Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Tidak Usah Bertanya


__ADS_3

Yati bangun dengan kaget, saat sadar jika dia tidak berada di kamarnya sendiri. Apalagi saat melihat tubuh yang saat ini sedang menghimpit tubuhnya juga.


"Mr Ginting," kata Yati dalam hati.


Sekarang, dia tersenyum sendiri, mengingat kejadian tadi malam. Hal yang tidak pernah dia bayangkan sama sekali, jika semuanya akhirnya terjadi begitu saja, tanpa ada rencana terlebih dahulu.


Yati baru mau beranjak dari tempat tidur, saat tangan Mr Ginting memeluknya kembali dengan erat. Seakan-akan meminta pada Yati, untuk tidak pergi meninggalkan tempatnya terlebih dahulu. Tapi tetap berada di tempatnya, saat ini, yaitu di tempat tidur Mr Ginting.


"Mr. Maaf, Sa_saya mau pindah ke kamar."


Yati mengatakan keinginannya. Dia mau beristirahat sebentar di kamarnya sendiri, agar tidak menganggu tidur Mr Ginting.


Tapi Mr Ginting hanya menggeleng dan tidak mengijinkan Yati pergi, meskipun tanpa bersuara.


Akhirnya, Yati kembali berbaring di samping Mr Ginting, yang kembali melakukan apa-apa yang seharusnya dilakukan oleh mereka berdua saat berada di dalam kamar. Hingga pagi menjelang, keduanya tidak juga keluar dari dalam kamar.


Dan para pelayan, tidak ada yang berani menganggu kegiatan majikannya itu, meskipun saat ini adik sepupunya Mr Ginting, datang untuk urusan mereka, yang seharusnya diselesaikan tadi malam.


Entah karena alasan apa, kakak sepupunya itu membatalkan rencana mereka secara mendadak, sehingga Surya Jaya harus datang ke rumahnya sepagili ini. Yaitu jam delapan pagi.


"Mr Ginting belum bangun?" tanya Surya Jaya pada salah satu pelayan yang dia temui.


"Belum tuan muda Surya. Mr Ginting, belum keluar dari dalam kamar sedari semalam." Pelayan, menjawab pertanyaan Surya Jaya, sesuai dengan apa yang dia ketahui.


"Padahal, biasanya dia sudah ada di kantor jam segini. Apa istrinya juga sama, belum bangun juga?" tanya Surya Jaya lagi.


"Belum tuan muda Surya."


Pelayan, kembali menjawab pertanyaan dari Surya Jaya, sama seperti tadi waktu dia menjawab pertanyaan yang pertama.


Surya Jaya menghela nafas panjang. Dia yakin, jika kakak sepupunya itu, sedang melewati malam yang panjang, bersama dengan istrinya, miss Kiara. Itu juga yang membuat Mr Ginting, terlihat senyum-senyum sendiri, selama berada di kantor kemarin.

__ADS_1


"Huhfff... kalau begini, percuma Aku datang. Masa iya, Aku harus menunggu orang yang sedang asyik bercinta? ahhh, kakek salah ini memintaku datang pagi-pagi. Bikin aku iri saja," keluh Surya Jaya kesal.


Dia akhirnya pamit pada pelayan, untuk pulang dan pergi ke kantor. Dia berpesan kepada pelayan tersebut, supaya memberitahukan kepada Mr Ginting, agar segera berangkat ke kantor nanti, jika dia sudah bangun, dan keluar dari kamarnya.


Pelayan pun mengangguk mengiyakan permintaan Surya Jaya.


Begitulah akhirnya, Surya Jaya kembali dan langsung berangkat menuju ke kantor, untuk melaporkan semua ini pada sang kakek.


"Pantes saja telpon tidak diangkat, pesan tidak dibalas. Aku jadi kayak berharap sama kekasih, padahal tidak sama sekali. Hahaha... aneh!"


Surya Jaya mengerutu sendiri dalam perjalanan pulang dari rumah Mr Ginting.


Ini karena semalam dia panik saat menelpon kakaknya itu. Karena secara tiba-tiba membatalkan pertemuannya dengan klien, dan setelah itu tidak memberikan alasan dan kabar apapun.


Saat di telpon dan di kirim pesan, Mr Ginting justru tidak mengaktifkan handphonenya, yang membuat dirinya dan sang kakek merasa sangat khawatir. Itulah sebabnya, dia diminta sang kakek, untuk datang dan melihat keadaan kakak sepupunya, Mr Ginting.


*****


Yati sudah kembali ke kamarnya, dan Mr Ginting pergi mandi. Dia harus segera datang ke kantor dan memberikan penjelasan tentang alasannya membatalkan rencana pertemuannya semalam.


"Kenapa Aku jadi malas pergi ke kantor dan ingin ada di rumah saja? apa ini karena Aku capek, atau karena ingin mengulang lagi kegiatan semalam?"


Mr Ginting, kembali bergumam seorang diri. Dia jadi membayangkan kembali, bagaimana keadaan dirinya, yang memang tidak tahu apa-apa dan hanya mengikuti nalurinya sebagai seorang laki-laki. Secara dewasa.


Semua terjadi begitu saja, tanpa bisa dia cegah dan dia tolak. Keinginan sebagai seorang laki-laki dewasa pada umumnya. Dan itu sangat wajar, menurut Mr Ginting. Apalagi, istrinya itu memang bertugas sebagai seorang 'istri' dan bukan hanya sebagai seorang wanita pajangan saja.


*****


"Hahaha..."


Sang kakek tertawa terbahak-bahak, mendengar cerita dari cucunya, yang baru saja datang dari rumah cucunya yang lain.

__ADS_1


"Untungnya, Kamu tidak langsung masuk ke kamarnya Surya. Hahaha..."


Sang kakek, justru mengolok-olok Surya Jaya, yang datang melapor kepadanya.


"Kakek. Ihsss..."


Surya Jaya, jadi kesal, karena ditertawakan oleh sang kakek. Padahal, dia juga yang memberikan tugas tadi pagi. Tapi sekarang, justru dia sendiri yang mentertawakan dirinya.


"Bukan. Bukan begitu maksud Kakek Surya. Maaf-maaf. Kakek terlalu bahagia, karena akhirnya benar-benar yakin, jika mereka memang suami istri."


"Memang Kakek tidak yakin kenapa?" tanya Surya Jaya penasaran.


Padahal, dia berpikir jika kakeknya itu, sangat percaya dengan pernikahan kakak sepupunya. Dan ingin membuatkan sebuah pesta pernikahan yang meriah untuk Mr Ginting. Kakak sepupunya itu.


"Entahlah. Kakek tidak merasa yakin dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Ginting kemarin-kemarin. Tapi sekarang, setelah Kamu cerita tentang mereka berdua, Kakek baru merasa yakin," jawab kakek, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Sebenarnya, Surya Jaya tidak tahu apa alasan kakeknya bicara seperti itu. Tapi dia tidak lagi bertanya-tanya, karena tidak ingin membuat sang kakek harus berpikir untuk menjelaskan tentang pemikirannya itu.


Ini karena Surya Jaya tahu, jika kakek lebih paham tetang Mr Ginting, dari pada dirinya, yang hanya bertemu dengan kakak sepupunya itu dua tahun sekali, saat mereka sama-sama masih belajar dulu.


Mereka memang tidak dekat dan tidak sama seperti seorang saudara. Mereka juga berbeda pendidikan dan cara pandang pada suatu permasalahan.


Tapi mereka berdua bisa sama, saat mengerjakan pekerjaan kantor dan melakukan semua kegiatan untuk kemajuan usaha kakeknya, yang artinya juga usaha mereka bersama. Surya Jaya dan Mr Ginting, adalah dua cucu laki-laki sang kakek. Meskipun mereka berbeda, karena Mr Ginting di didik langsung oleh sang kakek. Sedang Surya Jaya, masih ada orang tua, yang mendidiknya sendiri, meskipun sama-sama ketatnya juga dalam hal pendidikan.


"Selamat pagi. Maaf, Saya terlambat."


Tanpa mengetuk pintu, Mr Ginting datang dengan meminta maaf secara formal, layaknya berbicara dengan rekan bisnisnya yang lain.


Tidak ada penjelasan tentang alasannya semalam, tapi dia langsung membahas berkas yang sudah dia persiapkan sedari rumah.


Sang kakek dan Surya Jaya, hanya bisa saling pandang, tanpa punya keinginan untuk bertanya juga. Mereka berdua tidak ingin, membuat hati Mr Ginting, merasa terganggu dengan pertanyaan mereka, tentang apa alasannya, sehingga membatalkan rencana pertemuannya, secara sepihak.

__ADS_1


__ADS_2