
Mr Ginting, tersenyum dengan penuh misteri saat mendengar perkataan dari istrinya tadi. Seakan-akan mendapatkan ide bagus, untuk bisa mengerjai Yati selanjutnya.
"Kamu pikir Aku makhluk halus kan, lihat saja, apa yang akan Aku lakukan setelah ini," kata Mr Ginting dalam hati, mengancam Yati dengan ide keusilannya, untuk mengerjai Yati.
Padahal, Yati sendiri tidak tahu, siapa sebenarnya makhluk halus yang semalam memeluk dirinya pada waktu tidur. Dia berharap, kejadian itu tidak akan pernah terjadi lagi, pada malam-malam berikutnya, atau dia akan meminta Mr Ginting, untuk menemaninya sepanjang malam. Karena kata orang-orang, makhluk halus itu, tidak akan datang jika orang yang akan dia ganggu, ternyata ada temannya tidur juga.
Tapi, Yati tentu merasa sangat tidak nyaman, jika harus meminta pada suaminya itu, untuk menemani tidur, hanya untuk bisa mengusir makhluk halus tersebut.
Tentu saja, ini akan menimbulkan kesan yang tidak baik bagi Mr Ginting. Dia pasti akan merasa bahwa, Yati hanya beralasan saja, dan pura-pura takut, agar bisa berdekatan dengan Mr Ginting sendiri. Mr Ginting akan menyangka jika Yati, berusaha untuk menggodanya saja. Yati tidak mau, jika ada kesalahpahaman antara dirinya dan Mr Ginting, hanya karena makhluk halus yang tidak jelas.
Yati tampak mengeleng beberapa kali. Ini membuat Mr Ginting melihat dirinya dengan aneh.
"Ada apa? atau Kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Mr Ginting curiga dengan kelakuan istrinya itu.
Yati tersadar dari lamunannya saat mendengar teguran dari suaminya, yang bertanya kepadanya.
Akhirnya, Yati hanya tersenyum dan menggeleng cepat, untuk menghindari pertanyaan dari Mr Ginting selanjutnya.
Dia tidak ingin, suaminya itu curiga dengan apa yang menjadi lamunannya tadi.
"Apa Kamu membayangkan bagaimana rasanya tidur dengan Aku peluk?" tanya Mr Ginting lagi, seakan-akan menebak isi pikiran Yati saat ini.
"Oh Tuhan. Aku lupa, jika dia bisa membaca pikiranku." Yati mengeluh sendiri, tentang kelebihan dari suaminya itu.
"Jika Kamu mau, Aku bisa melakukannya. Bahkan jika Kamu mau, Aku juga bisa melakukan hal yang lebih dari sekedar pelukan saja," kata Mr Ginting lagi, tanpa melihat ke arah istrinya, Yati, yang sudah memerah wajahnya karena merasa malu.
Ini karena semua yang dikatakan oleh Mr Ginting, sama seperti yang sedang ada di dalam pikirannya Yati.
__ADS_1
Yati tampak malu, dan seperti seorang pencuri yang ketahuan terlebih dahulu sebelum dapat hasil curiannya.
"Ini gila. Aku bisa benar-benar gila, jika bersama dengannya dengan semua yang dia ketahui dari pikiranku saja," gumam Yati seorang diri.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Mr Ginting karena mendengar perkataan Yati yang tidak jelas.
Yati tampak bengong, mendengar pertanyaan dari Mr Ginting barusan. Dia jadi berpikir jika lebih baik bicara pelan, atau sekedar bergumam saja, dari pada bicara dalam hati, karena sepertinya Mr Ginting akan lebih tahu banyak jika itu hanya dia bicarakan dalam hati, dari pada Yati bicara sendiri dengan bergumam.
"Ya, itu lebih baik daripada dia bisa menebak semua yang Aku katakan dalam hati," kata Yati lagi, tapi dengan tidak jelas di telinga Mr Ginting. Bahkan, ditelinga Yati sendiri, karena terlalu pelan.
"Sepertinya dia mulai mengerti, kelebihan dan kekurangan yang Aku miliki. Jika itu benar, dia akan bergumam sepanjang hari, dan Aku tidak tahu, apa yang dia rasakan serta inginkan. Sekarang, apa yang seharusnya Aku lakukan, supaya dia tidak lagi bergumam saja sendiri," kata Mr Ginting, dalam hati.
Dia ingin tahu, bagaimana caranya agar Yati tidak lagi bergumam, tapi berkata hanya di dalam hatinya, supaya dia bisa tahu, apa yang sebenarnya dipikirkan oleh istrinya itu.
Hal yang aneh memang, tapi begitulah kenyataan yang terjadi pada Mr Ginting selama ini. Itu juga yang menyebabkan dirinya tahu, apa pemikiran orang terhadap dirinya selama ini.
Mr Ginting tidak perlu repot-repot bertanya lagi, karena dia sudah tahu kebenaran tentang pemikiran mereka yang sebenarnya terhadap dirinya selama ini.
"Jika ada sesuatu yang ingin Kamu ketahui dan tanyakan, lebih baik tanyakan saja langsung, Aku akan menjawabnya, atau jika Kamu sungkan, Kamu bisa bertanya juga pada pelayan yang ada di rumah ini," kata Mr Ginting. Dia sudah tidak bisa menebak apa yang dikatakan oleh istrinya itu saat ini. Itu karena Yati, tidak lagi bicara dalam hati, tapi bergumam tidak jelas.
Hal yang tidak bisa dilakukan oleh Mr Ginting, membaca pikiran orang lewat kata-kata yang keluar, dengan cara berbisik-bisik atau hanya sekedar bergumam lirih sendiri.
Lebih baik bicara dalam hati, karena dia dengan mudah menebaknya, dan itu sepertinya sudah diketahui oleh Yati saat ini.
Akhirnya Yati memberanikan diri untuk bicara soal makhluk halus yang ada di kamarnya.
"Mr Ginting tahu tidak, jika di kamar yang Aku tempati itu ada makhluk halusnya?" tanya Yati, dengan melihat ke sekeliling. Dia tidak ingin, pembicaraan mereka berdua ini, akan terdengar oleh orang lain.
__ADS_1
"Tidak," jawab Mr Ginting pendek dan datar.
Yati jadi merasa menyesal, karena telah bertanya tentang makhluk halus pada suaminya itu.
Mana mungkin, seorang Mr Ginting, percaya dengan adanya makhluk halus seperti yang ditanyakan oleh Yati tadi.
"Tapi Mr, Aku merasakannya semalam," kata Yati lagi, dengan nada yang lebih serius lagi.
"Bilang saja kalau Kamu ingin ditemani saat tidur. Iya kan?" tanya Mr Ginting, dengan percaya diri.
Yati jadi merasa kesal, karena perkataannya tadi tidak diperhatikan oleh Mr Ginting, dan malah mengolok-olok dirinya yang penakut.
"Awas saja kalau sampai makhluk itu datang lagi. Aku akan minta padanya, untuk menganggu tidur Mr Ginting, dan tidak dengan tidurku," kata Yati mengancam suaminya sendiri.
Mr Ginting ingin tertawa, tapi dia menutupi dengan batuk yang tidak benar-benar batuk.
"Uhuk, uhuk!"
"Jika mau, Aku akan menemanimu yoseman. Bukannya itu memang sudah seharusnya? Kamu akan aman dan nyaman karena adanya Aku di sampingmu nanti. Dan makhluk halus itu, tidak akan pernah berani datang lagi. Bagaimana?" tanya Mr Ginting memberikan jawaban pada Yati, dengan ketakutan yang dia rasakan pada makhluk halus itu.
"Tidak usah. Aku bisa mengusirnya sendiri," jawab Yati dengan kesal.
Akhirnya, Mr Ginting tidak lagi bicara apa-apa. Dia menikmati sarapan pagi yang sempat tertunda, karena perdebatan mereka berdua mengenai makhluk halus yang tidak ada kebenarannya sama sekali.
Dalam hati, Yati bertekad untuk bisa berani, dan melihat kebenaran tentang makhluk halus yang menganggu tidurnya pada malam hari.
Keduanya, memiliki sebuah rencana masing-masing, yang akan mereka lakukan nanti malam.
__ADS_1
Mungkin saja, keduanya bisa sama-sama bisa memecahkan misteri tentang makhluk halus itu, atau mereka berdua akan terjebak dalam situasi yang sulit mereka berdua hindari setelah itu. Bagaimana menurut kalian semua?