Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Tidak Perlu Menghindar


__ADS_3

Di ruang keluarganya, Yati duduk di sofa sambil menatap hampa ke luar jendela. Kejadian-kejadian beberapa hari terakhir berputar-putar di benaknya.


Kehadiran Biyan dan Mr Ginting yang tiba-tiba di kehidupannya telah membawanya pada situasi yang rumit. Yati merasa terperangkap antara dua dunia yang berbeda. Di satu sisi, ada Biyan, sosok yang mengingatkannya pada masa lalu dan kisah cinta yang tak pernah berakhir bahagia. Di sisi lain, ada Mr. Ginting, yang pernah memiliki tempat istimewa dalam hatinya dan kini muncul lagi dengan perasaan yang mungkin belum usai.


"Kenapa aku pergi, justru masalah ini seakan semakin mendekat?" tanya Yati yang berguman seorang diri.


Pertemuan dengan keduanya telah membawanya pada kenyataan yang tak bisa diabaikan. Yati tahu bahwa ia tidak bisa terus menghindar dari masalah ini. Meskipun menghindar mungkin terasa aman dalam jangka pendek, itu tidak akan membawa solusi sebenarnya. Dia merasa bahwa dia harus menghadapi perasaannya dan mengatasi masalah ini dengan kepala dingin.


"Aku tahu, aku tidak bisa terus menghindar. Biyan dan Mr Ginting muncul dalam hidupku, dan itu bukan kebetulan. Aku harus menemukan cara untuk menghadapi situasi ini dengan bijak," gumam Yati berbicara pada dirinya sendiri, lagi dan lagi.


"Namun, keputusan apa yang harus aku ambil?" tanyanya kemudian.


"Biyan adalah orang yang pernah cintaku, tapi kita berpisah karena takdir yang tidak bisa kita ubah. Sementara itu, Mr. Ginting pernah memiliki tempat khusus dalam hatiku, tapi kita juga berpisah karena berbagai alasan yang rumit."


Wanita itu membuang nafas berat. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kejadian yang dulu-dulu pernah ia alami.


"Aku tak ingin mengulang kesalahan di masa lalu. Aku ingin menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Tapi bagaimana caranya? Apa yang harus aku lakukan?"


pertanyaan demi pertanyaan diajukannya, tapi tak ada satupun jawaban yang bisa dia dapatkan. Hal ini membuat Yati semakin merasa tertekan.


Saat Yati terus merenung, dia merasa semakin bertekad untuk menyelesaikan masalah ini. Dia merasa bahwa dia harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi situasi rumit ini, meskipun dia belum yakin apa yang harus dia lakukan.


"Aku harus berbicara dengan mereka. Aku harus mengungkapkan perasaanku, mendengarkan apa yang mereka katakan, dan mencari jalan terbaik untuk semua orang." Yati kembali berbicara.


Dalam keadaan yang tidak pasti, Yati merasa bahwa langkah pertama adalah untuk berbicara dengan Biyan dan Mr Ginting. Dia merasa bahwa hanya dengan berbicara secara terbuka, ia bisa mencari jawaban dan menemukan keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri.


Tuan Wasito duduk di ruang tamu, tak jauh dari Yati yang sedang melamun. Pria tua itu memperhatikan perubahan yang terjadi pada anaknya. Dia merasa khawatir dan merasa perlu melakukan sesuatu untuk membantu anaknya menghadapi situasi yang sulit.


Dengan perasaan cemas, pria tua itu memutuskan untuk berbicara dengan perawatnya yang selama ini selalu mendampinginya, yaitu ibu Nina.


"I-bu Ninaa. A-pa k-amu bisaa bi-bicaraaa dengan Ya-yatiii? A-ku melihat dia ... ia terlihat begitu bingung daaann terbebani oleh be-berapa hal belakangan ini." Tuan Wasito berbicara dengan terbata-bata.


"Tentu, Tuan Wasito. Saya, juga melihat perubahan itu. Apa yang ingin Tuan, sampaikan?" tanya ibu Nina.


"A-ku hanya ingin Y-yati tahuuu bahwa dia, dia tidak perlu menghindar atau larii dari masalahhh nyaaa. D-ia, dia harus beraniii meng-hadapinyaa dan ... dan mencari jalan. Ja-lann terbaik untuk mengatasi semuanya."

__ADS_1


Tuan Wasito, berkata dengan suara terputus-putus. Nafasnya terengah-engah merasakan perasaan yang campur aduk.


Ibu Nina mengangguk mengerti. Wanita itu akan berbicara dengan Yati dan memberikan nasihat yang diperlukan. Yati memang harus belajar menghadapi masalahnya dengan kepala tegak, dan tidak melulu menghindar.


Tuan Wasito menatap perawatnya itu seakan-akan mengucapkan terima kasih. Ia percaya dengan perawatnya itu, dan Yati pasti akan mendengarkan nasehat darinya.


"Saya akan melakukannya dengan hati-hati, Tuan Wasito. Kita harus mendukung Mbak Yati, agar dia bisa melewati masa sulit ini dengan baik." Ibu Nina tersenyum, ketenangan pada Tuan Wasito.


Tuan Wasito sendiri akhirnya merasa lega karena ibu Nina bersedia membantu memberikan nasihat kepada Yati. Dia merasa bahwa dengan dukungan dan nasihat yang baik, anaknya itu bisa mendapatkan pandangan yang lebih jelas tentang situasinya dan menemukan cara untuk menghadapinya dengan bijaksana.


Keadaan memang tidak semudah yang dibayangkan oleh orang lain, tapi pria tua itu berharap keluarga mereka bisa saling mendukung dan melewati masalah bersama-sama.


***


Beberapa jam kemudian, setelah Tuan Wasito berbicara dengan ibu Nina, Yati masih duduk di ruang tamu kemudian disusul ibu Nina. Mereka berdua mengobrol dengan ringan berlebih dahulu sebelum akhirnya ibu Nina berani bertanya pada Yati.


"Mbak Yati, saya melihat Mbak agak bingung dan terbebani akhir-akhir ini. Apakah ada yang sedang dipikirkan?" tanya Ibu Nina dengan senyum lembut seperti seorang ibu.


"Ibu Nina, sebenarnya ada beberapa hal yang membuatku bingung. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya." Yati memberikan jawaban dengan menatap ibu Nina, sedangkan wajahnya seakan-akan ragu dan bimbang.


Ibu Nina menyentuh tangan Yati dengan lembut, memberikan pandangan sebagaimana yang seharusnya dipikirkan Yati saat ini.


Yati sendiri menggigit bibirnya, saat mendengar penuturan ibu Nina. Dia tidak ragu dengan halaman wanita yang lebih tua darinya itu. Jika dipikir, ibu Nina pasti sepantaran dengan ibunya yang sudah tiada.


"Tapi Ibu, beberapa masalah ini terasa sangat sulit dan rumit. Aku, merasa seperti tidak tahu harus bagaimana mengatasi semuanya." Yati mengeluhkan kondisinya yang penuh dengan masalah.


"Itu wajar, Mbak Yati. Tapi ingatlah, kamu tidak perlu menghadapinya sendirian. Kami selalu di sini untukmu, dan kamu juga bisa mencari dukungan dari teman-teman atau orang-orang terdekat seperti Tuan Wasito dan juga Ibu."


Ibu Nina tersenyum lembut, dengan hati-hati memberikan wejangan. Ia tidak mau asal bicara, takut Yati salah paham.


Yati mengangguk perlahan, menyadari semua yang dikatakan Ibu Nina adalah benar. Sayangnya tahu, ia selalu merasa takut menghadapi kenyataan dan membuat keputusan yang sulit.


"Takut itu wajar. Tapi ingatlah bahwa dengan menghadapi kenyataan dan mengambil keputusan, kita bisa tumbuh dan belajar. Jangan pernah berlari dari masalah, karena itu hanya akan membuat masalah semakin rumit." Ibu Nina tersenyum bijaksana, setelah memberikan nasehat.


"Apa yang sebaiknya aku lakukan, Ibu?" tanya Yati memandang ibu Nina dengan penuh harap.

__ADS_1


Ibu Nina menggenggam tangan Yati dengan penuh kasih, kembali mulai berbicara dengan apa yang sebaiknya dilakukan oleh Yati dalam keadaan seperti ini.


"Cobalah untuk berbicara dengan jujur pada mereka yang terlibat dalam masalah ini. Dengarkan apa yang mereka katakan dan coba cari solusi bersama. Dan yang terpenting, percayalah pada dirimu sendiri dan pada prosesnya. Kamu pasti bisa melewati ini."


Yati merasa hatinya menjadi lebih tenang mendengar nasihat ibu Nina. Dia merasa didukung dan mengerti bahwa menghadapi masalah adalah bagian dari pertumbuhan. Dia merasa semakin yakin bahwa dia harus berani menghadapi Biyan dan Mr Ginting, serta mencari jalan terbaik untuk semuanya.


Yati tersenyum, merasa bahwa dukungan dan nasihat dari ibu Nina adalah sesuatu yang berharga. Dia merasa semakin mantap untuk menghadapi masalah yang ada dan mencari solusi yang bijaksana.


Dalam perbincangan hangat dengan ibu Nina, Yati merasa lebih siap untuk mengatasi satu persatu masalah yang telah menghantuinya.


***


Di sebuah kantor yang ada di lantai atas sebuah restoran Jepang di Jakarta, suasana tenang terasa di udara saat Mr Akihiko dan Hiroshi duduk di meja kerja.


Hiroshi, sang asisten itu tampak senang dengan hasil kerjanya dan menyajikan informasi yang ditemukannya kepada Mr Akihiko.


"Mr Akihiko, saya berhasil melacak keberadaan Mis Yeti. Dia berada di sebuah desa di daerah Jawa Barat, daerah Bogor lebih tepatnya." Hiroshi senyum puas, dengan menyerahkan beberapa lembar bukti yang dibawanya.


"Bagus sekali, Hiroshi. Kerjamu sangat cepat dan membantu. Sekarang aku ingin melihat keberadaannya langsung. Bisakah kamu mengatur agar kita bisa pergi ke sana?" tanya Mr. Akihiko ikut tersenyum puas.


"Tentu, Mr. Saya, akan segera mengatur semuanya. Kapan Mr Akihiko, ingin berangkat?" tanya Hiroshi lagi.


Mr. Akihiko berpikir sejenak. Ia tidak mau menunda kepergiannya jadi dia memutuskan untuk secepatnya agar bisa bertemu dengan Mis Yeti.


"Besok pagi. Lebih cepat akan lebih bagus. Kamu harus memastikan semuanya siap dan berangkat dalam waktu yang tepat!"


Hiroshi mengangguk, siap dengan semua tugas yang diberikan oleh Mr Akihiko padanya.


"Baik, Mr. Saya akan mengurus semuanya dan memastikan perjalanan berjalan lancar."


Mr. Akihiko merasa puas dengan hasil kerja Hiroshi. Dia merasa semakin mendekati tujuannya untuk menemukan Mis Yeti dan membawanya kembali ke bisnisnya. Dia percaya bahwa kehadiran Mis Yeti dapat membantu bisnisnya berkembang dan sepertinya lebih jauh lagi.


Setelah berbicara dengan Hiroshi, Mr Akihiko mempersiapkan diri merasa untuk perjalanannya ke desa di Jawa Barat.


"Tunggu aku, Mis Yeti. Dan kamu, akan kembali menjadi primadona. Hahaha ..."

__ADS_1


Tawa dan senyum tercetak puas di wajah Mr Akihiko, membayangkan keuntungan apa yang akan diraihnya di masa depan saat ada Mis Yeti bersamanya.


__ADS_2