
"Bagaimana Kiara?"
Sang Kakek kembali mendesak Yati, untuk segera memutuskan sendiri, apa yang harus dia lakukan, untuk mengetahui apa rahasia dari kehidupannya yang penuh misteri selama ini.
Tapi Yati juga tidak mungkin mengakui semuanya pada sang Kakek. Dia tidak mau jika pernikahan kontraknya dengan Mr Ginting terbongkar, dan itu akan merugikan Mr Ginting, cucu dari sang Kakek sendiri. Dia juga tidak mungkin mengecewakan Mr Ginting, yang sudah mempercayai dirinya, untuk melakukan perannya sebagai seorang istri yang sebenarnya selama ini. Dia ingin membantu Mr Ginting, untuk mendapatkan hak-hak miliknya, yang belum dia dapat.
"Apa imbalannya, selain Kiara bisa bertemu dengan wanita itu?" Yati, mencoba untuk menantang sang Kakek.
"Apa yang Kamu inginkan?" tanya sang Kakek menjawab tantangan dari istri cucunya itu.
"Berikanlah hak suamiku."
Sang Kakek memicingkan mata, mendengar perkataan dari Yati. Dia tidak pernah berpikir sejauh itu, karena dia mengira bahwa, istri dari cucunya itu tidak pernah tahu, apa dan bagaimana tentang semua rahasia dari wasiat papa Mr Ginting sendiri.
"Kenapa Kamu meminta itu? Kenapa tidak yang lainnya? Apa Kamu ada niatan lain, sehingga mendekati Ginting, dan juga menikahinya?" tanya sang Kakek curiga.
Yati tersenyum, mendengar jawaban dan perkataan yang diucapkan oleh Kakek suaminya itu.
"Kita buat kesepakatan sendiri, dan ini tidak ada hubungannya dengan Ginting." Sang Kakek, yang tentunya bukan laki-laki tua yang bodoh, memiliki penawaran sendiri untuk Yati.
"Maksudnya?" tanya Yati, yang mulai tidak menampakan dirinya sebagai seorang istri dari cucu sang Kakek sendiri, sang harus sopan dan menghormati kakek tua yang menjadi lawan bicaranya sekarang ini.
Yati berpikir bahwa, sang Kakek tidak memiliki niat baik padanya, meskipun dia sendiri tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada sang Kakek dan Bros Bunga yang dia miliki.
"Kesepakatan kita ini, tidak berhubungan dengan Ginting, dan semua orang yang ada di sekitar keluargaku. Ini hanya antara kita berdua saja. Bagaimana?" tanya sang Kakek lagi, mencoba untuk menjelaskan pada Yati.
Seorang wanita muda, yang dia pikir sebagai anak dari hasil perselingkuhan wanita-nya, dengan pengawalnya dulu. Dan itu, menjadikan dirinya mengorek luka lama yang dia ingin buang, untuk selamanya.
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Yati, ingin tahu kejelasan dari perkataan sang Kakek tadi.
Akhirnya, sang Kakek menjelaskan maksud dari perkataannya tadi, bahwa kesepakatan yang dibuat oleh dirinya dan Yati, tidak akan menggangu hubungan antara dirinya dengan Mr Ginting.
Sang Kakek juga berjanji, akan merahasiakan semua ini pada cucunya itu.
Jadi, dia akan pura-pura tidak terjadi sesuatu antara dirinya dengan Kiara, dengan adanya kesepakatan mereka berdua ini. Dan pada saat yang mereka tentukan, mereka akan pergi ke Singapura, untuk bertemu dengan wanita-nya sang Kakek, yang saat ini mengalami depresiasi. Karena itu adalah persyaratan yang diberikan oleh Yati, dengan imbalan Bros Bunga, yang akan diberikan pada sang Kakek.
Tapi Yati berpikir lain lagi. Dia merasa jika, ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang Kakek, sehingga dia begitu menginginkan Bros Bunga itu.
__ADS_1
Tapi untuk sementara, Yati akan mengikuti kemauan sang Kakek. Yang penting, dia bisa melihat dan bertemu dengan wanita, yang diceritakan oleh sang Kakek tadi. Karena kesimpulan yang dia miliki adalah, wanita itu adalah ibu kandungnya, yang selama ini tidak dia ketahui keberadaannya.
Setelah mereka berdua sepakat dengan apa yang akan mereka lakukan, sekarang mereka berdua turun dari mobil. Karena sudah sampai di tempat parkir Mall, yang diinginkan sang Kakek.
Sang Kakek meminta pada dua bodyguardnya itu, untuk mengikuti mereka berdua dari jarak yang aman. Dia tidak mau jika ada salah satu dari mereka berdua, yang bisa membocorkan informasi tentang kesepakatan yang dibuat bersama dengan istri dari cucunya itu, pada cucunya sendiri, Mr Ginting.
Sang Kakek tidak lagi percaya begitu saja dengan orang lain, karena pengalaman hidupnya selama ini.
Mulai dari wanita-nya dan pengawal pribadinya, dan kemarin, Mr Andre, yang dia minta untuk menyelidiki siapa sebenarnya Kiara. Dan ternyata, laporan dari Mr Andre tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akurat.
Sekarang, sang Kakek ingin bekerja sendiri, untuk bisa mendapatkan Bros Bunga itu. Apalagi, Bros Bunga itu sudah ada di depan mata, dengan pemiliknya, yang ternyata adalah orang yang akhir-akhir ini mulai dia sayangi.
Orang itu adalah istri dari cucunya sendiri, Mr Ginting. Tentu saja, ini membuat sang Kakek merasa senang tapi juga waspada. Dia tidak mau jika keberadaan istri cucunya itu, memang sengaja dengan maksud mendekat dirinya, untuk membalas dendam.
Padahal yang sebenarnya adalah, Yati, atau Kiara itu, tidak tahu apa-apa, tentang semua rahasia dari Bros Bunga, yang diinginkan oleh sang Kakek sedari dulu.
Sang Kakek mengajak Yati jalan-jalan ke mall, ke gerai-gerai pakaian dan tas branded, yang banyak dikunjungi orang-orang dari kalangan atas.
Sang Kakek berpikir bahwa, istri dari cucunya itu juga menyukai belanja dengan barang-barang mewah, yang sering menjadi idaman dan incaran setiap wanita. Dia juga mengajak Yati ke toko perhiasan, dan ingin memberikan hadiah kepada Yati, sesuai dengan yang dia inginkan.
Orang-orang yang melihat mereka, sang Kakek dan Yati, tentu berpikir bahwa, sang Kakek adalah Sugar Daddy, dari seorang wanita muda.
Karena seseorang akan menilai apa yang mereka lihat, tanpa harus tahu bagaimana dan seperti yang sebenarnya dari sesuatu yang tampak di depan mata.
Tapi, semua penilaian orang-orang terhadap Yati dan sang Kakek, juga tidak ada yang salah. Mereka semua, juga memiliki alasan yang tentu ada benarnya juga, karena jika hubungan antara Yati dan sang Kakek adalah cucu dan Kakek yang sebenarnya, mereka berdua tidak akan sungkan untuk berpegangan tangan atau tertawa lepas layaknya 'kakek dan cucu' pada umumnya.
Dan begitulah kira-kira, apa pemikiran orang lain yang melihat kebersamaan mereka.
*****
Mr Ginting sudah pulang ke rumah. Tapi istrinya, belum juga sampai di rumah.
Entah kemana kakeknya membawa istrinya itu pergi berjalan-jalan. Dia juga tidak tahu, karena dia juga tidak bertanya, ke mana mereka pergi.
Tapi karena Mr Ginting merasa sepi sendiri tanpa istrinya itu di rumah, akhirnya dia menelpon istrinya itu, untuk mengetahui posisinya saat ini.
Tut
__ADS_1
Tut
Tut
Telpon tersambung, tapi tidak diangkat juga oleh istrinya.
Mr Ginting, memutus panggilan telponnya, karena tidak segera diterima oleh Yati.
Tapi tak lama kemudian, justru istrinya yang menghubungi dirinya, karena saat akan diterima, tiba-tiba panggilan telpon darinya terputus.
..."Halo"...
Mr Ginting menerima panggilan telpon dari Yati.
..."Baru saja Aku mau angkat, tapi kenapa dimatikan?"...
..."Oh, Aku pikir sedang sibuk, jadi tidak bisa menerima panggilan telpon dariku."...
Ada nada kesal dan cemburu, dari nada bicara Mr Ginting. Dan itu membuat Yati tertawa kecil.
..."Hihihi... Kamu cemburu dengan Kakek?"...
..."Buat apa Aku cemburu dengan kakek tua itu? tidak level!"...
..."Oh benarkah itu?"...
Mr Ginting terbelalak, karena suara dari sang Kakek, yang menyahuti perkataannya. Karena ternyata, handphone Yati di *laudspeaker*.
..."Kakek!" ...
..."Hahaha.. jangan khawatir. Aku sudah ada di jalan menuju ke rumahmu. Tak lama lagi, kami akan sampai. Apa Kamu sudah persiapkan sesuatu untuk menyambut kedatangan Kakekmu ini?"...
..."Hah! buat apa? Cepat pulang setelah menurunkan istriku. Sudah bagus Aku mengijinkan dia menemani kakek sore tadi."...
Klik!
Mr Ginting, menutup panggilan telepon tersebut, secara sepihak. Dia merasa kesal, karena ulah dan perkataan sang Kakek, yang dia anggap sebagai ledekan untuknya.
__ADS_1
"Dasar kakek tua. Ada-ada saja maunya!" gerutu Mr Ginting, sambil berjalan menuju ke arah pintu. Dia ingin keluar dari dalam kamar, dan menunggu kedatangan istrinya, miss Kiara, di teras depan. Dia tidak mau jika sang kakek harus turun dari mobilnya, kemudian berbasa-basi terlebih dahulu, meskipun itu hanya untuk berterima kasih kepada dirinya.