Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Tidak Mendapat Jawaban


__ADS_3

"Duduklah Mr Ginting."


Yati meminta kepada Mr Ginting, untuk duduk terlebih dahulu, karena merasa tidak enak hati, pada orang-orang disekitarnya, yang sedang lewati l di koridor rumah sakit.


Apalagi, ada beberapa pasien yang sedang bermain-main di halaman rumah sakit, bersama dengan sesama pasien. Mereka, pasien-pasien tersebut, di awasi beberapa perawat yang duduk di kursi-kursi, yang ada di halaman juga.


Akhirnya, dengan sedikit memaksa, Mr Ginting mau juga duduk di bangku yang ditunjukkan oleh Yati padanya.


Mereka berdua, saling diam. Tidak ada yang memulai untuk melakukan pembicaraan. Apalagi Yati, yang memang hanya diam saja sedari tadi. Dia tidak mau bercerita pada Mr Ginting, tentang keadaan yang sebenarnya.


Yati juga tidak menjelaskan pada Mr Ginting, dengan kebenaran yang ada, kenapa dia sampai ada di rumah sakit jiwa, yang jauh di negara Singapura sini.


Tidak. Yati tidak ingin membuat Mr Ginting membenci kakeknya sendiri. Karena sebelumnya Yati sudah tahu kalau, sebenarnya Mr Ginting sudah tidak mempunyai hubungan yang hangat bersama dengan sang Kakek. Walaupun Yati juga tidak tahu, apa yang sudah terjadi diantara sang Kakek dan cucunya itu. Yaitu Mr Ginting.


"Miss. Bicaralah! atau Kamu bisa menghubungi Mr Akihiko, untuk melanjutkan kerja sama yang kemarin. Aku akan menerima, dengan banyak syarat yang akan Kamu inginkan."


Mr Ginting, masih mencoba untuk menggoyahkan keputusan yang diambil oleh Yati.


Padahal, Mr Ginting sendirilah yang membuat keputusan untuk pernikahan mereka.


Yati hanya mengikuti kemauan dan keputusan yang dia lakukan. Karena sebagai pihak ke-dua, dia tidak memiliki kekuatan untuk memutuskan sesuatu, dalam perjanjian kontrak mereka.


Semua keputusan, hanya ada pada pihak pertama saja. Kecuali jika ada bentuk kekerasan terhadap pihak ke-dua.


Yati, yang terbiasa dengan drama-drama pernikahan seperti yang dia lakukan, sama seperti yang banyak diceritakan oleh para seniornya yang dulu-dulu, seperti miss Marisa, hanya tersenyum tipis saja. Tanpa harus menanggapi dengan serius.


Ini hanya perasaan sesaat, yang akan berubah sendiri, sesuai dengan berjalannya sang waktu.


Yati, yang terbiasa untuk menahan diri dan ekspresi wajahnya, terkesan dingin, saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh Mr Ginting padanya.

__ADS_1


"Apa Aku benar-benar tidak ada kesempatan lagi? Apa Kamu tidak mengingat semua hal yang sudah kita lalui bersama-sama selama ini?" Mr Ginting, mencoba untuk mencari cara, agar Yati bisa terpengaruh.


Mr Ginting tidak tahu, jika seorang gheisa seperti Yati ini, busa bersikap kebalikan dari keramahan, keanggunan dan juga senyumannya.


Yati, bisa jadi sangat dingin, dan seperti tidak memiliki perasaan. Dia bisa terlihat sangat kejam, tanpa harus melawan dengan kekuatan fisik. Karena dia sudah terlatih untuk mengolah ekspresi wajah, di setiap suasana. Meskipun itu bukan dari hatinya sendiri.


"Pulanglah Mr Ginting. Saya akan baik-baik saja di sini."


Hanya itu saja, yang keluar dari mulut Yati. Tanpa memberikan keterangan dan penjelasan yang lebih.


Dengan raut wajah yang seperti orang kebingungan, Mr Ginting menatap ke arah Yati. Dia berharap agar Yati merubah jawabannya.


Tapi ternyata Yati tetap tidak melanjutkan lagi kata-katanya. Yati kembali terdiam dan tidak memberikan senyuman sedikit pun.


Mr Ginting menghela nafas panjang. Dia tidak menyangka jika, miss Yeti, yang dia dekat dengannya beberapa hari ke belakang, sekarang seperti orang lain. Yang tidak pernah saling dekat satu sama lain. Tidak lagi sama, seperti saat-saat tertentu, di mana mereka menghabiskan malam-malam panjang mereka berdua, di tempat tidur.


Tapi semua itu tidak bisa dilakukan lagi. Semua tidak mungkin terulang kembali. Dan Mr Ginting, tidak tahu, apakah akan ada maaf untuknya, yang sudah menuduh tanpa bertanya dan menyelidikinya terlebih dahulu.


Begitulah tekad Mr Ginting, sebelum dia berdiri dan pamit pada mantan istrinya itu. Karena dia tidak mungkin memaksakan diri, untuk bicara dengan miss Yeti, yang sudah berada pada mode datarnya.


Mode, di mana seorang geisha yang tidak memiliki perasaan dalam keadaan seperti ini. Karena mereka, para geisha, sudah sangat terlatih, untuk bisa mengontrol diri dan juga ekspresi wajahnya, meskipun itu tidak dari hati mereka.


"Aku akan pulang ke Indonesia besok. Jika Kamu berubah pikiran, Kamu segera hubungi Aku." Mr Ginting memberitahu jadwal penerbangan yang dia lakukan untuk pulang ke Indonesia.


"Aku juga beristirahat di rumah yang kemarin itu." Mr Ginting, melanjutkan keterangan yang dia berikan pada Yati.


Akhirnya, Mr Ginting memutuskan untuk pulang dan tidak lagi bertanya-tanya pada miss Yeti. Dia tidak mau jika dianggap sebagai seorang laki-laki yang tidak tegas, dan berprinsip.


Dia tidak perlu banyak bicara. Yang pasti, dia hanya perlu diam, dan mencari tahu, tentang kebenaran yang sesungguhnya, dengan apa yang terjadi pada miss Yeti-nya itu.

__ADS_1


Yati hanya mengangguk sekilas, saat mendengar suara Mr Ginting, yang berpamitan dengannya. Dia juga hanya tersenyum samar, tidak jelas terlihat, jika tidak diperhatikan dengan baik.


Dan Mr Ginting, sangat menyayangkan sikap dari mantan istrinya itu. Karena diamnya, tidak memberikan penjelasan apa-apa, yang bisa dia gunakan untuk membuat sang Kakek bicara. Menjawab semua pertanyaan yang akan dia berikan pada kakeknya sendiri.


*****


..."Cari tahu, bagaimanapun caranya! Ini soal miss Kiara, yang kemarin-kemarin pergi bersama Kakek. Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang Kakek, dan juga miss Kiara."...


..."Baik Tuan Muda."...


Mr Ginting, menghubungi seseorang, yang biasa dia minta untuk melakukan sesuatu, jika dia ada keperluan, di luar tugas kantor.


Dia ingin menyelidiki kebenaran tentang video, dan beberapa cctv yang ada di rumah sang Kakek, juga cctv yang ada di bandara Singapura, serta hotel, di mana istrinya itu menginap dan tampak di antar oleh sang Kakek waktu itu.


Kemarin, dia terlalu ceroboh dan tidak mencari kebenaran tentang video-video yang dia terima melalui pesan dari nomer yang tidak dikenal.


Sekarang, Mr Ginting tidak mau mengulangi kecerobohannya lagi. Dia merasa harus melakukan berbagai cara, untuk mencari kebenaran yang ada.


Meskipun dia juga sadar, jika hubungan antara dirinya dengan miss Yeti, tidak mungkin bisa diulang lagi, sama seperti kemarin.


Tut!


Tut!


Tut!


Setelah selesai menghubungi orang yang dia berikan tugas, Mr Ginting berganti untuk menghubungi kakeknya. Dia ingin mendapatkan penjelasan dari Sang Kakek, agar dia tidak kepikiran terus menerus, sehingga tidak bisa melakukan apa-apa, untuk pekerjaannya.


Tapi ternyata, panggilan telpon yang dia lakukan untuk sang Kakek, tidak tersambung. Mungkin, sang Kakek sedang sibuk dengan urusannya sendiri, di Indonesia. Sedangkan Mr Ginting, saat ini sedang berada di Singapura, karena mencari keberadaan miss Yeti, yang baru dia ketahui, jika sedang berada di rumah sakit jiwa, di negara Singapura.

__ADS_1


Sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Jika mantan istrinya itu, depresi seperti sekarang ini. Dan dia berpikir jika, salah satu penyebabnya adalah dirinya sendiri.


Dia tidak tahu, jika semuanya ini ada kaitannya dengan sang Kakek. Orang yang ada ikatan darah dan satu-satunya orang, yang menjadi walinya, sejak dia masih kecil dulu.


__ADS_2