Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Bersabar


__ADS_3

Dokter langsung melakukan pemeriksaan lebih lanjut kemudian berbicara pada Biyan jika penyakit Yati sulit untuk sembuh. Tapi Biyan tidak putus asa dan meminta izin untuk membawa Yati berobat ke Singapura ataupun ke Amerika, sesuai dengan arahan yang diberikan oleh dokter seandainya dokter memiliki rekomendasi tentang rumah sakit dan dokter ahli di luar negeri.


"Saya mengerti keinginan Anda untuk mencari pengobatan terbaik untuk Mbak Yati Tuan Biyan. Saya akan memberikan rekomendasi rumah sakit dan dokter ahli di Singapura dan Amerika yang memiliki pengalaman dalam kasus seperti ini ..."


"Iya, ayo Dok! Cepat!" sahut Biyan, memotong penjelasan dokter yang belum selesai.


"Namun, saya ingin Anda tahu bahwa perjalanan ini mungkin sangat melelahkan bagi Mbak Yati dalam kondisinya saat ini. Kami akan melakukan segala yang kami bisa di sini untuk membantu," tutur Dokter, melanjutkan penjelasannya yang berpotong.


"Terima kasih, Dokter. Kami mengerti risikonya. Namun, kami ingin mencoba segala yang terbaik untuk istri saya. Mohon beri kami rekomendasi yang terbaik," pinta Biyan memohon.


Dokter mengangguk mengiyakan, kemudian memberikan rekomendasi dan mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan untuk perjalanan internasional tersebut. Biyan pun segera meminta persetujuan Yati sebelum mengambil langkah berikutnya. Yang terpenting, mereka berdua saling mendukung dan bersatu dalam upaya mereka untuk menyembuhkan Yati.


Ternyata, Yati memilih negara Singapura untuk tempatnya berobat. Ia ingin dirawat di rumah sakit yang sama seperti ibu dan ayahnya.


"Kak Aji, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu. Yati membutuhkan perawatan khusus di luar negeri dan kami berencana pergi bersama untuk mencarikan solusi terbaik. Namun, kami khawatir akan keselamatan dan kesejahteraan anak kami selama kami pergi. Bisakah kamu menitipkannya sejenak di rumah keluargamu?"


Biyan juga meminta izin kepada kakaknya, Aji, untuk menitipkan Arya sementara waktu di rumah keluarga kakaknya itu, di saat ia pergi bersama Yati untuk berobat ke luar negeri.


"Tentu saja, Biyan. Kamu tak perlu khawatir. Kami dengan senang hati akan merawatnya dengan penuh kasih sayang selama kalian pergi berobat. Anakmu akan selalu aman di sini."


"Terima kasih, Kak Aji. Ini sangat berarti bagi kami berdua. Kami akan memastikan untuk memberikan kabar terbaru seputar kondisi Yati dan perkembangan anak kami selama kami berada di luar negeri."


"Tidak masalah, Biyan. Keluarga selalu saling mendukung. Kami berdoa untuk kesembuhan Yati dan kesuksesan perjalananmu. Jangan ragu untuk menghubungi kami jika ada yang kamu butuhkan."


Biyan pun merasa lega karena telah mendapatkan dukungan penuh dari keluarga dalam situasi yang sulit ini.


Setelah mendapatkan izin dari kakaknya, Biyan segera mempersiapkan segala keperluan untuk perjalanan ke luar negeri bersama Yati. Mereka mencari informasi tentang rumah sakit dan dokter ahli terbaik yang dapat membantu Yati.


Setelah beberapa hari, Biyan dan Yati akhirnya berangkat ke tujuan mereka. Mereka pergi dengan hati penuh harapan dan doa untuk kesembuhan Yati. Semoga perjalanan ini membawa berkah bagi mereka berdua.


Tapi kondisi Yati semakin memburuk di tengah perjalanan. Biyan panik dan segera mencari bantuan dari awak pesawat atau penumpang lain yang memiliki latar belakang medis. Mereka bekerja sama untuk memberikan pertolongan pertama kepada Yati, sambil berusaha menenangkan Biyan yang sangat khawatir.

__ADS_1


"Tolong, siapapun yang bisa!"


"Tenang, Tuan Biyan. Kondisi Mbak Yati, perlu keadaan tenang."


Biyan tetap panik, meskipun sudah diminta tenang oleh dokter pendamping. Keadaan menjadi semakin tegang dan sulit untuk mengendalikan situasi.


Setibanya di bandara internasional Singapura, Yati langsung dilarikan ke RS terdekat, yang kebetulan adalah rumah sakit yang memang dituju untuk mendapatkan perawatan intensif dengan dokter yang sudah dipesan sebelumnya sesuai dengan rekomendasi dokter di Jakarta.


Tim medis di rumah sakit Singapura segera mengambil alih perawatan Yati. Mereka bekerja dengan cepat dan cermat untuk menstabilkan kondisinya, sedangkan Biyan menunggu di luar ruang dengan gelisah, berdoa agar Yati segera mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.


Clek!


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Biyan dengan cepat, menyongsong dokter yang baru saja keluar dari ruangan intensif.


"Pasien baru saja melewati masa kritis, mohon tenang, Tuan Biyan."


Dokter memberikan kabar kepada Biyan, bahwa Yati sudah dalam kondisi stabil dan mendapat perawatan yang diperlukan. Meskipun masih dalam kondisi serius, ada sedikit harapan untuk pemulihan.


"Terima kasih, dokter. Saya sangat bersyukur istri saya sudah dalam kondisi stabil," ucap Biyan dengan wajah lega.


"Ya, kami akan melakukan yang terbaik untuk memastikan pasien mendapatkan perawatan terbaik. Namun, harap diingat bahwa ini adalah perjalanan yang panjang. Dukungan dan cinta Anda sangat penting untuk pemulihannya."


Sekali lagi, Biyan mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada dokter tersebut.


"Terima kasih, dokter. Saya akan melakukan apapun untuk kesembuhan istri saya."


Biyan masuk ke dalam ruangan Yati dengan perasaan haru campur lega. Ia tahu bahwa perjalanan ini akan sulit, tetapi bersama-sama, mereka akan melewati semua rintangan ini.


Selama berhari-hari, Biyan tidak pernah meninggalkan Yati. Ia menjadi pendamping setia, menguatkan Yati dengan kata-kata penuh harap dan cinta. Di sisi lain, tim dokter dan perawat melakukan segala upaya untuk membantu Yati pulih.


Beberapa minggu berlalu, Yati akhirnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Wajahnya yang pucat mulai mendapatkan sedikit warna. Meskipun masih lemah, semangatnya terlihat membara.

__ADS_1


"Terima kasih, Ai. Kau selalu di sini bersamaku," ucap Yati dengan senyum tipis.


"Tentu saja, Koi. Kita akan melalui ini bersama-sama," jawab Biyan menanggapi, dengan mata berkaca-kaca.


Keduanya saling memandang dengan penuh cinta dan kasih sayang. Mereka tahu bahwa perjalanan pemulihan masih panjang, tetapi bersama, mereka akan menghadapinya dengan kekuatan dan cinta yang tak terbatas.


Minggu demi minggu berlalu, dan Yati terus menunjukkan kemajuan yang menggembirakan. Dia melakukan segala upaya untuk pulih sepenuhnya, didukung penuh oleh Biyan dan tim medis yang selalu ada di sisinya.


Satu pagi, ketika sinar matahari menyinari ruangan, Yati terlihat lebih segar dan bersemangat. Dia memandang Biyan dengan mata penuh harap.


"Ai, aku merasa lebih baik hari ini. A-ku ... merindukan Arya."


"Ya, aku melihatnya, sayang. Kamu begitu kuat! Untuk Arya, kita video call saja." Biyan memberikan usulan dengan senyuman.


"Ya, Ai. Maaf, A-ku berutang banyak padamu dan semua orang yang selalu ada untukku." Yati meminta maaf dan berkata dengan penuh rasa syukur.


Biyan menggeleng cepat. Keduanya berpegangan tangan, merasa penuh dengan harapan akan masa depan yang cerah. Mereka tahu bahwa perjalanan ini belum selesai, tapi dengan cinta dan kebersamaan mereka, tidak ada hal yang tidak mungkin mereka lakukan.


Panggilan video call terhubung. Di layar ponsel terlihat gambar Aji, yang sedang bersama Arya.


"Hai, kalian merindukan Arya?" tanya Aji, dengan menampakkan wajah Arya di layar.


"Ya, Kak Aji. Terima kasih," ucap Yati dan Biyan bersamaan.


"Hai, Sayangnya Mama dan Papa ..."


Yati menyapa anaknya dengan senyum dan air mata haru. Entah apa yang dirasakan wanita itu. Tapi Biyan melihatnya dengan perasaan yang pedih, dengan mata terpejam dan wajah mendongak ke atas.


'Sayang, aku tahu kau kuat! T-api ... aku pun ikhlas jika ...'


"Uhuk-uhuk ..."

__ADS_1


"Koi!" teriak Biyan terkejut.


__ADS_2