Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Keputusan Banding


__ADS_3

"Setelah mempertimbangkan dengan seksama semua bukti dan argumen yang disampaikan, kami memutuskan bahwa ..."


Tegang, semua mata tertuju pada hakim. Seakan-akan semuanya tidak bernafas dengan paru-paru, tapi dengan mata.


"Pihak penggugat dinyatakan menang dalam kasus ini. Mr Akihiko dianggap bersalah atas tindakannya dan harus bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan."


Tok tok tok!


"Haahh? Ini benar?"


"Wahhh, selamat! Kita menang!"


Suasana ruang sidang meledak dalam sorak-sorai kelegaan. Yati, Biyan, Mr Andre, Aji, dan Mr Ginting, merasakan rasa kemenangan yang diraih oleh kerja keras mereka.


Dan kini mereka telah membuktikan bahwa keadilan akhirnya terwujud, selagi diperjuangkan. Sebab kita hidup di zaman yang serba terbalik.


Setelah keputusan pengadilan, jelas terlihat bahwa Mr Akihiko merasa sangat marah dan dendam terhadap Yati. Kegagalan dalam persidangan ini membuatnya semakin bertekad untuk membalas dendam.


"Kalian akan membayar atas apa yang telah kalian lakukan. Saya tidak akan tinggal diam!" gumamnya dengan suara lirih, tapi penuh tekanan.


Yati, meskipun merasa lega dengan keputusan pengadilan, juga menyadari bahwa mereka harus tetap waspada terhadap reaksi Mr Akihiko. Apalagi dilihatnya wajah Mr Akihiko yang jauh dari kata menyenangkan.


"Terima kasih atas bantuan kalian semua, tapi kita harus tetap waspada. Saya tahu jika Mr y tidak akan berhenti di sini. Kita perlu mengambil langkah-langkah untuk pencegahan," terang Yati, yang tahu betul sifat mantan Bos-nya itu.


"Kalau begitu, kita harus mengamankan Yati dan keluarganya. Saya akan meminta tambahan perlindungan keamanan," tutur Mr Andre waspada.


"Saya juga akan memeriksa apakah ada langkah-langkah hukum tambahan yang bisa kita ambil untuk melindungi mereka," imbuh Aji, yang mengkhawatirkan keselamatan adik dan adik iparnya.


Mr Andre, Aji, dan Mr Ginting juga menyadari pentingnya tetap waspada terhadap kemungkinan reaksi negatif dari Mr Akihiko sama orang-orang yang mendukung pria Jepang tersebut.


"Saya akan menggunakan jaringan dan orang-orang saya untuk memastikan keamanan mereka," ujar Mr Ginting, menawarkan.


"Terima kasih untuk semuanya, atas kekhawatiran kalian. T-api, apa kalian lupa saya juga memiliki agen security dan bodyguard sendiri?" tanya Biyan, meminta pada mereka semua untuk tenang.


Akhirnya mereka semua menggangguk, mempercayai apa yang dilakukan oleh Biyan pasti bisa melindungi istrinya. Dan Aji, tentunya sangat paham bagaimana adiknya sendiri.


***

__ADS_1


"Ai, bagaimana jika kita pergi ke Semarang terlebih dahulu? Kita bisa mengambil waktu sejenak untuk merayakan kemenangan ini.


"Itu ide yang bagus, Koi. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu sebelum kita pergi ke India," terang Yati.


Biyan cepat ciuman bibir istrinya secara singkat, sebagai ucapan terima kasih karena memikirkan bagaimana cara mereka untuk memiliki waktu bersama.


Yati dan Biyan, sudah memiliki rencana setelah persidangan ini selesai. Sebab mereka akan memutuskan untuk pergi ke Semarang terlebih dahulu sebelum melanjutkan rencana berbulan madu mereka ke India.


Mereka berdua membutuhkan waktu untuk merayakan kemenangan mereka dan menghilangkan sedikit beban dari perjuangan hukum yang telah mereka lalui.


"Hups!"


"Ehhh ..." teriak Yati terkejut.


"Kita bersiap-siap sekarang," ajak Biyan, saat mengangkat tubuh Yati, menggendong istrinya itu ke dalam kamar.


Mereka berdua mempersiapkan perjalanan mereka ke Semarang, memilih tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi dan merencanakan kegiatan yang mereka inginkan. Mereka juga memastikan bahwa semua persiapan untuk perjalanan ke India sudah diatur dengan baik.


Mereka memulai perjalanan dari Jakarta ke Semarang dengan mobil pribadi yang telah disiapkan. Perjalanan melintasi jalan tol yang menghubungkan kedua kota tersebut berlangsung lancar.


"Ya, aku juga sangat menantikannya, Koi. Semoga semua rencana berjalan lancar," harap Yati dengan menyenderkan kepalanya pada bahu Biyan.


Dengan peka, Biyan merangkulnya dan mengecup pucuk kepala Yati beberapa kali, memberikan rasa nyaman.


Mereka menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, terutama saat mereka melewati daerah pedesaan yang indah. Supir mereka, yang juga berfungsi sebagai bodyguard, tetap waspada dan memastikan keamanan mereka selama perjalanan.


"Apakah ada tempat khusus yang ingin Anda kunjungi di Semarang, Tuan dan Nyonya?" tanya supir, memastikan.


"Kita ingin melihat beberapa objek wisata terkenal di sana, seperti Kota Lama dan Lawang Sewu. Juga, mungkin bisa mencari beberapa tempat kuliner khas Semarang." Biyan, mengatakan keinginannya.


"Iya, dan aku ada beberapa rekomendasi yang bisa sangat memuaskan untuk didatangi," sahut Yati.


Akhirnya mereka berbincang dengan santai membicarakan beberapa tempat wisata yang cukup terkenal di kota Semarang maupun beberapa daerah sekitarnya.


Perjalanan mereka berlanjut dengan penuh semangat dan menyenangkan, sambil saling berbagi cerita dan tertawa. Mereka berdua merasa beruntung bisa menghabiskan waktu bersama dalam perjalanan ini.


Sesampainya di Semarang, mereka merasakan udara yang khas dari kota itu. Yati dengan penuh emosi menyambut kedatangan mereka.

__ADS_1


"Selamat datang kembali di kota kelahiranku, Koi. Ini adalah tempat yang sangat berarti bagiku," ucap Yati, dengan mata berkaca-kaca.


"Aku bisa merasakan betapa istimewanya tempat ini bagimu, Ai. Aku senang bisa mengenal lebih dekat sebagian besar dari tempat-tempat yang memiliki arti penting dalam hidupmu," tutur Biyan, memeluk istrinya.


Mereka langsung melanjutkan perjalanan ke makam ayah dan ibu Yati, tempat di mana kenangan dan doa-doa terakhir untuk mereka berdua masih tetap hidup.


Untuk istirahat di rumah mereka akan melakukannya setelah dari makam. Biyan dengan penuh hormat mendekati makam kedua orang tuanya Yati, dengan menggandeng tangan istrinya itu.


Saat mereka tiba di makam, suasana hening dan khidmat memenuhi udara. Mereka berdua berdiri di depan batu nisan, mengucapkan doa dan mengenang kenangan indah bersama orang tua Yati.


"Ayah, Ibu, Yati sangat merindukan kalian. Terima kasih atas segala kasih sayang dan dukungan yang kalian berikan selama hidupku," ucap Yati dalam doanya.


"Aku berdoa semoga mereka tenang di sini, Ai. Semoga mereka melihat kebahagiaan dan keberhasilan yang kamu raih dalam hidupmu, doa dan harapan Biyan ucapkan, dengan menggenggam tangan Yati.


"Terima kasih, Biyan. Aku yakin mereka akan senang melihatku bahagia bersamamu," balas Yati dengan wajah penuh kebahagiaan.


Mereka berdua menghabiskan waktu di makam, merenungkan kenangan dan membiarkan perasaan mereka tercurah. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk mengecek usaha di Semarang.


Dalam setiap langkah perjalanan ini, Yati dan Biyan merasakan kehadiran dan dukungan spiritual dari orang tua Yati. Mereka memutuskan untuk terus menjaga hubungan dengan kenangan orang tua Yati, sambil melanjutkan petualangan mereka bersama dengan penuh cinta dan penghormatan.


Mereka menghabiskan beberapa saat dalam kesunyian di depan makam, merenung dan berdoa untuk mendiang keduanya. Setelah itu, mereka meninggalkan tempat pemakaman dengan hati yang tenang dan pikiran yang dipenuhi dengan harapan.


Setelah berziarah, mereka baru pulang ke rumah, yang sudah menunggu kedatangan mereka untuk beristirahat.


"Selamat datang, mbak Yati, den Biyan."


Bu Nina, menyambut kedatangan mereka berdua du depan pintu masuk. Ada beberapa orang yang sudah berdiri dengan hormat, menyambut kedatangan mereka yang memang sudah diketahui.


Semua masih tampak sama seperti saat ditinggalkan Yati ke Jakarta. Semua peletakan mebel dan furniture yang ada di rumah, juga tidak ada yang berubah.


"Ayo, Mbak Yati, Mas Biyan! Silahkan dahar riyen," ajak Bu Nina, membawa keduanya ke ruang makan.


"Terima kasih, Bu Nina. Setelah ini, ada yang ingin saya sampaikan pada, Ibu."


Bu Nina melihat dengan wajah penasaran antara terkejut, was-was dan juga takut dengan apa yang akan disampaikan oleh Yati padanya setelah makan.


'Apa yang ingin dibicarakan mbak Yati, ya?' batin Bu Nina bertanya-tanya.

__ADS_1


__ADS_2