Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Masa Lalu 3


__ADS_3

Berpuluh tahun yang lalu.


"Buang anak ini. Aku tidak sudi melihatnya. Kalau bisa, jauh ke luar pulau atau kemana terserah. Yang penting, dia tidak bisa ditemukan lagi. Aku tidak mau melihatnya ada di sini. Anak dari para pengkhianat! Seandainya Aku tega, Aku sudah akan membunuhnya, supaya dia tidak bisa melihat ke dua orang tuanya lagi. Ingat, harus sejauh mungkin!"


Suara perintah itu dari sang Kakek di waktu muda. Terdengar menakutkan di telinga siapa saja.


Para pelayan dan bodyguardnya, menundukkan kepala dalam diam. Ketakutan, dan tidak ada yang berani menjawab. Hanya satu orang saja yang mengangguk, mengiyakan perintahnya.


Orang tersebut mengambil seorang anak yang masih bayi, yang ada di atas meja. Bayi tersebut, dalam keadaan tertidur pulas. Polos, tanpa tahu keadaan yang akan terjadi pada dirinya.


Sedangkan ibunya, si gadis, menangis sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali di pojok ruangan. Dia tidak berani mengatakan apa-apa, untuk menentang keputusan sang Tuan Besar-nya.


Ayah dari bayi tersebut, sudah tidak berada di rumah itu. Dia sudah pergi, kabur waktu ketahuan jika dialah laki-laki yang sudah 'mencuri' wanita dari Tuan Besar-nya. Dia pergi, tanpa memberikan kabar apapun pada si gadis, yang sekarang menanggung semua beban dan hukuman dari Tuan Besar.


"Cepat!" bentak sang Kakek dengan sorot mata yang tajam. Seakan-akan bola matanya mau keluar.


Dengan tangan gemetar, sang pengawal yang dibentak, melakukan juga perintah dari Tuan Besar-nya itu. Meskipun sebenarnya, dia tidak tega, jika harus menyakiti anak kecil, apalagi masih bayi seperti yang saat ini ada didepannya.


Tapi karena ini adalah perintah dan tugas yang diberikan oleh Tuan Besar-nya, dia mau tidak mau, harus melaksanakan tugas itu dengan baik.


"Jangan. Jangan bawa anakku!"


Dari arah sudut ruangan, si gadis berteriak keras, sambil berdiri dari posisi yang tadi, yaitu terduduk, tanpa bisa melakukan apa-apa.


Tapi saat melihat anaknya di bawa, dia merasa jika sesuatu akan terjadi dan itu mengancam keselamatan anaknya. Dia berteriak, supaya Tuan Besar dan pengawal tadi, mengurungkan niatnya.


Plak!


Sebuah tamparan, mendarat dengan sempurna di pipi si gadis. Bekas tamparan tersebut, tercetak jelas di pipi sebelah kiri. Dan itu adalah tangan dari Tuan Besar-nya.


"Kamu tidak berhak atas anak itu. Aku yang akan menentukan nasibnya. Masih untung, Aku tidak menjualnya atau mengambil organ tubuhnya. Tidak! Ini adalah hukuman untukmu, yaitu terpisah dari buah pengkhianatan yang Kalian berdua lakukan. Bahkan, laki-laki brengsek itu sudah meninggalkan dirimu terlebih dahulu. Kamu puas? nikmatilah kesuksesan yang telah Kamu ciptakan sendiri!"


Tapi sepertinya si gadis tidak peduli dengan semua perkataan Tuan Besar-nya. Dia juga tidak memperdulikan dan merasakan rasa sakit pada pipinya, akibat tamparan tadi. Yang dia inginkan sekarang adalah, bisa melihat anaknya itu untuk sekali ini saja.

__ADS_1


"Aku mohon. Biarkan Aku melihatnya sekali saja. Untuk terakhir kalinya," kata si gadis dengan memelas.


Air matanya jatuh berderai. Dia meminta belas kasihan dari Tuan Besar-nya itu.


"Pengawal, tunggu. Berhenti!"


Pengawal yang sudah berjalan mencapai pintu, berhenti, saat mendengar perkataan Tuan Besar-nya, yang memintanya untuk berhenti dan tidak melanjutkan langkahnya menuju keluar dari rumah.


Si gadis, tidak membuang waktu lagi. Dia segera berlari menuju ke arah pintu, untuk melihat anaknya, yang akan segera terpisah darinya. Dan dia tidak tahu, kapan lagi bisa berjumpa dengan anaknya itu.


"Sayang. Maafkan Ibu. Ini bukan salahmu. Ini semua adalah salahku. Hiks hiks hiks!"


Sambil menangis dan berderai air mata, si gadis memasangkan sebuah Bros Bunga, yang dia ambil dari saku bajunya.


"Tolong jangan bunuh anakku ini. Jika Kamu membuangnya, pastikan dia sudah ditemukan oleh seseorang, sebelum Kamu meninggalkannya. Biarkan dia dirawat oleh orang lain, yang penting jangan Kamu bunuh. Aku tahu, Kamu juga punya anak, jadi Kamu pasti tahu, bagaimana rasanya terpisah dari anakmu. Aku mohon, jangan sakiti dia. Ini Bros Bunga, biar dia pakai untuk jati dirinya. Biarkan waktu dan nasib yang akan membawanya, untuk bisa menemukan ibunya ini."


Pengawal hanya mengangguk saja. Dia tidak menjawab ataupun mengatakan sesuatu. Dia hanya diam, tapi tahu apa yang harus dia lakukan untuk anak itu.


"Cukup! Cepat bawa dia pergi!"


Dan pengawal tadi, tidak bisa memberikan waktu kepada si gadis lebih banyak. Karena tugasnya harus segera dia laksanakan.


Si gadis mencium pipi dan kening anaknya sekali lagi. Setelah itu, dia hanya bisa terduduk di lantai, tanpa bisa melakukan apa-apa. Dia kembali menangis dan memandang kepergian anaknya, yang dibawa pengawal dengan sebuah mobil.


"Hiks hiks hiks... anakku... hiks hiks hiks!"


"Bawa dia masuk ke dalam kamar dan kunci pintunya! dan Kamu, cari laki-laki brengsek itu, sampai ketemu!"


Sang Tuan Besar, kembali memberikan beberapa tugas pada para pengawalnya. Dia sendiri melihat si gadis yang di papah oleh seorang pelayan, masuk ke dalam kamar. Dia hanya menurut , dan tidak melakukan perlawanan. Pandangan matanya juga terlihat kosong.


"Awasi dia! jangan sampai di kabur, atau bertemu dengan laki-laki itu lagi!"


Para pelayan dan bodyguard hanya mengangguk patuh. Tidak ada yang berani melawan perintah dari Tuan Besar-nya itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, sang Tuan Besar, pergi dari rumah itu, menunju ke rumahnya sendiri, yang ada di kota. Dia akan menemui cucunya, yang baru saja di tinggalkan oleh kedua orang tuanya, dalam kecelakaan pesawat, yang membawa mereka dalam perjalanan ke Meksiko.


Sang Tuan Besar, kembali memerankan sosoknya yang berwibawa dan menyayangi keluarganya.


*****


Pengawal yang tadi bertugas membawa bayi, sebenarnya merasa bingung. Dia tidak tahu, harus kemana membuang bayi ini.


Dia tidak mungkin membuang bayi ini di daerah kota. Dia juga tidak mungkin membawanya pulang ke rumah, karena bisa-bisa, istrinya marah besar karena menyangka jika anak itu adalah anaknya sendiri, dari hasil perselingkuhan.


"Kemana Aku harus membawa anak ini? kalau cuma ke panti asuhan, si gadis bisa-bisa mencarinya suatu hari nanti. Lebih baik aku bawa ke daerah perkampungan saja. Dikampung, apalagi jika kampung itu masih ada di daerah yang sepi atau pedalaman, orang-orangnya lebih baik dalam memperlakukan seorang anak, meskipun tidak diketahui asal usulnya. Ya-ya, lebih baik Aku ke daerah sana saja."


Dengan melajukan mobilnya menuju ke arah pedesaan yang masih terbilang sepi, dari dunia luar atau modern, pengawal tersebut terus saja mengikuti jalanan, tanpa tahu, harus dimana dia meletakkan bayi itu.


Untungnya, bayi tersebut tidak rewel dan menangis. Bayi itu, seakan-akan tahu, bagiamana keadaan dirinya saat ini.


"Semoga saja, ada orang yang akan menemukannya dan orang itu mau merawatnya juga. Biar tugasku cepat selesai. Aku juga tidak mau jika membunuh seorang bayi, meskipun dimakan binatang buas dijalan atau hutan, tapi itu karena Aku juga penyebabnya. Maafkan Aku Maafkan Aku!"


Dengan berdoa, pengawal tadi berharap agar dia bisa melakukan tugasnya ini dengan cepat dan tidak ada kesalahan.


Meskipun dia tidak tega, tapi tugasnya tidak memberikan dia pilihan.


Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan jauh, juga waktu yang cukup lama, dia akhirnya berhenti di sebuah tepi jalan raya yang cukup sepi.


Dengan memperhatikan kondisi sekeliling, dia segera turun dari mobil dan membawa bayi itu keluar. Dia terus berjalan masuk ke dalam perkebunan yang dia yakini, jika itu akan membawanya pada perkampungan, yang tidak terlihat dari jalan raya.


Setelah hampir sepuluh menit lamanya pengawal tadi berjalan, ternyata dia sampai di sebuah persawahan warga. Tapi waktu sudah sore, dan biasanya warga kampung, sudah pulang ke rumah masing-masing.


"Aduh, bagaimana ini?"


Pengawal itu bingung. Dia merasa sangat menyesal, karena tidak mungkin membawa kembali bayi itu pulang atau ke rumah Tuan Besar-nya.


Tapi, dia juga tidak mungkin meninggalkan bayi itu sendiri di persawahan yang sepi dan hari hampir malam.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana ini?" tanya pengawal, pada dirinya sendiri. Dia merasa bingung sendiri, dengan keadaan yang ada.


__ADS_2