
Pagi yang cerah menyambut Yati ketika dia tiba di rumah sakit. Langit biru terbentang di atasnya, dan semilir angin sejuk membuatnya merasa lebih segar. Namun, hatinya masih penuh kekhawatiran untuk ayahnya yang sedang dirawat di sana. Dia berjalan dengan langkah tegar menuju pintu masuk rumah sakit, perasaan campur aduk memenuhi pikirannya.
Ketika Yati masuk ke dalam lorong rumah sakit, matanya tidak sengaja bertemu dengan seorang pria yang berdiri di ujung lorong. Pandangan mereka saling bertemu, dan dalam sekejap, keduanya merasakan rasa kaget yang sama. Pria itu adalah Biyan, mantan pacar Yati yang masih sangat muda--Ada di bab awal dan novel Namaku Aji.
"Cukup mengejutkan melihatmu di sini, Mis Yeti."
Biyan menyapa dengan senyuman, mencoba meredakan ketegangan yang ada diantara mereka berdua.
Yati hanya bisa mengangguk singkat, masih merasa canggung karena bertemu dengan Biyan setelah sekian lama.
"Ya, a-ku datang menemui ayahku. Dia dirawat di sini," jawab Yati, suara masih sedikit gemetar.
Wanita itu merasa aneh bisa berbicara dengan Biyan di tempat seperti ini, setelah hubungan mereka berakhir begitu rumit.
Rizal mengangguk, tidak bicara lagi. Pemuda yang dulu pendiam dan datar kini terlihat semakin matang.
"K-amu, sedang apa?" tanya Yati kemudian, mencoba mencairkan suasana kaku yang tercipta.
"Aku juga datang untuk mengunjungi seorang saudara yang sedang dirawat di sini."
Pemuda itu berdiri di tempat, tidak yakin apakah harus beranjak atau tidak untuk mendekat ke arah wanita yang pernah mengabulkan keperjakaannya.
Mereka berdua saling pandang, dan suasana canggung semakin terasa. Namun, akhirnya Yati mengambil inisiatif untuk mengatasi kecanggungan itu dengan bertanya.
"Bagaimana kabarmu, Biyan? Sudah lama sekali kita tidak bertemu."
Rizal tersenyum, seolah lega karena Yati membuka pembicaraan denganya, yang tidak terbiasa bicara dengan orang.
Pemuda itu, terlalu pendiam!
"Kabarku baik, Mis Yeti. Mis Yeti sendiri, bagaimana kabarnya?" Pemuda itu balik bertanya.
Akhirnya percakapan mereka perlahan menjadi lebih ringan. Mereka mulai saling bertukar cerita tentang apa yang telah mereka lalui selama ini.
Meskipun ada ketegangan di awal, mereka mulai merasa nyaman satu sama lain seperti dulu.
"Jadi, bagaimana ayahmu? Ini ayah yang mana, Mis Yeti?" tanya Pemuda itu ingin tahu.
Kabar tentang ayah Mis Yeti, tentu membuat penasaran Biyan. Sedari awal bertemu, Biyan hanya tahu jika Mis Yeti tidak memiliki orang tua.
Yati tersenyum tipis, kemudian memberikan penjelasan singkat tentang ayahnya.
"Dia ayah biologis ku, Biyan. Aku baru mengetahui kurang lebih 8 atau 7 tahun yang lalu."
"Lalu, apa yang sedang diderita?" tanya Biyan lagi.
__ADS_1
"Belum ada perkembangan besar, tapi dokter mengatakan dia stabil," jawab Yati, merasakan kehangatan dari pertanyaan pemuda tersebut.
Walaupun awalnya canggung, percakapan mereka semakin lancar. Mereka berbicara tentang kenangan masa lalu, dengan sedikit hati-hati lalu tersenyum bersama.
Meskipun tempat ini di rumah sakit dan tidak layak untuk berbincang-bincang saat bertemu dengan Biyan, tapi ini memberikan sedikit hiburan dan dukungan pada Yati di tengah masa sulitnya merawat sang ayah.
"Kita tidak bisa ketemu lagi, dilain waktu?" tanya Biyan, seakan-akan tahu bagaimana Yati yang berbeda dengan yang dulu.
"Entahlah. A-ku ..."
"Tak apa, Mis Yeti. Aku tidak memaksa."
Yati, tersenyum mengetahui bahwa Biyan bisa memahami situasi dirinya yang sekarang.
Pemuda itu tidak lagi grusa-grusu atau tergesa-gesa seperti dulu. Ini membuatnya kagum atas kedewasaan Biyan.
"Terima kasih waktunya, Mis Yeti."
"Eh, sama-sama. Tapi, tolong jangan panggil dengan sebutan Mis Yeti. Panggil saja dengan namaku, Yati."
Pemuda itu menyatukan kedua alisnya, saat mendengar permintaan tersebut.
"Kenapa?" tanyanya ingin tahu.
"Hem ... Mis Yeti, telah pergi. Yang ada sekarang hanya Yati," ungkapnya dengan menghela nafas panjang.
"Oh, baiklah. Aku tidak masalah dengan panggilan apapun, yang pasti itu kamu."
Yati tersenyum. Dia tidak ingin ada lagi yang memangil namanya dengan sebutan "Mis Yeti". Hal itu akan mengingatkan dirinya dengan kehidupannya yang dulu.
***
Biyan, anak mendiang Gilang Aji Saka. Dia memiliki latar belakang keluarga yang kaya raya berkat perusahaan keluarganya. Meski demikian, ia tidak tertarik dengan urusan perusahaan dan lebih memilih menjalani jalannya sendiri.
Ia telah mengembangkan usaha jasa pengawalan untuk individu kaya atau berpengaruh, mengambil inspirasi dan pengetahuan dan pengalamannya saat berada dalam kondisi belajar dari ayah tirinya yang berasal dari India.
Saat ini, Biyan hidup dengan penuh dedikasi dalam mengelola usahanya sendiri, menjalani kehidupan yang independen dan mengikuti keinginannya sendiri.
"Usahakan pelatihan fisiknya dikurangi setengah jam, ganti dengan pelajaran dengan pemahaman teknik."
Pagi hari, Biyan menghubungi seseorang untuk memberikan penjelasan yang sudah dipikirkannya untuk urusan latihan di lapangan.
Pria muda itu biasanya bangun cukup awal, sekitar pukul 6 pagi. Ia memulai hari dengan sesi olahraga ringan seperti yoga atau berlari di sekitar lingkungan rumahnya.
"Pagi, Tuan." Security menyapa dengan mengangguk sopan.
__ADS_1
"Pagi juga, Mang." Biyan menyahut dengan sopan juga.
"Pagi, om Biyan."
Sekarang, ada beberapa anak-anak kompleks yang bersiap untuk berangkat sekolah bersama dengan supirnya.
"Hai, pagi Reo, Reni."
Dengan ramah, Biyan menyapa kedua anak tetangga.
Setelah itu, pemuda itu kembali berkeliling menghabiskan waktu paginya sebelum pergi ke kantor.
"Sarapan sudah siap, Tuan."
"Iya, Bi. Terima kasih."
Selesai berolahraga Biyan biasa sarapan terlebih dahulu sebelum mengerjakan beberapa tugas administratif, dan perencanaan untuk usahanya.
Ia memeriksa jadwal pengawalan yang sudah diatur sebelumnya, memastikan timnya siap melaksanakan tugas.
"Baik, Tuan. Semua sudah diatur oleh staf kantor."
"Baik, ini untuk ke Surabaya? Butuh berapa pengawal?"
Pemuda itu berkomunikasi dengan kliennya, menjawab pertanyaan, dan merencanakan detail pengawalan yang akan datang.
Siang hari, Biyan sering kali memiliki pertemuan dengan klien potensial atau mitra bisnis. Ia menjelaskan layanan yang ditawarkan, mendengarkan kebutuhan khusus klien, dan menyusun rencana pengawalan yang sesuai. Ia juga menggunakan waktu ini untuk menjalani sesi pelatihan bersama timnya, memastikan bahwa semua anggota timnya memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan.
"Iya, Ma. Biyan tidak lupa untuk makan dan beristirahat."
Pemuda itu juga menerima nasehat mamanya melalui panggilan telepon, karena mamanya saat ini berada di India, bersama dengan suaminya.
Sore hari, Biyan biasanya meluangkan waktu untuk belajar dan mengembangkan diri.
"Ternyata banyak orang yang meniru usahaku ini. Mungkin karena prospek kedepannya sangat menguntungkan."
Ia membaca buku tentang keamanan, manajemen risiko, dan bisnis. Ia juga mengikuti pelatihan online atau seminar yang relevan dengan industri jasa pengawalan dan keamanan.
Hal ini membantu Biyan tetap terdepan dalam industri dan menghadapi berbagai situasi yang mungkin terjadi.
Malam hari, Biyan sering kali memiliki pengawalan atau tugas yang diperlukan di malam hari. Ia memimpin timnya untuk melaksanakan pengawalan dengan cermat, memastikan keselamatan dan keamanan klien.
Setelah tugas selesai, Biyan kembali pulang dan meluangkan waktu untuk bersantai, berbincang dengan keluarga, atau mengevaluasi hasil dari pengawalan tersebut.
"Huhfff ... capek. Andai ada istri dan anak ..."
__ADS_1
Membayangkan bagaimana keadaan berkeluarga, Biyan tersenyum dan mendapatkan satu wajah yang dirindukannya saat ini.