
Waktu terus berlalu, pernikahan Mr Ginting dengan Alisa berlangsung tanpa ada perubahan yang berarti.
"Aku merasa seperti terperangkap dalam labirin ini. Aku, sungguh menyesal bahwa kita harus menjalani hidup seperti ini."
Mr. Ginting dengan berkata dengan nada penuh penyesalan. Menghela nafas, tapi tidak melihat ke arah istrinya.
Wanita itu mengangguk setuju. Dia juga tidak tahu harus bagaimana lagi, sehingga menyahut dengan perasaan sedih.
"Aku juga merasa seperti itu, Mr Ginting. Sering kali aku bertanya-tanya bagaimana bisa kita berada dalam situasi ini."
"Konnen wir das andern? Apakah kita bisa mengubahnya?" tanya sang istri memusatkan atensinya pada laki-laki tersebut.
Mr. Ginting mengelengkan kepala dengan ekspresi frustrasi. Sangat sadar, jika waktu tidak mungkin bisa diundur ataupun diajukan.
"Aku berharap dulu kita bisa memutuskan sendiri jalan hidup kita, tanpa campur tangan bisnis dan politik."
Mr. Ginting merasa dilema antara keinginan untuk membawa kebahagiaan kepada istrinya dan perasaan terjebak dalam pernikahan yang penuh tekanan. Dia merenungkan bagaimana bisa menemukan jalan keluar dari situasi ini, sebab ia juga tahu bahwa yang mereka jalani ini salah.
Keterikatan pada perjanjian pernikahan bisnis dan politik semakin mengikat mereka, membuat situasi semakin rumit. Meskipun ingin mencari solusi, terlihat bahwa memutuskan perjanjian tersebut tidaklah mudah.
Akhirnya mereka berdua benar-benar tidak bisa berbuat banyak. Semakin lama semakin rumit, tapi tak bisa lepas dari perjanjian
"Terkadang aku merasa kita kehilangan diri kita sendiri dalam semua ini. Aku menyesal tidak bisa memberikanmu hidup yang lebih baik," ungkap Alisa dengan membuang nafas.
Mr. Ginting pun ikut mengangguk. Dia berkata dengan nada penuh penyesalan.
"Aku ingin bisa memberikanmu kebahagiaan sejati, meski itu berarti melanggar perjanjian ini. Tapi aku merasa terjebak karena aku tidak ada hati yang bisa diberikan."
Alisa menatap dengan perasaan hampa, tahu maksud pernyataan laki-laki tersebut.
"Kita berdua terjebak dalam situasi yang tidak ada yang bisa kita ubah. Ini begitu menyakitkan," ujarnya kemudian dengan pasrah.
Mr. Ginting dan istrinya merasa terpaksa menjalani kehidupan yang terpisah meskipun mereka masih bersama dalam pernikahan. Mereka merasa terjebak dalam pola hidup yang mengharuskan mereka menjalani jalan masing-masing, meskipun itu membuat mereka merasa semakin terasing satu sama lain.
Akhirnya mereka benar-benar hidup sendiri-sendiri meskipun bersama
__ADS_1
Sayangnya, perlahan-lahan tapi pasti, sang istri mulai merasa tertarik kepada Mr. Ginting sebagaimana halnya dengan wanita lain. Meskipun belum mengungkapkannya, ia merasa keterikatan emosional terhadapnya. Namun, saat merasa diabaikan atau kurang diperhatikan, perasaan sakit hati mulai muncul dan ia mencari perhatian untuk merasa dihargai.
Wanita itu merasa seperti terjebak dalam kebingungan perasaan dan emosi hati yang kompleks.
Di satu sisi, dia merasa tertarik dan terhubung secara mendalam dengan Mr. Ginting. Ada momen-momen diam di mana pandangan mata mereka bertemu, mengirimkan getaran perasaan yang tak terucapkan.
Namun, di sisi lain, ada perasaan keputusasaan karena pernikahan mereka yang terikat oleh perjanjian bisnis dan politik. Perasaan ini menciptakan jurang antara apa yang dia inginkan dan apa yang dia miliki. Rasa diabaikan atau dianggap sebatas "bagian dari perjanjian" membuatnya merasa tak dihargai sebagai pasangan dan individu.
"Mr Ginting, akhir-akhir ini aku merasa seperti kita semakin tidak ada komunikasi. Apakah kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama?" tanyanya pada saat ada kesempatan.
Mr. Ginting mendengar sambil melirik ponselnya. Tapi tidak segera memberikan jawaban.
Setelah beberapa saat kemudian, barulah laki-laki itu membuka suara.
"Oh, iya? Maaf ya, lagi banyak urusan bisnis yang harus kuurus."
Mendengar alasan tersebut, dengan perasaan terluka Alisa mengangguk. Wanita itu sudah memprediksi sebelumnya, tapi tetap saja tera sakit.
"Tapi kita hampir tidak pernah punya waktu untuk berdua. Aku hanya ingin membantumu terlihat bahagia dimuka umum."
Tapi ini ternyata tidak pernah terjadi untuk kisahnya!
Ketika rasa sakit hati merayap, Wanita itu merasa perlu mencari bentuk perhatian di luar pernikahannya. Hal ini tidak hanya tentang merasa dicintai, tetapi juga mencari suatu cara untuk mengisi kekosongan yang dia rasakan dalam ikatan yang rumit ini.
Perasaan ini menciptakan konflik internal yang dalam, antara keterikatan emosional pada Mr. Ginting dan frustrasi terhadap situasi yang membatasi mereka. Dia merindukan kebahagiaan dan hubungan yang lebih mendalam, namun keterikatan pada perjanjian terus menghambatnya untuk mengambil tindakan yang mungkin akan membebaskan perasaannya.
"Kamu tahu kan, bisnis itu penting. Lagipula, kita sudah memiliki perjanjian, kan?" Mr. Ginting memberikan alasan, sambil tersenyum setengah hati.
Alisa hanya mengangguk pelan, dengan perasaan sedih. Usahanya gagal lagi dan lagi!
"Tapi aku juga ingin merasa seolah-olah diutamakan, bukan hanya sekedar dalam perjanjian. Aku ingin kita bisa merasakan kebahagiaan bersama, meskipun hanya pencitraan."
Sayang sekali, yang didapat hanya senyuman masam dari laki-laki tersebut.
Istri Mr. Ginting merasa seperti terperangkap dalam labirin emosional yang rumit.
__ADS_1
Di satu sisi, ada getaran perasaan yang tumbuh di dalam dirinya saat dia dan Mr. Ginting saling berpandangan, mengirim pesan tak terucapkan yang menyiratkan kedalaman perasaan di antara mereka.
Namun, di sisi lain, ada rasa putus asa yang tumbuh ketika dia menyadari bahwa pernikahan mereka terjerat dalam perjanjian bisnis dan politik. Kehendaknya bertabrakan dengan kenyataan bahwa pandangan mereka tentang kebahagiaan harus berbaur dengan kewajiban yang telah ditetapkan.
"Baiklah, nanti aku akan mencoba mengatur waktu untuk kita berdua. Sekarang aku harus pergi ke pertemuan," ujar Mr. Ginting sambil berdiri meninggalkan wanita itu.
"Baiklah, kalau begitu. Semoga sukses pertemuannya."
Wanita itu mengucapkan kata semangat, tapi dengan suara pelan seakan-akan patah hati.
Mr. Ginting mengabaikan perasaan wanita itu dan kembali fokus pada urusan bisnisnya, meninggalkannya dengan perasaan kecewa dan merasa diabaikan. Meskipun berbicara, tetapi ada jurang antara mereka yang semakin dalam.
Saat perasaan diabaikan datang, rasa sakit hati mengintai. Dalam usaha untuk mencari pengakuan dan perhatian, dia merasa terdorong untuk keluar dari peran yang telah ditentukan.
Ini bukan sekadar tentang mencari kasih sayang, melainkan juga upaya untuk mengisi rongga yang terbentuk di dalamnya akibat keterbatasan pernikahan yang kusut.
Perasaan sang istri menciptakan pertempuran dalam dirinya. Diantara getaran emosional yang tumbuh pada Mr. Ginting dan kekecewaan pada ikatan yang membatasi mereka, ia merasa terbagi dalam perasaan yang kuat dan konflik yang memilukan. Ia ingin memperoleh kebahagiaan sejati dan hubungan yang lebih dalam, tetapi perjanjian itu membelenggu dirinya, menahannya untuk bertindak demi keinginannya sendiri.
Wanita itu merasa sangat terpukul oleh perlakuan Mr. Ginting yang acuh dan kurang perhatian. Namun, dia merasa terjebak oleh perjanjian pernikahan mereka yang membatasi pilihannya. Dia telah berinvestasi dalam karirnya di dunia fashion dan menyadari bahwa keputusan impulsif bisa memiliki konsekuensi yang lebih luas, tidak hanya pada dirinya sendiri, tetapi juga pada rencana hidup yang telah mereka sepakati bersama.
Meskipun pahit, dia merasa terikat pada pilihan yang telah mereka buat bersama.
'Aku merasa seperti terperangkap dalam labirin pilihan yang tak bisa ku ubah. Aku menyesal bahwa pernikahan ini semakin terasa seperti beban, tanpa ruang untuk kebahagiaan pribadi.'
Wanita itu bicara dalam hati dengan perasaan pilu.
'Mungkin aku salah memilih jalanku. Aku merindukan impian-impian yang kuabaikan demi perjanjian ini.'
Helaan nafas panjang terdengar, setelahnya wanita itu bergumam seorang diri dengan suara bergetar.
"Aku tidak bisa tidak merasa penyesalan. Aku merasa seperti mengorbankan diriku sendiri dan semua yang aku inginkan."
"Sedihnya, aku tak bisa melupakan betapa berbedanya situasi ini dengan apa yang kuharapkan. Aku menyesal, tapi tidak tahu apa yang bisa kulakukan."
Wanita itu merasa penuh penyesalan atas bagaimana situasi ini telah berkembang, namun kenyataan bahwa perjanjian pernikahan dan karirnya di dunia fashion membatasi kemampuannya untuk mengubah arah hidupnya membuatnya merasa terperangkap dalam keputusan yang telah diambil.
__ADS_1
"Waktunya masih lama, tapi aku seperti orang yang sudah hilang akal!"