Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Keadaan Miss Marisa


__ADS_3

Tiba di rumah sakit yang diberitahukan oleh Mr Akihiko pada Yati, ternyata tidak ada orang yang menuggu miss Marisa.


Mr Akihiko sendiri, sedang ada di luar kota, dan baru saja dalam perjalanan pulang, saat menerima kabar dari pihak rumah sakit tersebut.


Jadi, saat Yati bertanya kepada pihak humas yang ada di loby depan, mereka mengatakan bahwa, miss Marisa di bawa oleh orang-orang yang menolongnya di bandara. Jadi, tidak ada yang bertanggung jawab terhadap dirinya, yang dalam perawatan.


Dari ponsel milik miss Marisa, ditemukan ada panggilan terakhir dari Mr Akihiko. Itulah sebabnya, pihak rumah sakit menghubungi atasannya itu, untuk memberitahu keadaan miss Marisa.


Karena Mr Akihiko sedang berada di luar kota, akhirnya dia mencoba untuk menghubungi Yati, supaya membantunya untuk mengurus miss Marisa di rumah sakit, sebelum dia datang.


"Tadi, orang yang kami hubungi untuk pertama kalinya, sudah mentransfer sejumlah uang, untuk jaminan perawatan miss Marisa."


Pihak humas rumah sakit, memberikan keterangan kepada Yati, sejelas mungkin. Karena jaminan biaya yang dibutuhkan untuk perawatan miss Marisa tidak kecil.


Untungnya, Mr Akihiko sendiri yang merupakan Bos Besar-nya miss Marisa, yang mereka hubungi.


Setelah mendapatkan semua keterangan tentang miss Marisa dan biaya perawatannya, Yati yang semula ingin membantu temannya itu, hanya bisa mengangguk saja. Dia pamit, kemudian berjalan menuju ke ruang ICU, di mana miss Marisa ditempatkan.


Tapi sayangnya, Yati tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam ruangan ICU. Miss Marisa, masih dalam keadaan koma.


Kesedihan Yati kembali datang. Dia merasa menyesal, karena mengabaikan beberapa panggilan dan pesan yang dikirim oleh miss Marisa padanya, hanya untuk mengucapkan bela sungkawa dan ingin menghibur dirinya. Pada saat dia baru saja kehilangan ibunya waktu itu.


Dan sekarang, justru miss Marisa sendiri, yang sedang berjuang keras, untuk nyawanya sendiri.


Penyakit jantung yang dia derita, memang belum pernah dia keluhkan sama sekali pada orang lain.


Tapi, dua kali miss Marisa bercerita pada Yati, tentang apa yang dia rasakan pada organ tubuhnya, yang cukup vital, dalam menunjang kehidupan manusia.


"Bertahan Miss. Aku sudah cukup kehilangan orang yang Aku sayangi. Aku harap, kamu tidak pergi meninggalkan diriku secepat ini."


Doa dan harapan diucapkan oleh Yati, saat menuggu di luar ruangan.


"Miss Yeti?"


Seorang perawat jaga, memanggil namanya. Dia diperbolehkan untuk masuk, melihat keadaan miss Marisa.

__ADS_1


Tadi, dia meminta ijin pada pihak dokter yang menangani miss Marisa, agar diperbolehkan untuk menjenguk ke dalam ruangan. Karena miss Marisa, tidak mempunyai keluarga lain, selain dirinya.


Dengan mengatakan alasan seperti itu, akhirnya dokter mengijinkan Yati, untuk menjenguk miss Marisa ke dalam ruangan ICU. Tapi dengan syarat yang cukup ketat.


Setelah mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan berganti pakaian, Yati masuk ke dalam ruangan ICU, ditemani oleh perawat yang tadi memangilnya.


Saat melihat bagaimana kondisi miss Marisa, Yati menahan nafas.


Di tubuh miss Marisa, terpasang alat-alat medis, yang berguna untuk memantau kondisi dan keadaan pada tubuh pasien.


Mulai dari selang pernafasan, deteksi detak jantung, dan selang-selang yang terpasang di beberapa tubuh miss Marisa yang lain. Termasuk selang infus dan juga selang air seni, yang membantu pasien untuk tidak perlu ke kamar mandi. Apalagi dalam keadaan seperti yang di alami oleh miss Marisa saat ini.


"Miss. Ma_maafkan Aku. Maafkan A_aku Miss."


Yati berkata dengan suara bergetar, karena menahan tangisnya. Dia tidak ingin terlihat lemah, dihadapan miss Marisa, meskipun pada saat ini orangnya dalam keadaan koma, dan tidak mungkin bisa melihatnya.


Ada banyak hal yang ingin disampaikan oleh Yati, tapi sepertinya itu juga tidak baik. Karena Yati merasa yakin bahwa, miss Marisa bisa mendengar suaranya, meskipun tidak bisa membuka matanya ataupun mengerakkan anggota tubuhnya yang lain.


Setelah dirasa cukup, Yati akhirnya keluar dari ruang ICU. Dia melepaskan bajunya, dan menyerahkan kembali pada perawat yang ikut bersamanya tadi.


"Oh ya Miss. Barang-barang pribadi miss Marisa, ada di ruangan Saya. Anda bisa mengambilnya sekarang ini."


Setelah menerima barang-barang milik miss Marisa, Yati menghubungi Mr Akihiko, untuk memberitahukan kepada miss Marisa kepada atasannya itu.


Tut


Tut


Tut


Panggilan yang dilakukan oleh Yati, tidak langsung terjawab. Bahkan, panggilan tersebut putus begitu saja, tanpa mendapat kesempatan untuk diangkat oleh Mr Akihiko.


"Ada apa ya? Apa sedang tidak ada sinyal di jalan, atau Mr Akihiko sengaja mengabaikan panggilan telpon dariku? Dia ingin balas dendam, karena Aku juga pernah mengabaikan panggilan telpon dan beberapa pesan darinya."


Yati justru berpikir jika, Mr Akihiko sengaja tidak menjawab telpon darinya.

__ADS_1


Tapi dengan segera, Yati menyadari bahwa, itu bukanlah sifat asli dari pria, yang menjadi atasannya selama ini.


"Eh, dia itu beneran pria bukan ya?" tanya Yati, yang meragukan identitas asli dari Mr Akihiko, yang selama ini diketahui berjenis kelamin laki-laki.


"Ah, sudahlah. Aku kirim pesan saja."


Akhirnya Yati memutuskan untuk mengirim pesan pada Mr Akihiko, supaya bisa dibaca sendiri nanti, saat Mr Akihiko sedang membuka handphonenya.


Sekarang, Yati duduk kembali di bangku tunggu, yang ada di depan ICU. Sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang, yang juga sedang menunggu anggota keluarganya, yang ada di ruangan tersebut.


*****


Setelah Mr Ginting mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Yati, mantan istrinya, dia menjauh dari kehidupan sang Kakek.


Dia pergi ke Eropa, dengan alasan bahwa ingin mengurus sendiri bisnis yang ada di sana.


Dia tidak mengatakan apa-apa, pada sepupunya sendiri, yaitu Surya Jaya.


Mr Ginting juga menunggu laporan seseorang, yang dia minta untuk menyelidiki kegiatan apa saja yang dilakukan oleh sang Kakek, juga rahasia-rahasia yang disembunyikan oleh sang Kakek selama ini.


"Aku harap, semua akan terbongkar. Dan Kakek tua itu, tidak ada hubungannya dengan semua ini."


Meskipun Mr Ginting terlihat tidak hormat dan menyayangi kakeknya itu, namun jauh di lubuk hati, tentu saja semua itu tidak benar.


Mr Ginting menyayangi kakeknya dengan cara yang berbeda. Tidak ada kesan familiar dan dekat, sebagai layaknya seorang kakek dengan cucunya.


"Aku harap Kakek tidak memiliki hubungan dengan semua yang akan Aku ketahui nanti. Karena jika sampai semua itu benar, Aku akan benar-benar merasa menyesal, karena telah memiliki seorang kakek seperti dirinya."


Mr Ginting bergumam seorang diri, di dalam kamar mension miliknya, yang ada di negara Eropa sana.


Sekarang, dia sedang menatap ke arah dinding. Di mana ada gambar sepasang suami istri, yang tampak bahagia saat mengendong bayinya.


Dan di samping gambar tersebut, ada gambar lain, yang memperlihatkan dirinya sedang tersenyum bahagia, saat pesta pernikahan yang dia lakukan beberapa bulan yang lalu.


Tapi sepertinya, kedua gambar tersebut sekarang ini hanya tinggal kenangan. Tidak ada yang tersisa dari kebahagiaan yang tampak pada gambar tersebut.

__ADS_1


Mr Ginting memejamkan mata, untuk menenangkan hati dan pikirannya sendiri, yang masih saja berharap, jika suatu hari nanti, dia bisa mempunyai kebahagiaan yang sama, seperti yang ada pada gambar, di dinding kamarnya itu.


"Miss Yeti. Maafkan Aku."


__ADS_2