Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Antara Hambatan Dan Kesempatan


__ADS_3

"Sial! Ini sungguh tidak terduga. Kenapa hujan harus datang pada saat seperti ini?" Mr Ginting bertanya dengan kesal, meskipun tahu jika tidak ada yang akan menjawabnya.


Perjalanan Pak Ginting bukannya tanpa tantangan. Saat hujan turun tanpa henti, dia mendapati dirinya harus segera mencari perlindungan.


Suara rintik hujan yang mengetuk kap mobil, semakin membuatnya emosi. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan dengan hanya mengumpat saja.


Akhirnya Pria itu menghela nafas, mencoba meredakan emosi dan kekesalannya sendiri pada cuaca yang secara tidak langsung memberinya halangan.


"Aku ingin sekali segera sampai kemudian mengungkapkan perasaanku pada Mis Yeti, tapi jalanan yang macet dan pohon tumbang membuat semuanya jadi sulit."


"Sepertinya aku harus mencari tempat berteduh dulu. Sialan, semoga saja ini semua segera berlalu."


Sesekali angin menderu-deru dan hujan semakin deras, memaksa Mr Ginting mempercepat laju mobilnya untuk mencari tempat berlindung sementara. Dia ingin masuk ke sebuah kafe nyaman yang dia temui.


Membayangkan aroma hangat kopi yang baru diseduh memeluknya saat dia menyeka tetesan air hujan dari kacamatanya. Gemerincing piring dan obrolan lembut orang-orang menciptakan latar belakang kenyamanan, memberinya waktu sejenak untuk mengatur napas dan menenangkan pikiran.


"Sepertinya itu akan lebih nikmat, daripada aku terjebak di dalam mobil saja."


Akhirnya, saat mobil berjalan semakin jauh melewati deretan pepohonan, suara retakan keras terdengar di udara.


Kreakk ...


Bruakkk!


Sebuah pohon tumbang akibat hujan deras, menghalangi jalannya. Dia terkejut dan mengusap wajahnya, bersyukur karena tidak m menjadi korban atau ada korban atas pohon yang tumbang. Sekarang, ia harus memutar melalui gang sempit, langkahnya bergema di dinding yang lembap.


"Huhfff ... syukurlah."


"Aku coba hubungi Biyan, tanya bagaimana keadaan di sana."


Tut tut tut ...


Panggilan tidak terjawab. Mr Ginting masih mencoba, tapi beberapa kali panggilan tetap tidak dijawab Biyan. Akhirnya ia mengirim pesan, berharap Biyan membacanya.


Meski menghadapi banyak rintangan, tekad Mr Ginting tetap tak tergoyahkan. Dia memahami bahwa seperti halnya hujan badai, rintangan tersebut bersifat sementara, dan pada akhirnya rintangan tersebut akan terbuka untuk menunjukkan jalan ke depan.


Maka, dengan setiap jeda untuk berlindung atau memutar, antisipasinya untuk berdiri di hadapan Yati dan mengungkapkan perasaannya semakin kuat, mendorongnya melewati jalanan yang diguyur hujan menuju tujuan akhirnya.


"Wah, hujannya gak main-main ya hari ini. Saya sampai basah kuyup mau ke kantor."


"Iya nih, hujannya deras banget. Saya juga habis kesulitan cari taksi yang mau anter ke kantor."


"Apalagi jalanan menuju Bogor pasti macet ya kayak gini."


"Pasti deh, udah gitu pohon tumbang lagi. Kayaknya perjalanan ke Bogor bakal lebih lama dari biasanya."


Mr Ginting mendengar percakapan dan perbincangan orang-orang, saat ia tiba di sebuah mini market karena ingin membeli tissue mobil kebetulan habis.

__ADS_1


Dan secara kebetulan, mini market ini juga ada di samping sebuah kafe yang ada di pinggir jalan.


"Bro, denger-denger jalanan menuju Bogor macet parah gara-gara pohon tumbang? Pantes aja banyak mobil yang akhirnya berhenti."


Lagi, Mr Ginting mendengar pembicaraan seseorang saat dirinya sudah berada di kafe. Dia memahami jika banyak pejalan yang akhirnya terjebak seperti dirinya.


"Iya bener, gue aja tadi nyerah deh. Ujung-ujungnya mampir ke minimarket dan ke kafe ini buat berteduh."


"Wah, beneran kah? Padahal gue juga udah kesiangan dan males banget ngadepin hujan."


"Yap, gue liat di berita. Jalannya penuh pohon tumbang dan genangan air."


Tak ingin ikut campur atau bergabung dengan para pejalan lain, Mr Ginting segera memesan kopi panas untuk menghangatkan badannya.


Pria itu juga memesan beberapa makanan, karena waktunya sebentar lagi masuk malam siang. Jadi sekalian saja mengisi perutnya yang harus diisi, mumpung berhenti dan menunggu lalu lintas lancar.


Sambil menunggu pesanan datang, Mr Ginting kembali mencoba menghubungi Biyan atau beberapa orangnya. Tapi semuanya nihil!


"Hujan begini enaknya di rumah aja, kan?"


"Betul juga sih. Tapi temen gue tadi cerita, dia harus nyari kafe buat berteduh di tengah jalan ke Bogor. Lah, kayak kita ini."


"Serius? Jadi makin parah aja perjalanannya, atau di mana-mana ada saja pohon yang tumbang?"


"Iya nih, katanya semua jalanan macet dan pada berhenti cari tempat berlindung dari hujan."


"Ya ampun, untung akhirnya gue mutusin brenti tadi."


Pria itu hanya bisa menghela nafas panjang sebelum akhirnya membuangnya kembali. Ia juga ingin ada di rumah, tapi tujuannya berbeda kali ini.


"Kita sebenernya bisa menungguin hujan reda dulu sebelum berangkat ke Bogor."


"Iya sih, tapi gue khawatir kemacetannya makin parah nanti. Lagipula, hujan dan pohon tumbang tidak bisa diprediksi."


"Tapi kan lebih enak daripada kejebak di tengah hujan dan kemacetan gitu."


"Bener juga sih. Sampai kita jadi bisa nikmatin perjalanan tanpa harus stres."


"Emang. Tapi mau gimana lagi, yang penting aman dan nyaman sampai tujuan."


Mr Ginting hanya geleng-geleng kepala, mendengar semua pembicaraan dan percakapan orang-orang.


Setelah beberapa jam berlalu dan hujan mulai reda, Mr. Ginting melanjutkan perjalanannya dengan perasaan yang masih campur aduk.


Jalanan yang tadinya tertutup genangan air dan pohon tumbang kini mulai terlihat lebih bersahabat. Dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, merasakan hembusan udara segar setelah hujan reda.


Saat melangkah menuju mobil, ia melihat jalan yang sempat tertutup akhirnya terbuka kembali. Kemacetan pun perlahan mereda, memberinya sedikit harapan.

__ADS_1


"Aku tidak boleh menyerah pada keadaan. Ini hanya sebagian kecil dari perjalanan yang telah aku lalui."


Dalam hati, dia menguatkan tekadnya untuk tetap melanjutkan, tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bertemu Mis Yeti nya.


Walaupun langit masih mendung, namun sinar matahari mulai menembus celah-celah awan. Mr. Ginting merasa seperti ini adalah gambaran dari perasaannya sendiri.


Meskipun terdapat rintangan dan hambatan, cahaya harapan tetap ada di ujung perjalanan. Dengan mantap, dia melanjutkan perjalanannya menuju Bogor, yakin bahwa saat yang dinantikannya akan tiba seiring perjalanan yang terus berlanjut.


***


Di tengah hujan yang turun deras di Bogor, Yati telah menyiapkan jamuan untuk Biyan. Mereka duduk di dalam ruang makan yang nyaman, dengan jendela terbuka agar suara hujan ikut meramaikan suasana.


Di meja makan, hidangan lezat disajikan dengan penuh kasih oleh ibu Nina yang tadi sempat dibantu Yati.


"Hujannya emang enggak bisa ditebak ya, Biyan. Tapi bagaimana pun juga, inilah alam."


Biyan tersenyum mendengar perkataan Yati yang diplomatis. Perkataan itu seakan-akan menyindir dirinya, secara tidak langsung. Atau itu hanya perasannya saja.


" Iya, Mis Yeti. Ini seperti petualangan tak terduga. Terima kasih sudah memperbolehkan aku singgah, di sini."


Tiba-tiba, dalam keheningan mereka, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari luar ruangan.


Clek


Pintu terbuka, dan ayah Yati masuk ke dalam, diikuti oleh perawatnya. Ayah Yati tersenyum, melihat keberadaan Biyan yang bersama anaknya.


"Maaf mengganggu, Mbak Yati."


Bu Nina, mewakili Tuan Wasito, yang datang ke meja makan sehingga membuat mereka menghentikan pembicaraan.


"Emhhh, Ayah, ini Biyan. Teman lama Yati, dulu." Wanita itu bangkit dari duduknya dengan memperkenalkan Biyan.


Biyan ikut bangkit, membungkuk sopan dengan maksud memperkenalkan dirinya pada Tuan Wasito.


"Selamat sore, Pak. Senang bisa bertemu dengan Anda." Pemuda itu, menyapa dengan sopan dan ramah.


Ayah Yati mengangguk mengerti, tapi ia tentu hanya bisa tersenyum saja. Meskipun gagal terlihat sebuah senyuman di wajahnya. Tapi itu sudah membuatnya merasa bahagia.


"Sama-sama, Nak Biyan. Saya Ibu Nina, perawat Tuan Wasito. Maaf, beliau kesusahan jika berbicara."


Biyan tersenyum kikuk, tapi dengan cepat bisa menguasai keadaan. Pemuda itu mendekat dan berjongkok di depan kursi roda Tuan Wasito.


"Maaf, Pak. Saya, terpaksa singgah atas undangan Mis Yeti karena waktu mau jalan pulang hujan tiba-tiba turun dengan derasnya."


Tuan Wasito tampak berpikir. Dia tidak pernah mengetahui atau mengenal seorang pria atau Pemuda yang dekat dengan anaknya.


Pria tua itu akhirnya melihat ke arah anaknya, tapi Yati yang arti maksud tatapan ayahnya hanya menggeleng beberapa kali dengan samar. Jadi tidak ada yang tahu jika Yati sudah memberikan jawaban kepada ayahnya.

__ADS_1


'Jika ia suka denganmu, Ayah tidak apa-apa, Nduk.'


Tuan Wasito membatin sendiri, meskipun sudah mendapatkan gelengan kepala anaknya.


__ADS_2