu dengan dokter, yang menangani kang Yoga.


"Kita cari dokter yang menangani kang Yoga Pak," ajak Yati, pada pak supir.


"Baik Miss," jawab pak supir patuh.


Sekarang, Yati di antar oleh Pak supir dan bapaknya kang Yoga, menemui dokter. Dia ingin meminta pada dokter tersebut, untuk menangani semua yang perlu, meskipun itu memerlukan biaya yang besar.


Ternyata dokter mengatakan bahwa, penyakit kang Yoga ini tidak hanya liver, tapi juga ada masalah pada ususnya, sehingga membuatnya membusuk. Jadi, diperlukan operasi pemotongan pada usus kang Yoga, agar usus yabg bermasalah dan busuk, tidak menjalar dan mempengaruhi bagian yang lain.


Yati mengangguk paham dan mengerti apa yang dikatakan oleh dokter tersebut. Dia minta supaya semua yang diperlukan untuk kesembuhan kang Yoga dilakukan. Dia juga meminta persetujuan dari bapaknya kang Yoga, agar operasi itu segera dilakukan, demi keselamatan kang Yoga sendiri.


"Bapak banyak berterima kasih pada nak Yati. Bapak ini sudah tua, dan tidak tahu apa-apa. Bapak juga tidak punya biaya yang besar untuk pembiayaannya juga. Nanti, jika Yoga sudah sehat lagi, tapi tetap tidak bisa melunasi uang yang dari nak Yati, Bapak rela, rumah dan tanah Bapak sebagai gantinya. Tapi, biar Bapak tetap menempati sampai Bapak tidak ad lagi. Boleh kan nak Yati?"


Yati mengeleng dengan cepat, dan mengengam tangan bapaknya kang Yoga.


"Bapak tidak usah memikirkan uang. Yati ikhlas. Pak. Yang penting, kang Yoga bisa sehat lagi."

__ADS_1


Akhirnya, jadwal operasi untuk kang Yoga, akan dilakukan besok nanti malam, sekitar jam sepuluh.


Bapaknya kang Yoga, yang menandatangani surat pernyataan untuk operasi tersebut.


Sedang Yati, bersama dengan pak supir, pergi ke bagian administrasi, untuk membayar semua biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan kang Yoga, hingga sembuh nanti.


"Miss, Mr Ginting menelpon. Maaf, tadi kita sedang menonaktifkan handphone saat di kamar pasien," kata pak supir memberitahu Yati.


Kini, dia membalas pesan dari Mr Ginting, dan melaporkan semua kegiatan Yati, yang ada di rumah sakit. Dia juga menceritakan tentang keadaan kang Yoga yang di rawat di rumah sakit ini.


Tadi, saat Yati berbicara dengan petugas administrasi, pak supir mengaktifkan kembali handphone miliknya. Dan tak lama kemudian, ada notifikasi yang masuk, memberitahu bahwa ada beberapa panggilan dan pesan dari Mr Ginting.


"Oh."


Yati tampak kaget, dan segera mengaktifkan handphonenya juga, kemudian berusaha untuk menghubungi suaminya, Mr Ginting.


Tut


Tut


Tut


..."Maaf Mr. Aku masih ada di rumah sakit."...


..."Lalu?" ...


..."Ini sedang membantu bapaknya kang Yoga, mengurus jadwal operasi untuknya."...


..."Kapan operasinya?"...


..."Nanti malam, sekitar jam sepuluh."...


..."Terus, Kamu balik ke kota kapan? jangan lebih dari dua hari. Aku sudah memberi ijin untuk itu. Jadi, jangan lupakan tugasmu!" ...


..."Iya Mr. Rencananya, Aku akan kembali besok pagi, setelah operasi kang Yoga selesai. Jadi sampai di kota sekitar siang sebelum jam dua atau bisa jadi sore, jika jalan ajak macet."...


..."Kenapa tidak nanti malam kembalinya?" ...


..."Pak supir juga butuh istirahat sebentar Mr. Apa Mr ingin ada kabar kecelakaan karena pak supir yang mengantuk?" ...


..."Heh. Bicara apa Kamu!" ...

__ADS_1


..."Hehehe... maaf Mr. Apa Mr menghubungi Aku hanya untuk marah-marah, atau ada sesuatu yang Mr mau katakan?" ...


Yati seperti menebak-nebak sesuatu. Doa berpikir jika Mr Ginting sedang merindukannya, sehingga terkesan marah, karena tidak tahu, bagaimana cara mengungkapkan perasaannya sendiri saat ini. Hal yang sama seperti biasanya, jika Mr Ginting menginginkan sesuatu darinya.


..."Tidak apa-apa. Ya sudah. Hati-hati."...


..."Ya Mr. Shunjin ku, miss you Mr."...


Klik!


Yati tertegun sendiri, karena panggilan telponnya diputus oleh Mr Ginting tanpa menjawab perkataannya terlebih dahulu.


Dengan tersenyum, Yati merasa yakin, jika sebenarnya Mr Ginting merasakan hal yang sama seperti yang tadi dia katakan.


Mr Ginting hanya tidak bisa mengatakannya secara langsung, dan juga mengakui perasaannya sendiri pada Yati. Istri kontraknya itu.


*****


Mr Ginting menutup telpon dari Yati, tanpa menjawab pernyataan dari Yati, yang mengatakan jika dia merindukan Mr Ginting.


Dia merasa malu, dan tidak tahu mau mengatakan apa untuk bisa mengungkapkan perasaannya sendiri.


Dia tidak mengakui, bahwa dia sudah bisa merasakan rasa rindu, jika tidak ada istrinya itu di dekatnya. Dia seperti orang yang sedang jatuh cinta, tanpa berani menyatakan rasa yang dia rasakan.


Malu, tapi ada rindu. Bahagia, tapi tak mengakuinya. Ini adalah rasa yang pertama, yang dirasakan Mr Ginting terhadap seorang wanita. Dan ini untuk istri yang dia kontrak, demi syarat yang diberikan sang Kakek.


Mr Ginting tidak tahu, apakah akhir dari permainan yang dia mulai sendiri ini akan berakhir sama seperti yang dia rencanakan, atau justru sebaliknya.


Akhir cerita yang sama seperti kisah-kisah dalam dongeng, ataupun cerita film-film karangan sutradara, yang banyak digandrungi oleh remaja-remaja ataupun para wanita yang suka main perasaan, di banding dengan akal sehatnya.


Mr Ginting juga tidak tahu, apakah akan berakhir gagal karena kejadian yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.


Sekarang, Mr Ginting hanya tahu bahwa, hatinya gelisah tanpa ada istrinya, jika sedang mau tidur.


Mr Ginting akan cemas, saat Yati tidak ada di rumah.


Mr Ginting akan lebih cemas lagi, saat tidak ada kabar apapun dari istrinya itu.


Tapi Mr Ginting belum menyadari semuanya. Dia tidak mengakui semua perasaan yang dia miliki saat ini. Sifat angkuh dan dinginnya, mengalahkan hatinya. Egonya tidak mau diajak untuk bekerja sama, untuk melunakkan hatinya sendiri.


Mr Ginting menghela nafas panjang kemudian memejamkan mata, untuk menenangkan hati dan pikirannya sendiri. Dia tidak ingin memikirkan apa-apa yang bisa membuat dirinya tidak fokus pada tujuan awalnya, saat memilih Yati sebagai istri kontrak, demi sebuah syarat yang harus dia lakukan untuk sang kakek dan juga hak waris dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2