
Di Indonesia, Mr Ginting sedang dalam perjalanan menuju ke daerah Yati dengan persiapan hati yang matang. Ia ditemani oleh supir dan bodyguard pilihan yang berada di bagian depan, sementara asisten pribadi duduk di belakang bersama Mr. Ginting.
Semua sepertinya tengah memikirkan hal-hal masing-masing dalam diam.
Mereka semua fokus pada tugas masing-masing, sesuai dengan tugasnya.
Sang supir mengemudikan mobil dengan konsentrasi, asisten pribadi tengah melihat laporan-laporan di laptopnya, Mr Ginting dalam lamunan dan angannya, sementara sang bodyguard mungkin merasa bingung tentang apa yang sebaiknya dia katakan.
Mr. Ginting memutuskan untuk mengganti pengawal perjalanannya dengan Biyan, pemilik perusahaan jasa pengawalan. Keputusan ini mungkin didasarkan pada tingkat kepercayaan yang lebih tinggi yang dimiliki Mr Ginting terhadap Biyan sebagai pemilik perusahaannya dengan jasa bodyguard tersebut.
'Apa yang dimaksud Mr Ginting ini Mis Yeti ... yang sama dengan Mis Yeti yang ada di dalam pikiranku, yaitu Yati?' tanya sang bodyguard dalam hati.
"Aku akan segera datang, Mis Yeti. Tunggulah aku tiba," gumam Mr Ginting samar.
Beberapa saat kemudian.
"Mr Ginting. Akankah kita akan langsung ke desa yang dituju, atau ada hal lain yang dikerjakan terlebih dahulu?" tanya asisten pribadi Mr Ginting, dengan mengecek jadwal sebelumnya.
"Sebenarnya ada beberapa pertemuan di kota yang sejalan dengan daerah, Mis Yeti. Tapi ... sebaiknya ke rumah Mis Yeti dulu."
"Baik, Mr."
Dari tempat duduknya, Biyan diam saja. Dia fokus memperhatikan keadaan depan, sebagai bodyguard profesional yang tidak perlu mencampuri urusan orang yang dikawal.
Cukup dengan ia perhatikan keselamatan dari orang tersebut saja, sesuai dengan ketentuan.
Perjalanan yang panjang menanti di depan, karena perjalanan dari Jakarta ke daerah Yati memerlukan waktu sekitar 6 jam.
Mereka semua berharap agar perjalanan mereka ini berjalan lancar tanpa ada hambatan berarti.
***
Jakarta.
Yati melangkah dengan hati yang penuh harap saat dia dan ayahnya meninggalkan rumah mereka di Jakarta. Meskipun cuaca agak panas, senyum lebar terukir di wajahnya saat ia merasakan angin sejuk berhembus perlahan.
Hari ini adalah hari istimewa bagi mereka berdua, karena Yati telah merencanakan hari perjalanan yang menarik untuk sang ayah.
"Yah, bagaimana? Sudah jauh lebih baik, bukan?" tanya wanita itu, dengan mendorong pelan-pelan kursi roda ayahnya.
"Yaaa ... Nduk. A-yaah b-baik."
Wanita itu tersenyum tipis, mendengar ayahnya menjawab pertanyaannya dengan lebih baik.
Di sebelahnya, ibu Nina berjalan dengan ikut tersenyum senang.
Tentu Ibu Nina ikut senang, karena perawatan tuan Wasito membuahkan hasil dengan kesembuhannya yang lebih cepat.
Tinggal pemulihan stroke saja.
__ADS_1
"Kita jalan-jalan ya, Yah?" tanya Yati, memberikan usulan.
Kepala tuan Wasito mendongak sedikit, seakan-akan memberikan isyarat untuk bertanya "kemana?" meski pada akhirnya tidak mengeluarkan suara.
Dengan antusias, wanita itu memberi tahu ayahnya dengan rencananya kali ini.
"Ayah, kamu pasti akan sangat suka dengan Taman Mini Indonesia Indah. Ada begitu banyak paviliun yang menggambarkan budaya dan keindahan Indonesia," ungkap wanita itu memberi tahu.
Tuan Wasito tersenyum lebar, meskipun susah terlihat sempurna sebagaimana orang sehat pada umumnya.
"A-yaah sang-ggat berharap bisssaas melihat re-replika-replikaaa bangunan ber-seesejarah dan bu-udddayaaa yaang add-da di san-nnaaa."
Ibu Nina tersenyum dengan senang, melihat dan menanggapi perkataan tuan warsito yang tentunya sangat kesusahan. Dia tahu bagaimana perjuangan laki-laki itu mengucapkan kalimat tersebut.
"Benar, sayang. Ini adalah peluang bagus untuk kita bisa melihat Indonesia hanya dari satu tempat, hehehe ..." kekeh ibu Nina, menanggapi dengan gurauan.
"Hehehe ... iya, benar itu Bu."
Yati jadi ikut tertawa, mendengar perkataan ibu Nina yang memang benar adanya.
Padahal Yati juga tahu, dulu sekali, ayahnya menghabiskan masa mudanya di Jakarta. Sudah barang tentu sang ayah juga pernah ke TMII, dan bukan sekali ini saja.
Di tengah perjalanan mereka menuju Taman Mini Indonesia Indah, Yati, ayahnya, dan ibu Nina duduk bersama dalam mobil.
Suasana ceria terasa di udara, dan Yati memulai percakapan dan perbincangan untuk mengisi waktu perjalanan mereka supaya tidak terasa sepi.
Mereka akan segera memulai petualangan mereka dengan berkendara menuju Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Yati melihat binar mata Tuan Wasito yang tampak bahagia. Sekilas, ayahnya itu bisa sedikit lupa jika sedang dalam keadaan sakit.
Ketika mereka tiba di TMII, mereka mulai berkeliling paviliun-paviliun yang menarik perhatian mereka.
Ayah Yati tampak begitu bahagia melihat replika bangunan-bangunan yang menggambarkan kekayaan warisan budaya Indonesia.
Tuan Wasito tampak terkagum-kagum melihat ke arah depan, di mana ada replika candi terbesar di Indonesia yang menjadi salah satu keajaiban dunia.
"Li-lihatlaahh it-tuuu, rep-pliikkaaa Can-ndiii Bor-robuduurr. In-nii lu-aarrr bis-asssaaa!"
Yati senang mendengar suara ayahnya yang terdengar begitu bersemangat.
"Ayah, ayo kita ambil foto di depannya!"
Yati, mengajak ayahnya untuk berfoto dengan menyerahkan ponselnya pada bu Nina, supaya mengambil foto untuk mereka berdua.
Ibu Nina sambil menerima ponsel tersebut dengan tersenyum kemudian mengambil foto.
"Senyum, ya! Ini akan menjadi kenangan yang indah," seru ibu Nina menyiapkan kamera.
Setelah puas menjelajahi TMII, Yati membawa ayahnya ke Kebun Raya Bogor. Jadi, mereka langsung pergi melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bogor supaya tidak memakan waktu lama lagi.
__ADS_1
"Udara di sini sangat segar. Terima kasih, Yati, sudah membawa ayahmu ke tempat seperti ini."
Ibu Nina, mewakili tuan Wasito mengucapkan terima kasih kepada anaknya, Yati.
"Ayah, kamu tahu betapa Yati pengen liat bahagia. Yati senang, jika ayah menikmatinya."
Ibu Nina tersenyum, begitu juga dengan Tuan Wasito. Dia tampak selalu tersenyum, menunjukkan hatinya bahwa dia memang benar-benar bahagia.
"Ini juga membuatnya bahagia, melihatmu menikmati waktu bersama."
Ibu Nina seakan tahu apa yang ingin dikatakan oleh tuan Wasito, sebab ia memang sudah lama merawat pria tua itu.
Sekarang mereka berjalan-jalan di antara pohon-pohon rindang dan bunga-bunga yang indah. Suara riak air dari kolam-kolam dan aroma segar dari tanaman-tanaman mengisi udara.
Tuan Wasito duduk di bangku taman dengan senyum di wajahnya, merasa begitu dekat dengan alam.
Tapi petualangan mereka belum berakhir. Yati masih ingin mengajak ayahnya ke Puncak, sebuah daerah pegunungan yang terkenal dengan pemandangan yang memukau.
"Jika mau, kita bisa langsung ke puncak, ayah. Kita bisa menginap di sana semalam."
Yati memberikan usulan, semata-mata untuk menghibur ayahnya agar keluar dari wilayah yang ada hubungannya dengan rumah sakit.
Tuan Wasito hanya mengangguk, mengiyakan ajakan anaknya.
Setelah puas berkeliling Kebun Raya Bogor, mereka akhirnya memutuskan untuk menuju Puncak.
Tuan Wasito tampak melihat pemandangan yang indah dan menyejukkan mata.
'Ini adalah pemandangan yang luar biasa. Terima kasih, anakku.'
Tuan Wasito hanya bisa mengucapkan terima kasih dalam hati, tapi genggaman tangannya pada tangan anaknya, sudah mewakili.
Yati tersenyum, melihat senyuman ayahnya. Seakan tahu apa yang ingin dikatakan ayahnya, Yati mengangguk mengerti.
"Tidak perlu berterima kasih, Ayah. Melihatmu senang adalah hadiah terbesar bagiku."
Ibu Nina ikut tersenyum, menggenggam tangan tuan Wasito.
"Kalian berdua memiliki ikatan yang istimewa. Ini adalah hari yang luar biasa untuk kalian setelah rutinitas di rumah sakit."
Mereka berdua naik ke atas bukit untuk menikmati pemandangan kota Jakarta yang terhampar luas di bawah mereka.
Matahari yang mulai tenggelam, menciptakan palet warna-warni yang menakjubkan di langit senja.
Yati merasa bahwa ini adalah momen yang sempurna untuk mengabadikan kenangan indah bersama sang ayah.
Setelah hari yang panjang dan penuh petualangan, Yati dan ayahnya kembali ke villa yang sudah disewa dengan hati yang penuh kebahagiaan. Mereka berdua menghabiskan waktu yang berkualitas, mengisi hari ayahnya dengan kebahagiaan dan keindahan.
Yati menyadari bahwa kadang-kadang, yang terbaik adalah memberikan kenangan dan pengalaman yang tak terlupakan bagi orang yang kita cintai.
__ADS_1
Malam hari, mereka isi dengan canda tawa dan cerita-cerita indah. Mereka merasa bahwa hari itu telah mengukuhkan ikatan keluarga mereka dan menciptakan kenangan yang akan selalu mereka kenang.
"Masih mau berkeliling atau pulang, besok, yah?" tanya Yati, memberikan penawaran pada ayahnya.