
Mobil Yati sudah siap membawa Tuan Wasito pergi ke Jakarta.
Pria tua itu sedang menunggu di mobil. Tangganya melambai, seakan memanggil Yati.
"Ya, Ayah butuh sesuatu?" tanya Yati, mendekat ke arah pintu mobil.
"Y-ati, su-sudah-kah se-emuanya si-iap?" tanya pria itu terbata.
"Sudah, Ayah. Aku sudah memeriksa segala keperluan dan membawa semua yang dibutuhkan selama perjalanan."
Tapi pria itu terlihat risau, menunjukkan perasaan khawatir.
"Ayah, ada apa?" tanya Yati penasaran.
"T-api ... pii, a-pa ti-daak le-leb-bih ba-iik k-iitta me-emba-waa sop-pir pe-pengganttii? P-perjaa-lan-naaan i-iini m-ung-kiin me-mele ... lelah-kann ba-gii-mu."
Yati terdiam memahami perkataan ayahnya yang terbata-bata dan tidak mudah ditangkap. Tapi tak lama ia tersenyum saat paham.
"Ayah, aku yang mengemudi dan merawat Ayah selama perjalanan. Aku tidak ingin meninggalkan Ayah sendirian. Dan percaya dengan Yati, ya?" Yati menyakinkan pria tua itu.
Akhirnya, Tuan Wasito mengangguk mengerti.
'Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Aku tahu kamu selalu mengutamakan kenyamananku,' batin pria itu dengan rasa haru.
Yati mencoba menenangkan pikiran ayahnya, dengan menggenggam tangan pria tua itu.
"Aku akan selalu ada di samping Ayah. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja."
Tapi untuk kenyamanan, Yati tetap membawa perawat yang biasa merawat Tuan Wasito selama satu tahun terakhir ini.
Setelah dirasa cukup dan semuanya siap, mereka berangkat ke Jakarta dengan segera.
***
Di tengah perjalanan, Tuan Wasito mengamati Yati yang fokus mengemudi.
'Apakah dia yakin tidak terlalu lelah, menyetir sendiri sejauh ini? Aku bisa mengemudi jika sehat dan bisa sesekali mengantikanya untuk mendapatkan waktu istirahat.'
Pria itu berbicara dengan berandai-andai. Tapi ternyata Yati, sekilas melihat pria itu yang sedang memperhatikannya.
__ADS_1
Yati tersenyum lembut, memberikan gambaran bahwa ia baik-baik saja. Seakan-akan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria tua itu.
"Terima kasih, Ayah. Aku baik-baik saja. Aku ingin memastikan perjalanan ini lancar dan Ayah merasa nyaman."
Mendengar perkataan Yati, Tuan Wasito tampak terkejut. Tapi tak dia ikut tersenyum meskipun tidak bisa terlihat sempurna sebagaimana orang yang sehat.
'Aku bangga memiliki anak sepertimu. Kamu begitu perhatian dan penyayang. Terima kasih, Yati.'
Pria itu mengucapkan terima kasih di dalam hati, tapi tangannya mencoba untuk terulur meraih tangan anaknya.
Melihat itu, Yati cekatan meraih tangan ayahnya.
"Aku baik-baik saja, Ayah. Tidak perlu khawatir. Mboten nopo-nopo."
"Semuanya kulakukan untuk Ayah. Aku berharap kita bisa segera sampai ke Jakarta dan Ayah bisa mendapatkan perawatan yang baik. Aku tidak mau kehilangan orang yang aku sayangi lagi, dan ayah adalah anggota keluarga Yati satu-satunya, yang Yati punya setelah Mbok Inah tidak ada."
Pria tua itu tersenyum tipis dengan mengangguk lemah. 'Aku tahu. Dan aku bersyukur memilikimu sebagai anak, Yati.'
Selama perjalanan, Yati dan ayahnya saling memberikan dukungan dan perhatian satu sama lain. Meskipun Tuan Wasito tidak bisa mengungkapkannya dengan baik.
Tapi Yati tahu, dan dengan penuh kesabaran mengemudikan mobil, sementara sang ayah memberikan semangat dan rasa cinta pada Yati.
Mereka berdua menunjukkan ikatan yang kuat sebagai keluarga yang saling peduli dan mendukung satu sama lain.
***
Perawat yang biasa merawat ayahnya-yang diajak serta ke Jakarta membantunya merawat dan memastikan kondisi sang ayah baik-baik saja.
"Maaf, Ibu Nina, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
Yati yang sedang duduk di samping tempat tidur ayahnya di rumah sakit, memanggil perawat tersebut.
Ibu Nina-Perawat tersebut, menghampiri Yati. "Ya, Mbak Yati. Ada apa?" tanyanya kemudian.
"Rencana sebelumnya, saat sudah berada di Jakarta dan di rumah sakit, Ibu Nina akan pulang, sesuai dengan keinginan Ibu sendiri. Tapi__"
Meskipun perawat tersebut awalnya diajak ke Jakarta untuk membantu merawat sang ayah selama perjalanan saja, ternyata hubungan antara mereka telah tumbuh menjadi sangat erat dan ayah Yati merasa nyaman dengan perawat tersebut.
Ini menimbulkan perasaan ketergantungan dan kepercayaan yang kuat pada perawat tersebut, sehingga ketika dia minta untuk pulang, ayah Yati menolak karena sudah merasa nyaman dengan perawatan yang diberikan.
__ADS_1
"Tapi, kenopo to Mbak Yati?" tanya ibu Nina ingin tahu.
"Ngapunten, Bu Nina. Saya tahu awalnya saya setuju dengan permintaan Ibu Nina ke Jakarta untuk membantu merawat Ayah dan setelah itu pulang. Tapi, setelah dipikir-pikir, saya melihat betapa Ayah merasa nyaman dengan perawatan Ibu Nina."
Ibu Nina tersenyum hangat. "S-aya juga merasa dekat dengan Tuan. Dia adalah pasien yang sangat baik dan selalu kooperatif selama perawatan."
Yati menggenggam tangan Ibu Nina. Dia paham dengan perasaan wanita yang seumuran dengan ayahnya ini.
"Itulah sebabnya saya ingin meminta Ibu Nina untuk tinggal lebih lama dan terus merawat Ayah di sini."
Mendengar perkataan Yati, Ibu Nina cukup terkejut!
"Oh, tapi saya pikir saya hanya bekerja sampai di sini saja, atau.untuk beberapa hari kedepannya nanti selama Tuan Wasito ada di rumah sakit."
Yati mengeleng. "Ayahku ingin Ibu Nina tetap di sini, dan aku juga setuju. Ayah merasa nyaman dengan Ibu Nina dan aku melihat betapa perawatan Ibu memberikan dampak positif pada kondisi Ayah."
Ibu Nina merasa haru dengan jawaban yang diberikan Yati.
"Terima kasih, Mbak Yati. Saya senang mendengarnya. Saya juga sudah merasa dekat dengan Tuan dan senang bisa membantunya," ungkap perawat tersebut.
Dengan tangan menyeka air mata, Yati berkata dengan penuh haru. Mengucapkan terima kasih atas kerja baik dari perawat tersebut.
"Yati sangat berterima kasih atas perhatian dan perawatan Ibu Nina pada Ayah. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpa bantuanmu.
Ibu Nina mengusap punggung Yati dengan lembut. Dia, yang seorang janda juga sudah tidak memiliki anggota keluarga.
Katanya, suami dan anaknya meninggal dunia saat terjadi kecelakaan kereta. Di kota tempat tinggal Yati, Ibu Nina juga pindahan dari kota lain, yang sedang berusaha melupakan rasa sedihnya.
"Jangan khawatir, Mbak Yati. Saya akan tetap merawat Tuan Wasito sebaik mungkin. Dan saya tahu, Mbak Yati juga selalu ada untuknya."
Yati tersenyum simpul.
"Iya, saya akan selalu ada di sini untuk Ayah. Terima kasih telah menjadi bagian penting dalam perawatan Ayahku."
"Sama-sama, Mbak Yati. Kita akan merawat Tuan dengan baik dan semoga Tuan segera sembuh."
Mereka berdua sama-sama dibutuhkan Tuan Wasito, untuk kesembuhannya.
Pria tua itu membutuhkan perawatan yang baik dari Ibu Nina tapi juga membutuhkan kehadiran Yati sebagai anaknya.
__ADS_1
"Lho, Mis Yeti. Ini benar, Mis Yeti?"
Seseorang bertanya, yang kebetulan lewat di depan tempat duduknya Yati dan Ibu Nina.