
Rina menghela nafas panjang, seolah membawa beban berat dalam hatinya saat menceritakan kecurigaannya, yang pernah dia rasakan kepada Yati.
Dengan ekspresi khawatir, Rina kembali bercerita, karena ia tahu jika Yati tidak percaya begitu saja dengan kisahnya tadi.
"Yati, maaf jika kamu tidak percaya. Tapi ada hal lain yang ingin aku sampaikan, tentang Mr Akihiko tadi. Tapi, aku memang sempat curiga, apa yang terjadi pada suamiku sebenarnya tidak murni kecelakaan. Aku memiliki firasat bahwa semua itu ada hubungannya dengan Mr Akihiko, yang terlibat di dalamnya."
Yati terkejut lagi, sebab Rina bisa mengetahui isi hatinya. Padahal ia sudah berusaha untuk tidak terlihat berbeda.
Rina kembali berbicara perlahan-lahan.
"Ada beberapa kejadian aneh yang terjadi sebelum kecelakaan itu, seperti ancaman dan intimidasi yang tak bisa kulepaskan dari pikiranku. Tapi, aku tidak memiliki bukti kuat, dan aku takut melaporkan atau bertindak lebih jauh karena takut kehidupan keluargaku semakin terusik."
Dengan seksama, Yati memperhatikan dengan rasa prihatin. Dia tidak pernah menyangka, jika desas-desus yang dulu sempat didengar adalah sebuah kebenaran.
"Itu situasi yang sangat sulit, Rina. Apa yang membuatmu yakin bahwa Mr Akihiko, terlibat?" Yati mencoba meyakinkan dirinya.
Rina merenung sejenak mendengar pertanyaan tersebut. Dia ingin memberitahu Yati, agar temannya itu berhati-hati.
"Ada beberapa pesan ancaman yang dikirim melalui surat elektronik dan bahkan pesan singkat yang menakutkan. Semacam teror. Aku juga mendengar dari beberapa teman, bahwa Mr Akihiko sempat beberapa kali mencari tahu tentang kehidupanku setelah aku meninggalkan pekerjaan itu "
"Tapi, Rina, tanpa bukti kuat, sulit untuk mengambil tindakan. Ini bisa berisiko bagi keamananmu dan keluargamu."
Wanita itu mengangguk setuju. Dia juga sudah berusaha untuk pergi menghindar, dengan pergi dari kota Jakarta. Rina pernah tinggal di kota kecil untuk menghindar setelah suaminya meninggal dunia.
"Aku tahu, Yati. Itu sebabnya aku merahasiakannya. Aku ingin fokus pada perjuangan untuk memulihkan hidupku dan meneruskan mimpi setelah suamiku meninggal."
"Aku mengerti keputusanmu, Rina. Prioritasmu adalah keamananmu dan mengatasi kesulitan yang ada sekarang. Jika suatu saat kamu memiliki bukti yang kuat, mungkin kamu bisa mempertimbangkan untuk melaporkannya."
Rina tersenyum dengan mengelengkan kepala. Dia ingin hidup tenang, tanpa terusik dengan kehidupannya yang dulu lagi!
"Terima kasih, Yati. Aku merasa lebih baik setelah berbicara denganmu. Tapi, mungkin setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi."
"Kenapa?" tanya Yati, cepat.
__ADS_1
"A-ku ... aku mau pindah ke kota lain, yang ada di pulau seberang."
Akhirnya, Rina menceritakan rencananya untuk pergi ke kota asal suaminya yang sekarang. Dia ingin memulai kehidupan baru tanpa bayang-bayang Mr Akihiko atau kehidupannya di masa lalu.
Menurut Rina, suaminya yang sekarang juga tidak mempermasalahkan masa lalunya. Tapi, Rina sendiri yang memang ingin pergi dari kota Jakarta ini, dan kebetulan suaminya setuju.
"Syukurlah kalau begitu, Rina. Aku hanya bisa berdoa, semoga kamu selalu berbahagia dengan kehidupan yang sekarang. Aku juga tidak mau kembali pada kehidupan yang dulu."
Sebelum pergi, mereka berpelukan dengan saling menguatkan.
Baik Yati maupun Rina, tidak saling bertanya tentang no ponsel atau apapun yang bisa digunakan untuk saling berkomunikasi. Hal ini untuk keamanan mereka, karena tidak ingin ada masalah dikemudian hari jika ada sesuatu yang terjadi.
Mereka berdua, tahu sana tahu bagaimana peraturan dan ketentuan "Gheisa" yang ada di bawah naungan Mr Akihiko.
***
Dua hari kemudian, pertemuan antara Yati dan Mr. Akihiko berlangsung di ruangan yang tenang, di mana keduanya duduk berhadapan.
Mr Akihiko tampak serius dan sedikit tegang, sementara Yati menunjukkan ekspresi tegar namun penuh keyakinan.
"Ya, Mr. Akihiko, aku juga telah memikirkan tawaran itu dengan matang. Aku ingin jujur dengan Anda, jika saya tidak bisa menerima tawaran tersebut."
Dengan tegas, namun tetap sopan, Yati memberikan jawaban yang sudah dipertimbangkan beberapa kali untuk masa depannya sendiri.
Mr. Akihiko terlihat kecewa, mendengar jawaban atas keputusan final Yati.
Pria Jepang itu berharap agar mantan "anaknya" itu menerima tawarannya, entah sebagai pewaris atau tawaran pernikahan.
"Mengapa, Mis Yeti? Apakah ada sesuatu yang membuatmu menolak dan ragu-ragu?" tanya pria jepang itu, dengan logat bicara campuran bahasa Indonesia dengan Jepang.
"Iya, Mr Akihiko. Ada beberapa alasan, yang menjadi pertimbangan."
Mr Akihiko, melihat dengan mata menyipit. Padahal tanpa itu, mata pria Jepang tersebut tentu saja sudah sipit.
__ADS_1
Yati menjabarkan alasannya yang ingin hidup mandiri dan tidak ingin merasa tergantung pada orang lain, dari warisan, bahkan jika itu adalah warisan dari Mr Akihiko.
Yang kedua, Yati ingin tetap mempertahankan keputusannya dan tidak ingin menghadapi masalah dengan hidup dalam lingkungan yang sana seperti dulu.
"Saya mengerti perasaanmu, Mis Yeti. Tapi, saya rasa ini adalah peluang besar bagimu, dan saya benar-benar ingin membantumu. Kamu adalah orang yang sangat berharga untukku," ungkap Mr Akihiko, seperti sedang merayu.
"Terima kasih atas perhatiannya, Mr. Akihiko. Namun, saya sudah membuat keputusan ini dengan baik dan yakin. Saya ingin meniti jalan hidup saya sendiri," jawab Yati, dengan tegas.
Pria Jepang itu terlihat merenung sejenak, kemudian tersenyum tipis yang tampak gagal diciptakan.
Mungkin pria itu kecewa dengan keputusan yang diambil oleh Yati, padahal ada rencana sendiri yang sudah dibuatnya jika Yati setuju.
Yati, yang merasa canggung dan tidak enak hati atas situasi ini, tersenyum lembut. Tapi, dia tetap tidak terlihat ingin mengubah keputusannya.
"Terima kasih, Mr Akihiko. Saya sungguh menghargai bantuannya sejauh ini. Tapi, maafkan atas keputusan ini."
Meskipun Mr Akihiko merasa kecewa dengan keputusan Yati, dia juga sudah memiliki rencananya sendiri untuk ke depan, yang kemungkinan besar tidak akan pernah bisa ditolak oleh Yati.
"Ya, tak apa. Aku, bisa paham. Dan ... Mis Yeti, terima kasih atas waktunya. Semoga Mis Yeti tetao berbahagia dengan kehidupan yang sekarang."
Wanita itu tersenyum dan mengangguk.
Tak lama kemudian, mereka berdua berpisah setelah apa yang mereka bicarakan telah mendapatkan keputusan.
"Aku, tidak akan pernah membiarkan keputusanmu menghambat rencanaku, Mis Yeti."
Pria Jepang itu, tersenyum penuh misteri tanpa disadari oleh Yati yang melangkahkan kakinya menuju ke arah mobil.
"Ternyata, meskipun sudah lima tahun berlalu, kehidupanmu masih sama seperti dulu. Hm," gumam Mr Akihiko, memperhatikan mobil yang dikendarai Yati.
Sepertinya pria Jepang itu memiliki rencana lain lagi, yang lebih baik daripada rencananya yang pertama.
Entah apa yang membuat Mr Akihiko seperti berambisi untuk mendapatkan Yati kembali. Padahal ia sebelumnya sudah memberikan izin pada "anak angkatnya" untuk menjalani kehidupan baru yang dipilih sendiri.
__ADS_1
"Tapi, ada satu hal yang membuat aku terpaksa harus melakukan ini, Mis Yeti."