
"Emhhh... bagaimana Kiara, apa Kamu berkenan untuk makan malam bersama dengan Kakek terlebih dahulu sebelum pulang? Kakek juga masih ingin berbincang-bincang dengan kalian berdua."
Sang Kakek kembali menawari Yati, untuk makan malam terlebih dahulu sebelum mereka pulang. Apalagi, saat acara pesta tadi, mereka berdua juga tidak tampak memakan suatu apapun. Mereka berdua hanya terlihat minum cola, dan berbincang dengan tamu yang lain.
Yati, yang kembali di tanya oleh sang Kakek, merasa sungkan, dan pada akhirnya, berbisik pada suaminya Mr Ginting, untuk menuruti permintaan dari kakeknya itu.
"Mr. Kita terima saja tawaran dari kakek. Aku merasa sungkan, jika harus menolaknya," ujar Yati, memberitahu pada suaminya, dengan berbisik-bisik.
Akhirnya, Mr Ginting tidak lagi mengajak istrinya itu untuk segera pulang. Dia hanya mengangguk saja, tanpa bersuara meskipun hanya berkata, iya.
Yati tersenyum ke arah sang Kakek, yang menunggu jawaban darinya, atas tawarannya tadi.
"Ayo-ayo, ke sini!"
Sang Kakek dengan senang hati, mengajak mereka berdua untuk pergi ke arah ruang makan. Dia merasa sangat senang, karena akhirnya bisa mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan istri dari cucunya itu, tentang Bros Bunga yang saat ini sedang dia, Yati, pakai.
Sang Kakek ingin tahu, dari mana Kiara mendapatkan Bros Bunga, dengan bentuk yang tidak biasa, karena aksesoris wanita itu, memang dibuat secara khusus, dengan model yang klasik juga.
Mr Ginting menarik sebuah kursi untuk diduduki oleh istrinya, kemudian dia kembali menarik sebuah kursi untuk dia duduki sendiri.
Dan sang Kakek, menarik kursi sendiri, yang ada di seberang meja. Karena dengan begitu, dia saat ini berada tepat di depan Yati, atau Kiara.
Menu makanan yang tersedia, begitu banyak macamnya. Yati sampai bingung, harus menikmati makanan yang mana untuk makan malamnya kali ini.
Dengan tenang, Yati mengambil piring suaminya, dan menyendok nasi dan lauk pauknya juga.
"Cukup," kata Mr Ginting, meminta pada istrinya itu, untuk mengambil makanan dengan jumlah sedikit.
__ADS_1
Yati hanya bisa tersenyum tipis, kemudian kembali menempatkan piring yang sudah berisi makanan, di depan suaminya.
Tak lama setelah itu, Yati juga mengambil makanan untuk sang Kakek. Dia menawari sang Kakek dengan berbagai macam jenis makanan yang tersedia di meja makan miliknya sendiri malam ini.
"Hahaha... ini adalah makan malam bersama yang penuh kebahagiaan dan nikmat. Kita bisa menikmati kebersamaan ini, tanpa ada banyak orang dan memikirkan banyak hal tentang kerajaan dan sebagainya. Kita fokus pada hubungan antara kita, sebagai anggota keluarga."
Mr Ginting memicingkan mata, memikirkan perkataan sang Kakek yang terdengar sedikit aneh di telinganya. Mr Ginting berpikir jika, sang Kakek ada maksud lain, dari undangan dan tawaran darinya, untuk makan malam kali ini.
Dan mereka bertiga akhirnya makan malam bersama, dengan saling diam, karena berbicara saat makan itu tidak sopan.
Baru setelah semuanya selesai makan, sang Kakek berbincang-bincang dengan mereka berdua.
Akhirnya, Mr Ginting juga berusaha untuk fokus, meskipun keadaan wajahnya yang terlihat datar. Dia ingin mengetahui apa kira-kira yang diinginkan oleh sang Kakek, dari kata-kata yang diucapkan tadi, sebelum mulai makan..
Dikarenakan Mr Ginting sudah lama tidak mengunakan kemampuannya itu, dia juga harus berkonsentrasi lama, untuk bisa kembali tahu, apa pikirkan orang-orang, yang saat ini sedang berbicara dengan dirinya.
Tapi ternyata Mr Ginting tetap tidak bisa melakukan apa-apa, dengan kemampuannya itu. Semua hilang dan tidak bisa dia lakukan lagi. "Kenapa kemampuan yang Aku miliki itu tidak bisa Aku gunakan lagi? Apa ini juga menghilang dengan sendirinya, dengan diriku yang sudah tidak lagi perjaka? Apalagi, belakangan ini, Aku lebih sering bercinta juga dengan istriku?"
Mungkin memang benar, apa yang dipikirkan oleh Mr Ginting, karena sejak dia, untuk pertama kalinya berhubungan dengan istrinya, setelahnya dia tidak lagi mampu, membaca pikiran dan keinginan yang dikatakan oleh istrinya itu dalam hati dan pikirannya.
"Ah, Aku jadi tidak bisa mengetahui apa pikiran orang lain. Sialan!" umpat Mr Ginting dalam hati.
Samar-samar, Mr Ginting mendengar pertanyaan dari sang Kakek untuk istrinya. Ini karena dia tadi melamun sendiri, dan tidak memperhatikan perbincangan antara sang Kakek dengan istrinya, Kiara.
"Kakek tertarik dengan aksesoris Bros Bunga yang Kamu pakai Kirana. Di mana Kamu membelinya? Atau Kamu memesan di mana Bros Bunga itu?"
Yati memandang ke arah sang Kakek dengan berbagai macam pertanyaan, yang muncul di dalam hatinya, di saat sang Kakek bertanya kepada dirinya, tentang Bros Bunga, yang dia pakai malam ini.
__ADS_1
"Kakek tertarik pada Bros Bunga ini?" tanya Yati dengan menyentuh Bros Bunga, yang ada di gaun yang dia kenakan.
Sang Kakek tampak mengangguk cepat, saat mendengar pertanyaan dari istri cucunya, miss Kiara.
"Ini memang klasik Kek. Bentuknya juga unik dan tidak ada yang menjualnya di toko perhiasan manapun. Bahkan, tukang emas juga tidak bisa melakukan tiruannya. Kemudian, ada seseorang yang memberitahuku, bahwa ada satu orang yang mungkin bisa atau pernah membuatnya. Aku pun akhirnya mencari keberadaan orang tersebut. Dan saat ketemu orang itu, Aku bertanya-tanya tentang banyak hal, terutama tentang Bros Bunga ini. Kata yang ahli perhiasan itu, Bros Bunga ini dirancang dan dibuat khusus sebagai pesanan. Dan itu sudah sangat lama. Tapi saat Aku bertanya kepada ahli perhiasan tersebut, dia justru diam saja, dan tidak mengatakan apa-apa tentang seseorang yang sudah membuat pesanan aksesoris Bros Bunga yang Aku tunjukan padanya. Dia sudah lupa, karena usianya juga sudah sangat tua. Mungkin sekarang, dia sudah tiada di dunia ini. Karena saat Aku menemuinya, dia sudah berumur lebih dari delapan puluh tahun."
Sang Kakek dan Mr Ginting, mendengarkan semua cerita Yati dengan seksama. Mereka berdua, tidak memotong kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Yati, hingga selesai.
"Jadi, Aku sendiri tidak tahu, kapan dan kenapa Bros Bunga ini jadi begitu menarik. Mungkin karena tidak bisa ditiru dan akhirnya menjadi barang langka. Setiap Aku memakainya, ada saja yang bertanya," kata Yati lagi, setelah tadi terdiam sebentar.
"Boleh Kakek melihatnya, emhhh... maksud Kakek, apa boleh Kakek memegang Bros Bunga itu sebentar?" Dengan ragu, sang Kakek mengutarakan keinginannya, untuk melihat dan memegang Bros Bunga, yang sudah dia cari sejak bertahun-tahun lamanya.
Sang Kakek merasa senang, tapi juga was-was, karena memikirkan banyak hal tentang siapa sebenarnya istri dari cucunya itu. Dia mulai meragukan laporan yang dia terima dari Mr Andre. Bawahannya, dan juga menantu dari sepupunya sendiri, yang saat ini bekerja sebagai Duta Besar Indonesia, yang sering berpindah-pindah tempat tugas.
"Kakek. Apa sih kok kayak gitu? kenapa dengan aksesoris Bros Bunga itu? Kenapa Kakek begitu menginginkannya, bahkan sejak istriku ini masuk ke dalam pesta ulang tahun Kakek tadi?"
Sepertinya, Mr Ginting tidak begitu suka dengan sikap sang Kakek, yang terlalu ingin tahu banyak hal tentang istrinya.
Sang Kakek menghela nafas panjang, dan mengeleng beberapa kali.
"Bukan. Bukan begitu Ginting. Kakek, Kakek hanya tertarik dengan bentuknya yang unik
Tidak ada yang lainnya," jawab sang Kakek memberikan alasan dengan semua pertanyaan yang diajukan oleh cucunya itu.
Yati, hanya diam saja, mengamati bagaimana sang Kakek yang terlihat panik saat pertanyaan demi pertanyaan diajukan oleh suaminya.
Ada beberapa pertanyaan, yang saat ini muncul di dalam pikirannya Yati. Mungkin dia sedang menghubungkan semua kejadian dan pertanyaan, serta perkataan yang pernah dia dengar dari sang ahli perhiasan, dulu di saat dirinya bertemu.
__ADS_1
Waktu itu memang sudah lama sekali. Mungkin Yati baru saja datang dari Jepang, dan belum memulai pekerjaannya sebagai istri kontrak. Dia juga baru tahu tentang Bros Bunga itu, dari mbok Minah, yang memang menyimpan Bros Bunga itu selama ini.
Jadi, Yati juga sebenarnya tidak tahu, ada apa dengan Bros Bunga, yang saat ini dia pakai, sebagai hiasan untuk gaun pesta ulang tahun sang Kakek.